
Zoey sudah masuk ke sebuah suite room yang berada di lantai atas hotel dimana acara pernikahan mereka di adakan, Zoey mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang tampak begitu luas dengan pemandangan begitu indah di luar sana, yang terlihat dari jendela kaca lebar itu.
Kini pandangannya jatuh ke atas ranjang tidur yang penuh di hiasi indah dengan kelopak bunga mawar merah dan ada sepasang boneka beruang juga bentuk yang menyerupai sepasang angsa yang seolah sedang berkencan di atas ranjang.
Dengan langkah perlahan Zoey menjauhi ranjang tidur, karena menurutnya hari ini bukan hari pernikahan yang ia impikan bersama pria yang ia cintai, hanya statusnya saja yang berubah namun tidak untuk hati dan pikirannya.
" Sial, sekarang aku harus terjebak dengan pria narsis itu yang kini sudah menjadi suamiku. oh astaga kenyataan apa ini, aku bahkan tidak memiliki perasaan apapun padanya, tapi aku bisa menikah dengan pria itu." gerutunya pada diri sendiri.
Zoey yang sudah sangat begitu kelelahan akhirnya berniat merebahkan tubuhnya di sofa panjang dekat dengan jendela lebar itu, walau ia yakin besok pagi tubuhnya akan terasa sakit semua sebab ukuran sofa yang tidak akan muat untuk ukuran tubuhnya yang lebih panjang.
Karena ia bingung ingin merebahkan tubuhnya dimana, sebab ia tidak mungkin merebahkan tubuhnya di ranjang itu dan tidak ingin merusak hiasan yang sudah di susun dengan begitu rupa menjadikannya ranjang itu menjadi indah.
Bukan hanya di atas ranjang, namun di lantainya juga penuh dengan mawar merah itu, hingga Zoey takut jika ia berjalan di atasnya akan merusak kelopak-kelopak itu dengan tidak sengaja, sehingga ia memilih tempat yang aman. yaitu sofa yang tidak ada hiasan apapun disana.
" Heuh, lelah sekali tubuh ini, terasa pegal dan sangat lemas karena terlalu lama berdiri di luar tadi. untung saja tadi dia langsung membawaku naik kalau tidak entah seperti apa remuknya tubuhku ini." keluhnya saat ia sudah merebahkan tubuhnya.
Sebelum mereka naik ke atas tadi, Zoey sudah berpamitan terlebih dahulu kepada para orang tua dan juga para kerabat dekat mereka, beruntung mereka semua memahaminya dan mempersilahkan.
Namun Rich hanya mengantarkannya saja lalu kembali lagi ke bawah, sebab masih banyak kolega Papanya yang juga mengenalnya jika mereka tengah ada pertemuan di luar kantor, selain para sahabatnya yang memang masih berkumpul di bawah sana.
Zoey bahkan belum sempat melepas baju pengantin yang masih menempel di tubuhnya itu, namun kedua netranya sudah terpejam rapat saking lelahnya.
...----------------...
Sementara itu di ruangan ball room hotel yang suasanya sudah mulai sepi tetapi masih ada beberapa tamu yang masih berbincang dengan orangtua sang mempelai.
Terlihat segerombolan pria yang sedang berbincang begitu serius entah sedang membicarakan apa mereka itu, membuat sang pengantin pria menjadi penasaran.
" Kalian sedang membicarakan apa? sepertinya serius sekali." tanya Rich yang langsung duduk di samping Andrew.
__ADS_1
" Rahasia dong, kalau di beritahu itu namanya bukan rahasia lagi. kau tenang saja kami tidak ada yang membicarakanmu." seru Andrew sembari menepuk sebelah bahunya.
" Eh tunggu, kenapa kau turun lagi, bukankah malam ini waktunya kau unboxing istrimu." pungkas Kyle tersenyum menyeringai.
" Masalah itu bisa nanti tengah malam atau besok pagi saja, sekarang aku akan menemani kalian terlebih dahulu, dia sepertinya juga sedang beristirahat saking lelahnya." ucap Rich begitu tenangnya kepada para sahabatnya itu.
" Wah aku jadi curiga, sepertinya sahabat kita ini sudah lebih dulu mencicilnya sebelum mereka memutuskan untuk menikah." celetuk Andrew menatap curiga Rich dengan memicingkan kedua matanya itu.
Membuat tawa semuanya menggelegar, hingga beberapa dari tamu yang masih disana menoleh ke arah para pemuda itu. mereka pun melanjutkan perbincangan mereka hingga hampir tengah malam, sampai mereka para sahabatnya berpamitan untuk segera meninggakan acara tersebut, sebab tidak ingin terlalu lama mengganggu pengantin yang akan melaksanakan malam pertama mereka.
Satu persatu para tamu undangan yang tersisa pun sudah berpamitan, hanya tinggal para kerabat dekat saja yang memang sudah di siapkan beberapa kamar untuk mereka menginap selama dua hari hingga tiga hari lamanya.
" Beruntung sekali Zoey menikah dengan pria itu, kau lihat tadi Bu, pernikahan mereka begitu mewah hingga mengundang beberapa artis papan atas untuk memeriahkan pestanya, sungguh aku sangat iri sekali Bu, kenapa bukan aku yang mendapatkan pria kaya seperti itu." keluh Ellen kepada sang Ibu dengan bersungut-sungut.
" Kau tenang saja, sebentar lagi kau pun akan mendapatkan pria yang jauh lebih kaya dari suami Zoey, percaya pada Ibu." tukas Rossa memberi nasehat kepada putri cantiknya tersebut, sembari mengusap puncak kepalanya sayang.
" Jangan berbicara seperti itu putrimu, dan jangan pula memberi harapan palsu, semua orang sudah di persiapkan pasangan mereka masing-masing, tergantung dengan perbuatan mereka baik buruknya, maka pasangan kalian juga sama dengan bagaimana perbuatan kalian." celetuk Ronald yang baru keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut.
Sama dengan pasangannya? apa itu berarti Ayah bukan jodoh Ibu yang sebenarnya, secara sifat Ibu yang sangat licik dan begitu buruk menurutku, apa suatu saat nanti mereka akan berpisah?
Ucap Ellen dalam hati, sambil memandang wajah Ayah dan Ibunya secara bergantian, bukan ia tidak sayang pada Ibunya, namun terkadang sikap Ibunya itu yang sudah keterlaluan, hingga ia pun terpaksa mengikuti kemauan Ibunya agar ia tetap di beri uang jajan setial hari.
" Ellen dengar Ayah, jika kau menginginkan jodoh yang baik dan sesuai dengan keinginanmu, berbuatlah baik jangan seperti Ibumu, Ayah yakin kau akan mendapatkannya. percaya pada Ayah, doa Ayah selalu untukmu putriku. dan jika kau takut tak mendapatkan uang darinya." tunjuk Ronald kepada istrinya itu yang sedang mendumel tak jelas.
" Carilah pekerjaan di luar seperti Zoey, maka kau akan tahu bagaimana rasanya mencari uang di luar sana, kau pasti akan paham dan sedikit demi sedikit kau bisa bersikap dewasa nantinya." lanjut Ronald memberi nasehat bijak kepada Ellen yang mendengarnya dengan penuh hayat.
Tiba-tiba Ellen menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan sang Ayah yang selama ini selalu menyayanginya, namun karena terhasut oleh ucapan Ibunya, Ellen menjadi gadis yang sedikit nakal dan bar-bar.
" Maafkan aku Ayah, Ellen akan mencoba merubah diri Ellen menjadi lebih baik lagi seperti keinginan Ayah, tapi bantu aku ya Ayah." seru Ellen sambil terisak di pelukan Ronald.
__ADS_1
Membuat Ronald pun meneteskan air matanya ikut terharu, ia tidak menyangka putrinya sudah besar sekarang dan semakin dewasa.
" Ayah akan bantu, Ayah percaya padamu nak." belai Ronald surai Ellen yang berwarna coklat keemasan itu, Ayah dan anak itu saling berpelukan seakan hanya ada mereka berdua saja di kamar itu.
Mereka tidak melihat wajah Rossa yang bertekuksedari tadi, ia berdiri dari duduknya sambil menghentakkan kedua kakinya berjalan ke arah ranjang yang berukuran jauh lebuh besar dari ranjang yang biasa ia gunakan di rumahnya.
" Kalian ini, bisa-bisanya bicara seperti itu di depanku, tidak memikirkan perasaanku bagaimana." hardik Rossa sembari menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.
Membuat Ayah dan anak itu mengurai pelukan mereka begitu mendengar suara menggerutu dari Rossa." Sudah sangat larut, pergilah tidur, Ayah akan tidur disini." ucap Ronald yang memilih tidur di sofa panjang, dan menyuruh putrinya untuk berbaring di samping Ibunya, Ellen mengangguk dan masuk ke dalam kamar mandi terlebih dahulu.
" Selamat malam Ayah." bisik Ellen sambil mengecup sebelah pipi Ayahnya yang sudah terpejam, setelahnya ia berjalan ke arah ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping Ibunya Rossa.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.tbc
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir baca, jangan lupa kasih like, komen dan hadiahnya yaa..🌷🌷🌷🌷
Maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.