I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 121. Membalas Luna


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Di sekolah elit menengah atas, Ariana, Thomas, Luna, Stacy dan kru syuting berada disana. Syuting kali ini berlatar di sekolah dan menceritakan kehidupan masa lalu atau bisa disebut dengan flashback.


Ariana, Thomas, Luna dan Stacy memakai seragam sekolah. Padahal sekolah di luar negeri itu tidak diharuskan memakai pakaian seragam, dari sekolah menengah pertama pun anak-anaknya sudah memakai pakaian bebas. Tapi sutradara ingin mengambil latar belakang lain dengan genre remaja.


"Kau masih cocok memakai baju remaja, sangat imut dan cantik." puji Thomas sambil melirik Ariana dari atas sampai ke bawah. Bagi Thomas, Ariana adalah yang tercantik dan wajar bila gadis itu dinobatkan sebagai Dewi Hollywood.


"Terima kasih." jawab Ariana ketua sambil duduk di kursi lipat tak jauh dari sana. Dia sangat cuek pada Thomas, padahal semua wanita diluar sana berlomba-lomba ingin dekat dengan Thomas.


Apa wanita ini tidak tahu bahwa dia sangat menarik? Semakin dia bersikap cuek padaku, aku semakin tertantang untuk mendekatinya. Apalagi dia tidak ingin dekat denganku.


Tipe seperti Thomas pernah Ariana temui, ya contohnya si Frans, mantan kekasih Ariana yang saat ini tidak diketahui kabarnya. Sama-sama sampah dan perasaan mereka tidak tulus pada Ariana.


Thomas mengambil kursi lipat tak jauh dari sana, ia hendak mengalihkan kursi itu tepat ke samping Ariana. Namun saat dia akan duduk di kursinya, dengan jahil Theo menendang kursi itu dan membuat Thomas jatuh terduduk.


"Fuckk! Siapa yang berani menjahiliku?" Thomas memegang bokongnya yang terasa sakit.


Beberapa orang disana melihat Thomas jatuh terduduk, mereka menahan tawa. Thomas terlihat malu, di mana image-nya yang seorang raja film itu saat ini? Sumpah! Sakitnya memang tidak seberapa tapi malunya itu, luar biasa.


Sialan! Thomas hanya bisa mengumpat dalam hati karena dia takut image-nya akan rusak dimata semua orang.


"Maaf tuan, saya tidak sengaja." kata Theo sambil terkekeh, ia mengulurkan tangannya untuk membantu Thomas berdiri.


Thomas memaksakan diri untuk tersenyum lalu membalas uluran tangan dari Theo. Tapi Theo tiba-tiba saja melepaskan uluran tangannya dan membuat Thomas kembali terjatuh.


"Oh! Maafkan saya tuan, tangan saya licin." Theo menunjukkan raut wajah kaget yang dibuat-buat, tapi di dalam hatinya dia tertawa melihat Thomas terjengkang seperti itu.


Rasakan itu! Beraninya kau mendekati nona!


Peter dan Ariana yang ada didekat sana, menahan tawa melihat kelakuan Theo yang bisa dibilang kekanak-kanakan, tapi mereka menyukainya.


"Hahaha...tidak apa-apa." Thomas memaksakan diri untuk tersenyum dan kini dia memutuskan untuk berdiri sendiri tanpa bantuan dari Theo.


Sialan! Ada salah apa aku padanya? Kenapa dia memperlakukanku seperti ini? Sialan!


Raja film Hollywood itu tidak paham kenapa Theo bersikap tidak baik padanya, perasaan dia tidak punya salah apapun pada Theo.


"Nona, ini minum untuk nona!" kata Theo sambil menyerahkan sebotol air minum pada Ariana.


"Terima kasih." balas Ariana sambil tersenyum dan mengambil botol air minum ditangan Theo.


Thomas pun menatap Theo dengan tajam, begitu dia tahu kalau pria yang menjahilinya itu adalah bodyguard Ariana. Dia marah dan kesal, tapi sebisa mungkin dia mencari muka di depan gadis itu.


"Ariana aku baik-baik saja, kau tidak usah mengkhawatirkan aku." Thomas memegang tangan Ariana dengan tak sopan. Ariana langsung menghindar dan menatapnya nyalang seperti singa betina yang marah.


"Siapa kau? Kenapa aku harus khawatir padamu?" ucap Ariana ketus.

__ADS_1


"Oh...Ariana, apakah kau masih marah padaku karena kejadian kemarin?" tanya Thomas masih dengan senyuman manisnya tapi bagi Ariana senyuman itu adalah senyuman yang memuakkan.


Gadis itu berdecih, satu alisnya terangkat keatas. Body languagenya mengatakan bahwa dia tidak menyukai pria itu, sama sekali. Tapi Thomas masih terus mendekatinya dan ia sangat tidak suka dengan pria itu.


Ariana tidak menjawab pertanyaan Thomas, dia terus memasang wajah juteknya. Sampai sutradara Emerick datang ke sana dan mengatakan pada kedua pemeran utama itu untuk segera bersiap karena syuting akan segera dimulai.


Sutradara dan penulis skenario benar-benar menuruti apa yang disarankan oleh Ariana, mereka menghapus adegan ciuman dari film bergenre remaja ini. Mereka setuju dengan pendapat Ariana, maka adegan ciuman di hapus dan cukup pelukan, pegangan tangan saja. Setidaknya hal ini bisa membuat Asteorope tenang di rumah, dia tidak mau membuat masalah dalam hubungannya. Apalagi ia akan segera menikah dengan pria itu.


Saat syuting, terjadi adegan jambak-jambakan antara Ariana dan Luna. Ariana tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan ini, dia akan membalas perbuatan Luna tempo hari. Luna yang sudah mencoba menggoda Asteorope.


"Apa yang kau lakukan? Aku ini sahabatmu, kenapa kau tidak membelaku?" tanya Luna sambil memegang dadanya, terlihat air mata ular yang luruh di pelupuk matanya.


Memang karakter drama queen sangat cocok untuk Luna dan ia memerankan wanita penuh tipu muslihat.


"Kenapa aku harus membelamu? Bukankah kau berbohong padaku? Kau yang mengkhianatiku! Kupikir kau sahabat, ternyata kau tak lebih dari serigala berbulu domba!" seru Ariana sambil berkacak pinggang, lalu dia menjambak rambut Luna dengan kasar.


"Akkhhh!"


"Hei, pelan-pelan." bisik Luna pada Ariana, dia merasakan benar-benar sakit ketika gadis itu menarik rambutnya.


Ariana malah tersenyum sinis, lalu menarik rambut Luna si pelakor dengan semakin keras. Peran Ariana sendiri adalah sebagai wanita tangguh yang pacarnya direbut oleh Luna dan berpisah bertahun-tahun dengan pacarnya karna kesalahpahaman.


"AKHHH! lepaskan aku Grizel! Lepas!" teriak Luna yang benar-benar merasa kesakitan dengan jambakan Ariana dan sialnya ia tak boleh membalas.


Grizel adalah nama yang diperankan oleh Ariana dalam film tersebut.


"Kenapa? Kau mau marah padaku? Kau yang berbohong padaku dan kau mau marah padaku?!" teriak Ariana membentak Luna.


Sutradara, kru film, bahkan Theo dan Peter berdecak kagum melihat akting Ariana yang begitu memukau dan luar biasa. Ariana begitu menjiwai sebagai protagonis yang tangguh.


"Theo, nona Ariana sangat keren..." Theo mengacungkan jempolnya dengan menatap kagum pada Ariana.


"Tidak heran dia begitu di puja-puja disini." ucap Peter setuju dengan Theo bahwa wanita itu keren.


Mereka memberikan jempol untuk aktingnya. Sementara Luna mulai kesal karena Ariana terlalu 'menjiwai' aktingnya menyerang Luna. Namun sebisa mungkin Luna menahan rasa sakit itu.


CUUUTTT......!!!


Suara Emerick membuat Luna dan Ariana kembali pada posisi masing-masing. Ariana memasang senyum ramah. Sementara Luna berusaha berdiri dengan menahan kesal, rambutnya yang baru saja di creambath dan rebonding dibuat acak-acakan oleh Ariana.


Sialan kau Ariana!


"Akting kalian sangat bagus sekali! Bravo!" puji Emerick pada kedua wanita itu. "Ayo semuanya istirahat dulu!" ajak Emerick pada semua kru film itu untuk break sejenak.


Ariana melengos menatap tajam pada Luna, ia berusaha untuk membantu Luna berdiri.


"Kau tidak apa-apa?"

__ADS_1


"Diam kau!" sentak Luna sangat emosi pada Ariana.


"Jaga bicara dan jaga sikapmu, kalau wartawan atau fans melihatnya. Bisa bahaya untuk karirmu." bisik Ariana sambil tersenyum sinis.


"Bukankah kau yang harus hati-hati, Ariana? Kau memiliki skandal dengan dua pria...kau juga pernah hancur karena skandal kotormu." ketus wanita berambut pendek itu.


"Percuma saja bicara dengan sampah, tak ada habisnya. Tapi aku disini untuk memperingatkanmu, aku pernah mati dua kali dan aku tidak akan pernah bisa dibodohi lagi. Setiap yang kau lakukan padaku, akan ku balas berkali-kali lipat. Dan ini baru permulaan!" Ariana menepuk nepuk debu di rok Luna, dia tersenyum meremehkan pada wanita itu lalu pergi meninggalkannya.


"Sialan kau, Ariana!" seru Luna geram.


Kini Ariana, Peter dan Theo sedang berada di sebuah tenda untuk makan siang bersama. Sementara Liam tidak ada disana karena dia masih berbicara dengan sutradara.


"Ayo kalian makan yang banyak, mumpung gratis...haha."


"Baik nona. Saya baru tau dan baru merasakan bahwa makanan disini ternyata rasanya sangat enak enak!" sahut Theo sambil melahap makanan fried chicken saus bolognese di kotak makannya.


"Kalau begitu makanlah yang banyak selagi kalian disini." jawab Ariana seraya tersenyum.


"Benar, sayangnya di dunia kita tidak ada makanan seperti ini." celetuk Peter sambil tersenyum getir. Ia tiba-tiba teringat dengan istrinya. "Apakah Doris makan dengan baik? Apakah anak kami tidak rewel di dalam sana?" gumam Peter sedih.


Ariana dan Theo tidak tau cara menghibur Peter, mereka juga bingung. Apa yang harus mereka lakukan? Mendadak Ariana kembali takut, bagaimana bila Asteorope juga menghilang.


"Doris pasti baik-baik saja, dia kan--"


Ariana tidak sempat menyelesaikan ucapannya, saat melihat Peter yang mulai transparan. Ia menggosok-gosok matanya beberapa kali dan meyakinkan dirinya bahwa ia hanya salah lihat.


"Peter...kau... tubuhmu!" Theo juga menyadari bahwa tubuh Peter mulai menghilang.


"A-aku merasakan ada yang aneh..." gumam Peter lalu melihat tangannya yang transparan. "Aku juga akan menghilang, aku akan menyusul--"


Peter tiba-tiba saja menghilang setelah tubuhnya sempat transparan. Theo dan Ariana syok melihatnya.


"PETER!"


****


Sementara itu di istana kerajaan Gamarcus, terlihat Michael sedang duduk di singgasana raja. Benar, sekarang pria itu sudah menjadi raja dan Stella diangkat menjadi ratunya.


Entah bagaimana ceritanya, Stella menjadi ratu. Yang jelas dia terlihat cantik saat mengenakan mahkota ratu dan baju kebesarannya. Sesuai dengan cerita novel, ia memang menjadi ratu.


"Yang Mulia, apa anda akan tetap berada disini sepanjang hari? Anda tidak akan pergi dengan saya?" tanya Stella sedih karena Mikhael terus menghabiskan waktunya dengan pekerjaan bukan dirinya.


Michael bahkan selalu mengabaikan Stella, tidak pernah menyentuh wanita itu. Seakan hasratnya terhadap wanita telah hilang. Sejak ia mendengar kabar Roselia tiada.


"Yang Mulia! Dia sudah mati, anda tidak boleh memikirkannya lagi!" teriak Stella marah.


...****...

__ADS_1


__ADS_2