
Pov Zoey.
Di dalam lift yang sedang membawaku naik ke atas aku masih bisa mendengar suara teriakan Bob, sebab liftnya terbuat dari jeruji besi yang tidak tertutup sempurna dan aku tidak peduli dengan teriakannya. Sebab aku sangat penasaran dengan paket yang ada ditanganku ini tidak sabar ingin segera membukanya.
Begitu sampai kamar aku segera mencari pisau kecil atau gunting untuk membukanya, dengan perlahan aku membukanya dan sudah terlihat isinya plastik yang berwarna hitam, aku segera membuka lebih lebar lagi kardus itu dan sedikit lagi aku bisa melihat isinya.
Namun saat aku akan mengambil plastik hitam tersebut, tiba-tiba pintu kamarku di buka secara paksa dari luar hingga membuatku menoleh untuk melihat siapa orang yang berani melakukannya, sungguh tidak sopan! baru aku akan mengeluarkan kata protesku pria yang sangat aku cintai sudah berdiri di ambang pintu kamarku.
Itu membuatku terkejut juga bingung, ada apa dengannya? sebab ia terlihat sangat marah tetapi dengan siapa? wajah dinginnya bahkan tidak pernah sekalipun ia perlihatkan padaku selama ini jangan lupakan tatapan tajamnya juga yang membuatku sedikit bergedik ngeri, benarkah dia Leo-ku? aku terheran-heran.
" Hai Leo ada_
" Siapa yang mengijinkanmu untuk membuka barang milikku tanpa seijin dariku hah!? Kau jangan terus-terusan nglunjak Becca." hardik Leo sambil merampas barang yang barusan aku buka secara kasar.
Aku sangat terkejut dengan apa yang ia lakukan padaku, bukan karena masalah barang yang aku buka, tetapi cara dia bicaranya padaku itu bukan sikapnya yang selama ini ia tunjukkan padaku, aku akui memang aku salah, tetapi mengapa dia seolah mengira aku sedang berbuat kejahatan saja, hanya karena aku membuka benda miliknya tanpa seijin darinya.
Memang benda apa itu? Hingga membuatnya bersikap demikan padaku?
...----------------...
Pagi harinya aku berusaha untuk bersikap seperti biasa, aku merasa perutku juga sudah tidak mual lagi, dan itu sangat membuatku bersyukur, tetapi aku merasa harus berubah dan mulai detik ini aku akan menjadi pribadi yang pendiam seperti sebelumnya, sebelum aku bertemu dengan Leo.
Setelah kejadian semalam, aku jadi berpikir jika selama aku bertemu dengan Leo dan tinggal bersama dengannya, sikapku memang sedikit berubah, entah bagaimana bisa, aku sendiri juga tidak tahu.
Aku sama sekali tidak mau keluar dari kamarku, pintu kamarku juga aku kunci dari dalam, aku benar-benar mengurung diri di dalam tidak ingin bertemu dengan siapapun termasuk Leo.
Ya aku sangat kecewa dengannya, walau terlihat itu hanya masalah sepele saja, tetapi aku merasa itu masalah besar, apalagi cara dia menatapku dan mencecarku sungguh rasanya sangat sakit sekali.
Entah aku benar-benar emosi saat ini di tambah pengaruh hormon dari kehamilanku membuatku ingin melampiaskannya tetapi pada siapa? Entahlah!
__ADS_1
Bahkan semalaman Leo tidak datang menemuiku walau hanya untuk sekedar meminta maaf, dia pergi begitu saja dengan kemarahan yang meluap-luap. mungkin dia lupa bahwa aku sedang hamil jadi dia tidak peka dengan perubahan hormon dari Ibu hamil atau bahkan ia tidak tahu menahu mengenai hal itu. entahlah aku tidak peduli lagi dengannya! sungguh hatiku sangat sakit sekali dengan sikapnya itu.
Tok..
Tok..
" Sayang buka pintunya?" terdengar Leo berteriak dari balik pintu, aku masih bisa mendengarnya, walau mataku terasa berat untuk terbuka, aku biarkan saja.
Leo terus berusaha mengetuk pintu dan berteriak memanggilku, lalu aku mendengar sayul-sayup ia sedang bicara pada seaeorang, mungkin salah satu maid atau Bob, aku tidak tahu.
Hingga tak lama kemudian pintu kamarku terbuka, pasti Leo meminta kunci cadangan kepada para maid, hingga ia berhasil masuk ke dalam kamarku yang aku kunci.
" Sayang gelap sekali." keluhnya sambil menyalakan lampu ruangan, hingga kamarku berubah menjadi terang, dan ia mungkin bisa melihat tubuhku yang masih bergelung di dalam selimut.
Aku memang sengaja tidak menyalakan lampu kamar, di samping aku malas beranjak aku juga tidak ingin melakukan aktifitas apapun selain tidur, sehingga aku memilih berbaring dan membiarkan kamarku gelap gulita.
Terdengar suara derap langkah kaki yang berjalan mendekat ke ranjang, memang siapa lagi jika bukan Leo, aku masih terpejam, dan sengaja tidak meresponnya, aku hanya ingin tahu apa lagi yang akan ia lakukan setelah ini.
Belum selesai Leo menjelaskannya tiba-tiba aku sudah beranjak bangun karena aku merasakan perutku bergejolak seakan di aduk-aduk hingga aku pun sedikit berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada yang keluar selain air saja.
" Oh sayang maafkan aku, kau mengalami mual kembali saat aku menceritakan tentang samalam_
" Stop Leo, jangan bahas itu lagi, perutku langsung merespon, baiklah aku sudah memaafkanmu. Tapi aku mohon bicaralah yang baik jangan membentakku seperti semalam." aku langsung menyela ucapannya yang akan kembali membahas hal itu.
" Baiklah maafkan aku, sayang. Aku janji tidak akan membentakmu lagi, itu semua karena aku sangat terkejut saat Bob memberitahu kau membawa paketan itu juga efek lelahku di kantor, maaf Baby." ucapnya dengan tulus sambil menariku ke dalam pelukannya.
" Ya baiklah, tapi bolehkah aku sendiri dulu saat ini? aku merasa sangat lelah." ucapku datar.
Terserahlah dia mau marah padaku lagi aku tidak peduli, walau aku mengatakan sudah memaafkannya tetapi tentu saja aku masih sangat kesal dengannya, siapa yang tidak kesal di bentak seperti itu!
__ADS_1
" Baiklah, tapi berikan aku satu ciuman lalu aku akan keluar." pintanya, belum sempat aku menjawab dia sudah lebih dulu membungkam mulutku dengan mulutnya. dasar pria pemaksa, juga mesum!
*W*ait?
Kenapa jika sedang berciuman seperti ini aku justru memikirkan pria narsis itu. ya memang siapa lagi jika bukan Richard. apa aku sudah di sihir olehnya? hingga membuatku sulit untuk melupakan pria yang masih menjadi suami itu? itu tidak akan terjadi! dia akan menikah dan akan bahagia. lalu kenapa aku tidak boleh merasakan kebahagianku juga? ini tidak adil bukan!
Aku sedari tadi melamun, hingga aku tidak sadar bahwa ciuman Leo sudah turun ke leher jenjangku dan mungkin sebentar lagi akan semakin turun, ini tidak boleh terjadi! aku pun mendorongnya dengan sedikit kuat.
Leo menatapku dengan tatapan tidak terima dan setengah mengabut oleh gairahnya sendiri, dia memang beberapa kali melakukan hal yang hampir saja membuatku hilang akal, tetapi aku selalu menghentikannya dan memintanya menunggu hingga aku sudah resmi bercerai dati suamiku dan kami bisa langsung menikah, aku tahu Leo terpaksa menerima keputusanku, tetapi itu yang terbaik bagi kami.
" Tidak Leo, jangan lakukan sekarang?!" pintaku dengan tegas.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.tbc
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir baca, jangan lupa kasih like, komen dan hadiahnya yaa..🌷🌷🌷🌷
Maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.