
...🍀🍀🍀...
Angin datang berhembus secara tiba-tiba entah datang dari mana. Menerbangkan semua benda di sekitar sana. Asteorope dan Javier terkejut melihat Ariana yang berubah menjadi sosok berbeda.
Semua bajunya berwarna putih, rambutnya perak dan mata birunya menjadi putih. Ariana tampak cantik seperti malaikat yang jatuh ke bumi. Ariana memagang tongkat seperti tongkat sihir ditangannya. Ia sepertinya kehilangan kendali, bahkan panggilan dari Asteorope saja ia hiraukan.
"Aria--" lirih Asteorope pada istrinya tapi tak digubris.
"Kita harus menghentikan ini, As. Sepertinya ini yang dimaksud ayah, dengan kekuatan besar. Kekuatan yang tidak akan bisa dikendalikan!"
"Kau akan mati Aragon, aku akan mengirimmu ke neraka!" seru Ariana seraya berjalan ke arah Aragon yang berada di depan istana utama Albarca yang telah hancur itu.
Sepasang netra itu bertemu dengan sengit.
Ariana vs Aragon.
Aragon terdiam, lalu dia teringat kejadian masa lalu yang membuat Ariana di usir dari dunia itu.
#Flashback
19 tahun yang lalu...
Disebuah desa kecil di negeri Albarca, Cain masihlah seorang murid dari seorang penyihir putih. Dia adalah anak berbakat dan di prediksi akan menjadi penyihir agung. Suatu hari Cain membuka sebuah buku terlarang yang berkaitan dengan sihir dunia lain.
Cain tidak tahu bahwa dia bermain dengan buku terlarang dan dia pun menimbulkan masalah besar. Cain tersedot ke dalam buku terlarang itu yang membawanya ke dunia lain.
Wush~~
Cain terlempar ke sebuah kamar asing dan sempit, dengan furniture aneh menurutnya. Dia melihat seorang gadis cantik berambut hitam sedang tertidur pulas di lantai dingin tanpa selimut.
"I-ini dimana? Dan siapa gadis ini?" gumam Cain kebingungan dengan keadaan disekitarnya. Dia mendekati gadis cantik itu dengan hati-hati. "Dia sangat cantik, tapi kenapa dia tidur di lantai yang dingin ini? Kasihan sekali..." gumam Cain merasa iba pada gadis cantik itu, dia melihat tidak ada kamar disana maupun ranjang.
Akhirnya Cain menggunakan sihirnya lalu membuat sebuah awan lembut seperti bulu dan dia memindahkan gadis itu ke atas awan lembut itu. Tak lupa Cain juga menyelimuti tubuh sang gadis dengan selimut dengan sihirnya.
"Eungh--" Anika menggeliat, dia mengeram merasakan ada sesuatu yang hangat di dalam sana.
"Bagaimana ini? Sepertinya dia bangun!" gumam Cain kebingungan. Tidak tahu harus berbuat apa akhirnya Cain bersembunyi di sebuah lemari yang ada di ruangan itu.
Brak!
Tiba-tiba saja pintu rumah yang sempit itu terbuka lebar, saat seseorang membukanya dengan kasar.
"Anika!" teriak seorang pria paruh baya sambil membawa botol minuman di tangannya.
Anika langsung bangun saat mendengar suara ayahnya. Dia kaget ketika mendapati dirinya berada di atas kasur empuk seperti awan dan ada selimut tebal ditubuhnya. Darimana semua itu?
"A-ayah...ayah minum-minum lagi?" tanya gadis itu dengan raut wajah kecewa. "Aku bekerja siang dan malam hanya untuk membuat ayah minum minuman itu?" Anika menatap ayahnya dengan tajam.
"Anika, dengarkan ayah...besok kau akan menikah dengan bos Ayah, jadi kau tidak perlu bersusah payah untuk bekerja lagi! Hidupmu akan terjamin," pria paruh baya itu menepuk-nepuk pundak putrinya.
"Aku tidak mau ayah, aku tidak mau menikah dengan pria bangkotan tua itu! Aku tidak mau ayah!" seru Anika menolak tegas keinginan ayahnya yang ingin menikahkan dirinya dengan bosnya yang sudah tua.
Ayah Anika menjambak rambut Anika dengan kasar, hingga gadis itu kesakitan. "Aahhh...sakit, ayah..."
"Hey ANIKA! Kau harus sedikit berguna, ini juga demi kebaikanmu. Kalau kau menikah dengan tuan Roberto, hidupmu dan juga hidupku akan terjamin!"
"Tidak Ayah! Aku tidak mau menikah dengan pria tua itu, aku ingin menikah tapi dengan pria yang aku cintai!" teriak Anika melawan.
"Arggggh...dasar anak kurang ajar!" teriak ayah Anika lalu mendorong gadis itu hingga tubuh mungilnya jatuh ke lantai.
Cain gemas dan kesal melihat ayah Anika memperlakukan Anika dengan kasar. Lalu dia pun menggerakkan jarinya dan menggunakan sihir untuk membuat ayah Anika tidak menganggu Anika lagi.
Ayah Anika tidak bisa bicara dan tidak bisa bergerak seperti patung. Anika terkejut melihat ayahnya yang tiba-tiba seperti itu.
"A-ayah..." lirih Anika melihat ayahnya.
Ceklet!
Cain pun menunjukkan dirinya dari dalam lemari. Anika terperangah melihat sosok pria tampan dengan memakai baju serba putih ada di depannya.
Anika takjub melihat ketampanan pria didepannya bak dewa Yunani itu. Dengan matanya yang berwarna biru sedalam birunya lautan itu. Sungguh mempesona!
Woah...tampan sekali pria ini. Bajunya sangat aneh seperti pria yang bermain opera.
"Maaf, aku yang telah melakukannya... kau tenang saja ayahmu akan kembali seperti semula dalam waktu 2 jam." ucap Cain.
"Ka-kau siapa? Kenapa kau bisa ada di rumahku?"
Setelah sempat kagum melihat ketampanan Cain, akhirnya Anika sadar bahwa kebenaran pria itu begitu tiba-tiba di rumahnya.
"Bangunlah dulu, kau terluka...lukamu harus diobati." Cain tersenyum ramah lalu mengulurkan tangannya kepada Anika.
__ADS_1
"Kau SIAPA?" tanya Anika seraya menata pria itu dengan atensi yang begitu tajam dan ia bahkan tidak mau membalas uluran tangan pria itu.
"Rainer Caine Alvra, itulah namaku."
Anika tertegun sejenak saat mendengar nama Cain.
Cain yang saat itu tidak tau caranya untuk kembali ke dunianya sendiri, akhirnya tinggal bersama Anika dan membantu gadis itu setiap ia berada dalam kesulitan terutama dari ayahnya yang jahat. Kebersamaan mereka lewati dengan indah dan penuh kebahagiaan, hingga cinta pun hadir diantara mereka.
Ketika mereka memutuskan untuk menjalin hubungan lebih jauh perlahan tubuh Cain mulai menghilang dan hal itu membuat Anika bersedih.Ia tak rela untuk kehilangan pria yang ia cintai.
"Cain...aku mohon jangan pergi! Aku tidak mau kehilanganmu!" Anika memeluk Cain sambil menangis, melihat kedua tangan Cain yang hanya tinggal bayangan. Dia seperti akan menghilang dari dunia ini.
"Anika...aku juga tidak mau pergi, aku ingin kita tetap bersama. Akan tetapi sepertinya waktuku sudah hampir habis berada disini,"
Anika mengurai pelukannya lalu dia menatap kekasihnya dengan sendu. "Kalau kau pergi...aku mohon bawalah juga aku, Cain. Bawa aku ke duniamu!" gadis itu semakin terisak, melihat kekasihnya semakin menghilang saja seperti bayangan.
"Jika aku tau caranya...aku pasti akan membawamu pergi bersamaku Anika. Tapi aku tak tahu, maafkan aku...suatu hari aku akan pergi, jadi aku mohon ketika aku pergi nanti. Aku ingin kau bahagia tanpa diriku," Cain tidak tega melihat Anika menangis, dia berusaha mengusap air mata Anika dengan tangannya yang hampir menghilang itu.
Mereka kembali berpelukan sambil menikmati waktu terakhir mereka bersama.
Malam itu, Anika dan Cain menikah mendadak di gereja mungkin sebagai bentuk perpisahan mereka. Cain memberikan malam indah untuk Anika, malam panas bersama di temani cahaya sinar bulan.
Keesokan harinya, Anika terbangun di atas ranjang sendirian tanpa ada suaminya. "Cain... akhirnya kau pergi juga...hiks...kenapa kau meninggalkanku Cain? Kenapa...hiks..."
Anika menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya ditinggal sang suami dimalam pertama mereka. Dia meremass selimut yang menutupi tubuhnya dengan erat. Sungguh dia merasa sangat terluka karena kehilangan Cain tanpa pamit dan pergi begitu saja. "Cain... sebenarnya dimana duniamu? Bawa aku kesana Cain!" gumam Anika penuh kesedihan.
2 tahun berlalu sejak Cain pergi meninggalkan Anika....
Dia dan Ariana putrinya hidup serba kekurangan dan kesusahan, Anika bahkan bekerja banting tulang seorang diri untuk mengurus Ariana kecil. Hingga pada suatu hari ditengah hujan, Anika dan Ariana kecil melihat cahaya terang di depan mereka. Bersamaan dengan cahaya itu, muncullah seorang pria tampan bertubuh tinggi, matanya yang berwarna biru menatap Anika dan Ariana dengan sendu. Apalagi saat melihat Anika menggendong Ariana, mata birunya uang sama dengan miliknya.
"Cain...apa ini adalah kau?" tanya Anika tak percaya bahwa pria didepannya itu adalah Cain, suaminya.
"Anika...anak ini adalah anak kita?" tanya Cain sambil melihat ke arah Ariana yang baru berusia 1 tahun setengah. Anika mengangguk sambil menangis. "Astaga...maafkan aku Anika, selama ini kau hidup sendirian mengurus anak kita tanpa diriku. Sekarang aku akan selalu bersamamu..."
Mata Anika berbinar-binar mendengar ucapan suaminya. "Benarkah itu Cain?"
Cain menganggukkan kepalanya, lalu dia menggendong Ariana kecil. Dia memegang tangan Anika dengan erat. "Kita akan pergi ke dunia kita," ucapnya sambil tersenyum.
Cain membawa anak dan istrinya ke dunianya, dunia yang jauh berbeda dengan dunia modern. Disinilah Anika tahu asal-usul suaminya dan tempat tinggal suaminya. Ia pun tau bahwa Cain adalah orang yang terhormat dan telah menjadi penyihir agung.
Kehidupan Anika, Cain dan Ariana awalnya baik-baik saja sampai akhirnya usia Ariana menginjak 4 tahun. Saat itulah Ariana kecil yang sedang bermain tak sengaja membangkitkan kekuatan sihirnya dan membuat portal dua dunia terbuka dan menyebabkan distorsi ruang waktu. Guru Cain meminta agar Ariana dan Anika dikembalikan kedunia mereka karena kekuatan Ariana akan membuat dua dunia yang berbeda itu menyatu dan semuanya menjadi kacau. Ariana adalah anak spesial
Disaat itulah Cain membawa Ariana dan Anika pergi ke negri lain agar guru penyihir tidak membawa Anika dan Ariana pergi dari dunia itu. Namun pada suatu hari, Ariana kecil menyerang penduduk dengan kekuatan sihirnya yang tidak terkendali, membuat dunia dipenuhi kobaran api dan membuat guru Cain (Aragon) yang ternyata adalah penyihir hitam menyadari keberadaannya. Dia dan para pengikutnya mendatanginya juga Ariana.
"Tidak! Aku tidak mau guru, aku tidak bisa...Ariana adalah anakku, Anika adalah istriku, mereka berdua tidak akan berpisah dariku lagi." Cain berusaha melindungi anak dan istrinya yang sedang berada dalam bahaya.
Akhirnya terjadi pertarungan sengit disana antara Cain dan para penyihir bawahannya sendiri.Tentu sebagai yang terkuat Cain tidak akan kalah, akan tetapi dia ditipu oleh Aragon. Saat Cain lengah dan sibuk menghadapi para bawahannya. Saat itulah Aragon menyihir Ariana dan Anika hingga dua wanita itu menghilang dalam sekejap mata.
Cain menangis terisak-isak melihat kedua orang yang ia cintai menghilang dan Aragon mengatakan bahwa mereka berdua mati. Sejak saat itu Cain tidak bisa kembali ke dunia modern dan dia berjanji tidak mau menggunakan sihirnya lagi. "Maafkan aku Anika, Ariana... sayangku...maafkan Ayahmu ini nak."
Dan sejak saat itu Cain tidak mendengar kabar dari anak dan istrinya lagi. Bahkan ilmunya saja sudah tidak bisa menerawang keadaan dua wanita tercintanya itu.
#End flashback
Mungkin dulu Aragon adalah guru penyihir, namun ia beralih menjadi penyihir hitam yang sesat. Ia sangat takut dengan kelahiran Ariana, sebab ia pernah dapatkan penglihatan dan ramalan masa depan. Bahwa kelak Ariana calon penyihir terkuat akan menghabisi nyawanya.
"Aku akan menghabisimu lebih dulu!"
Hyaaaaaahhhh!!!
Aragon dan Ariana beradu kekuatan, terlihat bahwa gadis itu seperti berubah menjadi orang lain.
Kekuatan Ariana berhembus begitu kencang, Aragon si penyihir hitam hampir kewalahan saat beradu kekuatan dengannya.
Sial! Bagaimana bisa anak ini kekuatannya lebih kuat dariku? Tidak mungkin! Apa semuanya sama seperti bayangan masa depan? Tidak! Aku tidak akan mati oleh bocah ingusan seperti dia.
"Kenapa ARAGON? Kau takut padaku? Kau takut aku mengalahkanmu seperti apa yang ada di dalam bayangan masa depan itu?!" kata Ariana seraya tersenyum menyeringai, dengan tongkatnya ia menyerang Aragon.
Aragon tersentak kaget saat Ariana bisa menebak pikirannya. Ariana tersenyum menyeramkan, tapi dia amat cantik dan kuat.
Rambut peraknya melambai-lambai tertiup angin yang berhembus disana.
Semua orang yang melihat itu terkagum-kagum dengan kekuatan Ariana, namun mereka juga takut bahwa kekuatan dashyat itu akan membuat kerusakan yang lebih.
Mereka yang melihat Ariana, kini sangat yakin bahwa gadis itu adalah penyihir agung berikutnya, sama seperti ayahnya.
"Haruskah kita menghentikan Yang Mulia Ratu, Baginda?" tanya Peter pada Asteorope yang terdiam dengan serat mata yang terus tertuju pada Ariana.
"Ketika kekuatannya sudah tak terkendali, aku akan menghentikannya." ucap Asteorope dengan wajah tegang.
Ariana, ternyata kau memiliki kekuatan yang sangat besar.
__ADS_1
Disisi lain, Theo dan Javier juga tercengang melihat kekuatan Ariana. Bahkan langit yang tadi berdarah, kini menghilang karena dahsyatnya kekuatan itu.
Aragon terlihat mulai tersudut, bahkan beberapa kali pria itu terjatuh. Wajahnya memucat dan mulai panik.
Sial! Aku harus melarikan diri, dia terlalu kuat. Aku benar-benar tidak menyangka, anak ingusan ini.
Aragon terluka parah, ia berusaha menggunakan sihir teleportasinya untuk melarikan diri.
"KAU mau kemana?!" sentak Ariana ketika ia merasa Aragon akan kabur.
"A-aku..."
"NYAWA DIBAYAR NYAWA! KAU SUDAH MEMBUNUH AYAHKU, MAKA AKU JUGA AKAN MEMBUNUHMU!"
Ariana mengikat tubuh Aragon dengan tali sihir, Aragon sama sekali tak bisa berkutik didepannya. "Lepaskan aku!"
Sialan! Dia bisa membunuhku! Aku harus lari.
"Lepas? Tidak semudah itu Ferguso!" teriak Ariana penuh dendam, matanya yang berwarna putih itu menatap nyalang pada Aragon.
Didepan semua orang, Ariana menancapkan trisula ke tubuh Aragon. Hingga darahnya muncrat kemana-mana.
"PEMBUNUH! KAU SUDAH MEMBUNUH AYAHKU!" teriak Ariana penuh dendam dan sakit hati pada pria yang sudah membunuh ayahnya dengan kejam.
"Ampun--ampuni a--aku..." Aragon memuntahkan banyak darah, dadanya berlubang karena trisula itu.
"TIDAK ADA AMPUN BAGIMU, KAU BRENGSEK!"
"Ariana...hentikan...sudah!!" Asteorope mendekati istrinya.
Beberapa detik kemudian, Ariana dengan kekuatannya berhasil membakar tubuh Aragon, tak peduli dengan jeritan kesakitan pria itu seperti neraka.
Setelah Aragon musnah, Ariana menangis histeris dan berteriak meraung-raung. Saat melihat ayahnya.
"Aarrggghhh....TIDAK!! AYAH!!"
Kekuatan Ariana mulai tak terkendali, semua barang berterbangan disana. Angin berhembus kencang, sangat kencang seperti badai. Beberapa orang disana menjadi tersakiti karena dirinya.
"Ahh! Tidak!"
"Hentikan angin ini!"
Beberapa orang di istana itu berteriak meminta agar anginnya berhenti. Perlahan Asteorope mendekat ke sumber angin itu, mendekat pada istri dan ayah mertuanya.
"Ariana..."
"AYAH!"
Dengan susah payah Asteorope menembus angin kencang itu, lalu dia memeluk Ariana dari belakang.
"Aria, sayang...tenanglah...masih ada aku disini untukmu sayang. Aku tidak akan meninggalkanmu."
Pelan-pelan Asteorope membuat Ariana kembali pada dirinya seperti semula. Rambut peraknya, penampilannya berubah kembali menjadi Ariana-nya.
"Aku akan selalu disisimu, aku akan menjagamu dan membuatmu bahagia. Kau harus ikhlas, ayah ingin kau bahagia." kata Asteorope sambil mengusap pelan rambut panjang Ariana.
Wanita itu masih terisak dalam keadaan berduka, meratapi jenazah ayahnya yang sudah tak bernyawa.
Disaat seperti ini, Ariana sangat membutuhkan Asteorope.
*****
Disisi lain, Javier menemui para wanita yang tadi berada ditempat aman. Javier terkejut ketika para wanita disana tampak mengerumuni seseorang.
"Ada apa ini?" tanya Javier.
"Tuan Javier, tolong putri Viona...beliau terjatuh dan berdarah." kata Daisy memberitahu.
Javier segera menghampiri Viona, wanita itu memegang perutnya dan terlihat kesakitan. Wajahnya juga pucat.
"Uhhh...."
"Bertahanlah," Javier menggendong Viona dan membawanya pergi dari sana. Semua orang disana menatap Javier tanpa berkedip.
Entah kenapa Javier terlihat peduli pada Viona, sejak tadi malam ia merasa nyaman mengobrol dengan gadis itu.
"Astaga! Tuan JAVIER sangat hot!"
"Seandainya aku yang digendongnya seperti itu," kata seorang dayang berandai-andai.
Mereka mengagumi Javier yang tampan dan gagah. Para dayang istana itu terutamanya.
__ADS_1
...*****...
Jangan lupa komennya ya guys ❤️❤️❤️ mau kasih tau Kayaknya 2 episode lagi ending ❤️❤️🥺