
Sudah hampir satu jam-an Armand meracau tidak jelas di hadapan seseorang yang juga sudah satu jam setia menunggunya. Jika tidak ingat jika mereka adalah sahabat, mana mau seorang Bryan Djandra menghabiskan waktunya terbuang sia-sia hanya untuk melihat orang mabuk dan juga tengah patah hati.
Ya pada akhirnya satu jam yang lalu dengan langkah terhuyung-huyung, Armand terpaksa membukakan pintu depan rumahnya karena tidak tahan dengan suara berisik yang terus saja mengganggu gendang telinganya.
" Sudah galaunya? cemen banget sih jadi pria, perempuan kaya dia itu nggak pantas untuk di tangisi apalagi di perjuangkan Dude.!" ujar Bryan mencoba untuk membuka hati dan pikiran Armand agar bisa sadar.
" Sudahlah mending cari yang lebih baik lagi dari dia, lupain dia. Hilang satu tumbuh seribu, aku yakin kau pantas mendapatkan yang lebih segalanya,,!" seru Bryan kembali saat melihat sahabatnya itu masih enggan untuk berbicara.
Bryan terlihat menghela nafas panjang saat melihat Armand sama sekali tak merespon ucapannya itu ia memilih duduk di kursi rotan yang tak jauh dari tempat Armand berada yang tengah berdiri di pembatas balkon.
" Mau sampai kapan kau akan begini terus Norman! " ujarnya lagi.
" Jangan panggil namaku Norman! nggak level aku sama nama itu!" desis Armand dengan tegas tanpa menoleh ke arah sahabatnya.
Bryan langsung terkekeh, pancingnya ternyata berhasil, ia tahu Armand paling tidak suka di panggil dengan sebutan tadi, menyadari sahabatnya sudah mau menjawab ucapannya Bryan pun turun dan berjalan mendekati sahabatnya.
" Ada baiknya kau keluar dari lembah kegalauanmu ini dan lihatlah di luar sana pasti akan ada seseorang yang lebih pantas kau perjuangkan di bandingkan w*********n itu Bro. Percaya padaku, semua akan indah pada waktunya, dan mungkin saja jodohmu itu sebenarnya masih ada di luaran sana dan kau harus menemukannya sendiri." jelas Bryan panjang lebar.
Armand melirik sekilas sahabatnya yang sudah berdiri di sampingnya, " Lalu kau sendiri? masih terbelenggu dengan masa lalu, seharusnya kau pun harus mencari yang lain, bukan hanya menceramahiku tetapi tidak kau terapkan pada dirimu sendiri!" skak Armand yang langsung membuat Bryan tertohok, tidak menyangka nasib mereka hampir sama.
" Kenapa jadi membahas masa laluku, dia lain dari wanitamu, kau tahu jelas itu! Dan aku tetap percaya padanya, karena aku sangat mengenal wanitaku itu." sanggah Bryan yang sampai detik ini pun masih mengharapkan wanita masa lalunya.
" Kenapa nasib kita jadi begini Dude? kenapa makhluk berjenis wanita itu sukanya menyakiti perasaan pria baik seperti kita. Apa nasib kita akan terus seperti ini? Eh ngomong-ngomong dimana putramu? Aku sedikit merindukannya." Armand yang tidak ingin berlarut-larut itu mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Yang sabar Bro, aku yakin suatu hari nanti kita pasti bisa merasakan kebahagiannya yang sesungguhnya. Kita pasti bisa mendapatkan mungkin saja setara Bidadari. Ken ya, dia bersama Omanya di rumah." sahut Bryan sembari merangkul Armand.
Armand tergelak saat mendengar lontaran yang tak biasa dari seorang Bryan, " Hah sejak kapan kau mulai membual dan berandai-andai. Bidadari konon!" Armand pun mulai tertawa,
Membuat Bryan ikut tersenyum, ia memnag sengaja melontarkan hal seperti itu agar sabahatnya ini bisa tertawa lagi, " Entah sampai kapan kita akan mendapatkan bidadari yang langsung di turunkan dari langit, hahaa.." Armand masih saja tertawa, tepatnya menertawakan nasib cintanya sendiri yang tidak pernah merasa bahagia.
__ADS_1
Bryan hanya mengangguk membenarkan ucapannya Armand, ya sampai kapan mereka menemukan cinta sejatinya, yang satu di tinggal mati istri yang tidak di cintainya sedari awal, dan yang satu di tinggal pergi entah kemana oleh istrinya yang sangat pria itu cintai.( kasihan sekali nasib kalian berdua, sabar ya Author pasti akan mempertemukan kalian dengan cinta sejati kalian nanti, wkwk )
" Oh iya, sekedar memberi tahu mungkin minggu depan aku akan pindah ke Kota kelahiran Papa, perusahaan disana hampir saja kolaps, entah sampai kapan berada disana nantinya." ujar Bryan menjelaskan maksud salah satu kedatangannya.
" Oh iya, jadi Andrew yang akan mengurus perusahaan kalian di Ibukota? lalu bagaimana dengan Ken?" Tanya Armand yang langsung menoleh ke arahnya.
Bryan mengangguk membenarkan, kedua saudara sepupu itu memanglah selalu kompak dalam urusan mengurus perusahaan keluarga mereka, keduanya saling bekerja sama satu sama lain. Tak sia-sia perjuangan keduanya yang membuat perusahaan besar mereka semakin sukses dan berkembang pesat.
" Sepertinya akan aku ajak, pria kecil itu tidak mau juah dariku." Bryan pun juga membalas tatapan sahabatnya.
" Ya, kau sanggat beruntung sudah memiliki malaikat kecil, dia sama sepertimu." Armand yersenyum getir, ia yang memang mengetahui bagaimana pernikahan yang di jalani oleh Bryan pun bisa mengerti.
Bryan sedikit merasa kasihan pada sahabatnya ini, pria ini sudah lama menginginkan kehadiran seorang anak, tetapi wanita yang ia harapkan justru kabur dan temannya menusuknya dari belakang.
" Kalau begitu aku pergi dulu, sudahi acara yang tidak menguntungkan ini Dude, dan hiduplah lebih baik dari sebelumnya, kau layak mendapatkan seribu wanita sekaligus." pamitnya sembari menepuk pundak sahabatnya itu, sebelum melangkah pergi dari kediaman Armand.
Bryan pun menghentikan langkahnya lalu berbalik badan, " Kau ingin tidur kupeluk?" bukannya menjawab Bryan justru menggodanya.
" Jika itu bisa membuatku terlelap, kenapa tidak!" detik berikutnya mereka pun tertawa terbahak, rasa persahabatan inilah yang membuat mereka berdua selalu kompak.
" Fel, kau dengar tidak! Pria tua ini mengajakku tidur seranjang, memang sudah tidak waras sahabatku ini. Ayo Fel kita pergi." ajak Bryan pada asistennya yang memang sedari tadi menunggu keduanya di ruang tengah.
" Tunggu! jika kau tidak mau, bagaimana denganmu Fel, maukah kau menemani pria yang sedang galau ini, setidaknya sampai pria ini terlelap. Lalu kalian bisa pergi setelahnya." Ujar Armand sedikit memohon, entah mengapa malam ini hatinya sangat melow.
Kedua pria dewasa itu pun tergelak, setelah mendengar permintaan konyol dari sang pemilik rumah, bisa-bisanya pria yang sudah tua meminta di temani tidur, seperti bayi besar saja! Tetapi kedua pun akhirnya menyetujui permintaan konyol dari Armand, mereka pun merasa kasihan terhadap pria malang itu.
Jika di ingat Armand lebih banyak menghabiskan waktunya bersama mereka selain bekerja di bandingkan dengan wanita yang kabur itu, sebab wanita itu memang sering keluar rumah dengan berbagai alasan yang membuat seorang Armand pun langsung percaya.
***
__ADS_1
Satu bulan kemudian...
Hari ini Rich mengajak keluarga kecilnya untuk terbang ke negara asia untuk menghadiri acara salah satu dari sahabatnya Lucas yang menggelar acara Launching salah satu produk baru yang baru di rilis oleh Lucas di Kota kalahirannya, setelah menyelesaikan pendidikannya pria itu memilih menetap di kota kelahirannya dan mengembangkan bisnis keluarganya selama ini.
" Sayang kau baik-baik saja 'kan?" tanya Rich sembari menggenggam jemari lentik Zoey yang duduk di sampingnya, sembarang di kursi sebelahnya putra mereka sedang terlelap.
" Ya aku baik-baik saja, jangan khawatir. ini bukan pertama kalinya kita terbang sayang." Zoey mencoba membuat suaminya itu tenang.
" Iya, aku tahu tetapi ini perjalanannya cukup memakan waktu lama, jika aku memilih pergi sendiri, aku tidak bisa jauh terlalu lama darimu sayang." ujarnya jujur, di kehamilan kedua ini Zoey memang merasa sedikit nyaman tidak mengalami morning sickness juga tidak mengalami ngidam, justru suaminya-lah yang mengalami hal itu.
Terlebih suaminya itu lebih manja dari sebelumnya, sungguh Zoey merasa tengah merawat dua orang anak, putra kecilnya dan juga putra besarnya, justru Rich yang lebih manja daripada Mike yang bersikap sedikit lebih dewasa.
.
.
.
.
.
.
.tbc
Terima kasih yang sudah mampir baca, jangan lupa kasih like, komen dan hadiahnya yaa..🌷🌷🌷🌷
Maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1