
...🍀🍀🍀...
Javier membawa Viona ke ruang perawatan yang ada di istana itu. Beruntung ruang perawatan istana masih utuh, tidak seperti bagian istana lain yang hancur.
Pria itu membaringkan Viona di salah satu ranjang disana. Terlihat beberapa tabib tengah mengobati para korban dalam insiden itu. Tak terasa waktu sudah memasuki fajar, matahari akan segera terbit.
"Aahhhh...sakit sekali...." tanpa sadar, rasa sakit yang di rasakan Viona membuatnya tak sengaja mencengkram lengan kekar Javier yang berada dibalik setelan baju santainya.
Meski begitu, Javier masih terlihat tampan. Tak heran jika dia banyak dikagumi banyak wanita walaupun sikapnya di cap buruk. Psikopat, gay, dingin, melekat pada dirinya. Tapi sekarang dia sudah berubah dari semua penyakitnya itu.
Javier membiarkan tangan kekarnya di pegang erat oleh Viona. Ia kasihan melihat Viona meringis kesakitan, sampai wajahnya berkeringat begitu.
Semoga saja bisa meringankan rasa sakitmu.
"Tabib! Tolong periksa dia!" ujar Javier pada salah satu tabib wanita disana.
"Baik tuan,"
Tabib wanita itu memeriksa kondisi Viona dengan hati-hati. Dari mulai denyut nadi dan perutnya. "Tuan, dengan berat hati saya sampaikan..." raut wajah tabib wanita itu terlihat tidak baik.
"Ada apa tabib? Apa yang terjadi pada saya? Apa bayi saya--akhh..." Viona mencemaskan kondisi bayinya. Walaupun dia tidak suka dengan Derrick, namun ia sangat menyayangi bayinya sebagai buah cintanya dan Derrick.
"Tuan...nyonya, bayi kalian tidak bisa diselamatkan. Anda keguguran, saya turut berduka!" kata tabib itu yang membuat Viona menangis tersedu-sedu sambil memegang perutnya itu.
"Hiks...bayiku..."
Tunggu! Sepertinya ada yang salah dengan kata bayi kalian? Batin Javier berpikir.
"Saya turut berduka nona, tapi anda tenang saja. Tidak ada masalah dengan tubuh nona, nona masih bisa hamil lagi selama suami nona menggempur nona." celetuk si tabib omes itu seraya menatap ke arah Javier yang melotot karena salah fokus dengan kata-kata si tabib.
"Jangan bicara sembarangan! Aku bukanlah su--"
"Tuan, lebih baik anda hibur istri anda. Saat ini beliau sangat membutuhkan dukungan anda," ucap tabib itu menyela. Dia terlihat serius, padahal Javier ingin tertawa karena disalahpahami seperti ini.
"Hah? Suami? Aku?" Javier menunjuk pada dirinya sendiri.
Sementara itu Viona masih menangisi bayinya yang telah tiada. Javier merasa kasihan dan tak tega melihat wanita itu menangis, apalagi kalau Viona sampai tau jika Derrick sudah mati ditangan Liam.
"Aku tau berat rasanya ketika kehilangan seseorang yang kau cintai, tapi kau harus merelakannya. Sebab dibalik setiap bencana dan musibah pasti ada hikmahnya." kata Javier berusaha menghibur, meskipun kata-kata penghiburan yang ini dia copy paste dari Ariana.
Ya, Ariana pernah mengatakan hal ini sebelumnya ketika mereka berada di dunia modern. Ngomong-ngomong tentang dunia modern? Bagaimana dengan nasib Anika, Tommy dan Sheila?
Setelah mengetahui kebohongan Anika, Tommy mengusir Anika dari rumah. Anika hidup dalam kesendirian, tanpa keluarga, tanpa uang, tanpa rumah untuk bisa menjadi tempatnya berpulang.
Anika telah kehilangan semuanya, sebab kesalahannya sendiri. Anika menyesali semua perbuatannya yang telah menyia-nyiakan anak dan suaminya. Tidak hanya itu, Anika juga tega berbohong pada keluarga barunya tentang masa lalunya. Anika menyesal, tapi penyesalan itu sudah terlambat.
Penyesalan selalu datang di akhir, kalau didepan namanya pendaftaran. Ya begitulah hidup, setiap apa yang kita lakukan pasti akan mendapatkan balasannya. Sekecil apapun perbuatan itu, mau itu perbuatan baik dan mau itu perbuatan yang jahat.
🍁🍁🍁
2 bulan kemudian...
Setelah apa yang terjadi di kerajaan Albarca, setelah pertumpahan yang terjadi disebabkan boleh Liam dan Aragon. Membuat kerajaan tersebut sedikit tergoncang seolah telah diterpa bencana alam. Beruntungnya Asteorope sebagai seorang raja, selalu berusaha memulihkan kondisi kerajaan yang kembali. Tentunya dibantu oleh orang-orang kepercayaannya.
Dan tentang Liam? Bagaimana nasibnya? Dia mati mengenaskan karena dirinya sendiri yang telah memakai sihir hitam. Tubuhnya meledak dan terpotong-potong. Kali ini pria itu benar-benar sudah mati.
Lalu tentang Ariana? Bagaimana nasibnya? Ariana yang kekuatannya bangkit, membuat dirinya menjadi sorotan semua orang di kerajaan tersebut. Ia tidak menyangka bahwa ada beberapa rakyat yang pro dan kontra kepalanya.
Sebagian dari mereka menganggap Ariana memiliki kekuatan yang berbahaya, tapi sebagian besar dari mereka menganggap bahwa kekuatan Ariana adalah sebuah berkah. Dia menjadi penyihir agung berikutnya, namun ia tetap harus berhati-hati sebab kekuatannya bisa meledak dan tak terkendali dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.
Contohnya saat kematian Cain, emosi yang meluap-luap membuat kekuatan di dalam dirinya bangkit. Dan karena kekuatannya itu dia hampir membuat kerajaan Albarca menjadi hancur. Asteorope adalah obat yang paling mujarab untuk menenangkan Ariana. Apalagi setelah kepergian Cain, hampir setiap malam istrinya itu tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Meski dari pagi sampai sore hari Ariana disibukkan dengan kegiatan sebagai seorang Ratu dari sebuah kerajaan besar. Dia tetap melakukan segalanya dengan profesional. Tapi hati manusia tidak ada yang tahu bukan? Apalagi hati seorang wanita seperti dalamnya Samudra, tidak mudah untuk diselami dan terkadang wanita tidak mudah untuk dimengerti. Khususnya oleh pria, terkadang mereka tidak memahami wanita atau bagaimana cara menyenangkannya.
Asteorope selalu melakukan segala hal agar membuat Ariana kembali tersenyum ceria dan kembali seperti sedia kala. Dan sepertinya waktu 2 bulan cukup untuk membuat Ariana kembali bangkit seperti sedia kala.
Hari itu, adalah perubahan Ariana. Ia tidak burung dan kembali tersenyum.
"Yang Mulia, kenapa kau belum bangun?" tanya Ariana pada suaminya yang masih tertidur pulas di atas ranjang, tepat di sampingnya.
__ADS_1
"Ratuku?" Asteorope langsung beranjak duduk di atas ranjang dan atensinya tertuju pada sang istri yang sudah berpakaian rapi.
"Ayo bangunlah, bukankah hari ini kau ada pertemuan di gereja kota?" tanya Ariana seraya tersenyum pada suaminya.
Senyuman yang selama ini tidak pernah dilihat oleh Asteorope selama 2 bulan lamanya. Senyuman tulus, berseri-seri yang bisa menggetarkan hatinya.
Bukannya menjawab pertanyaan dari istrinya, Asteorope malah terdiam membeku selama beberapa saat. Hingga ia kembali tersadar dari lamunannya kemudian dia memeluk Ariana dengan erat penuh rindu.
"Sayang, apa kau baik-baik saja? Apa aku bermimpi? Aku melihat senyuman indah tepatnya di bibirmu, sayang." lirih pria itu bahagia. Sudah lama ia tidak melihat senyuman indah dan tulus dari istrinya. Sebab wanita itu selalu memasang wajah dingin dan datar semenjak kepergian ayahnya yang tercinta.
"Iya Rajaku, kau tidak bermimpi. Aku sudah kembali." kata Ariana seraya tersenyum lebar.
Cup!
Cup!
Asteorope menghujani sang istri dengan ciuman penuh kasih, dari mulai kening, kedua kelopak mata, hidung, pipi lalu bibir. Ia sudah sangat merindukan sosok istrinya yang ceria dan kembali semangat.
"Aku merindukanmu, Ratuku."
"Aku juga...maafkan aku karena selama 2 bulan ini aku selalu mengabaikanmu." sesal Ariana selama dua bulan ini.
Pria itu dengan cepat menggelengkan kepala, menjawab pada Ariana bahwa semua itu tidak benar. Ariana tidak pernah mengabaikannya, Asteorope paham kenapa istrinya begitu. Ya, karena apa lagi karena dia memang sedang berduka. Asteorope memakluminya.
"Tidak sayang kau tidak mengabaikanku. Aku paham bagaimana hatimu. Sudahlah, kita jangan bicara hal itu lagi. Lebih baik kita segera pergi dan lakukan aktivitas kita. Ah ya, Aku sedang merencanakan perjalanan bulan madu dengan---"
"Uwekk..." tiba-tiba saja Ariana menutup mulutnya dan dia mual-mual. Ariana beranjak dari tempat tidurnya dan berlari menuju ke kamar mandi yang ada di kamar itu.
"Sayang! Apa yang terjadi denganmu?" tanya Asteorope yang juga ikut turun dari ranjangnya dan melangkah menuju kamar mandi menyusul istrinya.
Uwekk... Uwekkk... Uwekkk...
Asteorope cemas melihat istrinya yang mual-mual namun tidak memuntahkan apapun. Hanya air saja. Pria itu mengusap-usap punggung Ariana dengan penuh perhatian.
"Uwek..."
Terlihat gurat kecemasan di wajah Asteorope melihat istrinya yang mual-mual dan wajahnya jadi pucat. Setelah selesai dengan mual-mualnya, Ariana kembali bertanding diatas ranjang. Ia merasakan perutnya perih.
"Aku akan panggil tabib untuk memeriksa kondisimu," ucap Asteorope cemas.
"Tidak Yang Mulia! Aku seperti ini karena aku lelah dan stress. Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Aku akan pergi ke tempat pertemuan."
"Tidak boleh! Kau tidak boleh kemana-mana, kau disini saja dan aku akan panggil tabib." ucap Asteorope tegas.
"Yang Mulia...tapi aku punya banyak pekerjaan,"
"Kesehatanmu lebih penting sayangku. Aku tidak mau kau sampai sakit parah. Aku akan panggil tabib dan hari ini semua jadwalmu akan dipindahkan ke hari lain. Paham?"
"Apa ini perintah Raja atau perintah seorang suami?" tanya Ariana seraya tersenyum pada suaminya.
"Keduanya," jawab Asteorope tak mau dibantah oleh istrinya.
"Kalian yang diluar sana, panggil tabib wanita kemari!" ujar Asteorope pada orang-orang yang ada didepan pintu kamarnya.
Tak berselang lama kemudian, seorang tabib wanita datang ke kamar Asteorope dan Ariana untuk memeriksa kondisi sang Ratu. Tabib itu memeriksa denyut nadi Ariana dan menekan-nekan perutnya.
"Apa ini terasa sakit, Yang Mulia?" tanya tabib Carol saat memeriksa kondisi Ariana, menekan sedikit perutnya.
"Tadi saat aku mual-mual terasa perih, tapi sekarang tidak lagi." jawab Ariana. Sementara Asteorope ada disampingnya, tangannya masih tak mau lepas dari Ariana.
"Yang Mulia Ratu, kapan terakhir kali anda datang bulan?" tanya Carol yang membuat atensi pasangan suami istri itu tertuju padanya. Bingung, itulah bagaimana raut wajah mereka saat ini.
Asteorope bahkan sampai bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa Carol sampai menanyakan hal yang bersifat pribadi seperti ini.
"Ah ya... aku baru ingat kalau terakhir aku datang bulan, itu bulan lalu."
Bibir Caroline tersenyum. Kemudian dia menatap sang raja dan sang ratu secara bergantian.
"Katakan! Apa yang sebenarnya terjadi pada istriku? Mengapa dia bisa mual-mual begitu? Apakah benar mual-mualnya itu hanya karena dia masuk angin?" tanya Asteorope mendahului Ariana yang juga ingin bertanya tentang kondisinya.
__ADS_1
Carol menghela nafas, wajahnya terlihat berseri-seri. "Yang Mulia Raja, Yang Mulia Ratu...selamat...."
"Selamat apa?" tanya Ariana tak paham.
"Baginda Raja tidak perlu menjelaskan kondisi yang Mulia Ratu,sebab gejala mual-mual Baginda Ratu adalah hal normal yang biasa terjadi pada ibu hamil."
Ariana dan Asteorope tercengang mana kala mereka mendengar penjelasan dari tabib bahwa Ariana tengah mengandung. "Apa? Kau bilang apa barusan?"
"Selamat yang mulia Raja, yang mulia Ratu...karena yang mulia Raja dan yang mulia Ratu akan segera menjadi orang tua." ucap Carol sekali lagi seraya tersenyum bahagia. Tak lama lagi akan lahir seorang pangeran, atau mungkin putri di kerajaan itu.
"APA? Kau serius??!" Asteorope begitu bahagia dan tidak menyangka bahwa Tuhan memberikannya amanah secepat ini.
"Ya Yang Mulia, usia kandungan yang mulia Ratu sekitar 4 Minggu." Carol memperjelas usia kandungan Ariana.
"A-aku hamil?" Ariana sama kagetnya dengan Asteorope, ia memegangi perutnya dan tampak bahagia.
Namun dibalik kebahagiaan itu nyatanya hati Ariana masih terasa sakit, sebab sang ayah telah tiada sebelum mendengar berita bahagia ini.
"A-aku..."
Carol. memahami situasi yang sedang terjadi saat ini, ia memilih pergi keluar dari ruangan itu agar pasangan suami istri itu bisa saling meluapkan rasa bahagia dan rasa syukur mereka karena kehadiran janin didalam perut Ariana.
"Sayang, benarkah ini? Benarkah kabar baik ini? Kita--akan segera menjadi orang tua?" tanya Asteorope dengan mata yang berkaca-kaca dengan tangan yang menggenggam Ariana.
Ariana menangis haru, ia juga tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh tabib. Keduanya saling berpelukan dan sama-sama bahagia karena mereka akan segera dikaruniai seorang anak.
"Hari ini! Aku akan mengumumkan kepada semua kabar bahagia ini! Aku juga akan mengadakan pesta--aku akan--"
Pria itu terlihat linglung, bahagia, haru, bercampur di dalam benaknya saat ini. Akhirnya kebahagiaan pun datang kepada mereka berdua, setelah banyaknya badai yang menghadang perjalanan cinta mereka berdua.
..."Jangan menangis...kau harus kuat...kau akan menjadi Ratu yang hebat di negri ini. Kelak anak-anakmu juga akan menjadi anak yang hebat. Ayah menyayangimu Ariana, ayah menyayangimu..."...
Ariana tiba-tiba saja teringat perkataan mendiang ayahnya yang mengatakan bahwa anaknya akan tumbuh menjadi anak yang hebat.
*****
Albarca, desa Ansora.
Sebuah rumah dengan pemandangan indah dipinggir pantai.
Javier yang saat ini tinggal di Albarca, juga mendengar berita tentang kehamilan Ariana dan juga pesta yang akan dilaksanakan besok malam. Theo adalah orang yang menyampaikan berita itu lewat surat undangan.
"Tuan, Bukankah ini adalah kabar yang sangat baik? Baginda Ratu sedang hamil!" kata Theo senang dengan berita itu. "Bahkan Baginda raja sampai memberikan hadiah kepada semua rakyat sebagai bentuk rasa syukurnya karena telah dibelikan keturunan oleh Tuhan._ imbuhnya lagi.
Sementara Javier memandang ke arah surat undangan pesta di Albarca, kemudian ia tersenyum. Ia juga ikut bahagia karena akan segera punya keponakan.
Javier sudah ikhlas untuk melepaskan cintanya dan mengganti cintanya itu dengan hubungan persaudaraan. Apalagi saat ini dia tengah menjalani hubungan asmara dengan putri Viona.
Setelah kejadian penyerangan itu, Javier dan Viona menjadi dekat dan mereka saling bertukar surat. Lalu waktu membuat keduanya bisa menjalin hubungan menjadi sepasang kekasih.
"Oh ya tuan, apakah Tuan akan mengajak Putri Viona ke pesta itu?" tanya Theo pada Javier.
"Tentu saja aku akan mengajak kekasihku untuk datang ke pesta itu, sekarang aku bukan lagi pria yang lajang." cetus pria itu seraya tersenyum bahagia membayangkan dia akan pergi ke pesta bersama dengan kekasihnya.
Statusnya yang selalu lajang kini berubah menjadi tidak lajang lagi. Kata-kata lajang itu sangat menohok untuk Theo yang masih jomblo dan belum juga mendapatkan pasangan kekasih.
"Tuan, kenapa Anda tega sekali menyindir saya seperti itu? Mentang-mentang saya jomblo! Huh!"
"Maka dari itu, cepatlah cari pasangan. Apa kau mau ku carikan pasangan?" tawar Javier pada orang kepercayaannya itu.
"Tidak, tuan! Saya tidak mau di jodoh-jodohkan seperti itu, biarlah jodoh itu mengalir seperti air...apa adanya dan jika sudah takdir pasti jodoh itu akan datang sendiri. Betul kan?" tanya Theo kan begitu bijaknya, berfilosofi soal jodoh meskipun dia sendiri seorang jomblo.
Kata-kata bijak tersebut malah membuat Javier tertawa terbahak-bahak. "Hahaha... baiklah, kalau nanti kau menemukan seseorang yang cocok di pesta dansa. Kau beritahu aku, aku akan membantumu untuk mendapatkan gadis itu." ucap Javier sambil tersenyum.
Ia benar-benar serius ingin mencarikan Thep seorang pasangan. Agar Theo tidak sibuk selalu dengan dunianya.
Setelah obrolan dan candaan ringan diantara mereka, Javier segera mengoleskan tinta ke atas kertas. Ia menulis kata demi kata-kata, bertuliskan bait puisi yang indah, untuk kekasihnya nun jauh di sana. Terlihat senyuman dibibir Javier.
...*****...
__ADS_1