
Pernyataan Armand, dan juga pergerakannya tentu saja terhenti begitu mendengar suara dari seseorang, seketika pria itu menoleh ke asal suara berasal.
" Tenang saja, dia adalah putriku, pasti aku akan melindunginya. Dan saat ini, dia juga sedang dalam perjalanan kemari." Seru Hans menatap ke Armand dan juga semua orang yang ada di sekitarnya.
" Apa Anda yakin dia mau datang kemari? Sebab setelah meninggalkan rumah dia tidak ingin terlibat dalam masalah Bram lagi." Tukas Armand yang seolah tidak bisa percaya begitu saja dengan apa yang di katakan pria paruh baya itu yang mengaku sebagai Papa kandung dari Bonee dan juga Catie, ralat Briva.
Hans tersenyum simpul mendengar seruan Armand. Ia tentu saja percaya bahwa putrinya yang lain pasti akan datang, sebab ada alasan yang kuat yang mampu membuat gadis itu datang memenuhi panggilannya.
" Duduklah lagiβ
Belum usai Hans bicara seorang maid tiba-tiba datang dari arah depan, membuat atensi semua orang pun teralihkan." Tuan maaf ada seorang wanita yang datang mencari Tuan." Serunya memberitahu majikannya.
" Baiklah aku akan ke depan." Sahut Hans yang segera beranjak dan berjalan ke arah depan di ikuti olwh semua orang yang ada.
Dari kejauhan terlihat seorang gadis yang tidak lain adalah Bonee yang nampak gelisah. Begitu mendengar suara beberapa langkah orang, gadis itu segera menengadah dan melihat beberapa orang yang ia klaim Tuan rumah yang sedang menyambut kedatangannya.
Namun betapa terkejutnya saat ia menatap ke depan, beberapa orang di antara mereka begitu tidak asing baginya." Ar-armand." Gumamnya menatap tidak percaya.
" Selamat datang di kediaman kita putriku." Seru Hans menyambut hangat kedatangan putri kandingnya yang lain.
" Putriku?" Beo Bonee bingung." Maaf Tuan aku tidak mengerti dengan ucapanmu. Namun aku datang kesini karena orang yang membawaku mengatakan bahwa Papiku sudah meninggal, apa itu benar? Lalu dimana Papiku?" Tanya Bonee yang sudah ingun bertemu dengan Papainya.
Walau Bonee sadar ia bukanlah putri kandung dari Bram Wijaya. Namun setidaknya ia ingin melihat pria paruh baya yang sudah membesarkannya selama ini. Terlepas kesalahan yang di lakukan pria itu kepada semua orang.
" Kau akan bertemu dengannya. Apa kau sungguh tidak ingin memeluk Papa kandungmu ini Nak?" Sahut Hans dengan hati begetar, baru kalai ini ia bertatap muka langsung dengan putrinya yang lain.
Sebab selama ini, ia hanya mampu mengawasinya dari jarak jauh. Itupun sangat jarang sekali ia lakukan jika sedang berkunjung ke tanah air, karena selama ini ia lebih sering menghabiskan waktunya di luar negeri bersama dengan sang istri yang putrinya Briva.
__ADS_1
" Papa kandungku?" Bonee semakin bingung, gadis itu menatap ke arah Armand yang seolah meminta bantuan dari pria yang masih berstatus sebagai kekasihnya, walau pada kenyataannya adalah kekasih palsu.
Sadar saat ini Bonee sedang meminta bantuan darinya, Armand pun akan berjalan menghampiri gadis itu, namun pergerakannya kalah cepat oleh Briva, gadis itu sudah lebih dulu melangkah ke depan dan kini sudah berdiri berhadapan dengan Bonee Adik kembarnya.
" Hai, masih ingat denganku? Aku yang waktu itu datang ke pulau itu." Tanya Briva mencoba mengingatkan Bonee. Terlihat Bonee terhenyak menatap wanita yang ada di hadapannya. Bahkan ia merasa kedua bola matanya hampir mencuat.
" Ka-kau?" Bonee jadi tergagap menatap tidak percaya kepada Briva." Wajahmu, bagaimana bisa kita mempunyai wajah yang sama?" Bonee masih tidak percaya dengan kenyataan ini, ia kembali mengingat kejadian di pulau itu, ia yakin wajah wanita yang menyelamatkannya pada saat itu mempunyai wajah yang berbeda dengan saat ini.
" Ayo masuk dulu." Ajak Briva yang langsung menggandeng sebelah tangan Bonee, mengajaknya duduk di ruang tengah, yang langsung di ikuti oleh yang lainnya.
Bonee sendiri yang masih merasa terkejut hanya bisa pasrah di tarik seperti itu, sebab di dalam benaknya masih terus berusaha berpikir kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja ia lupakan.
" Kau tahu kenapa wajah kita sama?" Bonee langsung menggeleng sebab tidak mendapatkan sebuah jawaban yang pasti." Sebab kita adalah saudara kembar Adikku." Lanjut Briva yang mengungkapkan jati diri mereka yang sebenarnya.
Bonee kembali di buat terkejut, ia menatap semua orang yang ada di sekelilingnya. Seolah meminta sebuah jawaban yang lain, sungguh ia masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan dari Briva. Namun tidak ada satu orang pun yang mau menjawab pertanyaan yang tak mampu ia katakan.
" Inilah kenyataannya Adikku. Kita memang saudara kembar yang di lahirkan oleh Ibu kita yaitu Mama Julia, dan Papa kandung kita adalah Papa Hans, dan kau harus terima itu sebagai takdirmu. Dengar aku akan menceritakan semuanya, semua yang belum pernah kau dengar." Ujar Briva yang berusaha meyakinkan Adik kembarannya.
Akhirnya Briva menceritakan yang sebenarnya mulai dari saat Papa mereka menyelamatkan Mama kandungnya dari jeratan iblis berwujud Bram hingga lahirlah mereka berdua, namun salah satunya di pisahkan atas permintaan dari Mama kandung mereka sendiri sebelum ia meninggal. Persis seperti apa yang Hans katakan kepada semua orang tadi.
Wajah Bonee sudah basah oleh air matanya sendiri yang sedari tadi teeus mengalir tanpa henti saat mendengar kata demi kata yang Briva katakan kepadanya. Briva langsung menarik Bonee ke dalam pelukannya, terus mengusapi punggung Adiknya itu. Tentu saja Bonee masih merasa terkejut dan tidak percaya, sebab selama ini tidak ada satu pun orang yang menceritakan yang sebenarnya kepadanya, bahkan Bram sekalipun.
" Jadi kita sungguh saudara kembar? Dan dia sungguh Papa kandungku?" Lirih Bonee menatap ke arah Hans yang ternyata ikut meneteskan air matanya. Tak hanya Hans yang ikut terharu, bahkan yang lain pun ikut merasakannya.
" Ya itu benar Adikku." Sahut Briva dengan wajah yang sudah basah oleh air mata.
" Ya itu benar. Kalian adalah saudara kembar, dan aku adalah Papa kandung kalian." Seru Hans membenarkan ucapan dari Briva. Mereka semua pun ikut terhanyut ke dalam kesedihan yang mendalam yang di alami oleh dua gadis kembar tersebut.
__ADS_1
" Sudahi acara sedih ini, dan sebaiknya kita semua istirahat. Agar besok bisa pergi ke pemakaman." Seru Marta mengitrupsi keadaan yang semakin menyayat hati.
Tidak ada yang membantah semua orang pun bubar, Armand Cs berjalan memasuki kamar yang sudah di siapkan oleh salah satu maid. Begitu pun yang lain berjalan ke kamar mereka masing-masing yang terdapat di Mansion besar ini.
" Briva ajak Adikmu ke kamar." Titah Hans kepada kedua putri kembarnya, yang langsung di balas anggukan dari Briva. Keduanya pun berjalan ke arah list yang akan membaea mereka ke lantai atas, dimana kamar Briva berada.
" Tunggu sebentar aku akan mengambilkan pakaian ganti untukmu." Seru Briva yang berjalan menuju Walk in closet, dan tak lama ia kembali dengan dua pasang pakaian tidur dengan model, warna, bahkan rupa yang sama persis.
" Ayo gantilah, aku sudah sangat lama menunggu moment saat ini, saat kita sudah bersama seperti sekarang." Ujar Briva dengan raut kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya.
" Baiklah aku ke kamar mandi dulu." Sahut Bonee yang masih saja merasa canggung, walau itu kepada saudara kembarnya sendiri. Namun bagi Briva itu wajar sebab Bonee masih belum terbiasa.
" Pelan-pelan saja, pasti kita bisa semakin dekat, Brisa Luxio." Sahut Briva memberikan senyum termanisnya untuk sang Adik.
.
.
.
.tbc
Beberapa Bab lagi akan tamat ya...
Terima kasih yang sudah mampir baca, jangan lupa kasih like, komen dan hadiahnya yaa..π·π·π·π·
Maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1