I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 93. Bertemu lagi


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Ariana langsung menghubungi anggota kepolisian yang menandai dirinya dalam gambar gelang giok itu. Dia mengkonfirmasinya lewat chat pribadi. Padahal seharusnya dia meminta izin dulu pada Liam untuk membalas pesan di media sosial, namun ini sangat mendesak.


Ya, sebenarnya dia tidak percaya bahwa Asteorope datang ke dunia itu yang dirasanya mustahil. Tapi gelang itu adalah bukti nyata, bukti cinta mereka dan keberadaan Asteorope.


"Kenapa tidak ada balasan? Aku ingin menghubunginya tapi--aku tidak tau nomor ponselnya. Ah ya...apa aku pergi kesana saja ya?" gumam Ariana, lalu gadis itu beranjak dari ranjang. Mengambil jaket, topi dan juga sepatu ketsnya.


Tak lupa ia memakai masker, lalu meninggalkan apartemennya. Dia pergi diam-diam dari sana, beruntung lingkungan apartemen sedang sepi.


"Syukurlah tidak ada orang, haaahh...lagipula ini sudah malam. Semoga saja tidak ada wartawan yang melihatku. Bisa bahaya kalau ketahuan, aku tak mau terkena skandal lagi." gumam Ariana lalu masuk ke dalam mobilnya yang ada di parkiran. Lalu dia tancap gas menuju ke kantor polisi yang alamatnya tertera di akun media sosial tersebut.


*****


Di dalam sel penjara.


Asteorope, Javier, Theo, Peter dan Doris terdiam hening beberapa saat setelah mendapatkan teguran dari polisi yang tadi ponselnya di geprek oleh Theo dan Peter.


"Lihatlah! Karena kalian kapten George jadi marah." tegur salah seorang anggota kepolisian yang lebih muda dari George. "Apa kalian sedang bermain opera, hah? Kalian benar-benar aneh."


"Jaga mulutmu itu! Kalau kau berada di duniaku, kau sudah ku kuliti hidup-hidup!" ancam Javier marah karena sedari tadi si polisi itu mengoceh dan membuat telinganya sakit.


"Tuan, tolong bersabarlah!" Theo menepuk-nepuk pelan tangan Javier seraya menenangkannya.


"Dasar orang-orang gila! Kapten George sudah meminta pihak dari rumah sakit jiwa untuk membawa kalian, setelah ini kami tidak akan melihat orang-orang gila seperti kalian lagi." cetus polisi itu lalu pergi meninggalkan Asteorope dkk disana.


"Bertemu Roselia juga tidak, bagaimana ini Raja Albarca?" tanya Javier pada Asteorope resah.


"Dia pasti akan datang. Aku yakin, dia akan datang." kata Asteorope tenang sambil memegang dadanya. Sudah berjalan sejauh ini, mana mungkin tak bertemu. Pikir Asteorope positif, berbeda dengan Javier yang berapi-api dan terus cemas. Ia takut tak bisa melihat Roselia alias Ariana.


Tak lama kemudian, George datang masih dengan wajah kesalnya pada lima sekawan. Dia menatap tajam ke arah mereka secara bergantian. "Ada yang ingin bertemu dengan kalian!" ujar George tegas.


"Siapa? Apa itu Roselia?" tanya Javier semangat.


"Apa nona-ku?" tanya Doris yang juga penasaran siapa yang ingin menemui mereka berlima.


"Dewi... maksud saya nona Ariana, silahkan!" George menoleh ke belakang dan terlihat seseorang dengan memakai jaket hitam, memakai topi, celana pendek dan rambut panjang berjalan mendekati sel tempat Asteorope, Peter, Theo, Javier dan Doris di tahan.


Ariana mematung melihat ke lima orang itu terutama saat melihat Asteorope. Hatinya berdebar dan air matanya luruh melihat pria itu benar-benar berada disini, di dunianya. Pria yang selalu ia rindukan dan selalu ia mimpikan sejak ia kembali ke dunianya.


Kau... ternyata menyusulku kesini...As. Kalian semua...


Asteorope dan Javier menatap dalam pada manik mata berwarna biru di balik masker di wajahnya. Mata biru yang mengeluarkan bulir air mata.


Gadis ini...apa dia Roseliaku?


Apa dia Ariana si bar-bar?. Batin Javier dengan mata yang memperhatikan penampilan tarian dari atas sampai bawah.

__ADS_1


"Nona Ariana, apa anda baik-baik saja?" tanya George pada Ariana yang tiba-tiba menangis dan mematuk.


Ariana pun membuka maskernya, lalu menyeka air matanya. Begitu gadis itu membuka maskernya, kelima orang dari dunia novel itu tercengang. Melihat kecantikan Ariana dan melihat kemiripan Ariana dengan Roselia.


"Nona...nona Roselia!" kata Doris sambil menangis melihat Ariana.


"Doris..." lirih Ariana memanggil Doris dengan gemetar.


"Hiks...nona..." Doris menatap Ariana dengan tatapan sendu.


"Tenanglah Doris, aku akan mengeluarkanmu dari sini." kata Ariana sambil tersenyum, ditengah air mata yang masih jatuh membasahi pipinya.


Astaga...nona Roselia ternyata benar-benar berada di dunia ini dengan wujud yang berbeda. Cantik sekali. Batin Theo mengangumi kecantikan Ariana.


Asteorope dan Javier tertegun melihat Ariana, sosok wanita yang mereka cintai ternyata masih hidup. Walaupun wajah Roselia dan Ariana berbeda tapi mereka memliki kemiripan, terutama mata birunya itu. Ada rasa rindu, sedih dan niat ingin memeluk gadis itu sekarang juga. Namun mereka masih syok, berpikir bahwa ini hanya mimpi dan mereka terdiam.


"Nona, apa nona benar-benar mengenal mereka berlima?"


"Ya, mereka adalah teman saya yang berasal dari kota lain." terang Ariana.


"Benarkah itu nona? Tapi mereka terlihat seperti orang gila..." gumam George tak yakin, bawa artis papan atas seperti Ariana akan mengenal lima orang yang disebut orang gila ini.


"Jangan bicara sembarangan pak, mereka bukan orang gila. Mungkin mereka hanya linglung saja. Tolong bebaskan mereka, saya akan memberikan jaminan." ucap Ariana tegas dengan sorot mata tajam kepada George.


George menggaruk-garuk kepalanya, "Baiklah nona, silahkan isi dulu dokumen jaminannya." Pinta George pada Ariana salah satu syarat untuk membebaskan 5 orang itu.


"Baik pak." jawab Ariana pada George. Kemudian ekor mata Ariana melihat Asteorope dan empat orang lainnya. "Aku akan kembali, tunggu sebentar."


Saat Ariana akan pergi, Doris memegang tangan gadis itu.


"Nona...nona tidak akan pergi meninggalkan kami kan?"


"Ini duniaku, memangnya aku mau kemana? Tenanglah...aku hanya akan mengisi beberapa dokumen formalitas untuk jaminan kalian agar bisa keluar dari penjara." Ariana tersenyum, ia menatap Doris dengan rindu.


Astaga! Entah bagaimana caranya mereka bisa berada disini? Sungguh, aku mempunyai banyak pertanyaan untuk mereka.


Ariana menyimpan dulu semua pertanyaan yang berada di benaknya dan dia mengisi dokumen jaminan pembebasan mereka berlima. Ia juga memberikan uang ganti rugi yang cukup besar kepada orang-orang yang mobilnya di rusak oleh Asteorope, Theo, Javier dan yang paling parah oleh Peter. Tak hanya itu, Ariana juga mengganti ponsel pak polisi ditambah tanda tangan dan foto bersamanya.


"Nona... kau bilang kalau mereka adalah teman-temanmu bukan? Tapi... saya mohon berhati-hatilah, mereka membawa pedang sungguhan!" bisik George pada Ariana. "Lalu mereka juga menginjak nginjak ponsel saya sampai rusak, mereka pikir ponsel saya adalah roh jahat! Gila bukan?" cerocosnya lagi pada Ariana.


Ariana terperangah mendengarnya. Ya, tapi dia memaklumi kelima orang itu karena mereka baru pertama kali datang ke dunia ini yang jelas berbeda dengan dunia mereka.


"Iya pak, bapak tenang saja. Saya yang menjamin bahwa mereka tidak akan berbuat macam-macam." Ariana kembali tersenyum.


"Ya saya harap begitu nona, tapi saya sarankan untuk selalu berhati-hati."


Setelah itu Asteorope, Javier, Theo, Peter dan Doris di bebaskan dari balik jeruji besi. Doris lebih dulu memeluk nonanya itu, dia bisa merasakan bahwa gadis itu memang nonanya. "Nona! Hiks... ternyata nona benar-benar masih hidup...aku senang sekali..."

__ADS_1


"Iya iya, sudahlah... Mari kita bicara di rumahku." ajak Ariana pada mereka berlima karena tidak nyaman dengan tatapan semua orang disana, bisa-bisa ada wartawan yang tau.


Mereka berlima pun mengikuti Ariana dengan tatapan mata bingung kesana kemari seperti orang linglung. Theo dan Peter sampai lebih dulu didepan pintu kantor polisi yang terbuka tertutup otomatis.


Srek!


Srek!


"Astaga! Sihir macam apa ini?" pekik Theo terkejut begitu dia melewati pintu yang terbuka tertutup itu.


Dan dengan konyolnya Peter malah bolak-balik di depan pintu. Sontak saja semua orang disana tertawa. Pendapat mereka tentang Peter dan Theo, yaitu kampungan.


"Ini...terbuka dan tertutup...apakah ini berbahaya?" gumam Peter sambil berjalan mondar-mandir kesana kemari.


"Astaga! Aku tidak tahu akan separah ini..." Ariana memegang keningnya, melihat kelakuan Theo dan Peter.


Javier yang penasaran juga ikut-ikutan bolak-balik masuk keluar dari pintu itu. "Dunia ini benar-benar aneh..." gumam Javier.


"Ayo cepat pergi dari sini! Kita ke mobilku! Cepat!" Ariana berujar sambil berjalan lebih dulu dibandingkan mereka berlima. Dia menutupi wajahnya karena malu.


Mereka berlima seperti anak yang mengekor induknya. Mengikuti Ariana sampai depan tempat parkir. Ariana pun menyalakan mobilnya dengan tombol smart car.


Tut...Tut!


"ASTAGA!" Theo dan Peter berpelukan, manakala mereka mendengar suara alarm mobil.


Javier dan Asteorope juga terkejut, namun mereka tak seheboh Theo dan Peter yang sampai berpelukan. Ariana ingin tertawa tapi percayalah, dia berusaha menahannya.


"Suamiku!" Doris menarik baju suaminya dengan kesal, ia tak terima suaminya dekat-dekat dengan Theo.


"Ayo masuk ke mobil..."


"Ini namanya mobil?" tanya Asteorope polos.


"Ini benda yang kalian hancurkan tadi kan? Benda ini namanya mobil, alat transportasi di dunia ini." jelas Ariana pada mereka berlima.


"Apa sama seperti kereta?" tanya Javier dengan tatapan yang menelisik.


"Iya bisa dibilang begitu, sekarang ayo naik!" Ariana hendak masuk ke dalam mobilnya. Namun langkahnya terhenti saat melihat Javier dan Asteorope naik ke atas mobil dengan ilmu peringan tubuh dan duduk disana.


"Astaga! Apa yang kalian lakukan disana? Turun!"


"Tadi katanya di suruh naik. Kami sudah naik mobil." ucap Javier dengan polos dan duduk manis seperti anak kecil yang patuh. Asteorope juga sama.


"Ayo naik, bukankah kita akan ke rumahku? Aku bantu naik ya." ucap Asteorope memberikan penawaran.


"Haaihhh...." Ariana mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Dia stress harus menjelaskan semuanya satu persatu, tapi disisi lain dia merasa lucu.

__ADS_1


...*****...


Makasih komen kalian bikin aku mood😁😁 tar aku tambahin satu bab lagi ya tapi sabar


__ADS_2