I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 128. Pengorbanan Cain


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Anika menangis terisak saat melihat kepergian Cain dari sana. Tubuhnya ambruk ke lantai, dia juga tidak mau semua ini terjadi.


"Aku juga tidak mau Ariana seperti ini, tapi aku tidak mau semua orang tau bahwa Ariana adalah anakku. Aku tidak mau kebahagiaanku selama ini menghilang kalau fakta itu terungkap, ya aku akui aku memang egois Cain. Maafkan aku Cain, maafkan aku Ariana, memang lebih baik kalian tidak pernah hadir dalam hidupku!!" Anika meremass pakaiannya, ia masih saja tetap egois dan tidak memikirkan bagaimana keadaan orang lain dan hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri.


Cain berjalan menghampiri Asteorope, Javier dan Theo yang ada didepan ruang rawat Ariana. Orang-orang lorong itu sontak menatap Cain dengan tatapan aneh, sebab ia masih memakai jubah penyihirnya.


Astaga! Aku lupa ganti baju. mereka pasti memandangku sebagai orang yang aneh, sama seperti dulu.


Theo dan Javier yang baru melihat Cain, mereka sangat terkejut karena pria itu tiba-tiba berada disana. Sama seperti Asteorope, ia juga bertanya-tanya apa yang terjadi dan bagaimana bisa.


Disisi lain ada Sheila dan Tommy yang juga menunggu dokter keluar dari ruangan Ariana, namun dokter itu masih belum keluar juga.


"Aku tau kalian bingung kenapa aku bisa datang kemari, akan aku ceritakan segalanya nanti. Sekarang kita harus melihat kondisi Ariana terlebih dahulu!" kata Cain yang membungkam ketiga pria itu. Mereka menyimpan pertanyaan mereka untuk saat ini.


"Maaf tuan, anda siapa?" tanya Tommy pada Cain dan membuat si penyihir agung itu menoleh ke arahnya.


"Saya adalah ayah dari Ariana," jawab Cain pada pria itu.


"Oh begitu, saya Tommy...putri tuan sudah menolong istri saya dan saya berhutang banyak pada putri tuan. Terima kasih saja rasanya tidak cukup," ucap Tommy merasa tidak enak pada Cain karena Ariana telah menyelamatkan nyawa istrinya.


Cain hanya tersenyum sinis, ia tau bahwa pria didepannya ini adalah suami dari wanita yang masih berstatus sebagai istrinya. Tapi Cain tidak membenci Tommy yang bahkan tidak tahu apa-apa tentang Anika.


"Benar, terima kasih saja sepertinya tidak cukup. Tapi saya butuh doanya untuk kesembuhan anak saya, hanya itu yang terpenting." kata Cain dengan wajah datarnya. Tak lama kemudian terlihat sosok Anika yang terlihat kacau karena ia habis menangis.


Tommy menggandeng tangan Anika, ia begitu mencemaskan istri tercintanya itu dan Cain melihatnya dengan tajam. Ia tidak cemburu, tidak sama sekali. Sebab rasa cintanya luruh pada wanita itu dalam sekejap mata saat ia tau wujud asli dari Anika, apalagi melihat sikapnya pada Ariana.


"Honey, kau dari mana saja?" tanya Tommy cemas.


"Aku dari kamar mandi," jawab Anika sambil memalingkan wajahnya.


"Kau menangis?" tanya Tommy seraya mengusap basah di pipi istrinya.


"Aku tidak apa-apa,"


"Sayang, aku tau ada apa-apa ketika kau mengatakan tidak apa-apa. Cepat katakan padaku kau dari mana saja barusan?" cecar Tommy karena ia sangat mencemaskan istrinya.


"Tadi aku habis berdoa di Gereja, aku berdoa supaya gadis itu selamat." ucap Anika berdusta tanpa terlihat bersalah.


"Cih!" Asteorope berdecih kesal mendengar kebohongan wanita itu.


Berdoa katanya? Untuk Ariana? Dia bahkan tidak mau mengakui anaknya sendiri apalagi peduli padanya.


Tommy mulai kesal melihat gelagat Asteorope yang sedari tadi terus mengumpat dan berdecih. Tommy menyadari bahwa pria muda itu tidak menyukai Anika dan dia tidak tahu kenapa.


"Apa kau ada masalah dengan istriku?" tanya Tommy seraya mendekati Asteorope, atensinya begitu tajam pada pria muda itu.


"Oh...ad--"


CEKLET!


Saat Asteorope akan menjawab pertanyaan dari Tommy, pintu ruang UGD terbuka lebar. Seorang dokter pria keluar dari ruangan itu dengan raut wajah kurang mengenakkan dan terlihat peluh keringat di wajahnya.


Semua atensi kini tertuju pada sang dokter yang baru saja menangani Ariana di ruangan UGD itu.


"Dokter, bagaimana keadaan putri saya?" tanya Cain lebih dulu pada dokter itu.

__ADS_1


"Keadaan pasien kritis dan harus segera melakukan operasi pada bagian kepala sebab cederanya tergolong parah dan pasien juga kehilangan banyak darah." tutur Dokter menjelaskan kondisi pasiennya.


Semua orang yang ada didepan ruangan itu tersentak kaget mendengar penjelasan dari dokter bahwa keadaan Ariana kritis dan cedera kepalanya parah.


"Kalau begitu, cepat lakukan operasi dok! Selamatkan anak saya!" pinta Cain pada dokter itu.


"Saya tidak bisa melakukan operasi sekarang, sebab pasien membutuhkan donor darah. Sedangkan di rumah sakit kami stok darah yang dibutuhkan sedang tidak ada." jelas dokter yang membuat hati Cain, Asteorope, Javier dan Theo menjadi ketar-ketir.


"Golongan darahnya apa dok?" tanya Tommy pada dokter itu. Ia akan mencari donor darah itu dengan koneksinya.


"AB+," jawab dokter.


Sheila dan Tommy langsung melihat ke arah Anika.


"Ibu, bukankah ibu memiliki golongan darah AB+?"


"Benar sayang, kau bisa mendonorkan darah mu untuk Ariana." kata Tommy sambil tersenyum.


Jujur saja, sebenarnya Cain enggan bila Anika harus mendonorkan darahnya untuk Ariana. Tapi apa boleh buat karena ini demi keselamatan anaknya itu.


Cain melihat proses pengambilan darah Anika untuk Ariana sambil melihat kondisi putrinya yang masih terbaring lemah tak berdaya dengan selang infus dan alat medis lainnya yang terpasang di tubuhnya. Luka di kepalanya terlihat parah.


"Sebenarnya aku tidak Sudi kau mendonorkan darah untuk anakku, tapi ini demi keselamatannya dan aku tidak mau egois. Aku adalah orang tua, aku adalah seorang ayah yang memikirkan perasaan anaknya dan juga mementingkan keselamatannya." cetus Cain dengan ikatan kebencian pada Anika.


Rahang Anika mengeras, ia tidak terima terus-terusan disalahkan oleh pria itu dan akhirnya dia angkat bicara. "Kenapa kau terus menyalahkanku seolah-olah semua ini adalah salahku? Bukankah kau yang membuat aku dan Ariana kembali ke dunia ini? Kami hidup menderita tanpamu, terutama aku! Kau tau apa yang aku lakukan agar aku bisa menghidupi Ariana? Aku bahkan bekerja sebagai wanita malam demi sesuap nasi untuknya! Sedangkan kau? Dimana kau berada? Kau bahkan tidak kembali padaku padahal kau sebelumnya sudah berjanji bahwa kau akan menyusulku kemari. Taukah kau Cain? Apa alasan Sebenarnya aku meninggalkan Ariana di taman hiburan itu?"


Cain tercekat, ia juga merasa salah tapi Cain merasa bahwa kesalahan yang tidak sebanding dengan kesalahan Anika yang tega membiarkan Ariana menderita.


"Aku... ingin hidup Ariana lebih baik dengan tinggal di panti asuhan karena aku sadar diri bahwa aku tidak bisa membiayainya."


****


2 jam berlalu...


Operasi pun berjalan dengan lancar dan dokter mengatakan bahwa Ariana telah melewati masa kritisnya. Namun dokter juga mengatakan bahwa akan ada efek samping dari cedera kepalanya, entah itu geger otak, kelumpuhan atau amnesia. Dokter belum bisa menganalisanya secara pasti sebab Ariana masih belum sadarkan diri. Mereka berdoa supaya Ariana baik-baik saja dan tetap utuh seperti sebelumnya.


Tommy, Anika dan Sheila mengucapkan maaf pada Cain sekaligus terima kasih pada Ariana karena sudah menyelamatkan Anika. Setelah lurus biaya administrasi rumah sakit, Tommy, Anika dan juga anak mereka meninggalkan rumah sakit.


Asteorope pamit masuk ke dalam ruangan Ariana, ia ingin menemani gadis itu disana. Asteorope melihat keadaan Ariana yang masih terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit.


Hatinya sedikit lega dan tidak sebanding tadi karena operasi Ariana berjalan dengan lancar. Pria itu duduk di samping kursi tempat Ariana berbaring.


Terdengar suara mesin medis yang menggembak di ruangan itu dan memecah keheningan. Tapi bagi Asteorope semuanya tetap hening.


"Ariana." Asteorope menggenggam tangan Ariana, dia mengecup punggung tangan Ariana yang terasa dingin dibibirnya. "Terimakasih untuk tetap bertahan! Terimakasih...dan aku mohon satu lagi padamu agar kau bisa kembali siuman. Apa kau dengar apa kata ayahmu? Kita bisa kembali ke Albarca bersama, asalkan kau sehat. Jadi kumohon padamu bukalah matamu, mari kita hidup bahagia di Albarca seperti yang kau mau. Mari kita punya 5 anak yang lucu-lucu, ah tidak... bagaimana kalau dua anak saja seperti yang kau inginkan?"


"Ariana...apa kau tau? Aku sudah menyiapkan istana permaisuri untukmu, bahkan aku sudah memerintahkan Peter untuk membuatkan taman bunga yang indah untukmu dan ya, aku juga sudah membuatkan taman hiburan untuk kita dan anak-anak kita nanti. Taman hiburan itu baru saja dibangun saat aku meninggalkannya, mungkin sekarang sudah beres. Jadi, mari kita lihat apakah taman hiburan itu bagus atau tidak dan kau harus memberikan pendapatmu?"


"Ariana cepatlah siuman, aku benar-benar tidak tahan melihatmu terluka seperti ini jantungku seperti ditusuk-tusuk. Berkali-kali kau membuatku sangat ketakutan. Aku mencintaimu Ariana." ucap Asteorope sambil mengecup punggung tangan Ariana dengan lembut, bulir air mata perlahan mulai jatuh lagi mengenai punggung tangan Ariana. Tapi gadis itu masih setia dengan mata terpejam.


****


Sementara itu di luar ruang rawat Ariana. Theo, Javier dan Cain berada disana.


"Tuan Cain, bagaimana bisa anda berada di sini? Bukankah Anda mengatakan pada saya bahwa Anda tidak bisa datang ke dunia ini lagi?" tanya Javier pada Cain, padahal sudah dari tadi dia tetap bungkam.


"Akan aku jelaskan." jawab Cain sambil Maulana pas selalu duduk di kursi ruang tunggu. Ia pun menceritakan bagaimana dia bisa melintas ke dunia tersebut.

__ADS_1


#Flashback


Di istana Albarca, Cain selalu memantau apa yang terjadi di dunia Ariana lewat cermin ajaib yang dimilikinya. Di cermin ajaib itu, Apa saja aktivitas Ariana selama di dunianya.


Namun pada suatu malam, Cain mendapatkan mimpi bahwa Ariana akan mengalami kemalangan. Pada tengah malam dan saat itu juga, Cain langsung pergi ke tempat cermin ajaib itu berada. Dan benar saja apa firasatnya, Ariana mengalami kemalangan dan betapa terkejutnya Cain ketika dia melihat Anika juga berada di dalam cermin tersebut bersama Ariana.


"Aku tidak bisa berdiam diri seperti ini terus-menerus, aku harus pergi kesana! Tapi... bagaimana?" gumam Cain gelisah, tangannya terkepal dengan kuat dia tidak sabar ingin menemui Ariana dan melihat secara langsung bagaimana kondisi putrinya itu.


"Apa aku harus meminta bantuan Aragon?! Ah tidak!"


Cain mulai berpikir untuk meminta bantuan dari Aragon, Si penyihir hitam yang jahat. Pria yang pernah mencoba untuk mencelakai Ariana karena kekuatannya. Apakah ia harus minta bantuan kepada penyihir jahat itu untuk pergi ke dunia modern?


Cain berada di dalam dilema yang besar, di satu sisi dia ingin bertemu dengan Ariana dan melihat keadaannya secara langsung. Tapi di sisi lain dia tidak mungkin meminta bantuan dari penyihir hitam itu karena pasti dia menginginkan sesuatu atau timbal balik karena membantunya.


Pria itu pun menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia terpaksa mengambil keputusan besar untuk meminta bantuan musuhnya. Dengan sihir teleportasi, dia pergi ke tempat di mana Aragon berada yaitu tempat yang sangat berbahaya.


"Cain? Ada apa kau kemari? Apa kau ingin menghabisiku?" Aragon berbicara seolah-olah dia meremehkan Cain. Ya, kekuatan Cain emang tidak sehebat dulu. Aragon bahkan jauh lebih kuat darinya untuk saat ini dan jelas Cain tak bisa membunuhnya.


"Sebenarnya Aku malas untuk bertemu denganmu apalagi bicara denganmu. Tapi hanya kau satu-satunya orang yang bisa membantuku saat ini."


Aragon langsung beranjak dari tempat duduknya, terlihat wajahnya yang suram dan dipenuhi oleh energi sihir hitam.


"Bantuan? Kau? Meminta bantuan kepadaku Cain?" tanya Aragon terheran-heran tak percaya, bahwa musuhnya akan meminta bantuan padanya.


"Aku serius Aragon, bantu aku untuk membawa putriku kembali di dunia sana."


"Putrimu masih hidup? Woah...ini berita bagus." Aragon baru tau bahwa Ariana masih hidup, ia pikir Ariana dan Anika sudah mati di dunia modern.


Kalau saja aku cukup kuat, aku pasti tidak akan meminta bantuan dari musuhku sendiri.


"Aragon, aku ingin Ariana bersamaku disini. Apa kau bisa membantuku untuk membawanya kembali?"


"Baiklah...aku akan membantu untuk membuka portal, tapi kau tau ini tidak gratis." kata Aragon seraya tersenyum menyeringai entah apa yang akan dia minta dari Cain sebagai balasannya.


Benar saja, Cain sudah menduga ini bahwa pertolongannya tidak gratis. Aragon meminta setengah dari kehidupan Cain juha kekuatannya. Pada dasarnya penyihir memang selalu hidup lebih lama daripada manusia lainnya dan Cain dipastikan akan berusia sekitar 120 tahun. Namun karena usianya telah di potong setengahnya bersama kekuatan sihirnya. Cain tidak masalah, demi Ariana apapun akan ia lakukan.


Bahkan nanti saat ia kembali ke Albarca, ia akan kehilangan setengah kekuatan sihirnya yang memang sisa sedikit lagi.


#End Flashback


Javier dan Theo tidak menyangka bahwa Chen akan mengorbankan dirinya hanya untuk bertemu dengan Ariana dan membawa mereka semua ke Albarca.


"Tuan Cain..."


"Ketika Ariana siuman nanti, jangan beritahu dia tentang semua ini. Hanya kalian saja yang tau." kata Cain pada Javier dan Theo, untuk tutup mulut. Ia tak mau Ariana tahu tentang semua ini dan hanya membuatnya sedih.


Tak lama kemudian terdengar suara pintu yang terbuka. Terlihatlah Asteorope diambang pintu. Sontak saja membuat ketika pria yang ada di depan ruangan tersebut menoleh padanya. "Ada apa Yang Mulia?"


"Kita harus panggil dokter!" seru Asteorope dengan wajah panik.


...****...


Satu bab lagi malam ya guys...yuk ramaikan komennya 🤧🤧🤧 biar Ariana dkk cepat kembali ke Albarca ❤️❤️😘


Spoiler bab selanjutnya...


"Nona! Aku merindukanmu!" seru Doris seraya memeluk wanita berambut panjang pirang itu dengan rindu. Dan disinilah mereka berada, istana Albarca.

__ADS_1


__ADS_2