I Remember You

I Remember You
Berakhirnya Bandot Tua.


__ADS_3

Bram yang sedang dalam keadaan setengah mabuk tidak percaya putrinya bisa menemukan persembunyiannya selama ini. Sebab selain tempatnya yang sangat jauh dari keramaian kota, bangunan itu juga cukup tertutup dengan banyaknya pepohonan yang tumbuh di sekeliling pagar bangunan. Walau ada banyak CCTV pengawas, namun itu hanya ada di beberapa tempat saja.


" Akhirnya aku menemukanmu Pak Tua." Desis Briva begitu tajam menatap ke arah Bram. Walau terdengar tidak sopan ucapan dari putri yang telah ia besarkan selama ini, namun bukan itu yang menjadi alasannya.


" Bonee apa yang kau lakukan disini!?" Bentak Bram berusaha tetap sadar saat ini. Walau ia ingin membalas dendam kepada orang-orang yang sudah melukai hatinya, akan tetapi Bonee tidak ada sangkut pautnya dengan dendam kesumatnya ini, maka dari itu ia tidak lagi mengusik putrinya.


" Tentu saja untuk menangkapmu Pak Tua." Jawab Briva dengan lantang. Bahkan ia menahan rasa kesal dan amarah yang sudah memuncak.


Bram tersenyum simpul, ia ingin lihat bagaimana putrinya itu akan menangkapnya. Ia sadar mungkin putrinya saat ini masih sangat kecewa padanya, sehingga terus menerus memanggil dirinya Pak Tua. Belum sempat ia menjawab, terdengar suara langkah dan juga suara seorang pria.


" Bonee, mundur! Sudah aku katakan disini berbahaya, kau dengar tidak!" Sarkas Armand menarik tubuh Briva ke belakang tubuhnya. Briva yang tidak siap, akhirnya ia sudah berpindah tempat.


Walau Briva terus berusaha memberontak, namun Armand sudah mengunci pergerakannya. Sembari menggerutu Briva menghentakkan kedua kakinya kesal.


Sementara itu Bram justru menyeringai menatap sepasang kekasih yang sedang bertengkar kecil, ternyata anak muda yang menjadi kekasih putrinya turut andil." Kalian pergilah kenapa selalu ikut campur urusanku." Ujar Bram nampak ingin kembali masuk ke dalam ruangan, walau ia dalam keadaan setengah sadar, tapi ia sangat tahu di bawah sana para anak buahnya sedang bertarung. Entah mengapa malam ini ia sangat merindukan putri kandungnya Fanya.


" Hei Pak Tua, kau tidak bisa melarikan diri lagi, aku sendiri yang akan meringkusmu, menyerahlah, semua bukti sudah mengarah padamu!" Teriak Armand yang sudah berjalan mengikuti Bram, kedua tangannya sudah hampir menyentuh tubuh tua itu, namun secepat kilat Bram menghindar.


" Kau pasti sangat bodoh jangan sia-sia 'kan hidupmu, jika tidak ingin berakhir di tanganku. Aku melepasmu agar bisa menjaga putriku. Bukankah aku baik hati? Dan satu lagi, kau tidak akan bisa menangkapku." Sahut Bram yang kini sudah akan naik ke atas, namun secepat kilat Armand menggagalkan niatan Bram.


" Brengs3k, kau memang keras kepala!!" Bram segera mengeluarkan senjatanya di sebalik jaket yang ia pakai, namun gerakannya telah di baca oleh Armand, sehingga senjata itu terlempar jauh dan berakhir tepat di depan Briva.

__ADS_1


Bram pun geram ia siap memberikan tendangan maut ke arah Armand, hingga membuat pria detektif itu terdorong ke samping dan menghantam tembok, darah segar keluar dari sudut bibirnya." Aarrghh!!" Ringisnya begitu punggungnya terasa ngilu akibat terbentur begiku kuat.


Kini Bram siap mengeluarkan senjatanya yang lain sembari meringsek masuk ke balik meja yang jaraknya cukup jauh dari Armand, begitu pula dengan Armand, ia bersembunyi di bawah meja. Hingga tembak menembak pun terjadi. sadar ini bahaya Briva berhasil bersembunyi di balik tembok pilar, kedua pria berbeda usia itu juga terus menerus saling melesakkan timah kecil itu, namun keduanya berhasil menghindar.


Hingga ketika isi dari salah satu senjata mereka habis, barulah yang satunya melempar senjatanya ke sembarang arah dan siap bertarung tampa senjata." Menyerahlah Pak Tua. Bruakkk!!" Armand menedang meja di depannya dan membuat gerakan melompat hingga ia bisa berada di hadapam Bram.


Mau tidak mau Bram pun muncul dengan menyeringai, ia sadar malam ini ia sudah kalah. Ia juga mendengar temparnya sudah di kepung oleh anggota berwajib, pasti sebagian amak buahnya sudah tertangkap, namun ia tidak akan menyerah.


" Tangkap aku kalau bisa." Yantang Bram yang mulai memberikan pukulan terlebih dahulu ke arah Armand, namun pria itu berhasil menghindar. Akhirnya baku hantam pun terjadi. Briva yang merasa kedua tangannya terasa gatal ikut keluar dan ikut menghajar Bram secara bersamaan.


Bram menerima serangan dari kedua lawannya, namun ia masih mampu melawannya seorang diri. Hingga tak lama Armand mendorong tubuh Briva menjauh saat gadis itu terkena pukulan dari Papinya sendiri.


" Pergilah, biar dia menjadi urusanku! " Titah Armand mendorong Briva pergi. Namun Briva menolak ia berusaha bertahan.


Namun bukan Armand namanya jika ia tidak bisa membuat rencana lain. Sedikit menyakiti gadis itu, ia berhasil mendorong tubuh Briva hingga menabrak sofa." Dasar keras kepala!" Geram Armand yang siap akan kembali mengahajar Bram.


Dan di saat keduanya sedikit lengah kesempatan itu di pergunakan dengan baik oleh Bram untuk bergerak masuk ke salah pintu yang terhubung ke lantai atas, tepatnya menuju ke Rooftop. Namun sebelum itu ia telah berhasil menekan sesuatu tombol kecil di sudut ruangan.


" Si4l dia melarilan diri!" Desis Armand yang langsung berlari mengejar Bram, di ikuti oleh Briva di belakangnya. Saat sudah sampai di atas, Bram segera memberikan tendangan ke arah Armand, membuat tubuh pria itu mundur beberapa langkah.


Dan gerakan cepat pula Armand bisa menguasai diri dan kembali mengejar Bram. Keduanya kembali saling baku hantam, tidak ada yang menyerah hingga beberapa saat kemudian. Dan secara bersamaan muncullah rombongan Bruno, Percy, David, Owl, Hans dan juga beberapa polisi yang telah datang.

__ADS_1


" Menyerahlah Pak Tua!" Desis Armand di sela baku hantamnya. Begitu terdengar suara tembakan dari salah satu dari mereka. Bram memanfaatkan waktu tersebut, dengan getakan sangat cepat ia berhasil melompat ke arah pagar besi pembatas." Sampai jumpa di neraka semuanya." Ucapnya sebelum tubuhnya melompat, terjun bebas dari sana. Membuat semuanya terhenyak dan mengumpat kesal.


" Si4l!! Eh, tunggu apa yang di maksud oleh Bandot tadi?" Tanya Armand ke arah semua orang. Secara bersamaan ada salah satu anggota kepolisian yang berteriak jika gedung ini akan segera runtuh dalam beberapa menit saja.


Mendengar itu membuat semua orang menjadi kalang kabut, dengan cepat mereka harus segera melarikan diri dan meninggalkan gedung tua tersebut." Gerak cepat semuanya, hanya tinggal beberapa detik saja!!" Seru polisi tersebut yang tadi sempat melihat deretan angka di sudut ruangan bawah.


Semua orang berlari tergopoh-gopoh mencari jalan keluar, dan baru saja mereka tiba di pembatas pagar, suara ledakan yang begitu dahsyat menggelegar terdengar dengan kepulan asap yang pekat dan juga api yang semakin membesar, semua orang menundukkan kepalanya.


Setelah dirasa aman, Armand menoleh ke kanan ke kiri mencari seseorang. Namun pandangannya kini mengarah kepada dua orang yang saling berpelukan mesra di tengah keadaan yang mencengkam. Entah mengapa melihatnya, membuat Armand merasa ada sesuatu yang berdenyut.


" Kau tidak apa-apa sayang? Apa kau terluka?" Tanya seseorang yang terus mengecek kondisi tubuh seorang wanita yang sangat ia cintai.


" Sayang??"


.


.


.


.tbc

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir baca, jangan lupa kasih like, komen dan hadiahnya yaa..🌷🌷🌷🌷.


Maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2