
Armand cs sudah lebih dulu sampai di tempat lokasi yang menjadi tujuan Black Serigala bernaung dalam beberapa hari ini. Bryan sebenarnya juga ingin ikut bergabung namun sayang, karena sang istri yang belum pulih benar juga di tambah dengan kedua bayi kembar mereka, membuat sahabat Armand itu tidak bisa ikut berburu.
Dari kejauhan ia melihat seorang wanita datang bersama seorang pria yang Armand kenal sebagai asisten dari seorang David Luxio. Semakin jarak mendekat, ia terhenyak saat melihat ternyata itu adalah wanita yang ia kenali juga.
" Bonee kenapa kau ada disini? Dan bagaimana bisa kau bersama dia?" Tunjuk Armand pada Owl, sedangkan wanita tersebut tak langsung menjawab pertanyaan dari Armand, ia justru menatap ke arah Owl terlebih dahulu.
" Maaf, sebenarnya aku adalah Briva, bukannya Bonee kekasihmu itu." Jawab Briva dengan mantap, tanpa ada rasa keraguan sama sekali. Toch buat apa lagi di tutupi, semuanya pasti akan terungkap secepatnya.
" Briva? Maksudnya? Jangan bercanda Bonee, sebaiknya kau pergi! Disini sangat berbahaya." Titah Armand panik tanpa ingin mendengar penjelasan dari Briva terlebih dahulu. Lalu pandangannya menatap ke arah salah satu anggotanya." Oh, ya Bruno kau sudah menghubungi Catie, dimana dia, kenapa lama sekali!" Gerutunya tidak sadar bahwa orang yang tengah ia bicarakan sudah berada tepat di hadapannya saat ini.
" Aku sudah datang, mari kita masuk ke dalam." Ajak Briva yang sudah ancang-ancang akan menaiki pagar tembok di sampingnya.
Namun gerakannya tertahan saat jemari keras itu mencengkram lengannya." Bonee apa yang kau lakukan! Ini sangat berbahaya, di dalam sana bukan Papimu. Kalau kau tidak ingin pulang, ya sudah masuklah ke dalam mobil." Titah Armand yang seolah-olah tak ingin di bantah.
Walau perasaannya masih belum terlalu yakin, ia tidak akan membiarkan wanita itu terluka. Walau yang melukai adalah orang yang sudah membesarkannya selama ini. Tentu saja ia masih punya rasa kepedulian yang tinggi, terlebih kepada wanita yang menjadi kekasih palsunya ini.
" Berisik!" Tanpa mau mendengar ocehan dari Armand terlalu lama, Catie alias Briva langsung membuat gerakan cepat untuk memancat pagar dinding itu dalam sekali hentakan, membuat semua orang yang ada disekitarnya melongo takjub dengan cara unik bin ajaib yang Briva lakukan.
" Berengs3k! Cari mati dia.!" Dengan panik juga menahan rasa amarah Armand segera menyusul Briva dengan gerakan yang hampir sama. Di ikuti dengan Owl dan yang lainnya juga, tinggal tersisa anak buah lainnya untuk berjaga di luar.
David yang baru saja tiba dengan Papanya juga melihat sejak awal mulai dari Briva yang melakukannya pertama kalinya, hingga di susul oleh yang lain. hingga salah satunya bahkan mengaga saking terkejutnya.
" Gil4 itu si Briva bisa manjat dinding setinggi itu dengan sangat cepat, belajar dari mana Pa?" Decak kagum David menatap tidak percaya kepada Adiknya sendiri yang ternyata sangat pintar, bahkan jauh lebih pintar darinya yang tak begitu pandai mengusai ilmu karate, atau taekwondo sekalipun.
__ADS_1
" Tentu saja dia memang putriku yang yang sangat membanggakan khususnya untukku. Di luar negeri tak sulit memelajari berbagai ilmu bela diri, selagi kita sudah niat. Kau sendiri bisa apa? Paling hanya olah raga di ataa ranjang saja yang kau pelajari." Desis sang Papa yang terang-terangan mengejek putranya sendiri.
" Wah, Anda melukaiku Tuan Luxio. Jangan terlalu meremehkanku yang hnaya bisa menebar benih unggulku , suatu saat Anda pasti akan berbangga hati padaku Tuan Luxio.." Sahut David yang tak ingin di pandang sebelah mata oleh orang lain, terlebih oleh Papanya sendiri.
Hans tersenyum sembari menghendikkan bahunya acuh. " Aku akan menunggu waktu itu tiba Daddynya Kenzie." Ujarnya tergelak, saat mengingat bahwa dirinya ternyata sudah mempunyai seorang cucu. Keduanya langsung menghampiri semuanya.
Dengan secepat kilat Armand berhasil meraih tubuh Briva dan menarik tubuhnya ke belakang, namun tanpa bisa di cegah karena tarikan dari Armand begitu kuat, dan juga Briva yang juga tidak siap, sehingga tubuh keduanya terjatuh berguling-guling di atas hamparan rerumputan taman. Beruntung, rumput yang menyelamatkan tubuh keduanya, jika bukan sudah meninggalkan goresan dimana-mana.
Degh!!
Jarak kedua wajah itu sangatlah dekat, hanya beberapa centi saja, netra mereka juga saling mengunci. Bahkan hidung mereka hampir bersentuhan jika Armand yang berada di atas tubuh Briva bergerak sedikit saja. Namun detik berikutnya tubuh Armand sudah di tarik bangun oleh seseorang, membuat Briva tersadar dan segera ikut bangun.
" Kau cari kesempatan dalam kesempitan ya!" Tuding Briva menatap kesal ke arah Armand.
" Enak saja." Elak Armand tak ingin di tuduh. Namun hatinya kini justru terusik dan juga berdebar kencang, entah karena apa, ia sungguh bingung, terlebih dengan mata indah itu, mata yang sangat familiar di dalam ingatannya selama ini.
Briva masih melirik tajam ke arah Armand sembari ia berjalan mendekat ke arah seseorang. " Owl, sungguh itu tadi kecelakaan, dan bukan salahku, tapi dia yang sudah menarik—
Ucapan Briva terhenti begitu saja saat terdengar suara teriakan dari depan sana." Siapa disana?" Teriak seorang pria yang sedang berkumpul dengan anggotanya yang lain yang bertugas berjaga di area luar, terlihat mereka akan berjalan ke arah dimana Armand, Briva dan Owl berada.
Ketiganya langsung berpencar mencari tempat bersembunyi, namun sayangnya ada seseorang yang melihat aksi mereka." Itu mereka, kejarrr..!" Teriak salah satunya mengintrupsi anggotanya, bahkan ada yang mengeluarkan tembakan.
Namun orang-orang tersebut langsung di hadang oleh Bruno, Percy juga anak buah mereka. Baku hantam pun tak terhindar lagi, mereka semua larut dalam perkelahian juga saling memakai senjata masing-masing. Sementara Armand, Briva dan Owl langsung berlari mulai mencari jalan untuk masuk ke dalam bangunan, yang di tafsir sebagai tempat persembunyian Bram selama ini.
__ADS_1
Walau di hati Armand masih terasa mengganjal sebab belum mendengar penjelasan dari Briva, namun berburu dan meringkus pria tua itu jauh lebih penting untuk saat ini, masalah itu bisa di bicarakan lagi nanti jika buruannya sudah berhasil tertangkap.
Ketiganya berhasil masuk melewati jendela yag terbuka sedikit, begitu di dalam mereka langsung di hadang oleh beberapa pria lainnya, yang jumlahnya lumayan banyak.
" Ayo sini maju semua." Tantang Armand yang langsung ancang-ancang untuk melakukan aksinya dengan tiga orang pria sekaligus, begitu pula dengan Owl yang juga langsung berkelahi dengan para pria penjaga tersebut.
Briva tak mau kalah ia langsung berlari menaiki tangga dan sett,, braakk.. Ia langsung menendang maut beberapa pria yang berusaja mengejarnya di bawah sana. Dengan gerakan sangat cepat dan juga indah beberapa pria langsung terjatuh menggelinding ke bawah anak tangga.
" Yes itu baru permulaan saja." Ujar Briva sedikit puas, ia pun lanjut naik ke atas, dan terdengar suara gelak tawa di lantai atas sana, ia pun mempercepat langkahnya.
Briva sempat menoleh ke bawah, ternyata anak buahnya pun sudah bergabung, ada juga yang berudaha menembaknya, tapi Briva terus menghindar.
Mendengar ada suara tembakan di lantai bawah, beberapa orang yang sedang berada di lantai atas segera berhampur keluar. Dan bertemulah dengan Briva.
" Akhirnya kau tertangkap juga Pak Tua." Seru Briva dengan berapi-api.
.
.
.
.tbc
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir baca, jangan lupa kasih like, komen dan hadiahnya yaa..🌷🌷🌷🌷
Maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.