I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 120. Marahnya Javier


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Mendengar nama Ariana keluar dari mulut Sheila, membuat dada Anika menjadi sesak. Bahkan dia menunjukkan reaksi terkejut terhadap Sheila yang menyinggung nama Ariana.


Sheila menunjukkan rasa tidak sukanya pada gadis yang bernama Ariana itu.


"Ibu...ibu pasti kenal dengan Ariana kan?" tanya Sheila pada ibunya dan langsung membuat Anika tersentak kaget, ia meremass bajunya dengan erat. Entah kenapa Anika terlihat tegang kala itu.


Astaga...apa Sheila sudah tau tentang Ariana?


"Si-siapa Ariana? Ibu tidak mengenal satupun orang yang bernama Ariana!" sanggah Anika pada putrinya.


"Haahh.. sudah kuduga bahwa tidak semua orang mengenalnya walau dia dikenal sebagai aktris Hollywood paling femes." Sheila mendesah berat, ia terlihat keki dengan Ariana. Sebenarnya bukan keki, tapi lebih ke iri.


Ariana begitu cantik dan smart, tidak seperti dirinya yang malas-malasan. Bahkan ia malas sekolah, padahal ia baru menginjak kelas 2 sekolah menengah atas. Tapi ia tak terima Ariana lebih darinya.


"Ibu, apa ibu kenal dengan dia? Katakan padaku bu!" Sheila menunjukkan ponselnya kepada Anika, ia memperlihatkan foto Ariana di dalam sana.


Anika melihat foto Ariana dengan tatapan sendu. Seperti sudah lama mengenalnya. Kemudian Anika menggelengkan kepala, seraya tersenyum tipis. "Tidak, ibu tidak mengenalnya."


"Tuh kan! Aku bilang juga apa, tidak semua orang kenal dengan Ariana Moane!" cetus gadis itu dengan senyuman sinis di bibirnya. Ia benar-benar tidak menyukai Ariana. Kejadian semalam telah membuatnya begitu insecure, apalagi dia kalah telak untuk mendekati Javier karena Ariana.


"Sheila, kenapa kau terlihat tidak suka pada Ariana?" tanya Anika terheran-heran karena sudah ditarik Sheila terus mengumpat Ariana.


"Ibu... Ariana itu tidak lebih dari wanita penggoda dan tidak tahu diri." kata Sheila dengan bibir yang monyong ke depan.


"Sheila... jaga bicaramu nak!" tegur Anika yang tidak terima Sheila menghina Ariana.


Sheila, kau tidak boleh menghina kakakmu seperti itu. Sayang, ucapan ini hanya terucap di dalam hati Anika.


"Ibu! Apa barusan ibu memarahiku karena Ariana?" Sheila tak terima dengan teguran ibunya. Ia menatap Anika kesal.


Gadis itu memang selalu keras kepala dan selalu ingin menang sendiri. Dia selalu ingin berada di atas orang lain dan tidak boleh ada yang berada di atasnya. Ia cantik, ia kaya, mempunyai orang tua yang lengkap dan tidak boleh ada yang mengalahkannya. Bahkan semua pria rela mengantri untuk menjadi kekasihnya, tapi giliran dia benar-benar tertarik kepada seorang pria. Pria itu malah menyukai wanita lain, tentu saja Sheila tidak terima.


Pasalnya selama ini dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan dia ingin Javier, maka ia harus mendapatkannya. Ya, ini salah Anika dan Tommy karena terlalu memanjakan anak mereka satu-satunya.


"Sayang, tidak marah padamu ibu hanya menegurmu... tidak baik bicara seperti itu terhadap orang lain, nak. Apalagi kau tidak kenal dekat dengannya." jelas Anika dengan lembut.


"Terserah ibu saja! Aku tetap tidak menyukai Ariana!"


"Tapi sayang--"


"Cukup ibu! Lebih baik ibu keluar dari kamarku sekarang, daripada membuatku semakin marah!" Sheila kesal, mood nya jadi hancur seketika. Niatnya untuk curhat pada sang ibu malah membuatnya semakin kesal.


BRAK!


Sheila mengunci pintu kamarnya, setelah Anika keluar dari kamar itu. Anika menatap sendu pada pintu kamar, ia merasa miris dengan sikap keras kepala Sheila dan manjanya itu tidak pernah berubah.


"Sayang, apa Sheila melakukan sesuatu padamu?"


Tommy yang baru akan berangkat ke kantornya, kini berada di belakang Anika. Dia melihat mata istrinya tampak sedih.


"Sayang, kau belum berangkat kerja?"


"Belum, aku sengaja berangkat agak siangan...karena aku ingin bicara dengan Sheila mengenai sekolahnya, dia sudah lama tidak sekolah." cetus Tommy sambil memijit pelipisnya yang sakit.

__ADS_1


"Biar aku yang bicara padanya nanti, lebih baik kau pergi berangkat kerja saja." Anika tersenyum, lalu merapikan dasi yang terpasang pada kemeja suaminya.


"Kau selalu saja lembut dan perhatian, aku makin sayang padamu. Tapi, kita tidak boleh terlalu memanjakan Sheila...kita harus mendidiknya dengan sedikit tegas."


Dimata Tommy, Anika adalah wanita yang sempurna menjadi pendamping hidupnya. Selain lembut, cantik, baik hati dan juga penyayang. Itulah yang membuat Tommy jatuh hati pada Anika untuk pertama kalinya, Tommy bahkan tidak mempedulikan keluarganya yang menentang hubungannya dengan Anika.


Mereka menikah lalu mempunyai Sheila, anak mereka satu-satunya. Semua yang ada di dalam diri Anika tampak sempurna di mata Tommy. Padahal Tommy tidak tahu saja, bahwa semua kesempurnaan itu memiliki rahasia yang tersembunyi dan kelam di masa lalu Anika.


"Iya suamiku, aku tahu itu...tapi kita juga harus tahu, bahwa anak seperti Sheila tidak bisa dibentak atau dia akan memberontak." jelas Anika lembut.


"Kau benar juga sayang. Baiklah, sepulang ku bekerja nanti... mari kita bicara dengan Sheila. " ucapnya sambil tersenyum.


"Iya sayang,"


"Aku pergi dulu istriku, i love you." Tommy mengecup kening Anika dengan penuh kasih sayang. Dia sangat menyayangi Anika dan juga Sheila. "You are the best mom and best wife," lanjutnya lagi.


"Love you too sayang, kau juga ayah dan suami yang baik."


Anika mengantar kepergian suaminya sampai depan rumah, ia melambaikan tangan seperti biasanya. Bibirnya yang tadinya tersenyum, kini berganti menjadi sebuah kesedihan di wajahnya.


"Tidak Tommy, jika kau tahu kebenarannya tentang bagaimana diriku. Aku yakin kau tidak akan memujiku sebagai ibu dan istri yang baik. Tidak! Aku tidak sebaik itu, aku jauh dari kata baik. Aku bahkan meninggalkan anakku sendirian dan tidak berani menemuinya." gumam Anika teringat dengan Ariana yang dia tinggalkan di taman hiburan bertahun-tahun lalu.


"Aria...kau pasti membenci ibu, kan?" gumam Anika sambil terisak teringat Ariana.


****


Syuting film dilakukan pada sore hari karena ada pengunduran jadwal. Tapi sayangnya Javier dan Asteorope tidak boleh ikut kesana karena mereka bisa jadi sumber gosip.


Akhirnya Peter dan Theo yang ikut kesana untuk mengawasi Ariana. Sebenarnya Ariana enggan pergi syuting, ia takut kalau Asteorope dan Javier menghilang sama seperti Doris.


"Tapi--aku ada adegan romantis dengannya." Ariana terbata.


"Seperti apa? Berciuman? Atau bahkan ada adegan ranjang?" tanya Asteorope tanpa filter, darahnya mendidih saat mengingat kejadian kemarin. Dimana Thomas mencium Ariana.


Sejujurnya, Asteorope cemburu pada pekerjaan yang membuat Ariana bahagia, tapi dia tidak bisa memintanya untuk berhenti dari pekerjaan itu. Tadi pagi mereka sudah bicara, bahwa jika bisa memilih, Ariana ingin tinggal di Albarca dan tidak mau tinggal disini. Setelah syuting film ini, Ariana akan vakum dari dunia hiburan dan bahkan mengundurkan diri dari dunia selebritis.


"Tidak ada! Hanya pelukan dan--"


Cup!


Pria itu menyambar bibir Ariana dengan kecupan singkat. Kedua mata Ariana sontak membulat.


Sementara itu, tiga pria disana sontak memalingkan wajah saat melihat kemesraan Asteorope dan Ariana. Sedangkan Javier, dia memegang dadanya yang sesak.


Kenapa hatiku masih saja sakit? Come on Javier.


"Tidak ada ciuman, pelukan, tidak bisa!"


"Itu..." Ariana bingung karena semua adegan itu bagian dari skenarionya. Mana mungkin dia mengubah skenario penulis filmnya.


"Apa kau mau melanggar janji kita semalam? Kita sudah sepakat untuk tidak melakukan kontak fisik dengan--"


"Aku tau, aku sudah janji!" Ariana langsung memotong ucapan Asteorope. Ia paham dan semalam mereka sudah sepakat untuk saling memahami satu sama lain. Terutama masalah pekerjaan Ariana.


"Lalu?"

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mencoba bicara dengan penulis skenario dan juga sutradara filmnya untuk mengubah sedikit adegan."


Asteorope tidak menjawab apa-apa dan hanya membalasnya dengan anggukan kepala. Ia sedang mencoba memahami Ariana dan pekerjaannya, tapi dia tidak bisa menahan cemburu.


"Aku pergi dulu,"


"Iya."


"Aku pergi dulu SAYANG." ucap Ariana yang membuat Asteorope tersipu malu, ia bahkan menyembunyikan wajahnya yang memerah.


Deg deg deg...


Gawat...gawat!


"Ingat! Kalian tidak boleh bertengkar, apalagi menghancurkan rumahku!" seru Ariana mengingatkan pada kedua pria yang mencintainya itu. Mereka hanya menganggukkan kepala.


Ariana pergi syuting bersama dengan Liam, Peter dan juga Theo. Sementara Javier dan Asteorope berada di rumah.


"Kau yakin akan tinggal di rumah dan membiarkan dia di luar sana?" tanya Javier begitu ia dan Asteorope memasuki rumah.


"Apa kau pikir aku mau begini? Ini semua kulakukan demi kenyamanannya dan aku percaya hatinya selalu padaku." kata Asteorope yakin.


"Baiklah." jawab Javier sambil memegang punggungnya yang masih terasa sakit.


"Javier, kau masih mencintai calon istriku?"


Pertanyaan Asteorope sontak membuat Javier kembali menoleh ke arahnya. "Benar, tapi kau tenang saja...aku sedang mencoba untuk rela."


"Baguslah... terimakasih sudah sadar diri, bahwa cinta Ariana hanya untukku dan hanya untukku. Ku akui kau adalah pria yang baik, meski masa lalumu kelam. Kau berjiwa besar, Javier...jika kau lebih dulu hadir dalam hidupnya, mungkin aku akan kalah darimu--" Asteorope terdengar tidak percaya diri. Pria itu mengakui kalau Javier adalah pria yang tampan, cerdas, pemberani dan bisa melindungi Ariana. Dia juga kuat karena memiliki sihir hitam, tidak seperti dirinya yang bisa menggunakan sihir sesuai dengan MANA yang ada dalam dirinya.


Dia mengakui, dirinya tidak sekuat Javier dan itu membuatnya insecure.


"Jangan bicara begitu, kau akan selalu menang dariku!" tukas Javier memujinya.


"Hem...ya. Jika aku tidak ada nanti, atau terjadi sesuatu padaku, aku harap kau menjadi orang pertama yang menjaga Ariana." ucap Asteorope seraya tersenyum.


"Astaga si Raja bodoh ini, kenapa kau bicara seolah-olah kau akan pergi meninggalkan dunia ini selamanya?" Javier terkekeh mendengar ucapan Asteorope tentang Ariana. Ia tau pria itu mungkin hanya bercanda.


"Aku tidak bercanda, aku serius. Jika seandainya aku pergi meninggalkan dunia ini, kau harus menjaga--"


Grep!


Javier menarik baju Asteorope dengan kasar, rajut wajahnya mulai terlihat marah. "Jangan bicara omong kosong! Hal ini tidak bisa dijadikan sebagai candaan. Tidak boleh terjadi sesuatu padamu, kau bahkan tidak boleh mati tanpa seizin ku! Tidak! Akulah yang berhak menentukan hidup dan matimu,"


Jika terjadi sesuatu padamu, Ariana akan tiada!


Kata-kata dan sorot mata Javier menyiratkan betapa dalam cinta Javier untuk Ariana. Dan mungkin rasa cinta Javier sama besarnya dengan rasa cinta Asteorope pada Ariana.


"Hahaha...baiklah, aku bercanda! Kenapa kau serius sekali, hah? Dasar es batu!" Asteorope tertawa lalu mendorong tubuh Javier dengan cukup kuat hingga pria itu terhempas ke lantai.


"Hal seperti ini tidak cocok untuk dijadikan candaan. Jangan pernah bicara begitu lagi, jangan pernah berselingkuh dari Ariana dan melukainya! Aku peringatkan kau!" serunya dengan suara keras seraya menunjuk pada wajah Asteorope. Javier sangat marah.


Asteorope hanya diam saja, ketika melihat reaksi dari Javier. Ia menatap punggung Javier yang berjalan mendahuluinya. "Cintamu benar-benar dalam Javier, tapi sayangnya dia sudah punya aku."


...****...

__ADS_1


__ADS_2