
"Jadi benar Ariell dan Bryan bersama saat kecelakaan itu terjadi?" tanya Rich pada Nando.
"Begitulah yang aku dengar dari asistennya Bryan, aku tidak tahu pastinya karena aku sendiri belum bertemu langsung dengan Armand." Sahut Nnado membuat Rich mengernyit bingung.
"Kenapa harus bertemu dengannya? apa dia yang membantu Bryan?" Tebaknya, walaupun Rich tidak terlalu dekat dengan Armand, tapi ia sedikit mengenal banyak dari sahabatnya Bryan.
Nando pun menceritakan kronologi kejadian saat Ariell di culik malamnya dan sampai kecelakaan terjadi pada Bryan juga Ariell kepada Richard.
"Bre***ek si David, mau apa lagi dia?" Desis Rich geram dengan suara pelan takut Ibunya terganggu. Sebab ia mengenal pria itu yang dulunya bertengkar dengan Bryan hanya karena kesalahpahaman di antara mereka.
"Kau mengenalnya?"
" Kenal dekat sih tidak juga, Bryan yang mengenalkan kami, dan terakhir kali aku bertemu dengannya setelah pernikahan Bryan." jelas Rich masih merasa kesal pada mantan sahabat Bryan.
Nando pun hanya mangut-mangut. " Baiklah aku pulang dulu, kalau ada apa-apa hubungi aku secepatnya." Nando pamit akan kembali ke Apartement, sebab penunggu pasien di batasi hanya dua orang saja, ia tidak mungkin mengusir Rich atau bahkan calon Ibu mertuanya, ia sadar diri bahwa masih berstatus menjadi calon suami dari Ariell. Sebelum pergi tidak lupa ia mengecup sekilas punggung tangan Ariell dan juga puncak kepalanya lalu keluar dari kamar pasien.
Setelahnya Nando keluar dari ruangan Ariell, kini Rich yang bergantian duduk di kursi samping Ariell karena sedari tadi ia duduk di ujung ranjang pasien.
"Heii cantik kembalilah.. cepatlah bangun, apa kau tahu? Abangmu ini sangat bingung, karena dua sahabat abang sama-sama mencintaimu." lirih Rich sambil menggenggam tangan Adiknya yang terlihat begitu putih dan pucat.
" Nando terlihat sangat menyayangimu, tapi yang aku tahu Bryan jauh lebih mencintaimu, dia bahkan rela mati untuk melindungimu dari apapun. Dia sama sekali tidak memperdulikan dirinya sendiri dari dulu sampai sekarang." Imbuhnya yang tanpa terasa ada bulir bening hampir menetes di pelupuk netranya dan segera ia usap kasar.
Ricch adalah tempat curhat terbaik bagi Bryan, saat mereka sama-sama menyelesaikan kuliahnya dulu di LN. Bahkan di saat hubungan mereka berdua ter-gantung tanpa kejelasan, Richard-lah yang selalu menghiburnya, menyemangati Bryan dikala terpuruknya.
Dia jugalah yang memergoki aksi Laurent bersama temannya dulu saat wanita itu begitu ter-obsesi pada Bryan hingga menjebaknya dengan cara yang begitu murahan dan menjijikkan.
Hingga kabar pernikahan Bryan membuatnya terkejut, bukan karena ikut merasakan bahagia melainkan sedikit merasa kasihan, sebab pernikahan sahabatnya itu di dasari oleh keterpaksaan, sebagai sahabat ia sangat memahami itu.
" Kalau kau masih sangat mencintai Bryan dan ingin kembali padanya, Abang akan mendukungmu, tapi kau harus bangun terlebih dahulu, dan perjuangkanlah cinta kalian, walaupun nanti akan ada seseorang yang akan tersakiti." Pinta Rich bersungguh-sungguh sambil menggenggam erat jemari lentik Adiknya seolah memberikan kekuatan pada Ariell.
...----------------...
__ADS_1
Di tempat lain, saat ini Armand mengajak Felix ke suatu tempat, yang pasti tempat untuk berburu mangsa. Tepatnya ia sudah mendapatkan titik lokasi dimana seseorang yang sedang ia incar ada disana. Keduanya terus mengobrol agar suasana di dalam mobil tidak terlalu tegang.
Kurang lebih hampir empat puluh menitan perjalanan yang harus mereka tempuh, kini akhirnya mereka berdua sudah berada di sebuah hotel yang tidak terlalu jauh dengan pantai.
" Waahh, ternyata dia memang hoby berperang dengan para bule yang terlihat di dalam photo-photonya, begitu banyaknya ia keluar masuk ke dalam hotel yang dekat dengan pantai." seru Armand saat mereka baru saja turun dari mobil.
Felix nampak bergeming tanpa ingin merespon ataupun menjawab perkataan yang terlontar dari sang Rocky's ini. Mereka berdua langsung masuk ke dalam hotel, berjalan menuju Resepsionis sambil membawa sebuah ransel berpura-pura menjadi tamu untuk menyewa sebuah kamar yang berada di lantai lima tempat dimana buruannya kini juga menyewa kamar di lantai itu.
"Thank's cantik." Ujar Armand menggoda sang Resepsionis wanita itu sambil menerima kunci kamar yang sudah mereka pesan. Membuat Felix langsung memutar bola matanya jengah sambil mengikuti langkah sang detektif itu menuju ke dalam lift.
Keduanya berjalan menuju kamar yang akan mereka tempati, entah untuk berapa jam disana, sebab setelah urusannya selesai dengan sang buruannya, yang pasti mereka akan segera meninggalkan tempat tersebut.
Hingga tak lama waktu yang mereka tunggu pun tiba, mangsa mereka mulai berjalan masuk ke dalam kamar yang tepat berada di depan kamar yang di sewa oleh Felix dan Armand sekarang ini, sungguh menunggu itu adalah hal yang sangat membosankan.
" Baby! Aahh,, Hurry up I can't take it anymore." Racau pria bule yang mendorong sang wanitanya masuk ke dalam kamar yang ia sewa dengan kasar. Bukannya marah, wanita itu justru ikut bergair4h dengan apa yang di lakulan oleh prianya.
" Gil4, mereka bahkan tidak tahu tempat untuk mengumbar kemesuman mereka" Gerutu Armand dengan kesal. Tidak ingin menunggu waktu lama lagi mereka berdua langsung mendobrak pintu kamar di depannya itu dengan sekali tendang.
Tendangan maut dari keduanya membuat pintu kamar itu langsung terbuka lebar, dan membuat mereka berdua yang tengah berbaring di ranjang saling menindih terkejut sampai sang wanita mendorong keras tubuh sang pria sampai tersungkur di lantai sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
Untung saja mereka belum bermain kuda-kudaan, pasti langsung bengkok itu senjata sang prianya, karena saking terkejutnya di grebek saat lagi enak-enaknya.
"Apa-apaan kalian?!!" Seru wanita yang menjadi target mereka berdua yang kini tengah menarik selimut untuk membungkus tubuh yang mungkin sudah telanj4ng bulat di sebalik selimut tersebut.
" Aku sedang ada perlu dengan wanita ini Mr. Sebaiknya kau meninggalkan tempat ini sekarang juga." Armand menatap tajam pada sang wanita tersebut.
Setelah kepergian pria bule dari kamar kini tinggal sang wanita yang terlihat menatap Armand waspada," Apa yang kau tunggu, apa kau berniat ingin menggoda kami, cepat kau pakai kembali pakaian sialanmu itu." Desis Armand dengan masih menatap tajam sampai membuat sang wanita itu gelagapan dan menatap Armand kesal.
Felix melirik ke arah Armand sedikit takjub, ternyata pikhirannya tadi salah yang mengira bahwa Armand sama seperti dua sahabat bos itu. Saat ini terlihat lebih mengagumkan kalau sedang berburu seperti ini, apalagi raut wajah garangnya itu, yang seperti seorang devil.
Tak lama sang wanita itu pun keluar dengan pakaian yang kurang bahan, bahkan menampakan semua lekukan tubuh sexynya bak biola spanyol itu.
__ADS_1
" Apa kau yang bernama nona Felicia?" Felicia terlihat bergeming tidak ingin menjawab." Kau pasti mengenal baik tuan Bryan bukan?" Dan itu membuat Felicia terkesiap langsung menatap keduanya bergantian.
Felicia baru menyadari kalau salah satu dari mereka adalah asistennya Bryan, "Mau apa kalian mencariku?" Tanyanya berang, sedikit mengerti dengan apa yang terjadi sekarang ini.
" Waahh, kau benar-benar pandai berakting nona, apa kau juga tidak mengetahui tentang kecelakaan yang baru ini menimpa tuan Bryan?" Tanya Armand yang kini mendudukkan bo**ngnya di sofa depan ranjang.
" Aku sudah lama tidak berhubungan dengannya, kalau anda ingin mempertanyakan tentang siapa yang mencelakai Bryan, anda salah orang." sahutnya malah menatap tajam pada Felix.
"Aku bahkan belum bertanya tentang siapa yang menyelakai tuan Bryan?" Skakmat Felisa merasa tersudut sekarang dengan apa yang di lontarkan Armand barusan.
" Maksudku aku tidak tahu apa-apa, kau bisa bertanya pada asistenku kemana aku pada waktu kejadian Bryan mengalami kecelakaan itu." Felisa mencoba tenang sambil mencari alibi yang baik menurutnya, tidak ingin mereka curiga.
" Cih, kau tidak bisa mengelak lagi nona Felicia, karena kami sudah mempunyai banyak bukti," Armand mengkode Felix untuk memberikan sebuah amplop dan langsung menyebar beberapa photo di atas meja, membuat Felicia langsung diam membeku di tempatnya sambil menatap nanar photo-photo dirinya yang bergelut manja pada beberapa bule, dan juga bersama beberapa orang suruhannya.
"Cepat kalian bawa dia." Titah Armand mengkode pada anak buahnya yang entah sejak kspan sudah berdiri di luar kamar dan segera membawa paksa Felicia keluar dari kamar hotel ini.
.
.
.
.
.
.tbc
Thank's yaa uda baca, maaf kalau masih banyak typo.
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..