
Di sebuah Apartement yang mewah, di atas ranjang yang besar dua insan lain jenis saling berpelukan dengan mata masih terpejam, Val membuka kedua matanya lalu pandangannya menatap wajah tampan yang selama ini ia impikan, pria yang ia cintai sekarang ada di depan matanya.
Apa ini mimpi, kenapa begitu nyata? batinnya seolah ingin waktu terhenti detik ini juga. Dan berharap mimpi yang terasa indah ini tidak membuatnya cepat terbangun, tanpa sadar tangannya pun terulur mengusap wajah tampan itu, sambil tersenyum. Hingga tatapannya bersibobrok langsung dengan kedua netra yang mulai terjaga, sedetik, dua detik hingga detik kelima mereka berdua baru tersadar.
"Aaaakkkhh!!" Suara teriakan secara bersamaan menggema di seluruh ruangan kamar yang luas itu.
"Ke-kenapa Kakak bisa tidur di kamarku?" Sengit Val beringsut bangun dan dengan cepat menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya tidak ingin terjadi hal yang tidak di inginkan, walau Val sangat mencintai pria yang berada di sampingnya ini, namun cara seperti ini bukanlah cara yang terbaik untuk membuat hubungan mereka berjalan sesuai keinginannya.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Valerie, Nando justru beranjak dan berjalan cepat masuk ke dalam kamar mandi, setelah di dalam barulah ia merutuki kebodohannya sendiri.
"Ck" Nando berdecak kesal bukan karena pertanyaan dari Val, melainkan kenapa ia bisa berbaring di ranjang yang sama semalaman," Ini benar-benar membuatku gil4!" Gerutunya kesal.
"Shitt!" Umpatannya saat teringat bahwa ia ketiduran di atas ranjang semalam. Ia pun keluar dari kamar mandi tanpa menatap ke arah Val dan segera keluar dari kamarnya.
"Kau sudah terlihat baik-baik saja, ayo aku antar pulang." ucap Nando dingin seperti biasa setelah mereka selesai sarapan semenata Valasih di Wastafel untuk mencuci alat makan yang mereka gunakan tadi.
"Kenapa kakak selalu berbicara dingin kepadaku? apa salahku? apa di matamu aku seperti wanita j****g yang terlihat seperti semalam itu." ucap Valerie memandang Nando sambil kembali terisak.
Ya semalam Nando menjemput Val di sebuah klub malam yang ada di kota tersebut, Val memintanya di jemput disana atas permintaannya yang katanya untuk terakhir kalinya, awalnya Nando heran dan tidak percaya namun ia pun tetap memenuhi permintaan gadis tersebut.
__ADS_1
Namun begitu sampai disana, Nando justru melihat hal yang mengejutkan. Gadis itu di paksa oleh seorang wanita tua yang terlihat sebagai germ* untuk melayani para pria hidung belang disana. Itu membuat Nando naik pitam, walau awalnya ia tidak mengira bahwa Val akan melakukan hal yang sangat menjijikan seperti itu, namun melihat wajah Val yang memelas dan juga tubuhnya yang terus meronta menolak ajakan pria bertubuh besar yang jelas adalah bekerja sebagai Algojo wanita tua itu, membuat Nando pun tersadar jika gadis itu adalah korban. Di tambah jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam sebenarnya ia jauh lebih mencintai dan menyayanginya di bandingkan cinta yang di miliki oleh Val.
Nando mendesah kasar melihat gadis kecilnya itu kembali menangis, "Maaf." hanya itu yang keluar dari mulutnya.
"Apa salah aku mencintai kakak? Apa kau tidak bisa sedikit saja membalas cintaku, aku selalu menunggumu Kak!, kau tahu jika kau meneruskan pernikahan kalian, kau akan membuat pasanganmu itu terbelenggu.!" seru Val semakin terisak.
Nando terlihat mengernyitkan dahi tidak mengerti dengan ucapan Val barusan, "Apa maksud perkataanmu?"
"Aku tahu kau tidak bodoh Kak, kau pasti juga tahu kalau Kak Ariell itu tidak mencintaimu, tapi kau memaksakan hubungan kalian, itu akan membuatnya semakin tersiksa batinnya untuk menerimamu sebagai suaminya kelak." seru Val membuat Nando terhenyak.
" Dan aku bukan ingin merusak hubungan kalian tapi aku justru kasihan melihatmu, yang nantinya tidak bisa mendapatkan balasan cinta dari Kak Ariell, bukankah bodoh jika kau tetap meneruskan pernikahan kalia!?" Lanjut Valerie, dan ucapannya itu membuat Nando seketika bungkam. Sebab apa yang di katakannya adalah kebenaran.
"Ayoo cepat, aku tunggu di depan." Nando tidak menggubris atau menjawab semua pernyataan Val, malah ia langsung meninggalkan Val yang masih saja terdiam. Valerie langsung beranjak sambil menghentakkan kedua kakinya berjalan mengikuti Nando yang sudah lebih dulu keluar dari Apartemen.
Selang beberapa hari Adik Rich yaitu Ariell di kabarkan menghilang saat pulang dari Resto miliknya, insiden itu tidak ada yang mengetahuinya kecuali Bryan sahabat Rich dengan sahabatnya yaitu Armand.
Dua lelaki itu terus memantau gerak-gerik seseorang yang beberapa hari belakang sedang mengintai Resto Ariell. Keduanya menduga itu adalah perbuatan mantan sahabatnya di masa lalu, sebab dendam yang hingga detik ini belum terselesaikan.
" Bryan kami sudah sampai di lokasi kau dimana sekarang?" Tanya Armand pada sahabatnya via telepon, ia sudah menunggu sekitar setengah jam yang lalu, namun tanda-tanda kedatangan ptia yang meminta bantuan darinya itu justru belum menampakkan kuda besinya.
" Sorry, ini sedang menuju ke lokasi yang kau kirimkan! Tunggu beberapa saat lagi. Felix cepatlah aku tidak ingin sesuatu terjadi pada wanitaku." Sahutnya kemudian langsung memutus panggilan secara sepihak. Membuat Armand sang detektifpun menggeram kesal.
__ADS_1
" Aarghh,, si4l! Jika bukan dia sahabatku sudah di lempar dia ke dalam jurang!!" Sarkasnya kesal. membuat pria yang ada di sebalik kemudi pun melirik sekilas ke arah jok belakang." Apa-apa lihat-lihat! Sudah bosan hidup!" Tatapnya nyalang pada seorang bawahannya yang ia ajak berburu mangsa malam ini, pria bawahannya itu pun langsung menunduk takut jika bosnya sedang dalam kondisi buruk seperti sekarang ini.
Bukan tanpa sebab Armand bersikap demikian, dan ini adalah waktu yang tepat, sebab Armand sedang ingin melampiaskan kemarahannya pada seseorang. Beberapa jam yang lalu sebelum sahabatnya Bryan menghubunginya, ia tengah mengintai seaeorang yang tidak lain dan tak bukan adalah mantan istrinya yang sedang merasakan kebahagiaan bersama keluarga kecilnya, ya dia Ruby bersama suami tercintanya Roy yang tidak lain pria yang sangat dekat juga dengannya dulu tengah menikmati kebersamaan mereka di sebuah wahana permainan anak juga tak ketinggalan putri kecil mereka yang mungkin sudah berusia satu tahun lebih itu, keduanya tertawa lepas melihat putrinya itu yang sangat bahagia di ajak jalan-jalan, sungguh terlihat keluarga yang sangat berbahagia, hatinya seakan tercubit sebab ia belum pernah melihat tawa lepas dari wajah cantik Ruby.
Bayangan siang tadi seketika buyar begitu melihat mobil yang ia tunggu sudah sampai, mereka pun bergegas masuk ke dalam bangunan yang tampak terbengkalai. Adu cotos pun tak terhindari dari kedua kubu begitu mereka semua masuk ke dalam bangunan, dan ini sangat membuat Armand bersemangat sebab ia secara tidak langsung juga tengah meluapkan emosi yang ia tahan sedari siang.
" Mati Kau! Sudah sana biar aku urus sisanya bersama anak buahku, kau urus saja wanitamu, jangan kau sia-siakan kesempatan emas ini." Ujar Armand entah sengaja menggodanya atau sedang badmood namun Bryan tidak menanggapinya dengan segera ia membopong tubuh Ariell yang sudah ia bungkus dengan selimut yang sedikit kumal.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..