I Remember You

I Remember You
Terlihat Tidak Waras


__ADS_3

Hari cepat berlalu dan kini sudah berganti bulan bahkan hampir berganti tahun. Hari-hari mereka berdua terasa menyenangkan, di tambah Rich yang selalu bersikap manis selalu memanjakan istrinya, Pria itu bahkan sudah membangun istananya sendiri untuk keluarga kecilnya. Walau awalnya Wilona menolak mereka untuk pindah ke rumah mereka, pasti rumah kembali sepi.


Semua jadi lebih mudah sebab Gustav yang terus menasehati istrinya, toch kediaman Rich dan istrinya tidaklah jauh dari Mansion mereka. Jika sedang rindu dengan sang cucu ya tinggal datang saja, tidak perlu men-drama seperti di film-film yang tidak rela di pisahkan dengan cucunya.


Tak lama setelah berada hati itu, mereka menyempatkan diri kembali ke negara Manaco hanya untuk mengantarkan Zoey untuk resign dari pekerjaannya. Dan masalah Ben, pria itu sangat terkejut mendapati fakta yang sangat mengejutkan bahwa pria yang sempat bertemu di Resto waktu itu bersama dengan Mike, ternyata Ayah biologis dari Mike.


Hancur sudah harapan pria itu untuk memiliki Zoey, wanita yang sudah mencuri hatinya sejak bertemuannya di rumah sakit waktu wanita itu akan melahirkan. Sungguh seakan takdir mempermainkan dirinya.


Walau berusaha menerima kenyataan itu, tetapi itu tidaklah mudah untuknya. Dan sejak hari itu ia lebih menutup diri dari seorang wanita. Jiwa kebebasannya kembali lagi seperti dulu saat sebelum bertemu dengan Zoey.


" Sayang gimana? masih mual?" tanya Zoey yang sedang memijit tengkuk suaminya yang sedang muntah-muntah di wastafel kamar mandi ini sudah ketiga kalinya yang berarti sudah tiga hari berturut-turut Rich mengalami hal seperti itu setiap pagi bangun dari tidurnya.


" Yaa, sudah." Rich membasuh mulut dan juga wajahnya setelahnya ua mengajak sang istri keluar dari bilik kamar mandi menuju ke ranjang.


" Sebaiknya aku panggilkan dokter saja ya, nanti takutnya ada masalah di dalam tubuhmu." seru Zoey setelah membantu Rich kembali berbaring.


" Tidak perlu, mungkin ini hanya masuk angin saja, tidak perlu khawatir, aku naik-baik saja, sini!" tarik Rich tubuh Zoey lalu melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Zoey dengan membenamkan kepalanya di perut sang istri yang sedang duduk itu.


" Begini jauh jauh lebih." gumam Rich sudah merasa nyaman dengan menghirup aroma tubuh sang istri.


Zoey pun memeluk kepala Rich mengusap-ngusap puncak kepala dan rambut hitamnya. Rich terlihat seperti anak kecil jika sudah seperti ini, begitu manja. Beruntung sekarang hari masih gelap, Mike juga belum terbangun dari tidurnya yang terlelap di kamar samping.


Putranya itu ternyata sangat mandiri, ia ingin tidur di kamarnya sendiri, dan itu sangat menguntungkan bagi Rich tidak ada pengganggu di kamar mereka nantinya. Namun sebagai seorang Ayah ia un sangat bangga terhadap sang putra.


" Kenapa kau jadi manja sekali akhir-akhir ini, hemm? Coba waktu itu aku tidak pergi meninggalkanmu pasti semuanya terasa indah untuk kita." lirih Zoey masih dengan mengusap-ngusap rambut pendek itu.


Zoey tergelak mendengar suara nafas teratur dari suaminya yang ternyata sudah terlelap kembali, sungguh semakin hari Rich seperti bukan pria yang dulu suka narsis, dingin dan sedikit sombong. Justru sekarang pria itu begitu romantis dan juga hangat.


Waktu terus berputar bahkan matahari sudah tenggelam dari bumi satu jam yang lalu, kini di meja makan keluarga kecil itu terasa menghangat. Keduanya melirik Mike yang sedang menyantap sarapannya dengan begitu lahap, membuat keduanya tersenyum bahagia.

__ADS_1


" Mike, bagaimana jika kau mempunyai seorang adik?" tanya Zoey tiba-tiba membuat sang suami tersedak oleh minumannya sendiri saat mendengar lontaran dari istrinya.


Sedangkan Mike langsung menoleh ke arah Zoey menghentikan makannya, " Adik? Mike akan punya adik Mom?" tanyanya dengan nada datar.


" Sayang apa itu benar? kau hamil?" serunya terdengar begitu antusias.


Zoey merogoh sesuatu yang ada di kantong sweaternya dan mengeluarkan benda pipih panjang itu ia berikan kepada sang suami, Rich pyn langsung menerimanya dan matanya langsung berbinar bahagia.


" Sungguhan ini sayang? kau benar hamil, oh aku sangat bahagia sekali, tidak sia-sia kerja keras kita setiap malam walau memakan berbulan-bulan lamanya." ujar Rich mengecup bibir Zoey tanpa sadar.


" Aww, sakit sayang." pekiknya saat mendapat hadiah capitan di perut sampingnya itu, siapa lagi pelakunya jika bulan istrinya sendiri. padahal mata Rich masih berbinar menatap tespeck yang masih ia pegang.


Setelah sang suami pergi ke kantor tadi pagi, Zoey merasa sudah terlambat masa periodenya bulan ini. Itu sebabnya ia menyuruh sang supir untuk pergi ke apotik untuk membeli beberapa alat tes kehamilan, siapa tahu memang apa yang ia pikirkan benar. Dan ternyata dugaannya tidak meleset ia sungguh kembali hamil, apalagi Rich sudah lama menunggu hal ini.


" Kalau bicara dan berbuat sesuatu bisa lihat tempat!" keluh Zoey menatap ke arah Mike yang juga menatapnya. Mike menatap keduanya bergantian dengan kebingungannya.


Membuat Rich akhirnya tersadar dari rasa bahagianya, oh sungguh ia melupakan putranya yang ada di antara mereka berdua saat ini. " Oh Mike Mom benar, kau akan mempunyai seorang adik, kau ingin seorang adik boy or girl?" tanyanya yang tidak menanggapi ucapan istrinya itu.


" Bibi 'kan sudah tua, jadi pasti tidak bisa bergerak banyak apalagi menuruti keinginanmu Son." sahut Rich menjelaskan pada sang putra berharap bisa mengerti.


" Jadi begitu ya Dad!" sahutnya sembari mengangguk-anggukan kepala, lalu matanya tak sengaja melihat Bibi Nora yang sedang mencuci piring di dapur. " Kasihan juga Bibi.." lirihnya.


...----------------...


Sementara itu di belahan bumi lain keadaan sang Detektif justru kebalikannya dengan apa yang Rich rasakan saat ini, pria itu tampak kacau, galau sudah beberapa bulan ini bahkan sudah hampir setahun berlangsung.


Bagaimana tidak kacau saat mengetahui kenyataan pahit bahwa sang istri pergi meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah katapun padanya, ia bingung apa kesalahannya yang membuat wanita yang ia cintai itu memilih pergi, bahkan wanita itu sudah menggugatnya di kantor pengadilan agama satu bulan setelah kabar menghilangnya itu.


Dunia Armand seakan runtuh seketika mendapati hal yang sungguh tidak terduga di hari ulang tahunnya sendiri, sungguh ini di luar ekspektasinya yang berharap mempunyai keluarga kecil yang bahagia suatu hari nanti. Tetapi sekarang harapan tinggal harapan..

__ADS_1


Bahkan bulan-bulan kemarin Armand juga jarang masuk kerja, walau sering mendapat teguran dari atasan ia tetap tidak mempunyai rasa takut pada siapapun. Armand sudah seperti layaknya burung yang kehilangan satu sayangnya. Namun sudah dua terakhir ia sudah mulai ikhlas dengan keadaan walau rasanya begitu sulit.


" Kau begitu tega padaku Ruby,, apa sebenarnya salahku?" lirih Armand sembari menyesap minuman beralkohol yang sudah lama tidak ia sentuh. Namun kemarin-kemarin hampir setiap malam ia selalu mabuk dan saat ini ia lakukan jika hatinya kembali mengingat sang istri atau mantan istri.


Sungguh kehilangan seseorang akan membuat orang menjadi tidak waras, nekat, sesuatu yang belum pernah di lakukan bisa saja langsung di laukan orang tersebut walau itu tidak pernah dilakukannya sekalipun dan mungkin saja tidak sejalan dengan keinginannya.


Namun Armand merasa ini sungguh sia-sia. Walau di luar ia terlihat baik-baik saja, tetapi hatinya sebenarnya masih saja rapuh. Entah sampai kapan.


Ting Tong.


Terdengar bunyi bel di pintu depan rumahnya, namun ia enggan untuk membukanya, moodnya sedang buruk malam ini jadi ia memilih ingin menyendiri saja itu lebih baik lalu tertidur hingga pagi.


" Kau berhasil membuatku terlihat tidak waras Ruby,,, aku sudah seperti orang gil4, dasar wanita, murahan, tidak tahu diri, bit**, mati saja kau!!" racaunya yang tanpa sadar sudah mengucapkan hal-hal di luar kendalinya akibat pengaruh minuman yang ia konsumsi tersebut.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.tc

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir baca, jangan lupa kasih like, komen dan hadiahnya yaa..🌷🌷🌷🌷


Maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2