
...🍀🍀🍀...
Seharian penuh Cain dan Asteorope pergi ke hutan larangan yang akan membuka jalan ke gunung larangan. Konon disanalah Aragon berada selama ini.
"Yang Mulia, terima kasih karena Anda telah membantu saya selama ini...tapi Anda seharusnya kembali ke kerajaan anda. Semua orang pasti menunggu kehadiran anda, jangan karena Putri saya, anda jadi meninggalkan semua pekerjaan dan tanggung jawab anda sebagai seorang raja. Putri saya tidak sepenting itu dan saya tidak mau putri saya menjadi beban untuk yang mulia."
Jujur dari lubuk hati yang terdalam, Cain merasa tidak enak dengan semua bantuan dari Raja Albarca itu untuk mencari putrinya. Bahkan Asteorope sampai turun langsung dan meninggalkan singgasananya untuk mencari Roselia.
"Kau salah Tuan Cain, Putri Anda adalah segalanya bagiku dan dia sangat penting dibandingkan dengan tahta dan apa yang kumiliki di dunia ini. Saya sangat mencintai Roselia, dia yang membuat hidup saya berwarna dan dia selalu membuat saya semangat dalam menghadapi masalah dalam hidup. Saya tidak pernah menganggap kalau Roselia adalah beban karena dia adalah yang pertama dan utama dalam hidup saya!"
Cain tersentuh, dia tersenyum haru begitu mendengar pernyataan tulus dari pria berstatus Raja itu. Bahwa dia sangat mencintai putrinya dan mengutamakan keselamatan Roselia dibandingkan dengan apapun yang dia miliki di dunia ini.
"Tuan Cain, apa Anda percaya pada saya?" tanya Asteorope sambil duduk jongkok didepan pria paruh baya itu.
"Yang Mulia...a-apa yang anda lakukan?" kedua mata Cain melebar manakala ia melihat sang Raja berlutut didepannya. "Yang mulia, anda tidak boleh melakukan ini. Anda tidak pantas untuk berlutut di depan rakyat jelata seperti saya ini."
"Siapa bilang tuan Cain adalah Rakyat jelata? Saya tidak pernah beranggapan Tuan Cain seperti itu. Saat ini, saya sedang berlutut di depan calon ayah mertua saya." lirih Asteorope seraya mendongakkan kepalanya menatap Cain. Ayah dari wanita yang ia cintai.
Cain tersentak kaget saat mendengar ucapan Asteorope. "Yang-yang Mulia..."
"Salahkah saya bila saya berlutut di depan calon ayah mertua saya yang akan segera menjadi ayah saya sendiri."
"Yang Mulia, hamba merasa tidak pantas untuk--"
"Tolong tuan Cain, jangan bicara formal seperti ini padaku. Didepanmu aku hanyalah seorang manusia biasa, aku hanya seorang pria yang mencintai putrimu. Jadi tuan Cain, Apa anda mengizinkan saya untuk menjadi suami dari Putri anda?"
"Yang mulia...maafkan saya, saya belum bisa memutuskan hal itu." Kata Cain ragu.
Sebenarnya Cain tidak pernah meragukan ucapan Asteorope ataupun perasaan pria itu yang mencintai Roselia. Tapi dia ragu akan status diantara mereka di dunia ini. Pasalnya Roselia hanya wanita dengan status biasa, Bahkan dia tidak memiliki status bangsawan setelah perpisahannya dengan Michael. Jika seandainya dia berpasangan dengan raja Al Barca, apa yang akan terjadi nanti?
"Tidak apa-apa, saya tau bahwa tuan masih perlu waktu. Dan saya juga masih belum melamar Putri anda, tapi saya harap anda menerimanya."
"Apa ini perintah?"
Asteorope tersenyum tipis. "Saya akan berani memerintah calon ayah mertua saya." pria itu telah mengklaim bahwa Cain adalah calon ayah mertuanya.
"Yang Mulia..."
"Baiklah tuan Cain, ayo kita lanjutkan perjalanan kita. Roselia pasti menunggu kita," ucap Asteorope lalu kembali bangkit dari duduknya. Asteorope dan Cain kembali melanjutkan perjalanan mereka melewati hutan larangan untuk bertemu dengan Aragon.
__ADS_1
****
Di penjara bak sangkar emas itu. Roselia baru saja selesai makan dan minum obat.
"Uwek..."
Sial! Obat berwarna hijau ini benar-benar menyebalkan!
"Jangan dimuntahkan! Kalau kau berani memuntahkannya, aku bersumpah akan menciummu."
"Ja-jangan!" Sontak Roselia menutup mulut dengan kedua tangannya. Dia menggelengkan kepala.
"Jangan dimuntahkan dan tidurlah!" ujar Javier lalu berlalu pergi dari sana setelah memastikan Roselia kembali berbaring dan akan pergi tidur. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti dan dia kembali berjalan mendekati Roselia.
"A-ada apa? Kenapa kau berbalik?" tanya Roselia heran dan merasa waspada saat pria itu berbalik ke arahnya. "A-apa ada yang tertinggal?"
Pria itu tidak bicara dan dia menyelimuti Roselia dengan selimut hangat. Kemudian dia berkata dengan lirih. "Ma-maafkan aku."
Maaf? Apa katanya?
Baru kali ini Roselia mendengar Javier meminta maaf pada seseorang dan itu adalah padanya. Di dalam novel aslinya, Javier bukanlah orang yang akan berterimakasih atau meminta maaf pada seseorang.
"Apa kau tidak dengar?" tanya Javier dengan suara yang meninggi.
"Kau bersuara pelan begitu, mana bisa aku mendengarnya!" cetus Roselia.
Tidak! Ini pasti kupingku bermasalah...apa dia barusan memang mengatakan maaf?
"Aku bilang maaf."
"APA? Tolong lebih kencang lagi!"
"Maaf!" seru Javier bersuara cukup kencang.
"Aku tidak mendengarmu," Roselia tersenyum seraya menggoda Javier.
Astaga...jadi dia benar-benar mengatakan maaf?
"MAAF!" geram Javier dengan kesal.
__ADS_1
"Oh...Jadi kau bilang maaf?" tanyanya sinis, disertai senyuman tipis dibibir pucatnya.
Ternyata dia bisa minta maaf juga.
"Ya sudah, kau tidurlah! Aku akan urusan dan besok baru kembali." pamit Javier pada Roselia. Seperti pamit pada istri saja.
Sejak Roselia berada di dalam tawanannya. Dia merasa punya tempat untuk pulang dan pergi. Ya, Roselia adalah tempatnya kembali.
Tanpa peduli ucapan Javier, Roselia menutup matanya dan mulai tidur karena efek obat yang baru saja dia minum. Javier juga masih belum pergi dari sana karena dia ingin melihat Roselia dulu.
"Maafkan aku, sesungguhnya aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Aku hanya tidak ingin kau pergi, itu saja. Semoga cepat sembuh dan semoga kau segera menerimaku sebagai suamimu karena aku mencintaimu." Javier mengecup kening Roselia dengan lembut, tidak ada kekasaran sama sekali.
Setelah yakin bahwa Javier telah pergi, Roselia pin membuka matanya. Ternyata dia hanya pura-pura tidur saja. "Kau mencintaiku? Yang benar saja...kalau kau mencintaiku kau tidak akan menyakitiku dan mengurungku disini.Tapi entah kenapa aku merasa bahwa ungkapan cintamu itu tulus, namun kau terkadang gila! Coba saja kalau kau normal." gerutu Roselia kebingungan.
Kemudian gadis itu diam-diam membuka surat dari Darius yang bertuliskan bahwa pria itu akan membantunya keluar dari penjara cinta Javier.
Dengan polosnya, Roselia percaya pada Darius dan dia pun mengelabui penjaga untuk bermain kartu dengannya. Roselia mencampurkan bubuk di dalam minuman kedua penjaga itu dan bubuknya dia dapatkan dari Darius di dalam kertasnya.
"Haha...mereka sudah tidur." ucap Roselia puas sambil terkekeh melihat kedua penjaganya itu sudah tertidur pulas.
"Nona, ayo ikut saya! Saya akan tunjukkan jalan keluarnya." ajak Darius pada Roselia.
Gadis itu mengangguk lalu mengikuti langkah Darius. Roselia mengikuti Darius dari belakang, mereka berjalan melewati sebuah lorong panjang dan tercium bau amis disana.
Aku sudah tau dalam cerita aslinya kalau Javier pembunuh kejam. Namun tak kusangka tampilan ruang bawah tanah ini sangat menyeramkan.
"Nona.... bertahanlah, saya akan membawa Anda keluar dari sini. Nona pasti tidak tahan tinggal dengan tuan Javier." kata Darius pada Roselia.
"Terima kasih, tapi kenapa kau membantuku?" tanya Roselia heran karena membantunya sama saja dengan cari mati.
"Sa-saya hanya kasihan saja pada nona."
"Oh begitukah?"
"Mari ikut saya nona!" ajak Darius pada Roselia dan gadis itu masih mengikutinya
Ikut aku ke jalan kematian! Hahaha...
...****...
__ADS_1