I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 82. Diculik si Psikopat


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Asteorope yang kala malam itu akan menemui Roselia di kamarnya, malah melihat pemandangan yang tidak menyenangkan. Dia melihat Doris terluka dengan bersimbah darah di lantai.


"Yang--Mulia...Ra--ja." lirih gadis itu dengan suaranya yang parau dan lemah.


"Doris! Apa yang terjadi kepadamu?!" sentak Asteorope sambil membantu Doris untuk beranjak bangun, gadis itu kesakitan memegangi perutnya.


"Yang Mulia... seseorang telah membawa...nona pergi, dia...dia..." nafas Doris tersengal-sengal, dia meringis kesakitan.


"A-apa?"


Asteorope itu terkejut saat mendengar penuturan Doris bahwa Roselia di bawa pergi orang seseorang. Namun dia mencoba menenangkan dirinya dan segera memanggil Peter.


Kebetulan pria itu sedang berjaga di depan jendela kamar dan dengan cepat Peter masuk ke dalam ruangan itu. "Doris...apa yang terjadi padamu?" Peter langsung menghampiri Doris dengan cemas. Wajahnya panik melihat Doris terluka.


"Peter...tolong... selamatkan nona...nona dibawa pergi...nona...nona... diculik...a-aku...tidak bisa menolong nona...akuh...malah terluka." ucap Doris dengan suara yang terbata-bata dan air matanya mengalir membasahi wajahnya. Disaat terluka seperti ini wanita itu masih memikirkan keadaan nonanya.


"Peter! Kau panggilah tuan Cain dan bawa dia kesini agar dia bisa mengobati Doris. Lakukan semuanya diam-diam tanpa diketahui oleh orang-orang. Aku akan menyusul wanitaku!"


Berani sekali dia menculik kekasihku! Dia cari mati.


Raja Albarca itu terlihat gusar dan marah begitu dia mengetahui Roselia di culik entah oleh siapa. Dia tidak punya dugaan siapa yang berbuat jahat pada Roselia, namun asumsinya pada Derrick atau Michael. Dia memutuskan untuk mencari dulu Roselia dan jika ia sulit menemuinya, maka ia akan mendatangai Derrick dan Michael.


Secepat kilat, bersamaan dengan angin berhembus kencang, Asteorope pergi dari kamar itu. Sementara Peter menggendong tubuh Doris dengan hati-hati. "Peter...jangan menangis..." ucap Doris pelan, matanya melihat Peter menangis.


"Aku tidak menangis!" sangkal Peter tegas.


"Aku baik-baik saja...sungguh..." Doris menutup mata dan tangannya terkulai lemah di dalam gendongan Peter.


"Doris! Doris bangun Doris, kau harus baik-baik saja." Peter panik melihat Doris tidak sadarkan diri, wajahnya pucat. Ia pun membaringkan Doris di atas ranjang tersebut, lalu dengan cepat memanggil Cain di kamarnya untuk segara menolong Doris.


****


Di jalan yang tak tau dimana, Roselia masih buta karena matanya tidak bisa melihat apapun dan ditutup oleh kain. Mulutnya juga ditutup oleh kain tebal.


Sial! Javier apa maksudnya dia menculikku? Apa dia punya dendam padaku? Mungkinkah dia...


Brak!


Roselia mendengar dengan jelas suara pintu yang dibuka dengan kasar. Kemudian seseorang menggendong tubuhnya bak karung beras. "Hmph! hmph!!" gadis itu berontak mencoba memukul-mukul tubuh kekar pria yang menggendongnya itu.


"Tenanglah sayang, kau akan baik-baik saja...aku tidak akan menyakitimu selama kau baik." kata Javier dengan santainya. Entah dia mau membawa Roselia kemana.


Sialan! Ternyata benar-benar kau Javier, Psikopat gila! Tidak waras. Maki gadis itu didalam hatinya pada Javier.


Javier terus berjalan membawa Roselia ke dalam ruang bawah tanah, tempatnya menyiksa para korban saat ia menjalankan misinya. Tempat itu berada di perbatasan antara negeri Albarca dan Gamarcus.


Kenapa aku mencium bau anyir? Baunya seperti... Roselia tercekat ketika mencium bau anyir disekitar sana. Ia mulai merasa panik dan semakin bertanya-tanya, dibawa kemana dia.


"Tuan, anda sudah datang!" sapa Darius dan 3 orang pria bawahan Javier yang setia. Tatapan mata Darius begitu dingin ketika melihat tuannya membawa Roselia.

__ADS_1


"Kau sudah siapkan kamarnya?" tanya Javier pada Darius.


"Sudah tuan!" jawab Darius patuh.


Wanita sialan ini! Dia telah membuat Tuanku berubah, lihat saja...aku akan membuatmu meninggalkan tuan Javier.


"Jangan menatap wanitaku seperti itu, Darius! Atau kau akan tau akibatnya!" Javier melotot manakala ia menyadari Darius menatap Roselia yang sedang dalam gendongannya itu dengan tatapan sinis dan tajam.


"Sa-saya minta maaf tuan..."


"Ingat baik-baik, kalian harus melayani wanita ini dengan baik karena kelak dia akan menjadi istriku dan tentunya nyonya kalian!" tegas Javier pada Darius dan juga 3 orang pria yang ada disana.


Apa? Istrinya? Siapa yang mau menikah dengan psikopat ini? Astaga! Dia terlalu halu dan aku adalah wanita normal tidak seperti dia. Roselia keki mendengar ucapan Javier kepada para bawahannya yang mengklaim bahwa dirinya akan menjadi istri Javier.


Mereka pun mengangguk patuh setelah mendengar ucapan Javier. Ucapan Javier adalah perintah dan tidak bisa diganggu gugat. "Ya, Tuan!"


"Bagus! Darius, sediakan makanan dan minuman yang enak, yang banyak...lalu bawa ke kamar wanitaku." kata Javier memberikan titah pada Darius.


"Baik Tuan." jawab Darius malas. Dia kesal dan keki dengan Javier yang berubah karena Roselia.


Javier membawa Roselia ke sebuah kamar dengan sebuah ranjang empuk berwarna merah muda, di sertai fasilitas kamar mandi, lemari, meja rias, akan tetapi pintunya dari jeruji besi. Terlihat seperti kamar namun juga seperti penjara.


Dia membaringkan Roselia di atas ranjang itu dengan hati-hati. Lalu dia membuka ikatan di tangan dan kaki Roselia. "Haha...maaf aku lupa melepaskan ikatan di mulut dan kepalamu, gadis bar-bar." tawa Javier begitu menyadari bahwa mata dan bibir gadis itu masih ditutupi kain.


"Haahh.... haaaahhh..." Roselia menghembuskan nafas yang sedari tadi tertahan. Dia menatap mata Javier dengan tajam. "Kau...apa yang sebenarnya kau pikirkan? Kenapa kau menculikku? Apa kau sudah gila?!" hardik Roselia emosi kepada Javier yang membawanya pergi.


"Ya, ya...katakan saja aku gila...kau memang selalu mengatakan begitu kan?" kata Javier dengan santainya.


"Maaf, tidak bisa. Kalau aku melepaskanmu, kau pasti akan pergi dengan si rambut hitam itu." kata Javier sambil memandang Roselia dengan serius dan membuat gadis itu tercekat sampai menelan ludah. Tatapan Javier begitu mengintimidasinya.


Astaga! Bagaimana dia bisa tau kalau aku akan pergi bersama As? Apa dia memata-mataiku?


Javier tersenyum lalu mengangkat dagu Roselia, hingga kedua netra mereka bertemu. Yang satu menatap marah, yang satu penuh obsesi. "Kenapa? Kau kaget kenapa aku bisa tau? Wanita bar-bar...ketika aku menginginkan satu hal, maka aku harus mendapatkannya!"


"Maksudmu? Kau menginginkan aku?" tanya Roselia menebak maksud Javier menculiknya.


"Pintar sekali, kau dapat nilai seratus!" Javier masih mencengkram rahang mungil gadis itu dengan kuat.


"Tapi aku tidak mau." wajah Roselia suram, datar tanpa senyuman sedikitpun.


"Oh tidak apa-apa kalau kau tidak mau karena apapun yang kau katakan kau akan tetap berada di sini."


"A-apa? Hey! Brengsek! Kau tidak bisa sembarangan begini, aku tidak mau berada disini!" seru Roselia sambil mendorong tubuh Javier dan mencoba melarikan diri dari sana.


Javier terjengkang sedikit ke sudut ranjang, dengan santainya dia melihat Roselia ke arah pintu. Namun saat Roselia akan membuka pintu jeruji besi itu, hasilnya terkunci. "Cepat buka pintunya! Cepat!" seru Roselia beringas mencoba membuka pintu besi yang digembok itu.


Astaga...ya tuhan, mengapa si psikopat yang harusnya tergila-gila pada Stella jadi tergila-gila padaku. Apa Ini semua karena alur novel yang berubah? Bagaimana ini? Aku tidak mau dikurung disini?


"Apa kau bodoh? Pintunya tak bisa dibuka karena aku yang menggemboknya." kata Javier sambil merebahkan diri diatas ranjang dengan santai.


Roselia mendengus kesal, ia kembali berjalan mendekat pada Javier. "Berikan kuncinya! Cepat--akhh--"

__ADS_1


Tangan kekar Javier melingkar di tubuh Roselia dan membuat gadis itu duduk dipangkuannya. Tenaga Javier begitu kuat, sampai Roselia tak bisa bangkit. "Sayang...santailah..."


"Sayang sayang kepalamu peyang! Lepaskan aku, aku harus pergi dari sini...aku harus menemui As dan juga Doris...aku harus tau keadaannya."


Tiba-tiba saja Javier mengigit leher putih mulus Roselia dan meninggalkan tanda disana. "ACK! Kau kucing garong gila,"


"Kalau kau menjemput nama pria lain lagi di hadapanku, aku bersumpah akan melakukan hal yang lebih dari ini." kata Javier mengintimidasi wanita itu untuk tidak menyebut nama Asteorope.


"Kenapa? Dia kekasihku, aku berhak untuk--"


Javier menjatuhkan tubuh Roselia dengan kasar ke atas ranjang. "Kau... benar-benar sudah gila! Kau bahkan melukai Doris, kau pria jahat!" maki Roselia pada Javier.


Dengan satu tangan, Javier menegang kedua tangan Roselia yang terus berontak sampai tak bisa bergerak. Satu tangan Javier yang lain merogoh sesuatu di saku bajunya, terlihatlah sesuatu seperti salep disana.


"Kau mau apa! Itu apa? Apa itu racun?" tanya Roselia penuh rasa curiga pada Javier.


Pria itu tidak menjawab, dia mulai membuka cengkraman tangannya dari Roselia. Saat itulah tangan Roselia menampar Javier.


Plakkk!


"Bajingan!" seru Roselia marah


Mendapat tamparan seperti itu, Javier hanya tersenyum tipis.Mungkin rasa sakitnya bukan apa-apa baginya. "Sayang, jangan marah-marah terus nanti kau cepat tua."


"Bodoh amat!" ketusnya pada Javier.


Javier menahan dirinya yang selalu emosian bila berhadapan dengan wanita, ia memegang tangan Roselia dan melihat pergelangan tangannya yang memar. Tanpa bicara apa-apa, Javier mengoleskan salep itu pada tangan Roselia.


"Kau..."


Terkadang aku tidak mengerti sikapnya ini, tapi aku benci dia!


"Diamlah! Aku tidak akan macam-macam, aku hanya ingin mengobati lukamu."


"Heh? Mengobatiku? Karena siapa aku terluka?" sindir Roselia kesal.


Javier tidak berkomentar, meski dia di maki-maki oleh gadis itu. Dia tetap mengobati pergelangan tangan Roselia. Lelah bicara dan memaki-maki Javier, Roselia menangis. Dia membuat Javier bingung.


"Hiks...hiks..."


"Kau kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Javier bingung. Dia sebenarnya tidak suka melihat wanita menangis dan baru kali ini ia melihat Roselia menangis.


"Doris...izinkan aku melihat keadaan Doris... kumohon...hiks..." Roselia terisak memohon pada Javier agar bisa melihat Doris.


Namun Javier tak peduli, dia meninggalkan Roselia dan mengurungnya di kamar itu. "Bajingan! Cepat lepaskan aku! Keluarkan aku dari sini!" teriak Roselia sambil memegang jeruji besi itu.


"Tidurlah! Ini sudah malam." kata Javier dingin, lalu dia pergi dari sana. "Kalian jaga dia, jangan sampai lengah!" seru Javier pada dua orang penjaga yang ada disana.


Roselia sangat gusar, dia mondar-mandir kesana kemari dalam bingung. "Haaahh....As, Ayah...semoga kalian cepat datang, hanya kalian yang bisa menyelamatkan aku dari orang gila ini. Oh tuhan, tolong selamatkan Doris dan Jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya!"


...*****...

__ADS_1


__ADS_2