
Episode ini banyak mengandung Javier dan Flashback Javier Rose!
...🍀🍀🍀...
Mentari pagi mulai menyinari negeri Gamarcus, dua orang insan yang semalam habis bersetubuh masih betah di atas ranjang empuk mereka dengan tubuh yang hanya ditutupi oleh selimut.
"Eunghh--" satu lenguhan lolos begitu saja dari bibir Michael, lalu perlahan ia mulai membuka matanya.
Alangkah kagetnya ia begitu ia menyadari bahwa dirinya ada di atas ranjang yang sama dengan Stella. Ranjang itu adalah ranjang yang dulu tempati Roselia.
"KAU! KENAPA KAU ADA DISINI?!" teriak Michael seraya menatap gadis disampingnya dengan tatapan tajam.
"Yang Mulia, apa anda tidak ingat dengan apa yang kita lakukan semalam?" tanya Stella sambil memegang tangan Michael namun dengan cepat pria itu menepisnya.
"Kau--pasti memanipulasiku lagi!"
"Ya, aku memang pernah memanipulasimu. Tapi semalam kita benar-benar melakukannya yang Mulia." kata Stella serius tanpa ada rasa takut sama sekali karena memang semalam ia telah melakukan malam panas untuk pertama kalinya bersama Michael.
"TIDAK!"
"'Cobalah ingat-ingat Yang Mulia, semalam anda yang menyerang saya lebih dulu dan anda memanggil saya dengan nama Roselia." Stella tersenyum getir, mengatakan fakta yang menyakitkan. Sebab selama percintaan mereka, Michael hanya menyebut-nyebut nama Roselia.
Sungguh malam pertama yang sangat menyakitkan tapi membahagiakan untuk Stella.
Michael terdiam, ingatannya kembali pada semalam. Michael terkejut dan ingat semuanya, ia memang melakukannya dengan Stella.
"ARGGGGH! TIDAK!" Michael menyugar rambutnya dengan kasar. Ia menyesal telah melakukan malam pertama bersama Stella dan kamar itu. "Maafkan aku Roselia! Maaf!" kata Michael seperti orang yang sudah berselingkuh dari istrinya.
Stella tersenyum miris. "Saya berharap saya cepat hamil anak yang Mulia, mungkin dengan begitu Yang Mulia akan menghargai saya sebagai seorang istri dan anda bisa mencintai saya." ucap Stella sakit hati dan berat saat mengatakannya.
Michael marah dan tetap tak menerima semua yang terjadi. Ia semakin membenci Stella yang lagi-lagi memanipulasinya.
🍀🍀🍀
Tak terasa waktu pun berlalu, pernikahan Asteorope dan Ariana telah tiba. Hari yang mereka tunggu-tunggu.
Ariana terlihat duduk di ruang rias, bersama 2 orang dayang dan satu perias pengantin disana. Gadis itu terlihat sangat cantik dengan gaun putih, gaun yang menyiratkan kesucian dan akan membawanya pada janji suci, hidup yang baru
Semua dayang memuji Ariana yang cantik mempesona, dengan mahkota di kepalanya membuat ia berkali-kali lipat cantiknya.
Tok,tok,tok!
Pintu ruangan itu di ketuk, lalu terbuka. Semua atensi yang ada di ruang rias tertuju padanya. Ya, yang datang adalah Javier.
"Oh...kakakku Javier." sambut Ariana ramah.
Mata Javier tidak berkedip menatap Ariana, hatinya masih sakit tapi mencoba ikhlas. Hari ini Ariana akan menjadi milik orang lain.
"Adikku, aku ingin bicara dengannmu berdua."
Ariana pun paham, ia meminta semua orang yang berada di ruangan itu untuk keluar dari sana. Setelah semua orang pergi, kecuali Ariana dan Javier.
Javier menatap Ariana dengan mata berkaca-kaca, ia tiba-tiba saja teringat dengan rentetan kejadian saat ia pertama kali jatuh cinta pada Ariana dan kenangan mereka dulu.
#Flashback
Javier teringat saat ia menyadari perasaannya pada Roselia kala itu. Ketika mereka terjebak di reruntuhan.
"Kau benar Putri Mahkota, mungkin aku bisa bahagia."
"Ya baguslah, jadi kau hiduplah bahagia mulai sekarang dan jangan membunuh lagi!" Roselia tersenyum senang mendengar jawaban Javier.
Ya, aku hanya bisa mendukungmu dengan kata-kata tidak bisa lebih.
"Kau yang harus mengajarkanku untuk bahagia. Tolong ajari aku bagaimana untuk bahagia," ucap Javier sambil menatap gadis itu dengan tatapan aneh yang tak dapat di tebak oleh Roselia.
"A-apa?" Roselia tercengang mendengar ucapan Javier kamu mintanya untuk mengajarkan bagaimana caranya menjadi bahagia.
"Putri Mahkota, kau ingin aku bahagia kan? Tolong ajarkan saya arti kebahagiaan itu." Javier menatap
"Oh...kau salah kalau kau meminta diajari olehku tuan Javier, aku bukan orang yang tepat dan bisa mengajarimu karena aku juga belum bahagia." tutur gadis itu seraya tersenyum tipis. Ya, dia memang belum bahagia karena belum bisa bersatu dengan pria yang ia cintai dan hal yang paling membuatnya bingung adalah tentang kembali ke dunianya.
"Kalau kau belum bahagia, lalu kenapa kau berkata seperti itu padaku? Mengatakan bahwa aku bisa bahagia? Darimana kau tau bila kau sendiri belum bahagia, Yang Mulia Putri Mahkota?" Javier menatap gadis yang duduk tepat disampingnya itu dengan retoris, jarak mereka begitu dekat jika tidak ada anak perempuan itu disana.
"Entahlah," gadis itu mengangkat kedua bahunya, ia juga bingung bagaimana menjelaskan bahagia pada Javier.
"Kalau begitu, apa kau mau cari kebahagiaan itu bersamaku?" tanya Javier dengan tatapan mata serius.
"Dari tadi kau bicara berputar-putar, apa yang sebenarnya ingin kau katakan padaku?" Kening Roselia berkerut, ia tak paham dengan sikap Javier padanya. Bahkan anehnya ia sama sekali tidak waspada dengan pria yang akan membunuhnya semalam.
Anehnya, ia merasa nyambung berbicara dengan psikopat gay ini.
"Kalau kau tidak bisa menjelaskan tentang bahagia, bagaimana jika kau serahkan bibirmu?"
Dari semalam Javier memang sudah penasaran dengan rasa bibir itu, yang membuatnya ingin mencoba. Selain dengan Darius, dia tidak pernah mencium siapapun juga dan kali ini dia ingin mencium wanita.
"Hah? APA?" Roselia tercengang.
Apa dia sudah gila?
"Maksudku, izinkan aku mencium bibirmu sekali saja!" pinta Javier sambil menunjuk satu jarinya, seraya memohon pada gadis itu.
"Kau pasti sudah tidak WARAS!" Roselia tak habis pikir bahkan menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan permintaan tidak wajar dari Javier.
__ADS_1
Hahaha...sudah kuduga tak ada gunanya berbicara dengan orang gila.
Terlihat seringai di wajah Javier, entah ide apa yang dia miliki di kepalanya, yang pasti itu licik. "Baiklah kalau kau tidak mau, tapi aku ingin mengatakan sesuatu dan ini adalah rahasia."
"Kau jangan coba-coba menipuku ya! Rahasia apa?" ancam gadis itu seraya menunjuk Javier dengan jari telunjuknya. Matanya memicing begitu tajam penuh rasa curiga.
"Aku harus berbisik Yang Mulia, takutnya anak ini mendengar." bisik Javier dengan senyuman maut dibibirnya yang bisa membuat terpana.
Sial! Dia benar-benar iblis dalam wujud malaikat,dia tampan sekali...hey Roselia ayolah sadar diri kau punya As, dia itu normal dan kau mencintainya.
"Katakan saja cepat, aku mendengarmu dari sini." ucapnya tak sabar dengan rahasia yang disimpan oleh Javier.
"Lebih dekat lagi Yang Mulia, geser sedikit." pinta Javier sambil tersenyum.
Roselia mendesah lalu mendekatkan tubuhnya kepada Javier, kemudian sepasangan tangan kekar itu menarik tubuhnya. "Hey KAU--HMPH--"
Kurang AJAR!
Tidak sempat melawan, kini Javier telah menyatukan bibirnya pada bibir ranum nan cantik milik Roselia. Awalnya hanya menyatukan, namun Javier malah menikmatinya dan memagutnya. Anehnya dia sama sekali tidak jijik dan malah merasa nyaman.
Lembut.
Lembab.
Manis.
Itulah yang dirasakan Javier ketika mencium bibir wanita untuk pertama kalinya. Hatinya berdebar, jantungnya seperti terkena aliran listrik. Dia terus menyesap dan memperdalam ciumannya, jangan lupakan kedua tangannya yang menahan tubuh Roselia agar tidak bisa bergerak.
Jadi begini rasanya mencium bibir wanita, lembut, manis, tidak kasar dan--
"ACK!!" teriak Javier lalu melepaskan pagutan bibirnya dari Roselia, terlihat sudut bibirnya yang terluka dan Roselia yang menatapnya dengan murka.
"Kurang ajar kau!" sungut Roselia marah.
Plakk!!
Tamparan keras mendarat di pipi Javier dari tangan lentik Roselia yang penuh amarah.
"Apa kau kucing?!" teriak Javier sambil memegang bibirnya yang berdarah akibat ulah gadis itu.
*****
Lalu saat Javier menculik Roselia karena ia ingin Roselia menjadi miliknya.
Di jalan yang tak tau dimana, Roselia masih buta karena matanya tidak bisa melihat apapun dan ditutup oleh kain. Mulutnya juga ditutup oleh kain tebal.
Sial! Javier apa maksudnya dia menculikku? Apa dia punya dendam padaku? Mungkinkah dia.....
Brak!
"Tenanglah sayang, kau akan baik-baik saja...aku tidak akan menyakitimu selama kau baik." kata Javier dengan santainya. Entah dia mau membawa Roselia kemana.
Sialan! Ternyata benar-benar kau Javier, Psikopat gila! Tidak waras. Maki gadis itu didalam hatinya pada Javier.
Javier terus berjalan membawa Roselia ke dalam ruang bawah tanah, tempatnya menyiksa para korban saat ia menjalankan misinya. Tempat itu berada di perbatasan antara negeri Albarca dan Gamarcus.
Kenapa aku mencium bau anyir? Baunya seperti... Roselia tercekat ketika mencium bau anyir disekitar sana. Ia mulai merasa panik dan semakin bertanya-tanya, dibawa kemana dia.
"Tuan, anda sudah datang!" sapa Darius dan 3 orang pria bawahan Javier yang setia. Tatapan mata Darius begitu dingin ketika melihat tuannya membawa Roselia.
"Kau sudah siapkan kamarnya?" tanya Javier pada Darius.
"Sudah tuan!" jawab Darius patuh.
Wanita sialan ini! Dia telah membuat Tuanku berubah, lihat saja...aku akan membuatmu meninggalkan tuan Javier.
"Jangan menatap wanitaku seperti itu, Darius! Atau kau akan tau akibatnya!" Javier melotot manakala ia menyadari Darius menatap Roselia yang sedang dalam gendongannya itu dengan tatapan sinis dan tajam.
"Sa-saya minta maaf tuan..."
"Ingat baik-baik, kalian harus melayani wanita ini dengan baik karena kelak dia akan menjadi istriku dan tentunya nyonya kalian!" tegas Javier pada Darius dan juga 3 orang pria yang ada disana.
Apa? Istrinya? Siapa yang mau menikah dengan psikopat ini? Astaga! Dia terlalu halu dan aku adalah wanita normal tidak seperti dia. Roselia keki mendengar ucapan Javier kepada para bawahannya yang mengklaim bahwa dirinya akan menjadi istri Javier.
Mereka pun mengangguk patuh setelah mendengar ucapan Javier. Ucapan Javier adalah perintah dan tidak bisa diganggu gugat. "Ya, Tuan!"
"Bagus! Darius, sediakan makanan dan minuman yang enak, yang banyak...lalu bawa ke kamar wanitaku." kata Javier memberikan titah pada Darius.
"Baik Tuan." jawab Darius malas. Dia kesal dan keki dengan Javier yang berubah karena Roselia.
Javier membawa Roselia ke sebuah kamar dengan sebuah ranjang empuk berwarna merah muda, di sertai fasilitas kamar mandi, lemari, meja rias, akan tetapi pintunya dari jeruji besi. Terlihat seperti kamar namun juga seperti penjara.
Dia membaringkan Roselia di atas ranjang itu dengan hati-hati. Lalu dia membuka ikatan di tangan dan kaki Roselia. "Haha...maaf aku lupa melepaskan ikatan di mulut dan kepalamu, gadis bar-bar." tawa Javier begitu menyadari bahwa mata dan bibir gadis itu masih ditutupi kain.
"Haahh.... haaaahhh..." Roselia menghembuskan nafas yang sedari tadi tertahan. Dia menatap mata Javier dengan tajam. "Kau...apa yang sebenarnya kau pikirkan? Kenapa kau menculikku? Apa kau sudah gila?!" hardik Roselia emosi kepada Javier yang membawanya pergi.
"Ya, ya...katakan saja aku gila...kau memang selalu mengatakan begitu kan?" kata Javier dengan santainya.
"Sudahlah! Sekarang lebih baik kau lepaskan aku dari sini karena mulai besok aku tidak boleh menginjakkan kakiku di negeri ini lagi, Raja telah memerintahkannya." tutur Roselia seraya meminta Javier untuk melepaskannya.
"Maaf, tidak bisa. Kalau aku melepaskanmu, kau pasti akan pergi dengan si rambut hitam itu." kata Javier sambil memandang Roselia dengan serius dan membuat gadis itu tercekat sampai menelan ludah. Tatapan Javier begitu mengintimidasinya.
Astaga! Bagaimana dia bisa tau kalau aku akan pergi bersama As? Apa dia memata-mataiku?
__ADS_1
Javier tersenyum lalu mengangkat dagu Roselia, hingga kedua netra mereka bertemu. Yang satu menatap marah, yang satu penuh obsesi. "Kenapa? Kau kaget kenapa aku bisa tau? Wanita bar-bar...ketika aku menginginkan satu hal, maka aku harus mendapatkannya!"
"Maksudmu? Kau menginginkan aku?" tanya Roselia menebak maksud Javier menculiknya.
"Pintar sekali, kau dapat nilai seratus!" Javier masih mencengkram rahang mungil gadis itu dengan kuat.
"Tapi aku tidak mau." wajah Roselia suram, datar tanpa senyuman sedikitpun.
"Oh tidak apa-apa kalau kau tidak mau karena apapun yang kau katakan kau akan tetap berada di sini."
"A-apa? Hey! Brengsek! Kau tidak bisa sembarangan begini, aku tidak mau berada disini!" seru Roselia sambil mendorong tubuh Javier dan mencoba melarikan diri dari sana.
Javier terjengkang sedikit ke sudut ranjang, dengan santainya dia melihat Roselia ke arah pintu. Namun saat Roselia akan membuka pintu jeruji besi itu, hasilnya terkunci. "Cepat buka pintunya! Cepat!" seru Roselia beringas mencoba membuka pintu besi yang digembok itu.
Astaga...ya tuhan, mengapa si psikopat yang harusnya tergila-gila pada Stella jadi tergila-gila padaku. Apa Ini semua karena alur novel yang berubah? Bagaimana ini? Aku tidak mau dikurung disini?
"Apa kau bodoh? Pintunya tak bisa dibuka karena aku yang menggemboknya." kata Javier sambil merebahkan diri diatas ranjang dengan santai.
Roselia mendengus kesal, ia kembali berjalan mendekat pada Javier. "Berikan kuncinya! Cepat--akhh--"
Tangan kekar Javier melingkar di tubuh Roselia dan membuat gadis itu duduk dipangkuannya. Tenaga Javier begitu kuat, sampai Roselia tak bisa bangkit. "Sayang...santailah..."
"Sayang sayang kepalamu peyang! Lepaskan aku, aku harus pergi dari sini...aku harus menemui As dan juga Doris...aku harus tau keadaannya."
Tiba-tiba saja Javier mengigit leher putih mulus Roselia dan meninggalkan tanda disana. "ACK! Kau kucing garong gila,"
"Kalau kau menjemput nama pria lain lagi di hadapanku, aku bersumpah akan melakukan hal yang lebih dari ini." kata Javier mengintimidasi wanita itu untuk tidak menyebut nama Asteorope.
"Kenapa? Dia kekasihku, aku berhak untuk--"
Javier menjatuhkan tubuh Roselia dengan kasar ke atas ranjang. "Kau... benar-benar sudah gila! Kau bahkan melukai Doris, kau pria jahat!" maki Roselia pada Javier.
Dengan satu tangan, Javier menegang kedua tangan Roselia yang terus berontak sampai tak bisa bergerak. Satu tangan Javier yang lain merogoh sesuatu di saku bajunya, terlihatlah sesuatu seperti salep disana.
"Kau mau apa! Itu apa? Apa itu racun?" tanya Roselia penuh rasa curiga pada Javier.
Pria itu tidak menjawab, dia mulai membuka cengkraman tangannya dari Roselia. Saat itulah tangan Roselia menampar Javier.
Plakkk!
"Bajingan!" seru Roselia marah
Mendapat tamparan seperti itu, Javier hanya tersenyum tipis.Mungkin rasa sakitnya bukan apa-apa baginya. "Sayang, jangan marah-marah terus nanti kau cepat tua."
"Bodoh amat!" ketusnya pada Javier.
Javier menahan dirinya yang selalu emosian bila berhadapan dengan wanita, ia memegang tangan Roselia dan melihat pergelangan tangannya yang memar. Tanpa bicara apa-apa, Javier mengoleskan salep itu pada tangan Roselia.
"Kau..."
Terkadang aku tidak mengerti sikapnya ini, tapi aku benci dia!
"Diamlah! Aku tidak akan macam-macam, aku hanya ingin mengobati lukamu."
"Heh? Mengobatiku? Karena siapa aku terluka?" sindir Roselia kesal.
Javier tidak berkomentar, meski dia di maki-maki oleh gadis itu. Dia tetap mengobati pergelangan tangan Roselia. Lelah bicara dan memaki-maki Javier, Roselia menangis. Dia membuat Javier bingung.
"Hiks...hiks..."
"Kau kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Javier bingung. Dia sebenarnya tidak suka melihat wanita menangis dan baru kali ini ia melihat Roselia menangis.
"Doris...izinkan aku melihat keadaan Doris... kumohon...hiks..." Roselia terisak memohon pada Javier agar bisa melihat Doris.
Namun Javier tak peduli, dia meninggalkan Roselia dan mengurungnya di kamar itu. "Bajingan! Cepat lepaskan aku! Keluarkan aku dari sini!" teriak Roselia sambil memegang jeruji besi itu.
"Tidurlah! Ini sudah malam." kata Javier dingin, lalu dia pergi dari sana. "Kalian jaga dia, jangan sampai lengah!" seru Javier pada dua orang penjaga yang ada disana.
Roselia sangat gusar, dia mondar-mandir kesana kemari dalam bingung. "Haaahh....As, Ayah...semoga kalian cepat datang, hanya kalian yang bisa menyelamatkan aku dari orang gila ini. Oh tuhan, tolong selamatkan Doris dan Jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya!"
#End Flashback
"Javier kau menangis? Ada apa?" Ariana kaget melihat Javier menangis, ini pertama kalinya Ariana melihat pria itu menangis. Padahal sebelumnya Javier pernah menangis saat Roselia tiada dulu, hanya saja ia tak tahu
"Aku? Menangis? Kau mengada-ada Yang Mulia Ratu!" Javier mengusap air matanya, ia kembali memasang wajah tegar dan dingin.
"Javier..."
Pria itu duduk berlutut didepan Ariana yang sedang duduk di kursi. Javier menggenggam tangan Ariana, ia menatap gadis itu dengan dalam.
"Ariana, kau harus bahagia! Dengan begitu aku tidak akan menyesal karena sudah melepaskanmu, aku bisa tenang."
"Aku janji, aku akan bahagia Jav."
"Jika kau tidak bahagia, aku akan selalu ada untukmu...kau bisa kembali kapan saja."
"Aku membiarkan hal itu terjadi karena aku akan bahagia dengan suamiku. Jika kau ada disisiku, itu pun sebagai Kakak." ucap Ariana yakin.
"Izinkan aku memelukmu, Ariana." pinta Javier lembut.
Ariana menganggukan kepala, detik berikutnya Javier telah memeluk wanita itu dan berharap agar semuanya berakhir bahagia. Javier masih menangis, tak bisa menahan tangisnya.
"Nona! Waktunya sudah tiba!" kata seseorang di luar pintu yang membuat Ariana dan Javier mengurai pelukan mereka.
__ADS_1
...*****...