
...🍀🍀🍀...
Frans sadarkan diri manakala ia merasakan ada sesuatu yang menggelitik menggeliat di kakinya. Sesuatu yang bersisik dan licin kulitnya.
Frans membuka mata, dia tercengang melihat ular membelit kakinya. "Akhh!! Ular ular.."
"Kau sudah sadar tuan? Bagaimana, apa kau suka ularnya?" tanya Peter sambil tersenyum.
Kemudian Javier menyodorkan tarantula ke wajah Frans, dia sangat jahil pada pria itu. Terlihat senyumannya yang begitu psiko. "A-apa kalian sudah gila? Apa yang kalian laku--kan! Kyaakk!! Jauhkan dariku manusia bar-bar! Jauhan!" Frans beringsut dari tempat duduknya, ia panik bukan main karena kakinya masih dibelit ular.
Theo, Javier, Peter dan Doris malah menertawakan pria itu. Mereka tidak percaya bahwa Ariana pernah menjalin hubungan dengan pria cemen itu. Jatuhlah harga diri dan image Frans didepan orang-orang asing itu.
Penampilannya dan wajahnya yang tampan tidak menolong imagenya saat ini. Bahkan Doris yang seorang wanita sama seperti Ariana, merasa Frans tidak cocok menjadi pria.
"Le-lepaskan ular ini! Tolong!" Frans berjingkrak-jingkrak berusaha menyingkirkan ular itu, tapi sungguh dia takut bahkan tak berani memegangnya.
Siapa orang-orang gila dan aneh ini? Kenapa mereka bisa ada di rumah Ariana?
Dalam hati Frans bertanya-tanya siapa mereka berlima dan apa hubungan mereka dengan Ariana.
"Snow, gigit dia!" titah Javier pada ular dengan corak warna putih itu. Tanpa disangka-sangka ternyata ular itu menurut pada Javier.
Ya, salah satu kemampuan Javier yang menguasai sihir hitam adalah bisa berbicara dengan hewan buas berbisa seperti ular, kalajengking dan lainnya. Walau di dunia ini dia tak bisa menggunakan sihir, tapi dia masih bisa membaca pikiran hewan-hewan disekitarnya.
"A-apa kau pawang ular hah? Aaaahhhh!!" teriak Frans dengan peluh keringat dingin membasahi wajahnya. Sungguh ia sangat takut dengan hewan menggeliat apalagi ular, belatung saja dia takut. Dan sekarang ular itu malah mengigit betisnya yang ditutupi oleh celana jeans.
Javier mendekat ke arah Frans dengan atensinya yang tajam bak elang pemangsa. "Jauhi Ariana, maka aku akan meminta ular itu menjauh darimu!"
"A-apa? Aku tidak mau! Tidak!" Frans menolak perintah Javier, ia datang kesini untuk memperbaiki hubungannya dengan Ariana dan masa iya dia akan pergi begitu saja?
"Oh....jadi kau tidak mau? Snow...naik ke atas!" titah Javier seraya menatap ular itu, si ular yang dipanggil Snow, menggeliat semakin ke atas dan sudah sampai di paha Frans.
Frans akhirnya menyerah. "Ba-baik...tolong jauhkan ini dariku! Jauhkan!" teriak Frans ketakutan.
Pria itu lihat tatapan meremehkan dari Theo, Doris, Peter dan tentunya Javier. Dia bersumpah akan balas dendam pada mereka semua.
"Janji dulu, bahwa kau akan menjauhi Ariana." ucap Javier sambil tersenyum.
"Iya aku janji, aku janji..." saat ini Frans hanya bisa patuh demi kesehatan mental dan jantungnya. Frans menggelengkan kepala, tak habis pikir bisa bertemu dengan orang-orang aneh yang entah siapa dan darimana. Kenapa juga mereka bisa berada di rumah Ariana?
Javier memerintahkan ular itu untuk melepaskan Frans. Setelah ular itu lepas dari kakinya, Frans berlari pergi dari sana dengan terbirit-birit.
"PFut...haha...dasar pengecut!" Peter terbahak.
"Cuih! Aku saja yang pria tidak menyukainya, apalagi wanita." cetus Theo kesal.
"Bagaimana pendapatmu sayang? Bila aku seperti pria jadi-jadian itu, apa kau akan tetap bersamaku?" Peter menoleh ke arah Doris yang sedari tadi menatap Frans dengan tatapan jijik.
__ADS_1
"Jangan gila Pete! Kau dan dia berbeda jauh, aku saja jijik melihatnya...iuhh..." Doris memegang perutnya. "Pahit...pahit..pahit.." wanita hamil itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nah, lihat kan? Bukan hanya para pria saja yang jijik padanya, wanita lebih jijik padanya!" cetus Peter sambil tersenyum membayangkan raut wajah Frans tadi. Belum lagi insiden mengompol, takut darah, ah segala rupa membuat gelak tawa.
Tak lama kemudian, Asteorope dan Ariana baru saja keluar dari kamar. Javier menatap dingin pada mereka lalu memalingkan wajah saat melihat bibir Ariana dan Asteorope memerah, sedikit bengkak. Pikiran Javier sudah macam-macam dan dia sudah bisa menebak apa yang pasangan kekasih itu di dalam kamar.
Theo, Doris, Peter tak berani berkomentar apalagi melihat raut wajah Javier yang terlihat dingin dan sorot matanya menyiratkan luka. Ariana juga melihat itu, ada iba di raut wajahnya melihat Javier sedih.
Javier ingatlah, kau sudah janji. Kau tidak boleh mengingkari janjimu pada Cain. Javier memalingkan wajah dari Ariana yang melihatnya.
"Ke-kemana Frans?" tanya Ariana pada mereka berempat untuk memecah keheningan.
"Dia sudah pergi nona, tenang saja! Tuan Javier sudah memberinya pelajaran." kata Theo sambil tersenyum.
"Semudah itu dia pergi?" Ariana menggelengkan kepalanya. "Ya sudah, aku--"
Belum sempat Ariana menyelesaikan kata-katanya, suara mobil terdengar dari luar rumah. Ariana segera berlari keluar rumah dengan senyuman di wajahnya.
Ariana menyambut seorang pria bertubuh tinggi dengan memakai topi fedora berwarna merah dan setelan bajunya yang rapi. Pria itu sudah sampai didepan pintu rumah Ariana, dia memeluk Ariana bahkan cipika-cipiki dengannya.
Belum selesai Javier dan Asteorope cemburu, kini sudah datang lagi pria lain yang membuat rahang mereka mengeras. "Kau sudah datang Liam?" sambut Ariana ramah.
Ketika Javier sudah bersiap dengan belatinya, Asteorope dengan pedangnya dan berjalan menghampiri Liam Ariana. Seketika langkah mereka terhenti mendengar suara si Liam.
"Iya bebs...eike sudah datang." ucap Liam dengan suaranya yang mendayu-dayu. "Tapi katanya cyin mau mengenalkan seseorang pada eike? Apa orang-orang itu, cyin?" tunjuk Liam dengan tangannya yang agak diangkat ke atas.
Javier dan Asteorope bernafas lega karena ternyata orang itu bukan benar-benar pria.
"Aku pikir lekong hanya ada di Gamarcus, ternyata di dunia ini juga ada." saat mengucapkannya, Asteorope melirik ke arah Javier.
Javier merasa dirinya tertampar dengan ucapan Asteorope, dulu kan dia penyuka sesama jenis walaupun sekarang dia telah sembuh. "Kau menyindirku?"
"Oh tidak! Aku hanya mengatakan tentang pria itu saja." Asteorope menunjukkan wajah tanpa dosanya setelah dia menyindir Javier.
Ariana pun meminta Liam untuk masuk ke dalam rumahnya terlebih dahulu sebelum mereka berangkat pergi syuting. Ariana memperkenalkan lima orang itu kepada Liam.
Tatapan Liam dari tadi tertuju pada Javier yang duduk disamping Asteorope. "Wow...cyin...you punya teman-teman yang sangat tampan! Maco man!" kata Liam heboh. "Terutama..." Liam beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Javier.
"Ma-mau apa kau?" sontak saja Javier bertanya seperti itu karena terkejut, apalagi tatapan Liam seperti akan memakannya.
"Terutama yang ini, Eike suka ototnya..." Liam memegang otot tangan kekar Javier.
"Lepaskan!" Javier melotot pada Liam, lalu menepis tangannya.
"PFut..." Theo, Peter dan Asteorope menahan tawa melihat Javier didekati oleh Liam. Javier tertohok dan merasa jengkel dengan semua orang yang ada disana.
"Liam! Sudahlah! Kita harus segera berangkat ke lokasi syuting sebentar lagi syuting ku akan dimulai." Ariana bergegas menarik tangan Liam, bisa bahaya kalau Liam sudah seperti ini dia tak mau pergi.
__ADS_1
"Tunggu dulu! Kita syuting, tapi bawa mereka juga yey?" tanya Liam pada Ariana.
"Mereka?"
"Yey... sayang sekali wajah mereka bila tidak dimanfaatkan dengan baik. Pria ini dan ini bisa ikut syuting! Kebetulan eike mendengar dari pak sutradara, bahwa mereka kekurangan pemain pengganti!" Liam menuju ke arah Javier dan juga Asteorope. Liam mengagumi ketampanan dua pria itu, belum lagi otot-ototnya yang sixpack mereka bisa menjadi bintang besar. Ya, bayangannya seperti itu
"Ah...aku rasa itu tidak perlu, mereka bahkan tidak berpengalaman!" Ariana langsung menolak usul dari Liam.
Bisa bahaya bila mereka berdua ikut ke tempat syuting, bisa-bisa mereka berbuat hal yang aneh lagi. Dan nanti aku memiliki adegan romantis bersama Thomas, yang ada As akan terbakar cemburu.
Namun Liam tidak peduli dengan penolakan yang dikatakan oleh Ariana dia tetap menawarkan usul tersebut kepada Javier dan Asteorope. "Bagaimana? Apa kalian mau ikut eike dan Ariana ke tempat syuting?"
"Kami akan ikut!" jawab Javier dan Asteorope kompak.
Aku harus menjaga Ariana dari pria menyebalkan tadi. Bahkan dalam hati pun kedua pria itu kompak ingin melindungi Ariana dari Frans.
Ariana kembali bicara. "Tidak! Kalian tidak bisa ikut! Kalian di rumah saja dan tunggu aku--"
"Ariana...cintaku sayangku, mereka sudah berkata yes...maka mereka akan ikut. Asyik...pundi pundi uang!" Liam bertepuk tangan dengan bangga setelah kedua pria itu setuju untuk ikut syuting bersamanya dan Ariana.
Akhirnya kedua pria itu ikut dengan Ariana dan Liam ke lokasi syuting. Sementara Doris, Theo dan Peter berada di rumah. Di dalam mobil, diam terus aja mau cari tentang penampilan Asteorope dan Javier.
"Kalian sudah tampan syin, hanya saja baju kalian--aih sudahlah, masalah penampilan bisa di permak!" cetus Liam dengan posisi duduk yang terus menempel pada Javier, bahkan kini dia sudah memposisikan tangan yang menggandeng tangan Javier. "Rambut kalian juga harus di potong karena terlalu gondrong."
"Lepaskan aku! Atau kau mau aku membunuhmu!" ancam Javier dengan mata elangnya. Liam langsung menundukkan kepalanya dan melepaskan tangannya dari
Javier.
"Aduh syin...jangan galak-galak begitu..."
"PFut..." Ariana menahan tawa melihat Javier dan Liam. Tapi sungguh, Javier bukannya tertawa tapi dia ingin menangis karena harga dirinya sebagai pria seperti telah direnggut. Semakin tidak punya muka saja dia didepan Ariana terutama rivalnya Asteorope.
"Aish...ini memalukan." gumam Javier pelan.
Beberapa menit setelah melalui perjalanan dengan mobil, mereka pun sampai disebuah taman yang akan menjadi tempat syuting Ariana kali ini.
Semua pandangan pria disana tertuju pada Ariana yang baru saja turun dari mobil. Mereka selalu mengangumi kecantikan Dewi Hollywood itu, apalagi sejak skandal Ariana yang menghebohkan dunia. Dan saat Ariana kembali ke dunia hiburan, namanya menjadi lebih bersinar dari sebelumnya.
Terlihat Luna, Stacy dan kedua asisten mereka melihat Ariana dengan sinis. Mereka berdua adalah teman baik Ariana yang ketahuan mengkhianatinya. "Cih! Malas sekali bisa satu lokasi syuting dengannya."
"Kau pikir aku tidak?" balas Stacy yang juga membenci Ariana. Mereka itu pada Ariana yang bisa lebih bersinar dari mereka berdua, karena itu mereka sangat membenci Ariana.
Tatapan Luna dan Stacy tiba-tiba saja tertuju pada kedua pria yang bersama Ariana yang juga turun dari mobil. "Oh my God! Siapa mereka? Apa mereka aktor baru?"
"Verry hot!! Omaygadd!" Luna ternganga melihat dua pria bening dibelakang Ariana.
...***...
__ADS_1