I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 52. Stella naik status


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Siapa pelakunya apa?" tanya Roselia dengan kening yang sedikit berkerut disertai alis yang terangkat.


Dia berpura-pura tidak tahu apa yang ditanyakan oleh Michael. Sebenarnya bisa saja dia mengatakan tentang Javier, tapi ia rasa tidak perlu memberitahu tentang Javier pada Michael bila dia hanya akan menambah masalah saja.


"Apa tuan Martinez menyakitimu?" tanyanya retoris dengan tatapan mata yang begitu tajam kepada roselia.


"Tidak." jawab Roselia dengan cepat, agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Jangan bohong! Jika benar bahwa dia yang menyakitimu, aku tidak akan tinggal diam." ucap Michael pada gadis itu.


"Aku sudah bilang tidak, yang mulia. Lebih baik kau pergi saja tinggalkan aku sendiri di sini, aku ingin beristirahat dan kau juga punya banyak pekerjaan bukan?"


Roselia benar-benar risih dengan kehadiran Michael di sana. Dia tidak nyaman dengan perhatian dari pria itu, rasanya berbeda ketika diperhatikan oleh Michael dan oleh Asteorope. Dan Roselia tidak menginginkan perhatian dari Michael. Ya, karena apa? Karena ia telah melihat dalam cerita aslinya bahwa Michael adalah pangeran kejam dan akan membunuh siapa saja yang menyinggungnya.


Suatu saat nanti, Roselia yakin bahwa Michael akan tergoda oleh Stella seperti dengan cerita aslinya. Tapi mau pria itu tergoda oleh Stella ataupun tidak, Roselia sama sekali tidak peduli. Asalkan kekasihnya tidak berbelok kepada Stella.


"Kau tidak suka aku berada di sini?" tanya Michael dengan dessah kecewa.


"Kalau aku bilang aku tidak suka, apa kau akan marah?"


Tiba-tiba saja tangan Michael terkepal dengan kuat dan rahangnya mengeras, mendengar jawaban Roselia dan sudah jelas itu karena Michael tidak menyukai jawaban ketus gadis itu.


Michael beranjak dari ranjang tersebut, namun tatapan matanya tidak pernah terlepas dari Roselia dengan tajamnya. "Baiklah, kalau aku tidak suka aku disini aku akan pergi. Tapi kau ingat baik-baik! Pria yang bernama Frans itu aku pasti akan membunuhnya!" ujar Michael seraya menunjuk pada wajah cantik Roselia.


Gadis itu sama sekali tidak takut dengan ancaman Michael, dia hanya tersenyum kecut menanggapinya.


Bodoh! Kau tidak akan pernah bisa menemukan orang yang bernama Frans itu, karena dia tidak berada di dunia ini.


"Aku PERGI! Jangan lupa besok ada makan siang bersama Raja Albarca, kalau kau mau ikut silahkan....kalau kau tidak mau ikut, tidak apa-apa." ucap Michael dengan wajah datarnya seolah-olah mengisyaratkan bahwa Roselia jangan ikut saja.


"Yang mulia, aku pasti akan pergi ke sana. Bukankah di saat-saat seperti ini kemampuan aktingku harus digunakan?" tanya Roselia sambil tersenyum.


Putra mahkota dari kerajaan Gamarcus itu tidak berbicara lagi dan dia kemudian pergi keluar dari kamar Roselia. Tepat saat Michael keluar dari kamar itu, Pierre, Stella, Derrick dan Doris sudah berada di hadapannya.


Bahkan Stella dengan sengaja mendekati Derrick, gadis cantik berambut perak Itu tampak menyunggingkan senyuman terbaiknya didepan sang putra mahkota.


Sekarang aku tidak akan menjadi pelayan lagi dan aku akan leluasa untuk mendekati putra mahkota kerajaan ini. Karena mulai sekarang aku bukanlah Stella tanpa marga, tapi aku adalah Stella Maris Volton. Dan dengan naik status, aku bisa segera menjadi permaisuri di negeri ini.


Ya, setelah kebenaran terkuak bahwa dia dan Derrick bersaudara dan mereka berasal dari keluarga Earl Volton yang dihormati oleh keluarga kerajaan. Stella merasa senang dan sangat percaya diri bahwa dia merebut posisi Roselia sebagai Putri mahkota. Dan dia tidak akan dipandang rendah lagi oleh siapapun juga.


Setelah pembicaraan antara Stella dan Derrick, sang kakak telah memutuskan untuk meminta Nobel status untuk Stella pada putra mahkota. Selain itu dia juga ingin melihat keadaan Roselia.

__ADS_1


"Yang mulia putra mahkota, salam." kata Derrick dan Stella sambil menundukkan kepalanya dengan penuh hormat didepan pria itu.


"Ya, apa kalian kesini untuk melihat kondisi Putri mahkota?" tanya Michael pada Derrick.


"Ya yang mulia, saya ingin melihat keadaan adik sepupu saya." jawab Derrick dengan menggunakan dalih kata sepupu. Padahal dia niatnya ingin bertemu dengan wanita yang ia cinta. Baginya Roselia bukanlah saudara sepupu melainkan cintanya.


Adik sepupu? Apa kau yakin dia adalah dia sepupumu Derrick? Mengapa... aku melihat ada sinar Cinta di matamu untuknya?


Sekilas Michael menatap temannya itu dengan curiga. Kemudian dia menjawab Derrick dan mengatakan padanya bahwa pria itu belum bisa menemui Roselia sebab Rosalia baru saja mau minum obatnya dan akan segera beristirahat. Alangkah baiknya, bila waktu istirahat itu tidak diganggu. Derrick pun paham, dia mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Roselia dan malah mengajak Michael untuk membicarakan sesuatu hal bersama dengan Stella juga.


"Kenapa aku harus berbicara dengan pelayan ini juga? Kenapa kau harus membawa pelayan ini untuk berbicara denganku?" tanyanya sinis, dia kurang suka dengan Stella karena untuk ukuran seorang pelayan dia sangatlah cantik dan menggoda para pengawal yang ada di sana.


Terkadang Michael merasa berdebar saat melihat kecantikannya, apalagi saat Stella berani memakai pakaian tipis di malam hari dan sengaja dipertontonkan. Namun cinta dan n*fsu rasanya berbeda. Siapa yang tidak akan tergoda bila melihat kecantikan Stella dan tubuh moleknya yang sengaja di obral itu?


Michael juga seorang pria dan dia masih normal.


"Karena apa yang akan saya bicarakan ini berkaitan dengan Stella, intinya Stella adalah adik kandung saya, yang mulia..."


Kedua mata Michael seketika melebar saat mendengar ucapan Derrick yang mengatakan bahwa Stella adalah adik kandungnya. Kemudian mereka pun bicara bertiga di ruang istirahat putra mahkota.


Stella melihat sekeliling ruangan itu dengan takjub, pasalnya ruangan itu tidak pernah dia kunjungi. Ruangan istirahat putra mahkota, yang hanya bisa dikunjungi oleh segelincir orang saja. Stella bermimpi, bahwa suatu hari dia akan bisa mengunjungi ruang istirahat ini bahkan kamar Putra mahkota setiap harinya.


Rupanya, Stella masih mengingat ramalan dari pendeta itu.


"Ya yang mulia, bagaimanapun juga Stella adalah adik kandung saya dan saya ingin memberikan dia gelar. Dan hanya yang mulia saja yang bisa membantu saya untuk memberikan gelar tersebut, saya tidak mau adik saya menjadi pelayan lagi yang mulia."


"Haaahh..." Michael mendesah pelan dan menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Baiklah, akan aku kabulkan permintaanmu mulai besok status Earl akan berubah menjadi Nona muda Volton." sambungnya setuju dengan permintaan Derrick.


Dua bersaudara itu langsung tersenyum, dan dengan kelompok mereka mengucapkan rasa terima kasih kepada putra mahkota. Terlihat seulas senyuman bahagia namun terlihat juga seringai di bibir Stella.


Roselia, kau harus berharap harap cemas sekarang... karena aku akan merebut posisimu sebentar lagi. Lihat saja! Putra mahkota, pasti akan menjadi milikku dan posisi Putri mahkota yang seharusnya menjadi milikku akan aku ambil darimu.


...****...


Hai Readers, jangan lupa tinggalkan jejak, komen, like, gift dan vote nya 😁😁biar author semangat update 😍


Sebentar lagi Stella dan Javier akan beraksi, mohon bersabar ya 😁 dan satu lagi, apa disini ada kubu Michael dan Javier?


Spoiler episode berikutnya....


"Stella, apa yang kau lakukan? Apa yang kau campurkan ke dalam sana?" tanya pria berambut merah itu sambil berjalan sempoyongan, matanya sayu dan kepalanya penat.


"Yang mulia...saya mencintai anda," bisik Stella lalu mendorong tubuh pria itu ke atas ranjang.

__ADS_1


...*****...


Sambil nunggu update, jangan lupa mampir ke karya temanku yang satu ini ya 😁😁 Karya WENY HIDA, Sekedar Pelampiasan


CUPLIKAN:


Devano kemudian bangkit dari tubuh Luna, lalu memungut pakaiannya dan pakaian Luna yang tercecer di bawah ranjang dan memberikannya pada Luna.


"Kau sudah selesai?" tanya Devano setelah melihat Luna yang kini sudah mengenakan pakaiannya kembali.


"Sudah," jawab Luna singkat.


"Ayo kuantar pulang!"


Luna menganggukan kepalanya, mereka lalu keluar dari sebuah kamar pribadi yang ada di ruang kerja Devano di kantornya. Sebuah ruangan yang sudah menjadi saksi bisu pergulatan nafsu antara dua insan yang sama-sama memiliki tujuan yang berbeda.


Beberapa saat kemudian, mobil Devano tampak berhenti di depan sebuah rumah sederhana di komplek pemukiman padat penduduk di ibu kota.


"Terima kasih, Luna."


Luna kemudian menganggukan kepalanya sambil menatap Devano, menatap wajah tampan yang ada di hadapannya dengan tatapan mata manik cokelatnya yang begitu dalam.


'Ahhh, tatapan mata ini? Kenapa dia harus menatapku dengan tatapan mata seperti ini lagi?' batin Devano.


"Semoga acara pertunangan anda besok lancar."


****


Setengah jam kemudian, Luna sudah berdiri di dalam kamar mandi sambil memegang sebuah benda pipih di tangannya.


Meskipun dengan penuh keraguan, dia mencelupkan benda pipih itu ke sebuah wadah kecil yang berisi cairan berwarna kuning.


CLUP


Luna menutup matanya, mata itu pun terpejam beberapa saat sambil mengumpulkan kekuatan untuk menegarkan hatinya.


"Hufttt, aku kuat!" ujar Luna sambil perlahan membuka matanya. Dia pun mengangkat benda pipih itu, seiring dengan matanya yang terbuka.


"Oh tidak!" ucap Luna saat melihat dua buah garis yang tertera di benda pipih itu.


Hatinya terasa begitu sakit, jauh lebih sakit daripada saat dia memendam rasa cintanya pada Devano. Luna pun hanya bisa menangis, sambil memegang perutnya dan memejamkan matanya.


"Keadaan yang membuatku jatuh cinta padamu, lalu aku dihancurkan oleh keadaan itu sendiri karena cinta ini adalah sebuah kesalahan."

__ADS_1



__ADS_2