I Remember You

I Remember You
Fitting Baju


__ADS_3

Zoey begitu terkejut mendengar biaya perawatan sang Paman sudah terbayar lunas, karena tidak mungkin sang Bibi yang melunasinya, sebab saat itu ia sempat mendengar ucapan Bibinya pada Ellen, yang mengatakan bahwa mereka dilanda kebingungan sebab mereka hanya mempunyai sedikit uang sisa di tabungan.


Jadi tidak mungkin jika Bibi yang melunasinya, lalu siapa kira-kira yang telah melunasi biaya perawatan Pamannya itu?


Padahal Zoey sudah berniat untuk mencari biayanya, itulah mengapa ia pulang selalu terlambat setiap harinya sebab harus mengajar les private terlebih dahulu sebelum pergi bekerja, untuk sekarang ia bekerja untuk biaya sang Paman.


Masalah biaya kuliah ia akan mencari lagi nanti, yang penting kesembuhan Pamannya, satu-satunya keluarganya yang ia miliki dan juga hanya Pamannya saja yang selama ini sayang kepadanya, walau ia tahu uang yang ia terima tidaklah cukup untuk membayar semua tagihan rumah sakit, namun ia masih ingin mencarinya atau mungkin ia akan meminjam kepada sahabatnya.


" Maaf suster, kalau boleh tahu siapa nama orang yang telah membayar tagihan tersebut? kira-kira seperti apa orangnya? apa dia seorang pria ataukah wanita?" tanya Zoey semakin penasaran.


Apa mungkin???


Batinnya menebak-nebak.


" Maaf untuk masalah itu, kami tidak di beritahu tentang identitasnya, namun dia seorang pria mungkin seumuran dengan anda." balasnya sambil menatap Zoey.


Zoey sedikit terkesiap namun dengan cepat ia mengangguk paham, ia p un berterima kasih pada sang suster sebelum pergi berjalan kembali ke ruangan Pamannya.


" Tidak mungkin dia 'kan? tapi siapa lagi pria yang seumuran denganku." gumamnya sembari membawa selembar kertas yang masih ia genggam itu.


Sesampainya di depan kamar ia sudah tidak melihat tiga orang yang tadi menunggu di luar, ia pun langsung membuka pintu dan begitu masuk ternyata Pamannya masih terjaga.


Beruntung sekali Pamannya hanya mendapatkan jahitan sedikit di kepalanya, namun yang lebih parah adalah kaki sebelah kirinya yang di perban dari ujung kaki hingga ke lutut atas yang sudah menutupi seluruh kakinya.


" Paman, syukurlah kau sudah sadar." Zoey berjalan mendekat ke arah Pamannya yang masih terbaring tidak berdaya.


" Zoey, kau dari mana saja? dan kenapa kau tidak mengatakan bahwa pria itu adalah putra dari tuan Taro?" tanya sang Paman begitu melihat keponakannya itu sudah kembali.


" Paman sudah tahu? maaf aku belum sempat mengatakannya pada Paman, tapi bukan berarti Zoey menutupinya, tidak Paman bukan itu." sesal Zoey sembari menunduk.


Ronald nampak tersenyum memahami, " Iya, tidak apa. justru Paman senang jika kau memang benar akan menikah dengan putranya itu, Paman sangat merestui hubungan kalian." ucap Ronald dengan senyum yang terus mengembang.


Tidak melihat raut wajah keponakannya yang berubah masam, tapi satu hal yang Pamannya tahu bahwa pria itu begitu sangat mencintai keponakan cantiknya itu.


Sebab ia sudah di beritahu segalanya oleh mereka tadi saat Zoey pergi ke ruang Admin, dan meminta Ronald untuk merahasiakan dulu dari Zoey, hingga Zoey menyadarinya sendiri.


Awalnya Ronald amat terkejut, ia tidak menyangka bahwa pria yang datang ke rumahnya waktu itu adalah pria yang sama, pria yang selama ini juga telah Zoey rindukan dan selalu ia cari keberadaannya.

__ADS_1


Namun Zoey sama sekali tidak tahu dimana alamat Richard begitu mereka keluar dari rumah Rehap, mereka sudah tidak pernah bertemu kembali hingga sekarang ini.


Mungkin ini yang di namakan takdir, akhirnya mereka bertemu kembali dan akan bersatu sebentar lagi, membuat Ronald sedikit lega.


Sebab dulu ia sedikit tahu banyak tentang keluarga mereka, terlebih Papa Richard sendiri yang tidak lain adalah Gustav Taro, orang yang berpengaruh di negara sana.


Dan setelah menceritakan cerita singkat itu, tak lama mereka pun berpamitan karena ada sesuatu hal yang terjadi di rumah mereka, membuat ketiganya tidak bisa lama-lama.


...----------------...


Hari-hari pun berganti dengan sangat cepat, sang Paman juga sudah di perbolehkan pulang walau harus duduk di kursi roda untuk sementara.


Masalah biaya Richard sudah memberitahunya saat ia dan seluruh keluarganya berkunjung ke rumah Paman Ronald sekalian membahas pernikahan mereka, yang akan berlangsung akhir pekan.


Terlihat tergesa-gesa memang, namun Richard tidak ingin kehilangan Zoey untuk kedua kalinya. sehingga ia langsung ingin menikahinya dalam waktu dekat.


Sebab memang hanya ada satu nama wanita saja di hidupnya hingga sampai detik ini, dan sekarang impiannya terwujud ia akan berusaha membahagiakan wanita itu hingga maut memisahkan mereka berdua.


Zoey mematung menatap pantulan tubuhnya di dalam kaca, gaun putih yang menjuntai panjang dengan berbagai perhiasan, semakin memperindah penampilannya.


Namun keindahan gaun yang di kenakan itu, tidak membuat ia tersenyum bahagia selayaknya seorang wanita yang sebentar lagi akan manikah.


" Suka Bi, ini sangat bagus, Zoey suka yang ini." jawabnya sembari memaksakan senyum palsunya yang terlihat melengkung.


" Eh, 'kan sudah di bilang panggil Mama, jangan Bibi lagi. Mama juga suka yang ini kamu terlihat jauh lebih cantik." sahut Wilona memberi teguran.


Wilona tak henti-hentinya memuji kecantikan calon menantunya itu, memang kalau di lihat Zoey jauh lebih cantik daripada Lea anak sahabatnya itu.


Wilona memang tidak berbohong hanya untuk menyenangkan hati Zoey, selain cantik Zoey juga terlihat lebih dewasa, sopan dan juga sangat baik, tubuh yang tinggi semapai kulit yang tidak terlalu putih namun terawat terlihat mempesona.


Wilona sangat yakin putranya itu akan semakin jatuh cinta dan terpesona dengan kecantikan yang terpancar dari wajah Zoey, saat ia sudah datang dan melihat nanti.


Berbeda dengan Lea yang memang terlihat bar-bar, atau memang karena usianya yang masih lebih muda dari Zoey, jadi terlihat masih kekanakan


" Richard sepertinya terlambat datang, kita tunggu sebentar lagi." Wilona melirik jam digital yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


Mereka berdua sudah hampir satu jaman menunggu di dalam butik tersebut, namun Richard belum juga muncul batang hidungnya.

__ADS_1


Wilona melirik Zoey diam-diam, ia berharap Zoey tidak tersinggung atas keterlambatan putranya tersebut. untungnya Zoey bersikap tenang dan tidak menunjukkan kekesalannya.


Hanya saja Zoey hanya bisa mengumpat Rich dalam hatinya, tidak mungkin ia tunjukkan kepada calin mertuanya, bahwa ia sebenarnya tidak menginginkan pernikahan ini, namun ia tidak mempunyai pilihan lain selain menurut.


" Maaf aku terlambat dat_ Richard baru saja datang dan langsung membuka pintu ruangan itu namun ucapannya menggantung begitu ia melihat seorang wanita tengah memakai gaun pengantin berwarna putih tulang seolah menghipnotisnya.


Rich tidak menyangka bahwa di balik pakaian yang sering di pakai oleh Zoey, tersembunyi lekukan tubuh yang indah dan juga kulit yang terawat walau tidak begitu putih namun begitu bersih.


Bahkan Rich tidak berkedip sama sekali sedari tadi masih saja terus menatap ke arah wanita cantik itu, membuat Zoey semakin kesal di tatap seperti itu.


Bukannya terlihat malu atau salah tingkah Zoey justru bertambah kesal melihat tatapan mesum dari Richard.


" Ayo kau juga harus fitting baju, Zoey tidak akan kemana-mana." ucapan Wilona mengintrupsi Rich membuat pria itu tersadar kembali.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.tbc

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir baca, jangan lupa kasih like, komen dan hadiahnya yaa..🌷🌷🌷🌷


Maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2