I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 43. Jangan sakit, nona Jachan ku


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Asteorope bergegas pergi ke negeri Albarca untuk menemui Roselia secepatnya. Namun sebelum itu dia pergi menemui seorang pria yang rumahnya berada di dekat pantai, rumah sederhana dan pria paruh baya itu hanya tinggal sendirian disana.


"Yang mulia Raja? Ada apakah gerangan anda menemui saya?" tanya pria paruh baya itu dengan mata terbelalak memandang wajah Asteorope yang terlihat gelisah itu.


Setiap Asteorope datang padanya pasti ada masalah yang darurat. Terakhir kali mereka bertemu adalah saat dimana ibu Asteorope sekarat. Lalu kali ini apakah ada yang sekarat juga?


"Tolong saya tuan Cain!" kata Asteorope memohon dengan sopan pada pria paruh baya itu. Dia bersikap sopan pada Cain, yang merupakan teman dekat ayahnya. Dia juga adalah seorang penyihir hebat, namun dia memilih untuk tinggal menyendiri setelah kehilangan anak dan istrinya dalam sebuah tragedi yang membuatnya tidak mau menjadi penyihir lagi dan menyembunyikan dirinya dari dunia. Kecuali untuk Asteorope, pria yang tak lain adalah anak dari sahabat baiknya sang raja terdahulu.


"Yang mulia, anda tidak perlu membungkukkan badan di depan saya... ingatlah bahwa anda adalah seorang raja! Raja tidak tunduk kepada siapapun juga," ucap Cain tegas.


Meski usianya sudah memasuki 50 Han, akan tetapi Cain masih memiliki wibawa dan kharisma sebagai seorang penyihir.


Asteorope mendongakkan kepalanya, ia menatap Cain dengan memelas dan memohon. "Saya... saya ingin meminjam gulung sihir teleportasi!"


Cain terperangah mendengar permintaan dari Asteorope. Gulungan sihir itu sendiri tidak pernah digunakannya lagi sejak perang dan dia hanya memiliki beberapa untuk persediaan.


"Baiklah, saya akan ambilkan gulungan sihir itu.... tadi saya sempat berpikir bahwa anda ingin meminta tolong saya dengan bantuan sihir."


"Tuan Cain, anda tahu bahwa saya tidak akan pernah meminta anda untuk melakukannya! Saya tidak mungkin mengorek luka lama anda, tapi--mungkin suatu saat nanti kemampuan anda akan digunakan."


"Yang mulia, saya sudah berjanji untuk tidak menggunakan sihir lagi." jawab Cain sambil mengambil sesuatu dari kotak panjang di bawah meja makannya. Pria itu mengeluarkan sebuah gulungan lalu menyerahkannya kepada Asteorope. "Tapi untuk apa yang mulia membutuhkan ini?"


"Saya harus bertemu dengan wanita yang kucintai, telah terjadi sesuatu padanya." jelas Asteorope.


"Yang mulia, anda sudah mempunyai wanita yang anda cintai?" tanya Cain sambil tersenyum bahagia mendengar ada seseorang yang bisa membuat Asteorope merasakan cinta lagi setelah kehilangan ibunya.


"Iya, nanti saya akan menceritakannya."


"Jangan hanya menceritakannya yang mulia, bawa juga beliau kemari...saya ingin melihatnya." Cain tersenyum tulus pada Asteorope.


"Baik, saya pergi!" pamit pria itu lalu bergegas keluar dari rumah tua tersebut.


Cain terlihat sendu, dia duduk di bangkunya sambil memandang foto seorang wanita dan anak perempuan tengah tersenyum bahagia disana. Dia terlihat sedih saat melihat foto itu, teringat dengan istri dan anaknya yang meninggal dalam sebuah tragedi.


Dimana dia menolak untuk dimanfaatkan oleh seorang penyihir hitam dan akhirnya anak istrinya menjadi korban. Mereka dibunuh mengenaskan dan kematian dua orang yang ia cintai telah membuat dirinya trauma untuk menggunakan sihirnya lagi. Sejak saat itu dia berjanji pada dirinya tidak akan pernah menggunakan sihirnya lagi dan mengurung dirinya sendiri di tempat terpencil itu.


*****


Di dunia modern...


Terlihat di sebuah gang kumuh dekat tempat sampah, seorang wanita sedang menggandeng tangan anak perempuan yang cantik dan memiliki rambut berwarna coklat. Anak perempuan itu memeluk boneka lusuh dengan rambut di kepang sama seperti miliknya.


"Nak, kau mau makan apa?" tanya si ibu sambil melihat anak perempuannya itu.


"Aku...aku makan apa saja Bu, yang penting kita makan hari ini." jawab gadis kecil yang berusia sekitar 5 tahunan itu dengan senyuman polos terpatri di bibirnya.


Sementara si ibu tersenyum getir lalu mengelus rambut putrinya dengan penuh kasih sayang. "Maafkan ibu ya nak, ibu belum bisa membelikanmu makanan yang enak. Tidak! Ibu minta maaf karena ibu belum bisa menjamin kita akan makan setiap hari."


"Tidak apa-apa ibu! Aku senang walaupun kita tidak makan setiap hari, tapi aku merasa bahagia karena ibu berada di sisiku dan kita bersama-sama!" kata gadis itu dengan polosnya.


Terlihat tangan dan tubuhnya yang begitu kurus. Sang ibu tak tega melihatnya, tapi mau dikata apalagi. Dia hanya bekerja dengan gaji seadanya, belum lagi harus membayar kontrakan, listrik air dan lain-lain. Wanita itu adalah single parent yang harus menghidupi dirinya dan putrinya.

__ADS_1


Dia bekerja paruh waktu siang dan malam, terkadang dia juga tidak memiliki waktu luang untuk putrinya, Ariana. Ariana selalu bermain sendirian di rumah dan menunggu ibunya pulang setiap hari. Kadang ia dan ibunya makan kalau punya uang, kalau tidak punya uang mereka hanya meminum air atau bahkan


Suatu hari ibunya pulang dalam keadaan babak belur dan bajunya robek robek, namun tangannya memegang banyak makanan. Ariana kecil menyambut sang ibu dengan wajah yang bingung.


"I-ibu...ibu kenapa? Kenapa wajah ibu?" tanya gadis itu sambil menatap ibunya dengan cemas.


"Riana...tolong siapkan piring dan sendok ya, ibu bawakan makanan enak untukmu." kata sang ibu sambil mengulas senyum di bibirnya yang terluka. Si ibu itu berusaha untuk mengalihkan perhatian Ariana agar tidak bertanya tanya lagi tentang lukanya.


Gadis kecil itu mengganggukan kepala dan dengan patuh dia melaksanakan perintah ibunya, mengambil sendok dan piring kosong.


Ibu Ariana segera membuka bungkusan yang ada ditangannya. Terlihat ada beberapa makanan kesukaan Ariana, makanan yang harganya cukup mahal.


"Kau ingin makan semua ini kan sayang? Hari ini ibu dapat uang lebih dan ibu bisa membeli kamu makanan yang kau inginkan, nak." Kata sang ibu sambil tersenyum, dia menjelaskan semuanya kepada Ariana agar gadis kecil itu tidak curiga darimana dia mendapatkan uang.


"Iya ibu, tapi kenapa wajah Ibu terluka? Apa para rentenir itu memukuli Ibu lagi?"


"Tidak! Ibu tadi terjatuh nak, tidak apa-apa. Kau makan duluan saja, ibu akan berganti baju dan membersihkan luka-luka ibu. Makan yang banyak, kalau perlu habiskan semuanya agar kau kenyang. Kapan lagi kita bisa makan enak, kan? Kau tidak usah memikirkan ibu!"


Begitu perhatian sang ibu pada Ariana kecil, namun perhatian itu tidak berlangsung lama hingga pada suatu hari Ibunya mengajak Ariana pergi ke pasar malam.


Seharian itu dia menyenangkan Ariana, tapi saat sang ibu izin pergi ke kamar mandi terjadi sesuatu.


"Nak, ini akan pagi ke kamar mandi dulu...oh ya ini untukmu sayang." kata sang ibu lalu memakaikan sebuah kalung berbentuk hati pada Ariana. Dia menunjukkan foto Ariana dan dirinya disana. Ariana tersenyum senang karena ibunya membelikan kalung itu padanya.


"Iya ibu, ibu janji ya harus segera kembali padaku Bu!"


"Iya ibu janji," ucap wanita itu sambil menautkan jadi kelingkingnya pada jadi kecil anaknya. "Kau tunggu disini ya!" kata ibu Ariana pada anaknya itu.


Ariana mengganggukan kepalanya dan dia duduk dengan sepatu di salah satu bangku yang ada di sana. Setelah Ariana menunggu berjam-jam disana, sang ibu tidak kembali pada anaknya dan menghilang entah kemana. Meninggalkan Ariana yang saat itu masih berusia 5 tahun.


Kemudian Ariana dibawa oleh seorang wanita paruh baya ke sebuah panti asuhan. Sejak saat itu Ariana melupakan sosok ibunya dan dia membuang kalung pemberian ibunya.


"Aku benci ibu! Aku benci ibu!" gerutu Ariana sambil menangis terisak di kamar panti asuhannya.


*****


⛪ Kamar putra mahkota Michael ⛪


Tabib telah selesai memeriksa kondisi Roselia, dia mengatakan bahwa Roselia mengalami stress dan tekanan darah rendah yang membuatnya jatuh pingsan.


"Kau bilang dia akan siuman dan turun demamnya, setelah dia cukup tidur dan mendapatkan perawatan! Lalu kenapa dia belum sadar sampai sekarang? Sudah 10 jam 15 menit dan 20 detik dia tidak sadarkan diri juga!" ujar Michael pada tabib yang sudah dipanggil sebanyak 10 kali ke ruangan itu. Michael mengusap wajahnya dengan kasar, dia melihat Doris sedang mengompreskan handuk basah pada kening Roselia.


Astaga yang mulia, apa kau menghitung waktunya? Pierre tertawa jenaka dalam hatinya karena tingkah Michael yang sudah mulai perhatian pada Roselia secara langsung.


Dia seneng karena Michael telah menemukan hal lain dalam hidupnya selain tahta dan kerajaan. Kini cinta juga mulai hadir didalam hidupnya dan cinta itu adalah Roselia.


"Maafkan saya yang mulia putra mahkota, saya tidak berbohong...yang mulia putri mahkota memang baik-baik saja. Saya juga tidak mengerti, mengapa demamnya belum turun dan beliau belum sadarkan diri." jelas tabib itu sambil merindukan kepalanya karena takut dengan kemarahan Michael.


"Alah... alasan saja kau! Bilang saja kau tidak becus bekerja!" kata Michael marah kepada tabib itu.


Namun tatapannya berubah menjadi sendu saat melihat Roselia masih belum siuman juga.


Kenapa kau bisa sakit wanita monyet? Ini tidak seperti dirimu. Bangunlah dan maki-maki aku seperti biasanya, cepatlah sembuh.

__ADS_1


Tak lama kemudian, seorang pria datang ke kamar itu untuk memberitahu kepada Michael bahwa ia dipanggil oleh sang raja. Dengan terpaksa, Michael dan Pierre meninggalkan kamar itu dan menyerahkan tanggung jawab penjagaan Roselia kepada Doris dan juga Stella.


Namun bukannya menjaga Roselia, Stella malah pergi dari sana. "Hey! Kau mau kemana Stella? Bukankah yang mulia putra mahkota sudah memerintahkan kita untuk menjaga Putri mahkota di sini?" tanya Doris ketus.


Gadis ini dia benar-benar menyebalkan, di depan Putra mahkota dia bersikap seolah-olah seperti anak yang baik. Tapi di belakang putra mahkota dia menunjukkan j*langnya.


"Kan ada kau disini, jadi untuk apa aku berada di sini? Aku akan istirahat di kamarku, tubuhku sangat pegal! Dan aku yakin kalau yang mulia Putri mahkota lebih membutuhkanmu daripada aku," tutur Stella sambil membuka ikat rambutnya dan membiarkan rambut peraknya yang indah terurai panjang.


"Jangan bilang kau akan menggoda yang mulia putra mahkota lagi? Stella... kau jangan bermimpi untuk mengambil perhatian dari putra mahkota, karena dari pengamatanku yang di putra mahkota telah jatuh cinta kepada putri mahkota!" ujar Doris sambil tersenyum menyeringai, entah kenapa dia selalu emosi ketika menghadapi Stella.


"Jatuh cinta? Oh begitu ya," Stella hanya ber-oh saja saat menghadapinya. Dia pun pergi meninggalkan ruangan itu dan entah mau ke mana. Doris melihat kepergiannya dengan tatapan yang begitu tajam.


"Yang mulia saya mohon, cepatlah sembuh...saya merindukan yang mulia." lirih Doris sambil menangis melihat nonanya tidak sadarkan diri diatas ranjang dan terbaring tak berdaya.


Ketika Doris akan mengompres lagi kening Roselia, ia melihat air di dalam baskom kecil itu harus sudah diganti. "Astaga... yang mulia, tunggu sebentar ya! Saya akan mengambil air dulu dan juga mengambil sesuatu di dapur istana." Doris berpamitan pada gadis yang masih betah memejamkan matanya itu.


CEKLET!


Setelah yakin Doris pergi dari sana, barulah Asteorope menunjukkan dirinya yang dari tadi bersembunyi di sana. Dengan tidak sabar Asteorope mendekati Roselia yang tidak sadarkan diri.


"Apa yang terjadi padamu nona Jackie Chan? Kenapa kau bisa seperti ini? Ya Tuhan...." lirih pria itu sambil memegang tangan Roselia yang terasa panas.


Jujur, Asteorope juga merasa keheranan sama seperti Michael dan orang-orang terdekatnya karena Roselia bisa jatuh sakit seperti ini. Seperti bukan dirinya saja, dia yang tangguh, kuat dan selalu semangat, kini gadis itu jatuh sakit. Sungguh Asteorope sedih melihatnya


"Hiks...hiks...ibu...ibu..." racau gadis itu didalam ketidaksadarannya.


"Ibu?"


Bukankah ibu dan ayah Roselia sudah meninggal?


"Ibu....hiks...kenapa aku meninggalkan aku? Ibu kau sangat ja...hat..."


Asteorope tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Roselia di dalam ketidaksadarannya itu.Tapi dia paham bahwa gadis itu tengah bersedih memikirkan ibunya. "Jangan sakit nona Jachan-ku! Kumohon....jangan sakit...karena aku juga akan sakit kalau kau seperti ini."


Pria itu mengusap lembut rambut Roselia, dia mengecup keningnya, berdoa agar gadis itu bisa segera sembuh. "Ya Tuhan, tolong bagi rasa sakitnya padaku! Biarlah aku saja yang sakit, jangan dia...."


CEKLET!


Asteorope terkejut manakala pintu kamar itu tiba-tiba terbuka. Dia hendak bersembunyi namun saat melihat orang itu, Asteorope mengurungkan niatnya. Doris segera menutup pintu, dia menatap Asteorope yang kini sudah berdiri didekat Roselia.


Doris menyimpan baskom berisi air bersih dan cemilan diatas piring ke atas meja itu.


"Tuan As, mengapa anda ada disini? Bagaimana bisa anda berada disini? Bagaimana bila yang datang barusan itu adalah putra mahkota...anda pasti sudah--"


"Doris, jika kau berisik... maka semua orang akan datang kembali karena mendengar suaramu itu dan aku akan ketahuan. Bisakah kau diam sebentar?"


"I-iya baiklah, tuan As... saya ingatkan sekali lagi agar tuan tidak berlama-lama di sini karena yang di putra mahkota akan segera kembali."


"Putra mahkota? Apa pria itu benar-benar peduli pada nona Jachan-ku?" tanya Asteorope penasaran.


"Iya tuan, saya rasa yang mulia Putri mahkota sudah mulai mencintai yang mulia putri mahkota. Bahkan se dari tadi yang mulia putra mahkota, meninggalkan semua pekerjaannya untuk merawat yang mulia putri." Jelas Doris sambil tersenyum. "Setidaknya, yang mulia Putra mahkota tidak se-menyeramkan itu."


Asteorope mengepalkan tangannya dengan erat, setelah mendengar ocehan dari Doris tentang putra mahkota yang mungkin jatuh cinta pada Roselia.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2