
...🍀🍀🍀...
Sesampainya di rumah, Ariana tidak bicara dan lebih banyak diam. Keempat pria yang ada disana bahkan tak berani bersuara, kecuali Asteorope yang memang jelas adalah kekasih dari Ariana.
Wajah gadis itu memerah, matanya terlihat berkaca-kaca. Dia gelisah dan resah. Baru saja dia bahagia dengan lamaran
"Kita bicara besok saja, kau terlihat sangat lelah dan besok kau ada syuting bukan?" kata Asteorope guna memecahkan suasana yang hening itu.
Ariana menghela nafas kasar, dari raut wajahnya dia seperti membenarkan ucapan kekasihnya. Ariana beranjak dari tempat duduknya. Theo, Peter dan Javier menatap Ariana dengan cemas.
"Maaf, aku mau istirahat dulu." ucapnya lalu melenggang pergi dari sana dan masuk ke dalam kamarnya.
Brak!
Pintu kamar tertutup cukup keras, tubuh Ariana merosot dibelakang pintu itu. Dia menahan isak tangisnya, sungguh ia sangat takut bahwa semua pertemuannya dengan Asteorope dan semua orang di dunia novel love for Stella adalah ilusi dan mimpinya saja.
"Kumohon jangan...ya Tuhan, aku mohon. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain mereka semua. Di dunia ini aku tidak punya seseorang yang benar-benar menyayangiku, bahkan ibuku sendiri pun membuang ku." Ariana duduk memeluk lututnya, sambil menahan tangisnya sekuat tenaga. Ia tak mau keempat pria di luar sana mendengarnya menangis.
Namun Asteorope dan Javier yang berada didepan pintu, mendengar jelas bagaimana gadis itu terisak. "Kenapa dia menangis?" tanya Javier pada Asteorope, seolah menuduh pria itu yang sudah membuat Ariana menangis.
"Aku akan jelaskan." Raja Albarca itu menghela nafas panjang, ia mengajak Javier untuk duduk di kursi ruang tengah untuk bicara.
Beberapa saat setelah Asteorope dan Peter menjelaskan masalah hilangnya Doris, Javier mengambil kesimpulan bahwa waktu mereka di dunia ini sudah menipis.
"Kau ingat apa yang dikatakan oleh tuan Cain? Akan terjadi sesuatu karena kita melawan hukum alam," jelas Javier memberikan kesimpulan dengan apa yang terjadi.
"Jadi maksudmu ini adalah akibatnya?" Asteorope mengigit bibir bagian bawahnya, ia kini paham apa yang membuat Ariana resah dan langsung pucat tadi.
"Tuan...jadi menurutmu, Doris kembali ke istana Albarca?" tanya Peter penasaran dan cemas dengan kondisi istrinya.
"Ya, aku pikir begitu dan cepat atau lambat kita juga akan kembali ke dunia kita," ujar Javier dengan suara lemah, seakan tak tega meninggalkan dunia itu.
Tak tega karena harus meninggalkan Ariana di dunia ini, tanpa bisa membawanya karena ia tak punya cara untuk membawa wanita itu ke dunianya.
Apa yang ada di kepala Javier, tampaknya juga sama dengan apa yang dipikirkan oleh Asteorope. Mereka sama-sama berat untuk meninggalkan Ariana, inginnya membawa Ariana pergi tapi mereka tak punya cara.
Malam itu tampak kelabu, Peter, Theo, Javier dan Asteorope terlihat tidak tenang dalam tidur mereka. Apalagi Peter yang berpisah dengan Doris, ia takut terjadi sesuatu pada istri dan bayi yang dikandungnya.
"Doris...anakku semoga kalian baik-baik saja sayang." bisik Peter sambil menatap gelang pemberian Doris yang terpasang di tangannya. Pria itu tidur di sofa ruang tengah dengan kondisi gelisah bersama dengan Theo yang tiduran di kursi yang ada di seberangnya.
"Aku yakin istri dan calon anakmu, akan baik-baik saja Pete," ucap Theo seraya menguatkan Peter dari kegelisahannya.
"Semoga saja, kuharap begitu!" kata Peter dengan mata yang sayu, dia sangat kepikiran dengan Doris.
****
Sementara itu Ariana meringkuk di dalam kamar, dia tidur menyamping sambil menangis. Memikirkan hari esok, bagaimana bila Asteorope dan semua orang menghilang, maka ia akan sendirian lagi.
"As...As!" Ariana tersadar dan beranjak dari tempat tidurnya, dia panik dan memanggil manggil nama Asteorope.
__ADS_1
"AS!"
Ketika Ariana akan membuka pintu kamarnya, pintu kamar itu sudah ada yang membukanya. Pria bertubuh tinggi dan memiliki paras tampan itu sudah berdiri didepannya, dia tersenyum pada Ariana.
"AS!" panggilnya lagi.
"Aku disini Ariana,"
Gadis itu menangis, lalu memeluk Asteorope dengan erat seakan tak mau melepaskannya. Asteorope balas memeluknya, satu tangannya mengelus kepala Ariana dengan lembut.
"Kau tidak boleh pergi, kau harus disini bersamaku! Kau tidak boleh kemana-mana!" tegas Ariana dengan buliran air mata menembus baju Asteorope.
Pria itu mengurai pelukannya lebih dulu. "Jachanku adalah wanita yang kuat, kenapa kau jadi cengeng seperti ini huh?" Asteorope mengusap air mata di pipi Ariana, ia berusaha untuk menguatkan Ariana walaupun dirinya sendiri tidak kuat bila benar perpisahan itu akan terjadi lagi.
Cukup satu kali Asteorope melihat kematian gadis itu, cukup satu kali perpisahan diantara mereka. Asteorope tak mau berpisah lagi dengan Ariana.
"Kita tidur ya, ayo...ini sudah pukul 2 dini hari." ucap pria itu seraya melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 2 dini hari.
Dengan kedua tangan kekarnya, Asteorope menggendong Ariana ala bridal. Kemudian dia membaringkan tubuh gadis itu ke atas ranjang.
Cup!
Asteorope mengecup kening Ariana dengan lembut, lalu menyelimuti tubuh Ariana dengan selimut hangat.
"As..." Ariana memegang tangan Asteorope, menahan pria itu untuk tidak jauh-jauh darinya. Matanya menatap sendu penuh harap, mata itu juga masih berkaca-kaca.
"Ya, aku disini." ucap Asteorope lalu naik ke atas ranjang dan memposisikan tubuhnya di samping gadis itu.
Tuhan...kumohon jangan pisahkan kami lagi. Aku tidak mau sendirian lagi, aku ingin bertemu ayah. Untuk apa aku datang kemari kalau pada akhirnya aku kesepian? Lebih baik aku disana.
"Tidurlah Jachanku." ucapnya seraya mengusap rambut Ariana, mengelus juga kepala gadis itu.
Ariana pun bergerak mendekat, ia mendekat dan memeluk tubuh Asteorope dan memutuskan untuk tidur dengan posisi seperti ini. Asteorope dengan senang hati menerimanya, ia pun ikut menikmati posisi ini. Menjadi bantalan untuk kepala kekasihnya.
Tak berselang lama kemudian, mungkin karena lelah seharian ini. Tak butuh waktu lama untuk Ariana tertidur dalam pelukannya.
Asteorope menatap Ariana dengan sendu dan begitu teduh. "Aku tidak mau berpisah darimu lagi Ariana, aku tak mau...aku mencintaimu...aku ingin hidup selamanya denganmu sampai kita tua, sampai akhir hayatku.Tapi kenapa Tuhan...ini begitu sulit." gumam Asteorope dengan hati yang perih, memikirkan hal yang akan terjadi selanjutnya.
####
Sinar mentari masuk melalui celah jendela dan membangunkan gadis yang tengah tertidur pulas diatas ranjang empuknya.
Gadis itu mulai membuka matanya, menyadari hari sudah pagi. Dia teringat ada jadwal syuting hari ini.
"Oh ya...hari ini ada jadwal syuting jam 10."
Ariana mengedarkan pandangannya kesana kemari, mencari sosok pria yang semalam tidur di sampingnya. Seketika wajahnya berubah menjadi pucat. "As kemana?"
Gadis itu beranjak dari tempat tidurnya, tempat pertama yang ia tuju adalah kamar mandi.
__ADS_1
Kosong!
Kemudian Ariana pun pergi keluar dari kamarnya,ia hanya melihat Theo dan Peter yang tengah menonton televisi kecil yang Ariana bawa dari apartemennya, karena tv besar dirusak oleh Theo dan Peter saat pertama kali tinggal di rumah itu.
"Nona, anda sudah bangun?" sambut Peter dan Theo pada Ariana.
"Dimana As...dan dimana juga Javier?!" sentak Ariana panik, tidak menemukan keberadaan dua pria itu.
"Ada apa?"
Suara bariton rendah itu membuat atensi Ariana tertuju pada sosok pria yang menunjukkan kepalanya dari dapur. Dada Ariana yang tadinya sesak, kini terasa lega saat melihat keberadaan pria itu.
Ya Tuhan, syukurlah As masih ada disini.
"Selamat pagi As." sapa Ariana sembari berjalan mendekat pada kekasihnya yang kini terlihat memakai celemek Doraemon. "PFut..."
"Ada apa? Ada yang lucu kah?" tanya Asteorope sambil memegang pisau dapur ditangannya. Jangan lupakan Javier, dia juga ada disebelah Asteorope, memakai celemek sailor moon.
"PFut...hahaha..." tawa Ariana pecah melihat celemek yang dipakai dua pria maskulin itu. Tapi sekarang mereka terlihat sangat macco dalam artian lain.
Javier dan Asteorope diam-diam tersenyum melihat Ariana tertawa meski karena hal sederhana yang mereka lakukan.
Syukurlah Ariana tertawa.
"Kalian...kenapa kalian memakai pakaian seperti ini," Ariana masih menahan tawanya.
"Kenapa? Ini sangat keren, Doraemon yang bisa melakukan apa saja dengan kantong ajaibnya dan sailor moon dengan kekuatan bulan akan menghukum siapapun yang jahat di muka bumi ini!"
"Astaga, hahaha." Sontak Ariana tertawa lagi mendengar penjelasan Javier dengan muka datarnya itu.
"Javier bagaimana lagunya tadi? Bukankah kita menontonnya!"
"Kau saja yang menyanyi," tuduh Javier pada Asteorope.
"Aku lupa,kalau aku tidak lupa mungkin aku sudah menyanyikannya," Serka Asteorope jujur. Kontan matanya mengisyaratkan sesuatu pada Javier.
"Ehm... bagaimana ya?" Javier berpikir, sementara Ariana menantikan apa yang akan dilakukan kedua pria ini.
Detik berikutnya, Javier. tersenyum menyeringai. "Ah! Aku ingat!"
Javier menarik nafas dan mulai menyanyi. "Aku ingin begini, aku ingin begitu...aku ingin ingin itu itu lagi...semua semua semua dapat dikabulkan dengan kantong ajaib--"
"Aku ingin terbang bebas di angkasa!" sambung Asteorope.
Ariana tertawa lepas mendengar kedua pria itu menyanyi dengan gaya konyol mereka. Theo dan Peter diam-diam merekam aksi konyol tuan Marquez terhormat dan juga Raja yang agung itu.
"Hihi...ini sangat lucu, Pete."
"Iya, kau benar." Peter setuju dan terkekeh geli.
__ADS_1
Namun mereka terharu karena demi Ariana, dia pria itu rela merendahkan diri dan melakukan hal yang memalukan.
...****...