
Setelah selesai mengolesi lengan Mike dengan salep untuk luka bakar, Rich segera merapikan kembali salep dan juga peralatan lainnya ke dalam kotak obat tersebut, lalu kini pandangannya mengarah kepada anak kecil yang sedang duduk di hahapannya ini.
Sejak tadi Rich tidak begitu memperhatikan wajahnya karena terlalu fokus mengobati, tetapi kini ia justru terus menatap tanpa berkedip ke arah Mike yang mempunyai wajah begitu tampan, dan sedikit familiar baginya.
Wait! kenapa wajah anak ini hampir mirip denganku dulu saat kecil? hampir semuanya mirip, mata, rambut, hidung, hanya saja bibirnya yang berbeda, dan mengapa aku merasa bibirnya seperti mirip dengan bibir-****nya****!
Rich berkata dalam hati, " Jadi siapa namamu Buddy?" tanyanya mencoba mengajaknya berkenalan.
" Mike, namaku Michael, kau?" tanyanya balik, dan sedang menatap Rich lekat.
" Panggil saja Rich." jawab Rich sambil tersenyum. namun tidak dengan Mike yang menatapnya datar.
" Okay, Mike. katakan padaku, bagaimana kau bisa disini? tidak mungkin kau tersesat bukan?" Rich masih memperhatikan satu persatu semua yang menempel di wajah Mike, yang membuatnya semakin bingung.
" Aku datang dengan Mom."
Rich menangkap nada kesal saat anak kecil itu menyebut nama Mom, sepertinya ada sedikit malasah dan ini masalah Ibu dan anak, yang ia sendiri juga tidak mungkin paham.
" Jadi kau sedang bertengkar dengan Mommymu Son?" kedua alis tebal Mike terlihat hampir menyatu saat pria asing yang sudah mengobati lukanya itu memanggilnya Son.
Sebab selama ini belum ada yang memanggilnya demikian selain Mommy nya sendiri. " Apa aku terlihat seperti putramu?" celotehnya yang membuat Rich terkekeh.
Entah mengapa Mike sendiri merasa ada sesuatu yang lain saat dekat dengan pria asing yang baru ia temui malam ini dan juga yang telah memgobati luka di lengannya, dan ia juga merasa sudah begitu dekat dengannya walau mereka baru saja bertemu. ia sendiri masih bingung dengan apa yang ia rasakan saat ini.
" Sepertinya begitu."
" Ya anggap saja begitu, jika aku mempunyai putra mungkin hampir seumuran denganmu!" Rich berdiri dan berjalan untuk mengambil minuman dingin di lemari pendingin mini yang ada di ruangan tersebut.
" Apa putramu meninggal?" tanya Mike tiba-tiba, dan Rich kembali melangkah mendekat.
Ia meletakkan dua botol air mineral kemasan berukuran sedang di atas meja, " Bukan meninggal, entah dulu sudah jadi atau belum, tetapi aku berharap dia sudah ada di dunia ini." sahut Rich ambigu dengan wajah sedikit bersedih, membuat Mike menatapnya sedikit bingung tetapi ia bisa menangkapnya dengan baik.
Rich terkekeh ia paham anak kecil itu pasti belum mengerti dengan apa yang ia katakan." Sorry Son kau pasti belum paham, baiklah ceritakan padaku kenapa kau bertengkar dengan Mommymu?" Rich mencoba mengalihkan pembicaraan, agar tidak membuatnya mengingat masa lalunya kembali.
" Kenapa kau tidak langsung meminta istrimu seorang putra? atau kau belum menikah?" celetuk Mike begitu serius, yang membuat kedua alis tebal Rich hampir menyatu mendengarnya.
__ADS_1
Ia tidak menyangka, anak seusia Mike sudah bicara mengenai hal seperti ini, telebih ini meyangkut masalah orang dewasa, " Aku sudah menikah, tetapi istriku tiba-tiba menghilang." lirih Rich yang mulai mengingat kenangan pahit itu kembali.
" Sorry,,". hanya itu yang bisa Mike katakan, ia bisa melihat raut wajah sedih yang Rich tunjukkan padanya, bahkan tangan mungil itu tanpa sadar mengusap punggung tangan Rich, membuat Rich menoleh dengan cepat karena ia tadi menuduk.
" Aku tengah kesal dengan pada Mom, ia tidak menginjikanku untuk makan lamp sandwich, padahal aku igin memakannya." keluh Mike, mulai memperlihatkan sisi kekanakkanya pada Rich.
Rich masih menatapnya tanpa ekpresi." Apa kau baik-baik saja?" tanya anak kecil itu lagi, membuat Rich lagsung terkekeh.
" Ya, It's okay. kenapa kau terlihat lebih dewasa dari umurmu Son?"
Rich menatap serius anak itu hingga ia tidak sadar sudah menarik tubuh kecilnya ke dalam pelukannya, perasaan Rich langsung menghangat seketika. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini, tetapi ia merasa seperti sudah lama mengenal anak ini.
" Ya, kau orang yang kesekian yang mengatakannya.!"
Rich mengurai pelukan itu, lalu meraih ponselnya yang ada di. atas meja untuk menghubungi seseorang, " Halo Al, tolong minta Jim buatkan dua porsi Lamp Sandwich dan dua *orange ju*ice, suruh atarkan ke dalam sekarang jangan terlalu lama."
Tanpa menunggu jawaban dari Al, Rich langsung menutup sambungan telepin tersebut, dan ia kembali melihat Mike yang tampak betah berada disini dengannya.
Tak lama makanan yang Rich minta pun datang, terlihat Mike langsung berbinar wajahnya. " Makanlah, jika kau masih kurang makan ini juga." Rich menghidangkan makanan tersebut plus minumannya di atas meja tepat di hadapan Mike.
Mereka berdua langsung melahap makanan tersebut sambil berbincang hangat layaknya dua orang yang sudah cukup kenal lama, hingga tak lama suara ketukan megintrupsi keduanya.
Ternyata ada seorang karyawan Resto memberitahu Rich jika ada seseorang yang datang ingin bertemu dengannya. Rich tampak bingung sejenak, sebab ia merasa tidak mempuyai janji untuk bertemu degan siapapun. terlebih ia belum banyak mengenal orang di negara ini.
Tiba-tiba saja dari arah belakang karyawanya tadi, ada seorang pria yang mempunyai tubuh hampir sama dengannya. membuat dahinya semakin berkerut.
" Ben." itu seruan dari Mike, yang ternyata mengenal pria tersebut.
" Kau mengenalnya?" Mike langsung mengangguk pelan, dan Rich mulai paham mungkin pria itu sedang mencari anak ini, dengan mengatakan ingin bertemu dengannya.
Ben sendiri terlihat terkejut yang masih berdiri disana, saat melihat anak kecil yang ia cari sedari tadi ternyata ada dalam disana, membuatnya sedikit bingung.
" Kau boleh kembali." Rich menyuruh karyawannya untuk kembali bekerja ke depan.
" Masuklah." titahnya menyuruh Ben untuk berjalan masuk, dan kini Ben duduk di hadapan keduanya, sambil melirik terdapat dua piring bekas makanan di atas meja besarta dua gelas minuman disana, ia sudah bisa menebak.
__ADS_1
" Astaga, ada apa dengan lenganmu Boy?" tanyanya sedikit panik dan langsung memegang tangan kecil itu untuk memeriksanya." Ayo kita pulang, kami mencarimu sedari tadi." keluh Ben, namun ia merasa lega sudah menemukan anak itu.
" Dia menabrak karyawanku tadi, dan lengannya tidak sengaja terkena tumpahan kuah, tetapi sudah aku olesi obat, maafkan kami atas kejadian ini." Rich mengalihkan pandangannya ke arah Mike. " Apa dia Daddy-mu?" tanyanya menatap keduanya bergantian, terlihat kedua wajah mereka sangat jauh berbeda, tidak ada mirip-miripnya sama sekali.
" Tidak apa-apa." sahut Ben mulai mengerti.
" Belum, mungkin sebantar lagi." Itu suara Ben yang menjawabnya. membuat Rich sedikit bingung, sedetik kemudian ia baru paham.
" Ya, berjuanglah, agar kau bisa memenangkan hati Mom." jawab Mike datar, seolah merasa tidak yakin pada pria semacam Ben.
Dan Rich bisa melihat itu, " Baiklah Son, pulanglah, jangan buat hati Mommy-mu sedih dan kecewa. Minta maaflah padanya, seperti yang aku katakan tadi." Mike langsung mengangguk patuh , bahkan mendengar baik-baik ucapan Rich. Membuat Ben menaruh curiga dan juga iri.
Dirinya yang sudah cukup lama mengenal Mike dari saat ia baru lahir hingga sekarang saja, belum pernah melihat Mike yang begitu patuh selain pada Zoey Mommy-nya sendiri. sedangkan sekarang? Ben yakin mereka berdua baru bertemu disini. Mengingat Resto ini pun baru di buka malam ini.
Sedari tadi tatapannya tak lepas dari wajah Rich dan juga Mike.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.tbc
Terima kasih yang sudah mampir baca, jangan lupa kasih like, komen dan hadiahnya yaa..🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.