
Di pulau kecil di pesisir pantai selatan. Pulau yang di kenal dengan sebutan pulau Setan. Mendengar namanya, mungkin kita berpikir seram dan menakutkan. Namun kenyataannya tidaklah demikian.
Pulau Setan terdapat di Kawasan Objek Wisata Mandeh Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatra Barat.
Justru Obyek wisata disini menjadi salah satu surga wisata di Pesisir Selatan yang memiliki gugusan mirip pulau cantik Raja Ampat, di Papua Barat sana.
Di pulau ini, wisatawan dijamin betah dan jatuh cinta. Bayangan hal-hal mistis dan seram seperti namanya akan terbantahkan, karena pulau ini menyajikan pemandangan yang sangat indah mempesona.
Wisatawan bisa menyaksikan langsung birunya laut dan putihnya pasir disela suara deburan ombak kecil yang bikin hati tenang. Jika perut terasa lapar setelah asyik berenang, tersedia warung-warung yang menjual aneka makanan dan minuman.
Setelah menempuh perjalanan yang begitu melelahkan, Armand CS langsung mendarat di salah satu Resort yang cukup terbuka. Namun juga private, ia tidak ingin sembarangan orang bisa keluar masuk di tempat mereka menginap saat ini. Sebab akan mengganggu melakukan misinya. Jadi Armand menyewa satu Resort yang cukup luas hanya untuk mereka berempat saja. Ya walau terbilang luas, namun ternyata hanya tersedia dua kamar tidur saja.
Itu sih perkara gampang buat mereka yang sering tidur di sembarang tempat, sebab tuntutan pekerjaan mereka yang memang sangat menantang. Tak peduli itu tidur beralaskan kasur empuk, tikar, atau bahkan dedaunan mereka sadar diri dengan pekerjaan yang mereka geluti.
" Huh, lega rasanya bisa merasakan kasur empuk juga." Desis Bruno yang menhatuhkan tubuh kekarnya ke atas ranjang besar. Terang saja ia baru bisa beristirahat, setelah beberapa hari mereka terus lembur siang dan malam, karena banyaknya pekerjaan lainnya selain misi yang sekarang mereka kerjakan saat ini.
" Makanya buruan cari istri, kawin sono, kuburu kering tu benih unggul." Seloroh Percy mengejar sahabatnya yang masih betah sendiri.
" Nikah Dude! Ngeres mulu di otak lu." Timpal Armand yang ternyata ikut menanggapi guraun kedua sahabatnya. Mereka langsung masuk ke salah satu kamar yang akan mereka jadikan tempat istirahat.
" Ya itu maksudku." Sahut Percy menyengir kuda.
__ADS_1
" Kawin mah udah. Tak terhitung jumlahnya malah. Tapi mau nikah sama siapa juga, aku tidak tahu. Entahlah, itu bisa di atur jika sudah ketemu jodohnya. Ya nggak Ar." Balasnya santai.
Bruno memang malas jika harus memakai perasaan terhadap wanita yang ia kencani. Sebab tidak ada yang benar-benar tulus baginya, semua wanita sama saja, dompet mana yang lebih tebal, ialah yang mereka pilih. Contohnya saja mantan istri Armand si Ruby, kurang kaya apalagi si Armand itu, namun melihat pria yang kehidupannya jauh lebih mapan, di tinggallah suaminya itu.
Mereka bertiga larut dalam obrolan yang semakin jauh, hingga melupakan seseorang yang juga ikut serta pergi kesana. Ya mereka melupakan satu-satunya wanita yang ada di dalam anggotanya.
" Hey, ngomong-ngomong kenapa aku tidak melihat si Catie masuk ke sini?" Tanya Bruno celingak-celinguk mencari sosok cantik di antara mereka.
" Mungkin dia langsung istirahat di kamarnya." Sahut Percy santai, tanpa memikirkan hal yang lain. Bruno dan Armand pun hanya mengangguk paham.
" Aku keluar dulu." Pamit Armand hang ingin melihat sekelilingnya.
" Hey kau kemana Dude?" Teriak Percy yang tengah melepas kaosnya.
Berbeda dengan kebanyakan orang, jika pulau ini sangat indah. Namun menurut Armand sendiri pulau ini justru cocok dengan pendatang yang datang hanya untuk berbuat layaknya setan, cocok dengan nama pulau itu sendiri.
Ya Armand yakin, kebanyakan orang yang datang ke pulau ini hanya untuk menikmati kulit mulus, dan belahan mawar merah yang terasa memabukkan jika di resapi putiknya. Pria itu terus melangkah tak tentu arah, hingga sekarang anak buahnya yang sudah berada di tempat ini belum mengormasikan apapun yang mereka intai saat ini, hingga ia mulai tidak sabar lagi untuk berburu mangsa.
Puas berkeliling Armand kembali ke resort yang mereka tempati, sempat melirik sejenak ke arah kamar yang di tempati oleh Catie anggotanya. Namun setelahnya ia pun masuk ke dalam dan melihat kedua temannya sudah tertidur pulas, ia pun juga ikut berbaring, mengistirahatkan tubuhnya sejenak sebelum nanti malam mereka akan berburu. Namun ia memilih berbaring di atas sofa, sebab satu ranjang besar itu sudah di kuasai oleh kedua temannya tersebut, ia juga tidak ingin tidur berdesakan.
***
Sementara itu di tempat lain, di pulau yang sama, namun tempat yang berbeda seorang gadis tengah berada di sebuah kamar dalam keadaan pintu yang terkunci dari luar, dan ada dua pria bertubuh besar yang sedang berjalan mondar-mandir menjaga di luar sana.
__ADS_1
Tak lama pintu pun terkuak dan muncullah seorang pria paruh baya yang sangat ia kenali. "Apa mau Papi, membawa aku kesini! Tidak cukupkah pernyataan bahwa aku bukanlah putri kandungmu selama ini!" Berang Bonee menatap marah ke arah pria yang ia anggap orangtuanya selama ini.
" Tenang sayang. Sebentar lagi kau akan merasakan yang namanya bahagia, tidak perlu berhubungan lagi dengan detektif gadungan itu, semua ini yang terbaik untukmu, ya walau kau bukanlah putri kandungku, tetapi nyatanya aku tetaplah Papimu yang sudah merawatmu sedari kamu masih bayi." Sahut Bram yang sangat yakin jika putrinya kali ini mau di ajak bekerja sama.
Jika bukan karena detektif sialan itu—Armand maksudnya. Bram juga tidak akan membutuhkan bantuan seseorang waktu itu, sehingga kini ia harus membayarnya dengan cara lain, ya seseorang itu menginginkan putrinya Bonee sebagai bayarannya. Akan tetapi itu tidak masalah bagi Bram, sebab Bonee memanglah bukan putri kandungnya, dan ini jauh lebih baik dari yang ua pikirkan demi untuk kepentingannya sendiri, ya anggap saja ini sebagai cara balas budi Bonee yang selama ini sudah merawatnya hingga tumbuh dewasa seperti sekarang.
" Sungguh memalukan! Jika saja aku bisa memilih, aku tidak ingin di besarkan oleh pria b******n seperti Papi yang rega menjual putrinya sendiri demi keuntungannya!!" Desis Bonee yang semakin membenci Papi yang sudah membesarkannya.
" Ya, lakukan saja apa maumu, yang terpenting malam ini kau tidak akan berbuat macam-macam, mengerti! Jadi bersiaplah." Bentak Bram yang tidak ingin menanggapi ocehan putrinya. Setelah mengatakan hal itu, Bram langsung keluar dari kamar, pintu pun kembali di tutup dari luar. Dan saat bersamaan tubuh Bonee luruh ke lantai, dengan perasaan yang hancur dan kembali terisak.
" Apa salah dan dosaku Tuhan, hingga Kau hukum aku seperti ini? Armand selamatkan aku.." Lirih Nomer lelah, berharap ada yang mau menolongnya keluar dari penjara ini.
.
.
.
.tbc
Terima kasih yang sudah mampir baca, jangan lupa kasih like, komen dan hadiahnya yaa..🌷🌷🌷🌷
Maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1