I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 81. Keluar dari istana


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"Ayah...mengapa baju ayah berdarah? Ayah kenapa?" tanya Roselia seraya menatap pria paruh baya itu dengan tatapan cemas. "Bahkan wajah ayah pucat!" seru Roselia yang menyadari wajah Cain begitu pucat. Terlihat dari bibirnya yang berwarna putih.


"Ayah baik-baik saja nak." hanya itu jawaban Cain ketika anaknya bertanya tentang keadaannya. Asteorope hanya diam memandang pada ayah dan anaknya itu. Dia tidak bersuara dan bingung juga mau bicara apa.


"Bagaimana bisa ayah baik-baik saja? Ayah berdarah....ayah terluka!"


"Ayah benar-benar tidak apa-apa. Oh ya, Yang Mulia Raja, sebaiknya kita pergi dari sini. Nanti malam kita ada pertemuan dengan Raja," ucap Cain mencoba mengalihkan perhatian ke arah lain agar anaknya tidak bertanya lebih banyak.


Asteorope tercekat dengan ucapan Cain. Lalu dia menganggukkan kepalanya dan membenarkan ucapan Cain. "Ya benar, kita harus pergi tuan Cain."


"Ta-tapi..."


Cain melenggang pergi dari kamar itu mendahului Asteorope dan membuat Roselia bingung. "Kita bertemu lagi nanti malam, kau beristirahatlah." ucap Asteorope lalu mengecup kening wanitanya.


"Euh...iya." sahut gadis itu bingung dengan sikap Cain dan Asteorope yang terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.


Ada apa dengan ayah dan As? Kenapa mereka terlihat bingung? Kenapa baju ayah berdarah?. Roselia bertanya-tanya dalam hatinya.


*****


Malam itu semua keluarga kerajaan berkumpul di aula istana. Terlihat meja besar disana, diatasnya ada berbagai hidangan tersaji, lengkap dengan minumannya juga. Ratu dan Raja sampai di aula itu lebih dulu.


"Apa anda akan terus seperti ini Yang Mulia? Sampai kapan?" tanya Ratu Mirabella kepada sang Raja dengan mata berkaca-kaca. Diwajahnya terlihat semburat kemarahan pada suaminya itu.


"Ratu, kau harus mengecilkan suaramu bagaimana jika ada orang lain yang mendengar?!" tegur Raja kepada istrinya yang suaranya mulai meninggi.


"Biarkan saja orang lain mendengarnya! Biar semua orang tau, seperti apa sosok Raja mereka yang sebenarnya! Bahwa Raja mereka tidak lebih hanya seorang pecinta wanita, seorang buaya!"


"RATU! Jaga bicaramu itu!" bentak sang Raja pada istrinya. Dia tidak menyangka bahwa istrinya akan semarah ini. Biasanya Mirabella hanya bisa menahan dan menahan marahnya apalagi didepan orang banyak.


Ada alasan mengapa kemarahan Mirabella begitu meledak. Yaitu saat ia melihat pergulatan ranjang antara suaminya dan Jennifer sebelum keduanya datang ke aula istana.


Bibir Ratu gemetar, matanya berkaca-kaca. Meski Alfonso sudah tidak mencintainya lagi, tapi setidaknya pria itu harus menghargainya sebagai seorang istri dan ibu negeri ini. Tapi Alfonso merendahkan dirinya di depan seorang pelayan rendahan yang jelas kastanya berbeda jauh dengannya bagai bumi dan langit.


"Yang Mulia Raja--"


Ketika Ratu akan berbicara, tiba-tiba saja terdengar suara lantang dari seorang pengawal istana yang memberitahukan kehadiran Asteorope, Michael, Cain dan Roselia.


"Putra mahkota, Putri Mahkota, Lord Rainer Caine Alvra dan Baginda Raja Asteorope memasuki ruangan!!" kata pria itu dengan lantang.


Raja mendekat ke arah Ratu dan berbisik padanya. "Jaga sikapmu didepan tamu, Ratu! Kau tidak boleh macam-macam...hapus air matamu itu, dasar cengeng." ketus Alfonso pada istrinya.


Mirabella menahan marah dan mengusap air matanya yang tadi sempat luruh sedikit itu. Alfonso dan Mirabella menyambut Raja Albarca dan si penyihir agung dengan baik. Sekalian Alfonso juga akan memberitahukan tentang Roselia dan Michael yang berpisah.


Di sela-sela makan malam itu, Alfonso akhirnya buka mulut dan mengatakan tentang Roselia.


"Putri Mahkota, putra mahkota, hari ini ada sesuatu yang ingin aku bicarakan tentang hubungan kalian berdua." kata Alfonso yang membuat Roselia Michael tercekat saat mendengarnya, mereka menoleh kepada sang Raja.


Asteorope dan Cain masih menggerakkan tangannya untuk mengambil makanan seolah-olah mereka tak mendengar apapun, tapi sebenarnya mereka memasang kuping baik-baik dan mendengarkan semuanya.


"Ya, Yang Mulia Raja... apa yang ingin yang mulia katakan kepada kami?" tanya Roselia dengan sopan dan santun.


Alfonso menghela nafas panjang, kemudian dia mengatakan apa yang ingin dia katakan si dari tadi. Ekor matanya melirik ke arah Michael, berharap bahwa anaknya itu tidak akan murka dengan apa yang akan dia katakan sekarang. "Putri Mahkota, segera bereskan barang-barangmu karena mulai besok kau harus pergi dari istana ini!" Alfonso berujar pada Roselia.


Dalam hati Asteorope dan Cain merasa senang saat mendengarnya, jangan lupakan Roselia. Dia memang terkejut tapi dia juga bahagia, keputusan raja adalah kebebasan dirinya dari pria bernama Michael. Pria yang hampir saja memperkosanya dan sudah melecehkannya.


Senyuman terbit dibibir Roselia, dia tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. "Apa maksudnya sang Raja ingin aku berpisah dengannya? Baguslah!"


Satu-satunya orang yang tidak senang dengan keputusan ini adalah Michael. Bahkan dia sampai terperanjat menggebrak meja makan itu.

__ADS_1


BRAK!


"Yang Mulia Raja, apa-apaan ini?! Apa maksudnya?" tanya Michael membentak ayahnya.


Alfonso tidak terima dibentak seperti itu oleh putranya apalagi didepan Raja negeri lain dan orang terhormat seperti Cain. Alfonso melotot dengan tatapan mengintimidasinya, meminta agar Michael kembali duduk dan juga menenangkan dirinya.


"Putra mahkota!" suaranya datar tapi menusuk dan membuat Michael tak berani berkutik bila ayahnya sudah seperti ini. Mungkin inilah yang disebut wibawa seorang Raja.


Michael kembali duduk, dengan raut wajah yang semrawut. "Bagaimana ini? Kenapa ayah tiba-tiba saja mengusir Roselia? Apa ayah mengingkari janjinya?" .Batin Michael resah.


"Yang Mulia Raja, apa maksud anda?"


"Setelah aku memikirkannya matang-matang, aku memutuskan untuk mengabulkan permintaanmu yang ingin berpisah dengan anakku."


Mata Roselia seketika menjadi berbinar mendengarnya. "Terimakasih Yang Mulia, saya akan membereskan barang-barang saya malam ini."


"Baik dan ya...satu lagi. Kau tidak boleh menginjakkan kakimu di negeri ini lagi." jelas Alfonso yang semakin membuat semua orang disana terkejut kecuali Mirabella yang datar saja karena dia memikirkan perselingkuhan suaminya dengan pelayan itu.


"Baik Yang Mulia."


Terserahlah, lagi pula aku memang tidak mau tinggal di negeri ini lagi.


"Ayah!"


"Michael, kita bicarakan ini nanti." pungkas Alfonso seraya menatap putranya dengan atensi yang begitu tajam.


Ketika raja sudah memanggil nama, maka Michael semakin tak berkutik. Setelah makan malam itu dan surat-surat pemutusan pertunangan telah ditandatangani oleh Roselia dan Michael, semua orang keluar dari aula istana kecuali Michael yang akan bicara dengan Raja.


Sedangkan Roselia, dia begitu bahagia dan merdeka karena besok ia akan meninggalkan istana besok. "Doris, kau harus bantu aku membereskan semua barangku!"


"Baik Yang Mulia." sahut Doris.


Yang Mulia diusir tapi beliau begitu bahagia. Doris tersenyum melihat Roselia yang terlihat sangat bahagia.


"Mana berani saya begitu--saya akan panggil nona saja." tukas Doris.


"Haahh...ya baiklah, baiklah." Roselia menghela nafas, dia tidak bisa meruntuhkan keras kepala gadis itu.


Gadis itu sudah membayangkan ketika dirinya bebas dari sana. Ia akan menghabiskan banyak waktunya dengan ayahnya yang tidak pernah ia rasakan selama ini. Dia menjadikan Albarca sebagai tempat tujuan karena ia tau dari novel kalau Albarca adalah negeri yang indah, apalagi saat musim salju.


"Sepertinya ada yang sedang bahagia." kata Asteorope yang sudah berada di belakang Roselia. Senyuman terbit indah ketika melihat kekasihnya disana, tak lupa Peter juga ada dibelakangnya.


Roselia tidak tahan untuk tidak memeluk Asteorope. Ia memeluk pria itu. "As...aku sangat--"


Astaga! Ini masih di istana.


Ia tersadar lalu melepas pelukannya dari Asteorope, kemudian pria itu mencuri kecupan dibibir Roselia sekilas.


Cup!


"As..." mata Roselia terbelalak.


"Besok kita akan pergi bersama ke Albarca, cepat tidurlah! Beristirahat lebih awal, sayang." ucap pria itu seraya tersenyum dan memperlihatkan kedua lesung pipinya yang membuat Roselia berdebar.


Apalagi ada kata sayang disana.


Sayang yang membuat Roselia semakin melayang, seolah ada kembang api meledak dihatinya. Suara bariton rendah khas Asteorope berhasil membuat Roselia terpesona.


"Karakter favoritku memang luar biasa dan mengalahkan pemeran utama." gumam Roselia dengan suara pelan.


"Kau bilang apa?"

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak bilang apa-apa...baiklah besok pagi kita akan pergi, aku akan beristirahat...sampai ketemu besok." kata Roselia seraya berpamitan pada Asteorope untuk pergi ke kamarnya bersama Doris.


Setelah selesai bicara dengan Asteorope, Roselia dan Doris pergi ke kamar mereka. Peter dan Asteorope melambaikan tangannya pada kedua wanita itu.


Besok! Aku akan melamarmu Doris, harus.


*****


Roselia pergi ke kamarnya dengan hati yang bahagia, dia dan Doris membereskan barang-barang mereka untuk pergi besok. Dia tidak akan peduli pada keluarga Sullivan lagi.


Disaat dia sedang bahagia, tiba-tiba saja dia teringat dengan sosok Roselia asli yang sudah lama tidak muncul. Apa mungkin wanita itu telah tenang setelah keinginannya memenjarakan Stella dan tidak membuat Stella bersama Michael bersama? Ah sudahlah! Dia tak mau memikirkan itu lagi.


"Nona...ini sudah malam, saya akan tidur di sofa." ucap Doris pada nonanya itu.


"Kau tidur saja disampingku," ajak Roselia pada Doris.


"Tapi saya tidak berani, nona." kata Doris menolak dengan sopan.


"Doris, kau sudah seperti adikku sendiri. Tolong jangan tolak keinginan kakakmu ini." kata Roselia sambil tersenyum dan menepuk-nepuk sebelah ranjangnya.


Doris menganggukkan kepalanya, lalu dia naik ke atas ranjang Roselia. Kedua wanita itu tidur disana dengan perasaan bahagia menyambut esok hari.


Namun tiba-tiba saja, terlihat bayangan hitam di ruangan itu. Ia masuk melalui jendela dan menghampiri dua gadis yang tengah tertidur lelap itu. "Setelah aku membantumu lepas dari putra mahkota, lalu kau akan pergi bersama pria itu? Tidak Roselia, itu tidak akan terjadi." desis pria itu seraya mengelus rambut Roselia.


"Kau! Kau SIAPA? Mau apa kau pada nona---" Doris menyadari keberadaan pria berpakaian serba hitam itu dikamarnya.


"Diam kau!" tukas pria itu seraya melotot dengan mata tajamnya.


Pria itu menggendong Roselia seperti karung beras dengan mudahnya. Dan saat itulah Roselia terbangun, apalagi Doris berteriak. "Akh! Lepaskan aku! Siapa KAU!"


"Lepaskan nona! Lepaskan! Kau tidak boleh menganggu nona-ku!" teriak Doris.


Doris mencoba membantu Roselia agar bebas dari kungkungan pria bertubuh tinggi itu, namun pria itu malah menusuk Doris dengan belati kecil perak miliknya. "Dasar pengganggu!" desis pria itu setelah menancapkan pisau itu di perut Doris.


Gadis itu terkapar dengan kondisi terluka di lantai. Mata Roselia membulat panik saat melihat Doris tidak berdaya.


"Doris! Tidak! DORI--Hmpph!"


Ia pun membekap mulut Roselia agar gadis itu tak berteriak lagi dan menutup matanya dengan kain.Tak hanya itu tangan dan kakinya juga di ikat. Dia dibawa ke sebuah tempat seperti kereta.


Siapa sebenarnya yang menculikku? Apa si gay psikopat? Lalu aku mau dibawa kemana?


"Kau tidak akan bisa pergi kemanapun ROSELIA! Kau hanya milikku seorang!" gumam pria itu.


Roselia yang berulang kali mendengar suara itu, akhirnya menyadari bahwa pria yang menculiknya adalah Javier.


Javier membawa Roselia entah kemana dengan kereta kuda itu dan entah kenapa juga tidak ada yang peduli mereka mau kemana walaupun melihat mereka.


Para pengawal seperti patung dan tatapan mereka kosong, mereka membiarkan Javier pergi dengan kereta kudanya keluar dari istana. Di sekeliling para pengawal itu terlihat ada bayangan hitam menyelimuti.


Doris....bagaimana keadaannya? Bagaimana bila tidak ada yang menolongnya? Astaga...Javier kau iblis!


Roselia berdoa untuk keselamatan Doris dsn dia juga merutuki kegilaan Javier.


****


Di kamar Roselia, Doris memegang perutnya yang terluka. Ia berusaha untuk bangkit, namun tenaganya terkuras lemah dan tubuhnya sakit. "Nona...nona..."


Mengapa para pengawal tidak ada yang datang? Apa mereka tuli?


Wajahnya berkeringat dan nafasnya tersengal-sengal. Tak lama kemudian, ada seseorang yang masuk ke kamar itu juga melalui jendela. Dia terkejut melihat Doris terbaring di lantai dengan kondisi bersimbah darah.

__ADS_1


"Astaga! Doris!" pria itu mendekati Doris.


...****...


__ADS_2