
Terdengar pintu tertutup akhirnya Rich yang mengalah saat ini, bukan karena ia suami yang takut istri. hanya saja ia tidak ingin istrinya itu semakin membecinya.
Rich jadi teringat kejadian semalam yang tak sengaja mencium punggung mulus istrinya itu. ia adalah pria normal yang mana di suguhi pemandangan yang begitu indah membuat matanya langsung menatap lapar.
Saat ingin menempelkan bibirnya ke atas bibir istrinya, kira-kira hanya tinggal beberapa senti saja, tiba-tiba terdengar suara pekikan yang memekak-kan gendang telinganya yang membuat Rich langsung kelimpungan berdiri.
Seolah seperti maling yang ketahuan mencuri, Rich seketika langsung berdiri dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi tak lupa menutup pintu itu rapat-rapat seolah takut ia ketahuan dan langsung di pukuli masa.
Wajahnya bahkan seperti orang bod*h semalam, padahal jika ia meminta lebih pun itu tidak masalah sebab itu adalah haknya sebagai seorang suami, namun bukan itu yang jadi alasannya entahlah Rich sendiri juga tidak tahu.
Semenjak mereka sudah sah menjadi suami istri, Rich merasa Zoey berubah, ia menjadi wanita yang sedikit galak dan juga garang sekarang ini, bagaikan singa betina yang selalu kelaparan.
" Richard idi*t, berengs3k, bajing*n." segala umpatan Zoey lontarkan kepada pria yang sedang bersembunyi di dalam kamar mandi itu, sebenarnya ia sangat kesal namun ingin tertawa saat melihat pria itu berlari dan bersembunyi.
" Keluar, ngapain didalam! apa kenarsisanmu sekarang sudah luntur dan berubah menjadi pria pengecut." teriak Zoey dengan suara amarahnya.
Rich tersenyum geli mengingat dirinya yang semalam bagaikan seorang pecundang, walau mereka pernah tidur bersama di satu ranjang, namun semalam Rich lebih memilih tidur di sofa dari pada tidur di ranjang dengan istrinya yang terlihat sedang marah itu.
Namun alih-alih marah atau kesal pada sikap istrinya, Rich justru menikmati itu, karena Zoey semakin menggemaskan jika sedang marah.
Terdengar napas panjang keluar dari mulut Zoey, ia masih membaringkan tubuhnya di atas sofa rasanya ia enggan untuk beranjak berpindah walaupun hanya ada dirinya sendiri di dalam sana.
" Kau dimana sekarang? apa kau masih hidup? jika iya kenapa kau tidak pernah mencariku sampai detik ini. rasanya kehidupan ini selalu mempermainkanku, sama seperti dirimu." lirih Zoey hingga terdengar suara isak tangis yang begitu pilu.
" Seandainya kau yang menikahiku, aku akan sangat bahagia, aku tak akan lagi melepaskanmu." lanjutnya kemudian.
Tangisan Zoey semakin pilu jika ada orang yang mendengarnya, hingga tak lama Zoey pun beranjak dan masuk ke dalam kamar mandi, untuk mencuci wajahnya.
Tiba-tiba seseorang yang sedari tadi berdiri bersembunyi di balik tembok keluar saat melihat wanita itu sudah pergi.
Ya memang Rich siapa lagi, ia tadi hanya membuka pintu lalu menutupnya kembali tanpa melangkah keluar, sebab ia bingung harus pergi kemana tanpa adanya tujuan, ia tak 'kan meninggalkan wanitanya sendirian.
Dan tentunya ia melihat semua drama yang wanita itu perankan barusan, yang sedang menangis karena tidak menerima pernikahan ini, dan juga mendengar semuanya.
__ADS_1
Ada rasa bangga dan juga bahagia bercampur kesal, ia kesal tidak bisa berkata jujur. bukannya ia ingin menyembunyikan jati dirinya yang sesungguhnya kepada Zoey, namun sepertinya jika ia langsung memberitahu Zoey siapa dia yang sebenarnya, belum tentu wanita itu akan langsung percaya dan menerimanya.
Sebab itulah kenapa ia masih diam, ia akan menunggu wanita itu mengetahuinya sendiri secara perlahan. sebab ia kenal Zoey wanita yang tidak mudah percaya kepada orang lain.
Beruntungnya hari ini adalah hari weekend. sehingga ia dan Zoey tidak harus pergi untuk kuliah, juga tak perlu ia datang ke kantor untuk bekerja.
" Aku ada disini bersamamu, kita akan selalu bersama, dan aku yang menikahimu bukan orang lain, aku akan selalu membuatmu bahagia. aku pun juga selama ini mencarimu di kota itu, hingga ke luar negeri aku cari ternyata kau berada di kota yang sama denganku." Rich tersenyum geli mengingat ia dulu yang setiap akhir pekan selalu menghabiskan waktunya hanya untuk mencari keberadaan wanita kecilnya itu.
Ceklek..
Pintu kamar mandi terbuka dan muncul-lah Zoey yang berdiri di sana, mereka saling menatap datar tanpa ekspresi." Apa kau sudah merasa baikan, jika kau bosan kita pulang sore ini." Zoey tak menggubris ucapan Rich, ia berjalan ke arah ranjang dan meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas.
" Zoey, bicaralah! setidaklah berikan aku jawaban, kau masih mau berada disini atau mau pulang?" tanya Rich kembali berjalan mendekat dan duduk di bibir ranjang.
" Terserah, aku pun disini bosan hanya berdua saja dengamu, kalau boleh aku ingin pulang ke rumah Pamanku saja." sahut Zoey tanpa berpikir panjang.
" Apa? pulang ke rumah Pamanmu? kau itu sudah menjadi istriku, jadi kau harus pulang ke rumahku, bukan ke rumah Pamanmu lagi. nanti kita akan kesana hanya berkunjung saja." seru Rich tak ingin ada bantahan.
...----------------...
Ia tidak ingin istrinya itu nantinya merasa tidak enak pada yang lain, jika di Appartemen 'kan hanya ada mereka berdua saja, itu lebih baik. sebab Rich tahu istrinya itu masih belum menerima pernikahan mereka.
Sebelum menuju Appartemen Rich mengajak Zoey untuk makan malam terlebih dahulu di sebuah Resto yang cukup besar, setelahnya mereka mampir sebentar ke supermarket untuk membeli barang keperluan, sebab Rich yakin di Appartemennya tidak banyak menyetok barang disana.
" Aku mandi dulu." pamit Rich begitu mereka baru saja sampai.
Zoey hanya berdehem sebagai jawaban, ia akan menyusun barang-barang yang mereka beli tadi terlebih dulu, sebelum ia membersihkan diri.
Beberapa saat kemudian Rich masuk ke dalam kamar mereka setelah kembali dari ruang kerja miliknya yang tak jauh dari kamar, di sana memang hanya ada satu kamar saja, setelahnya Rich akan naik ke atas ranjang tempat tidur yang mana Zoey sudah lebih dulu merebahkan tubuhnya disana, membuat wanita itu terkejut dan langsung beringsut duduk saat melihat pria yang telah menjadi suaminya itu ikut naik ke atas ranjang, ia kira suaminya itu akan tidur di kamar lain.
" Kau mau apa?" pekiknya begitu waspada.
" Tentu saja ingin istirahat, memangnya mau apa? tadi malam tubuhku terasa sakit semua tidur di sofa hotel, kau pasti sudah lebih dulu merasakannya bukan?" ucap Rich yang sudah merebahkan tubuh lelahnya.
__ADS_1
" Tenang saja aku tidak akan melakukan apapun tanpa persetujuan darimu." lanjutnya sembari terpejam.
Zoey langsung terdiam, memang benar apa yang Rich katakan tidur di sofa kecil itu membuat tubuhnya pun juga terasa sakit semua, ia jadi kasihan melihat suaminya yang terlihat seperti itu.
" Baiklah, tapi awas sampai kau macam-macam, aku akan memotong senjatamu itu." ancam Zoey yang tidak pernah main-main.
" Hemmm." sahut Rich yang sudah mulai mengantuk.
Zoey hanya tidak ingin kejadian waktu ia tidak sadarkan diri itu terulang kembali, apalagi tidurnya memang seperti orang mati jika seluruh badannya tidak nyaman.
Akhirnya Zoey membiarkan Rich tidur di ranjang yang sama dengannya, sebab ini adalah rumah pria itu. ia pun tidak mungkin pindah dan tidur di luar sana. Zoey bahkan meletakkan beberapa guling dan bantal lainnya untuk di jadikan sebagai pembatas di tengah-tengah keduanya.
" huuh, ini lebih baik, dari pada tidak ada sama sekali." ucapnya kemudian Zoey pun berbaring kembali dan tak lama ia pun terlelap.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.
.tbc
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir baca, jangan lupa kasih like, komen dan hadiahnya yaa..🌷🌷🌷🌷
Maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.