
...🍀🍀🍀...
Javier kembali ke kamarnya yang ada di mansion Martinez, kamar dengan cahaya redup seperti dirinya yang suram. Dia duduk di atas ranjang dengan wajah bingung.
"Apakah wanita bar-bar itu tidak seperti dirimu, ibu? Apa dia tidak sepertimu? Dia berbeda dari wanita kejam seperti dirimu kan?" Gumam Javier sambil tersenyum kecut mengingat mas kecilnya bersama sang Ibu. Mungkin juga Ibunya yang membuat Javier membenci wanita.
Namun melihat sikap Roselia yang baik di pemukiman kumuh di kota, mungkin pikirannya berubah tentang wanita. Javier kemudian memandangi patung berbentuk tubuh seorang wanita. "Apakah dia sama sepertimu? Dia berbeda kan denganmu, IBUku tersayang?" Javier tersenyum menyeringai lalu memeluk patung wanita yang tampak menyeramkan itu karena patungnya terlihat mirip manusia sungguhan.
Patung itu sebelumnya ditutupi oleh kain merah dan raut wajah patung wanita itu seperti menangis.
****
Di kamar Roselia ,dia masih syok dengan kunjungan Javier di malam hari. Gadis itu hendak beranjak dari tempat tidurnya, kemudian dia tak sengaja menginjak sesuatu dibawah kakinya.
"A-apa ini? Belati hitam dengan lambang ular?" Gadis itu dengan hati-hati memegang belati tersebut, tangannya mengenakan sapu tangan terlebih dahulu untuk mengambilnya.
"Ini milik si gay, dia meninggalkannya disini, belati ini adalah belati yang dia pakai untuk membunuh korbannya. Jadi dia benar-benar ingin membunuhku?" Roselia pun menyimpan belati itu di bawah ranjangnya. "Besok aku harus bicara padanya, aku tidak bisa berdiam diri lagi!"
Keesokan harinya, Asteorope pamit kepada Raja Alfonso dan semua anggota keluarga kerajaan Gamarcus untuk kembali ke negeri Albarca bersama pengikutnya.
Tujuannya kembali bukan hanya semata-mata karena waktu disana telah habis, tapi intinya adalah untuk bertemu dengan Cain dan meminta bantuan pria itu mendapatkan bukti bahwa putra mahkota tidak bersalah, demi Roselia.
"Terima kasih atas kunjungan Anda yang mulia Raja Albarca," kata Alfonso sambil tersenyum, melihat pria tampan yang kini berdiri didepannya itu.
"Saya juga sangat senang karena Anda telah mengundang saya dan juga pasukan saya ke istana ini, menyambut kami dengan baik. Saya pastikan persahabatan kedua kerajaan kita akan tetap terjalin selama salah satu dari kita tidak melakukan sesuatu pemberontakan!"
"Astaga Raja Albarca! Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak begitu, tidak akan ada pemberontakan yang ada hanya persahabatan!" sanggah Raja Alfonso sambil berjabatan tangan dengan Asteorope. Keduanya saling melempar senyum.
Tepat sebelum Asteorope pergi dari sana, Roselia menemui Asteorope diam-diam di sebuah ruangan kosong di istana itu dan dia memeluk kekasihnya. "As, kau harus berhati-hati dan cepatlah bawa bukti itu! Kumohon!"
"Ya, waktumu 2 hari lagi kan? Maka aku akan kembali dalam waktu dua hari untuk memberikan buktinya. Kau tenang saja, kau yang harus baik-baik saja." Asteorope mengurai pelukan itu lebih dulu, dia mengecup kening Roselia dengan lembut.
"Iya, aku akan baik-baik saja. Tapi, tolong tundukkan kepalamu sebentar,"
"Ada apa?"
"Kau terlalu tinggi, As!"
"Memangnya kau mau apa?"
__ADS_1
"Menunduk saja dulu,"
"Hanya kau yang berani membuat seorang Raja tunduk padamu," cetus Asteorope sambil tersenyum.
"Kenapa kau tidak mau?"
"Tentu saja mau, tapi kau harus ingat satu hal... bahwa di dunia ini aku hanya tunduk pada dua wanita,"
"Siapa dua wanita itu?"
"Ibuku dan dirimu," jawab Asteorope yang sontak saja membuat hati Roselia meleleh. Wajahnya bersemu merah, ia tak berani menatap Asteorope karena malu.
Kau memang pandai membuatku berdebar-debar.
Asteorope pun menundukkan kepalanya, kemudian Roselia memakaikan kalung miliknya yang berbentuk hati pada leher kekasihnya. "Kenapa kau memberikan kalung ini kepadaku? Bukankah kalung ini sangat berharga bagimu?"
"Justru itu, sama seperti kau yang memberikan gelang ini padaku... aku juga memberikan barang berharga milikku padamu. Kau jaga baik-baik ya dan selalu berhati-hati... fighting!" Roselia tersenyum lebar, dia mengepalkan tangannya seraya memberikan semangat pada Asteorope.
Ternyata Roselia.... telah menganggapku sebagai orang yang berharga baginya sampai-sampai dia menyerahkan kalung ini kepadaku.
"Fighting....aku mencintaimu."
"Aku juga!" Balas Roselia sambil tersenyum. "Oh ya, tuan Peter dimana? Akhir-akhir ini dia tidak tampak menyebalkan seperti biasanya."
"Jatuh cinta? Tuan Peter jatuh CINTA?" Roselia kaget bukan main saat mendengar ucapan Asteorope yang intinya mengatakan bahwa Peter si es batu jatuh cinta.
****,
Didepan ruangan itu, terlihat Peter dan Doris juga sedang mengobrol. Keduanya terlihat sedih karena Peter akan kembali ke Albarca.
"Jadi kau akan kembali ke negeri Albarca , tuan Peter?" Doris menatap Peter dengan mata berembun.
"Ya begitulah," jawab Peter dengan wajah lesu dan enggan pergi, apalagi melihat raut wajah Doris saat ini.
Mengapa aku jadi tidak mau pulang?
"Tapi kau akan kembali kan?" Tanya Doris sedih.
"Tentu, yang mulia pasti akan kembali kemari dan bersamaku juga."
__ADS_1
"Baiklah, berhati-hatilah Tuan."
"Doris, apa kau sedih saya akan pergi?" tanya Peter yang membuat Doris menangis.
"Tidak! Aku tidak sedih, tidak...hiks...hiks..." Doris menyangkalnya sambil menangis terisak.
Peter mendekati Doris lalu memeluk pelayan setia Roselia itu. Dia menepuk kepalanya. "Aku akan kembali dan sampai saat itu tiba, kau harus membuatkanku pancake ya! Kali ini tidak boleh ditambah garam dan sambal, apa kau paham?" Peter tersenyum tipis, dia ingat jelas bagaimana Doris pernah mengerjainya dengan memberikan pancake yang dicampur dengan garam juga sambal.
Doris terkekeh mendengar ucapan Peter. "Nanti kalau tuan kembali, aku pasti akan membuatkan Tuan pancake yang paling enak di dunia...pancake ala Doris! Aku janji, tapi Tuan harus kembali ya?"
"Iya, pasti!" Balas Peter sambil tersenyum.
Begitu aku kembali, aku akan mengatakan cintaku kepadamu Doris. Aku akan menikahimu.
Doris pun memberikan gelang untuk Peter, dia diajari membuat gelang oleh Roselia dari barang-barang sisa dan dia memberikan gelang pertama buatannya kepada Peter. Dengan senang hati Peter menerimanya, gelang berwarna warni bahkan langsung dipakainya di tangan kiri.
"Terima kasih Doris."
Doris menganggukkan kepalanya. Setelah Asteorope dan rombongannya pergi dari istana. Roselia melihat Stella tengah berjalan di lorong bersama Annie, pelayan yang dulu pernah tinggal di mansion Sullivan.
"Yang Mulia, bukankah itu Annie?"
"Hah! Dua racun itu ternyata telah bersatu untuk membuat kerusuhan di hidupku, baiklah. Akan aku hadapi semuanya," ucap Roselia sambil berdecih muak melihat keberadaan Stella dan Annie di sana.
"Menyebalkan sekali, laganya seperti sudah menjadi permaisuri saja padahal dia disini cuma numpang! Huh!" Doris ikut menggerutu melihat kelakuan Stella dan Annie yang dari cara berjalannya saja sudah sombong.
Akhirnya ke empat wanita itu berpapasan dan saling berhadapan, terutama Stella dan Roselia. Tiba-tiba saja seperti ada aliran listrik di sana saat kedua wanita itu bertemu pandang.
"Selamat pagi, Yang Mulia Putri Mahkota!" Sapa Stella pada Roselia tanpa membungkukkan badannya. Annie yang berada di belakang Stella juga tidak memberi hormat pada Roselia yang statusnya jauh lebih tinggi dari mereka berdua.
Roselia menatap Stella dengan tajam, disertai senyuman sinis di bibirnya.
...*****...
Spoiler bab selanjutnya...
Annie berteriak saat punggungnya dicambuk keras sampai berdarah-darah.
****
__ADS_1
Hai Readers, sambil nunggu up novelku mampir sini yuk 😍😍😊