I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 124. Bertemu ibu


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Javier tersenyum tipis mendengar jawaban dari Asteorope dan raut wajahnya yang terlihat berbeda. Apa yang pria itu ucapkan berlainan dengan hatinya.


Ia tau bahwa Asteorope juga ragu dengan jawabannya. Dalam hatinya, ia takut dengan perpisahan yang akan terjadi. Bagaimana pun juga ia dan Ariana berasal dari dunia yang berbeda dan akan sulit bagi mereka untuk bersama.


"Asteorope, ini akan sulit untuk kita terutama untukmu karena kita tidak tau cara untuk membawa Ariana kembali kesana dengan tubuhnya." ucap Javier sembari mendesah pelan. Ia berjalan mendahului Asteorope yang masih terdiam mematung, ia tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah dan mereka melihat Ariana tengah berlarian di sekitar rumah bersama Theo.


"Yang Mulia Raja, tuan Marquez darimana saja?" tanya Theo pada kedua pria itu dan bisa ditebak dari wajahnya kalau ia merasa lega.


"Kami pergi ke--"


"KAU DARIMANA SAJA, HAH?!" sentak Ariana yang membuat Asteorope bungkam dan semua atensi ketiga pria itu tertuju padanya. Wajah gadis itu memerah, hidungnya kembang-kempis dan terlihat buliran air mata yang membuat Asteorope maupun Javier tak bisa bila tak luluh.


"Ariana kau kenapa?" ketika Asteorope akan menyentuh pipi Ariana untuk mengusap air mata kekasihnya itu, Ariana langsung menepisnya.


"Ariana?"


"Kenapa kalian tidak angkat teleponnya? Kalian tau betapa cemasnya aku...aku pikir kalian...aku pikir...hiks." Ariana menyugar anak rambutnya ke belakang telinga. Kini terlihat jelas bahwa ia terisak.


"Ariana tenanglah," Asteorope berusaha untuk mendekati Ariana.


"Mulai saat ini jangan jauh-jauh dariku, jangan pernah!" teriak gadis itu histeris dengan data yang naik turun. Lalu ia memeluk Asteorope dengan erat.


"Ariana..." lirih Asteorope seraya mengusap lembut kepala gadis itu. Asteorope melirik ke arah Theo dan memintanya memberikan penjelasan. Theo mengatakan dengan isyarat bahwa ia akan menjelaskan semuanya nanti. Asteorope paham dan ia memilih untuk menenangkan Ariana lebih dulu saat ini.


Setelah Ariana benar-benar tenang dan tidur di kamarnya. Barulah Asteorope, Javier dan Theo berbicara di luar rumah. Theo mengatakan pada Asteorope dan Javier bahwa Peter telah menghilang sama seperti Doris.


"Ariana dia pasti sangat ketakutan," gumam Asteorope pelan.


"Jelas...dia takut kehilanganmu," ucap Javier.


"Dia takut kehilanganmu juga Javier," kata Asteorope yang membuat Javier terkejut. "Tadi dia menyebut kalian, bukan hanya aku saja. Dia juga takut kehilanganmu!"


"Kau ini kenapa Asteorope?!" hardik Javier yang tiba-tiba emosi. Lalu ia pun memutuskan untuk pergi dari sana. Javier paham Asteorope cemburu, tapi tidak dengan melampiaskan cemburu padanya juga.


"Malam ini aku akan mengajak Ariana jalan-jalan ke pasar malam dekat sini, untuk menghiburnya." gumam Asteorope yang tadi melihat pasar malam saat perjalanan pulang dari supermarket.


#####


Malam harinya, setelah Ariana dan ketiga pria di rumahnya makan malam. Mereka pun pergi keluar rumah untuk ke pasar malam yang diadakan dadakan di sekitar sana.


Pasar malam itu memiliki tema pahlawan super. Akhirnya Ariana mengambil beberapa baju dari Liam. Ariana cosplay menjadi princess vampir, Asteorope menjadi Zooro, Javier cosplay menjadi captain Amerika dan Theo cosplay menjadi Thanos. Penampilan mereka begitu keren dan memukau.


"Ini sangat keren, nona!" kata Theo memuji dirinya sendiri.

__ADS_1


"Iya, duniaku ini sangat keren kan? Tapi sayangnya aku kesepian--"


Melihat Ariana yang bersedih, Javier dan Asteorope langsung mengajak Ariana buru-buru pergi dari sana. "Sudah sudah! Ayo! Kita harus pergi."


Mereka berempat pun pergi ke pasar malam, memainkan permainan disana. Ariana kembali tersenyum berkat tingkah ketiga pria itu.


"Hahaha..." Ariana memegang boneka beruang besar di tangannya. Gadis itu tertawa.


"Kau masih saja tertawa hah? Kami menenangkan semua hadiah itu untukmu, Ariana." kata Asteorope sebal.


"Iya dan kami malah diusir, padahal kami hebat!" kata Javier dengan bibir yang mengerucut.


"Hahaha, jutsru karena kalian terlalu hebat makanya kalian di usir oleh pedagangnya. Bisa-bisa dia bangkrut karena kalian, haha." Ariana tertawa terpingkal-pingkal, sambil memegang perutnya.


Javier, Theo dan Asteorope tak masalah sebab kekonyolan mereka bisa membuat Ariana kembali tertawa.


Tiba-tiba saja Ariana mematung begitu melihat sosok yang tak asing baginya. Sheila dan Anika berjalan menghampirinya, walaupun mereka memakai kostum dan riasan wajah, tapi Ariana yakin bahwa wanita di depannya itu adalah ibunya.


"Hei Javier! Kau ada disini? Bagaimana keadaan lukamu? Eh iya...ibu, ini dia pria yang menolongku tempo hari!" kata Sheila pada ibunya seraya memperkenalkan Javier.


Anika juga sama terkejutnya dengan Ariana, ia mengenali mata biru itu. Sangat mengenalnya. Anika yakin Ariana adalah anaknya dan Cain.


Ibu...mengapa Sheila memanggilnya ibu? Lirih Ariana dalam hatinya


Keduanya bertemu pandang cukup lama. Sampai akhirnya ingatan tentang masa lalu terlintas dalam pikiran Ariana dan Anika.


Bertahun-tahun yang lalu.


Terlihat di sebuah gang kumuh dekat tempat sampah, seorang wanita sedang menggandeng tangan anak perempuan yang cantik dan memiliki rambut berwarna coklat. Anak perempuan itu memeluk boneka lusuh dengan rambut di kepang sama seperti miliknya.


"Nak, kau mau makan apa?" tanya si ibu sambil melihat anak perempuannya itu.


"Aku...aku makan apa saja Bu, yang penting kita makan hari ini." jawab gadis kecil yang berusia sekitar 5 tahunan itu dengan senyuman polos terpatri di bibirnya.


Sementara Anika tersenyum getir lalu mengelus rambut putrinya dengan penuh kasih sayang. "Maafkan ibu ya nak, ibu belum bisa membelikanmu makanan yang enak. Tidak! Ibu minta maaf karena ibu belum bisa menjamin kita akan makan setiap hari."


"Tidak apa-apa ibu! Aku senang walaupun kita tidak makan setiap hari, tapi aku merasa bahagia karena ibu berada di sisiku dan kita bersama-sama!" kata gadis itu dengan polosnya.


Terlihat tangan dan tubuhnya yang begitu kurus. Sang ibu tak tega melihatnya, tapi mau dikata apalagi. Dia hanya bekerja dengan gaji seadanya, belum lagi harus membayar kontrakan, listrik air dan lain-lain. Wanita itu adalah single parent yang harus menghidupi dirinya dan putrinya.


Dia bekerja paruh waktu siang dan malam, terkadang dia juga tidak memiliki waktu luang untuk putrinya, Ariana. Ariana selalu bermain sendirian di rumah dan menunggu ibunya pulang setiap hari. Kadang ia dan ibunya makan kalau punya uang, kalau tidak punya uang mereka hanya meminum air atau bahkan


Suatu hari ibunya pulang dalam keadaan babak belur dan bajunya robek robek, namun tangannya memegang banyak makanan. Ariana kecil menyambut sang ibu dengan wajah yang bingung.


"I-ibu...ibu kenapa? Kenapa wajah ibu?" tanya gadis itu sambil menatap ibunya dengan cemas.


"Riana...tolong siapkan piring dan sendok ya, ibu bawakan makanan enak untukmu." kata sang ibu sambil mengulas senyum di bibirnya yang terluka. Si ibu itu berusaha untuk mengalihkan perhatian Ariana agar tidak bertanya tanya lagi tentang lukanya.

__ADS_1


Gadis kecil itu mengganggukan kepala dan dengan patuh dia melaksanakan perintah ibunya, mengambil sendok dan piring kosong.


Anika segera membuka bungkusan yang ada ditangannya. Terlihat ada beberapa makanan kesukaan Ariana, makanan yang harganya cukup mahal.


"Kau ingin makan semua ini kan sayang? Hari ini ibu dapat uang lebih dan ibu bisa membeli kamu makanan yang kau inginkan, nak." Kata sang ibu sambil tersenyum, dia menjelaskan semuanya kepada Ariana agar gadis kecil itu tidak curiga darimana dia mendapatkan uang.


"Iya ibu, tapi kenapa wajah Ibu terluka? Apa para rentenir itu memukuli Ibu lagi?"


"Tidak! Ibu tadi terjatuh nak, tidak apa-apa. Kau makan duluan saja, ibu akan berganti baju dan membersihkan luka-luka ibu. Makan yang banyak, kalau perlu habiskan semuanya agar kau kenyang. Kapan lagi kita bisa makan enak, kan? Kau tidak usah memikirkan ibu!"


Begitu perhatian sang ibu pada Ariana kecil, namun perhatian itu tidak berlangsung lama hingga pada suatu hari Ibunya mengajak Ariana pergi ke pasar malam.


Seharian itu dia menyenangkan Ariana, tapi saat sang ibu izin pergi ke kamar mandi terjadi sesuatu.


"Nak, ini akan pagi ke kamar mandi dulu...oh ya ini untukmu sayang." kata sang ibu lalu memakaikan sebuah kalung berbentuk hati pada Ariana. Dia menunjukkan foto Ariana dan dirinya disana. Ariana tersenyum senang karena ibunya membelikan kalung itu padanya.


"Iya ibu, ibu janji ya harus segera kembali padaku Bu!"


"Iya ibu janji," ucap wanita itu sambil menautkan jadi kelingkingnya pada jadi kecil anaknya. "Kau tunggu disini ya!" kata ibu Ariana pada anaknya itu.


Ariana mengganggukan kepalanya dan dia duduk dengan sepatu di salah satu bangku yang ada di sana. Setelah Ariana menunggu berjam-jam disana, sang ibu tidak kembali pada anaknya dan menghilang entah kemana. Meninggalkan Ariana yang saat itu masih berusia 5 tahun.


Malam itu Ariana menangis sendirian di taman hiburan, tanpa ada yang peduli padanya. "Ibu....kenapa ibu meninggalkan aku Bu? Kenapa ibu tidak kembali? Padahal ini sudah janji...hiks... huhuu...ibu jahat..." Gadis kecil itu menangis tersedu-sedu dengan cukup keras sambil memegang boneka lusuhnya.


Dari kejauhan Anika menangis melihat Ariana, namun dia tidak mau hidup susah dan mengurus Ariana.


Kemudian Ariana dibawa oleh seorang wanita paruh baya ke sebuah panti asuhan. Sejak saat itu Ariana melupakan sosok ibunya dan dia membuang kalung pemberian ibunya.


"Aku benci ibu! Aku benci ibu!" gerutu Ariana sambil menangis terisak di kamar panti asuhannya.


Sejak saat itu Anika mengaku bahwa dia masih jomblo dan menikah dengan Tommy lalu memiliki Sheila. Dia melupakan Ariana begitu saja, sampai ia melihat anaknya telah menjadi artis. Ia pikir anaknya hidup bahagia dengan kehidupan tanpa dirinya, tapi Anika salah.


#End flashback


Asteorope juga ikut merasakan ada yang aneh disana. Ah ya dan dia baru ingat bahwa Anika adalah wanita di liontin Ariana, dia pernah melihat fotonya. Ia yakin bahwa Anika adalah ibunya.


Pantas suasananya berbeda.


Asteorope pun berbisik pada Ariana, entah apa. Ariana membalasnya dengan anggukan kepala dan mata yang berair.


Tak berselang lama, Javier, Theo, Asteorope dan Sheila pergi dari sana. Mereka bertiga membuat Sheila sibuk, sementara Ariana dan Anika berdiri disana dan masih saling memandang.


"Apa kabar ibu?" tanya Ariana dengan tangan yang mengepal kuat.


"Aku bukan ibumu." jawab Anika dingin.


...****...

__ADS_1


__ADS_2