
Setelah berbincang cukup lama dan juga saling melepas rindu, kecuali Armand tentunya sebab pria itu tengah dalam mode serius kali ini, sehingga tidak akan mempan untuk di ajak bercanda saat ini, ia menanggapi hanya sekedarnya saja.
Setelah ia melakukan ancaman kepada Felisia waktu itu, hingga berdampak memusnahkan siapa saja yang menjadi musuhnya yang ia buang ke tengah laut. Kini keyakinannya semakin yakin bahwa pelakunya yang tidak lain dan tak bukan adalah orang terdekat sahabatnya Bryan sendiri.
Apalagi mendengar cerita langsung dari Ibunya Ariell, bahwa pria itu berhubungan dengan masa lalu Ayah Ariell dan juga Mama angkatnya Richard yang jelas terlibat. Sudah sepekan ini ia terus mencari bukti tentang kebusukan seorang Bram Wijaya. Ya, dialah dalang dari semua kejadian yang menimpa keluarga Bryan dan juga Ariell. Semua anggotanya sudah Armand beritahu, yang kini siap membantu.
Bahkan minggu kemarin, Armand terbang langsung ke negara dimana Richard tinggal, tujuannya hanya satu, yaitu bertemu dengan Mamanya Wilona. Dengan sedikit bersabar juga menahan emosinya.
Akhirnya dengan setengah hati, Armand pamit kembali ke negaranya sana, namun sebenarnya ia belum merasa puas hati atas semua jawaban yang Wilona katakan padanya, akan tetapi setidaknya ia tidak membawa tangan kosong. Hatinya sedikit puas, ia yakin lambat laun semuanya akan terungkap secara keseluruhan baik itu di sembunyikan atau sengaja di sembunyikan.
Keempatnya kini mulai membahas perihal masalah serius, terlebih kejadian yang tengah menimpa sahabat Armand, namun di balik itu semua ternyata ada juga yang menaruh dendam kesumat di masa lalu dengan buruannya kali ini, dia adalah Catie, awalnya semuanya tidak akan mengira jika Catie mengenal sosok bandot tua tersebut, dan kini semuanya siap membantu bekerja sama dengan baik setelah mendengar inti dari permasalahannya tersebut, agar bisa menjerat si tua bangka itu, agar tidak melakukan tindakan yang di luar batas kembali.
" Jadi kita akan mulai darimana?" Tanya Catie yang sudah tidak sabar lagi ingin berburu. Bahkan ia ingin terjun langsung ke hutan, bukan seperti dulu yang kerjanya hanya memantau keadaan dari jarak jauh dan mencari jejak dari CCTV satu ke CCTV yang lainnya.
" Wow, kau sudah tidak sabar rupanya. Tapi kau tidak perlu terburu-buru seperti itu kucing liar, sedikit lebih santai setidaknya kita bisa mengumpulkan semua barang bukti yang cukup akurat untuk bisa meringkus badot tua itu. " Geram Bruno yang ikut kesal dengan semua tindakan yang mafia tua tak berperasaan itu, selain menyakiti dan membunuh musuhnya, ternyata dia juga penjahat kelam*n, sungguh biad4p.
" Eh, tunggu dulu Mand! Lalu bagaimana dengan kekasihmu jika tau kau sedang mengulik semua perbuatan Ayahnya?" Tanya Percy yang tau perihal hubungan sahabatnya itu dengan putri dari pria tua yang kini menjadi target utama mereka.
Mendengar itu, Catie nampak tercengang, ia tidak menyangka jika Armand telah menemukan wanita lain setelah perceraiannya dengan mantan istrinya. Tanpa menoleh ke arah pria itu Catie berjalan meraih berkas yang berisi beberapa bukti kejahatan yang bandot itu lakukan selama ini, dan itu masih kurang untuk bisa menjeratnya ke dalam jeruji besi.
" Dia tidak akan pernah tau, jika bukan salah satu dari kita yang memberitahunya. Sudah kita lakukan planing A lebih dulu, setelah kejadian yang membuat kedua sahabatku nyaris kehilangan nyawa mereka, kita harus lebih waspada mulai dari sekarang." Tukas Armand dengan begitu serius.
__ADS_1
Pria itu tidak sengaja menatap sekilas ke arah Catie, satu-satunya wanita yang masuk ke dalam anggotanya. Tanpa di duga tatapan mereka beradu walau beberapa detik, lalu Catie yang lebih dulu berpaling. Dan entah mengapa Armand seolah baru menyadari selama ini, ada sedikit kesamaan antara wanita ini dengan seseorang yang sangat dekat dengannya.
" Baiklah aku pergi dulu, ini aku bawa, akan aku pelajari semuanya." Pamit Catie tanpa ingin menatap ke arah Armand. Namun begitu ia melewati Armand, tangannya langsung di cekal, tentu saja semuanya sedikit terkejut atas tindakan yang di lakukan oleh Armand.
" Tunggu sebentar!" Catie melihat tangannya yang sedang di cekal, mau tidak mau ia pun mendongak menatap wajah serius seorang Armand. " Apa dari dulu warna matamu memang seperti ini?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut seorang Armand. Bukan hanya Catie yang terkejut, namun kedua pria yang sedang berdiri di samping Armand juga ikut memandang kedua mata lentik Catie. Bahkan wanita itu menahan napasnya untuk sejenak, tak menyangka Armand akan mempertanyakan hal itu padanya.
Bruno dan Percy beradu pandang sejenak, sebelum menatap kembali Catie, dan tidak ada yang salah dengan itu, mereka melihat warna mata Catie sama seperti dulu, tidak ada bedanya." Apa yang salah dengan warna matanya Dude? Warna itu tetap sama seperti yang dulu. Bukan begitu Per.?" Ujar Bruno meminta saran dari sahabatnya Percy, lalu menatap heran ke arah Armand.
" Benarkah? Baiklah kalau begitu." Mengengar jawaban itu, seketika membuat Catie merasa bisa bernapas lega dan juga tidak lagi merasa was-was. Dengan langkah pasti ia keluar dari markas dengan langkah pasti, walau tadi sempat sedikit goyah atas kecurigaan Armand, namun sekarang sudah aman.
*
Catie segera masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir tak jauh dari markas. Begitu sudah di dalam, ia menarik napas begitu lega." Lama sekali sih di dalam!" Bentak seorang wanita yang sedari duduk di bangku kemudi.
" Ini semua karena ulahmu, dia jadi curiga padaku, tau nggak!" Bentak Catie tak mau kalah dari wanita itu.
" Apa maksudmu? Kenapa kau jadi menyalahkanku? Ah, sudahlah persetan dengan pria itu, atau jangan-jagan kau sudah mulai jatuh cinta padanya? Lalu bagaimana dengan nasib si pria burung itu? Atau dia buatku saja, tidak masalah!" Goda wanita yang bernama Cece yang langsung bersorak gembira, namun itu tak berlangsung lama, sebab lengannya langsung kena tamparan sedikit kuat dari samping,
" Jangan sembarangan bicara! Dan jangan mencoba untuk menggoda priaku. Aku sama sekali tidak ada rasa dengan Armand, jadi jika kau mau_ambilah.." Sarkas Catie dengan menaikkan sedikit dagunya angkuh, setidaknya ia tidak ingin di anggap lemah oleh siapa pun.
" Untung saja kedua pria itu tadi membelaku, jika tidak habis sudah perjuanganku selama ini. Dan ini semua gara-gara cerobohanmu, yang menghilangkan benda penting milikku, yang mungkin tidak sengaja di sadari oleh Armand. Aku harus lebih waspada lagi pada pria itu, Dan aku juga tidak sabar lagi melihat reaksinya saat kami bertemu langsung nanti, pasti dia tidak akan percaya apa yang dia lihat saat kita saling bertatap muka, bukan?" Catie menoleh ke samping sejenak dengan wajah yang berbinar.
__ADS_1
Ini sudah sangat lama sekali, ia menunggu moment saat seperti ini, yang mungkin saja sebentar lagi akan terwujud. Ia tidak sadar jika asistennya itu terus menatapnya dengan pandangan yang sulit untuk di artikan.
Merasa di lihatin, Catie pun menoleh dengan cepat, dengan cepat pula Cece sang pengemudi mengalihkan pandangan ke depan." Hei kenapa kau melihatku dengan tatapan seperti itu?" Desaknya yang menaruh curiga pada Asistennya sendiri.
" Cepat jelaskan?!" Desaknya kembali, namun Cece tetap bungkam.." Aakkhh, sudahlah ayo jalan.!" Titahnya sambil menggerutu tidak jelas, Catie menatap ke samping jendela mobil menatapi keramaian pinggiran kota. Suasana menjadi hening di dalam mobil yang sedang melaju sedikit kencang itu.
" Woi, slowly woi!" Pekik Catie, yang baru tersadar jika laju mobilnya semakin kencang saat ini. Ia hanya bisa berdoa, agar masih di beri kehidupan.
.
.
.
.
.
.
.tbc
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir baca, jangan lupa kasih like, komen dan hadiahnya yaa..🌷🌷🌷🌷
Maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.