I Remember You

I Remember You
I Really Remember You..


__ADS_3

" Brisa Luxio?" Beo Bonee yang tidak paham kenapa Briva mengatakan nama seseorang padanya.


" Ya, namamu yamg sesungguhnya itu adalah Brisa Luxio, sedangkan aku Briva Luxio, keren nggak? Itu Mama kandung kita yang memberi nama sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Namun sayang kata Papa namamu di ubah oleh pria bandot itu, yang katanya lebih suka namamu yang sekarang." Sesal Briva menjelaskan yang sesungguhnya kepada Adiknya.


Sedangkan Bonee masih saja terkejut, ia tak menyangka akan bertemu dengan Papa kandungnya, bahkan tadi ia belum sempat memeluk tubuh pria paruh baya itu. Dan kini ia kian bertambah bahagia saat mengetahui bahwa ia mempunyai saudara kandung, bahkan sauadar kembar yang sungguh tidak ia duga-duga sebelumnya.


" Nama yang indah, aku suka nama itu. aku jadi kangen dengan Mama." Lirih Bonee yang mulai sedih saat teringat akan perjuangan sang Mama. Ia pun sudah lama tidak ke pemakaman wanita yang telah berjuang melahirkannya ke dunia ini, bahkan mempertaruhkan nyawanya sendiri.


" Nanti kapan-kapan kita akan menjenguknya bersama, dan sekarang ayo cepat ganti pakaianmu, lalu istirahat, besok adalah hari yang sangat sibuk untukmu atau bahkan untukku juga." Ajak Briva mengingatkan bahwa besok mereka akan melalui hari yag mungkin sangat melelahkan bagi mereka semua.


Tak ingin banyak bertanya Bonee mengangguk patuh, dan segera bangkit menuju ke kamar mandi untuk berganti pakaian, namun langkahnya terhenti saat Briva Kakak kembarannya memanggilnya.


" Mau mau kemana?" Tanya Briva mengernyitkan dahinya.


" Mau apa lagi, ya ganti bajulah." Sahut Bonee yang menatap Kakaknya keheranan.


" Kenapa? Maksudku, kenapa harus ke kamar mandi, kau bisa ganti pakaian disini bukan?!" Ujar Briva yang tidak paham dengan keinginan sang Adik." Tunggu! Kamu merasa malu ya denganku? Kita bahkan sesama wanita." Tebaknya yang kini baru paham, kenapa Adiknya bersikap demikian denganya, ia tersenyum geli menatap Bonee.


Bonee langsung menggeleng dengan cepat. Karena memang bukan itu yang menjadi alasan ia pergi ke kamar mandi." Bukan Kak, aku mau bersih-bersih sekalian, sebab tadi aku di jemput saat baru pulang dari bekerja, nggak enak kalau langsung tidur tapi badan terasa lengket." Cicit Bonee tersenyum meringis.


" Oh, ya sudah sana. Aku tunggu di ranjang ya, jangan lama-lama ini sudah larut." Tegas Briva yang mulai menanggalkan pakaiannya sendiri dan menggantinya dengan pakaian tidur yang sama persis dengan yang akan di pakai oleh Bonee nanti. Tadi sepulang dari acara berburunya, ia sempatkan untuk membasuh tubuhnya secepat kilat sebelum menjawab pertanyaan dari semua orang.

__ADS_1


Hingga tak lama Bonee pun keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah terasa lebih segar dan juga pakaian tidur yang melekat di tubuh indahnya yang begitu pas.


" Wah, aku sudah sangat lama menantikan hari ini tiba, bisa memakai pakaian yang sama denganmu, tidur bersama denganmu, dan berbagi hal denganmu saja, tidak ingin yang lain." Celetuk Briva secara tiba-tiba, membuat Bonee seketika menoleh ke arah wanita yang sudah merebahkan dirinya di atas ranjang empuk berukuran besar itu.


" Eumm,, apa kita akan berbagi ranjang?" Cicit Bonee, menatap bingung dan juga belum terbiasa dengan keadaannya yang sekarang.


Terlebih sedari dulu ia selalu tidur di kamarnya sendiri, bahkan saat mendiang Kakaknya Fanya masih ada pun, mereka belum pernah tidur sekamar, atau seranjang sekalipun. Walau keduanya dulu memang terlihat sangat saling menyayangi satu sama lain.


" Tentu saja! Sini-sini, kita harus berbagi ranjang, jika perlu setiap hari. Dan kita bisa saling berbagi bercerita, dan juga saling melakukan kegiatan banyak hal yang menyenangkan juga. Bagaimana, pasti akan seru." Seru Briva yang terus saja berceloteh kesana-kemari, rasanya ia tidak ada rasa capeknya jika berbicara dengan Bonee Adik kembarnya.


Bonee secara perlahan merangkak naik ke atas ranjang, lalu merebahkan tubuhnya di samping sisi kosong Briva." Oh iya, kau belum menceritakan mengenai hubunganmu dengan kekasihmu Armand, bagaimana?" Tanya Briva yang yang mulai mengakrabkan diri pada Adik kembarnya.


 


Ya pria itu adalah Armand, yang tengah menjadi topik pembicaraan di antara kedua saudara kembar itu. Banyak sekali sebenarnya yang ingin ia tanyakan kepada Catie—maksudnya adalah Briva.


Kenapa ia merasa tidak asing dengan warna kedua manik indah milik Briva, rasanya dulu sempat terkejut saat melihat Bonee pertama kalinya di Restoram itu. namun setelah di amati ternyata berbeda walau wajah memilki sedikit kesamaan.


" Sebenarnya siapa yang aku temui pada saat itu? Dan siapa yang menolongku dulu? Argghh, membuatku hampir gil4 memikirkannya!" Geram Armand yang kesal ia bergegas ke luar kamar dan duduk di kursi ayunan yang berada di teras samping rumah, seketika hari pun ternyata sudah hampir pagi. Armand mengepullan asap tembakaunya disana, berharap dapat mengurangi rasa gundah gulananya.


Hingga beberapa saat kemudian ada seorang gadis yang keluar dari dalam lift menuju ke kamar yang biasa di tempati oleh seorang pria yang amat ia cintai, namun langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Armand, mau tidak mau membuat niatnya ter-urung, sebab tangannya berhasil di cekal oleh pria Detektif itu.

__ADS_1


" Mau apa Anda Mr. Dalvis?" Desis Briva pelan namun penuh penekanan, ia sebenarnya sedang tidak ingin berurusan atau berbicara langsung dengan pria itu. Namun tidak bagi Armand, pria yang dulunya adalah anggotanya itu seperti berniat ingin berbicara empat mata dengannya.


" Sebenarnya kau siapa? Kenapa aku tidak asing dengan warna bola matamu ini? Apa kau gadis itu?" Tanya Armnad yang to the point, rasanya ia sungguh penasaran siapa Briva ini, sejak gadis ini bergabung dengan anggotanya dulu, tak hanya identitasnya yang misterius akan tetapi sosoknya ternyata banyak menyimpan rahasia.


" Aku Briva, bukankah Anda sudah mengetahui identitas asliku. Sebaiknya Anda lepaskan aku, sebelum Anda menyesal!" Gertak Briva, yang sama sekali tidak perpengaruh bagi Armand.


Briva terus meronta, hingga cekalan itu berhasil terlepas, ia berbalik siap melangkah pergi." Tolong jelaskan padaku, aku janji setelah ini, aku tidak akan mengganggumu. IVA!" Seru Armand yang mempu membuat gerakan Briva kembali terhenti.


" KAU IVA 'KAN? KAU GADIS ITU BENARKAN? KAU TIDAK INGAT SAMA SEKALI DENGANKU?" Desak Armand mantap, yang ingin semuanya terungkap saat ini juga.


Kedua manik Briva terlihat berkaca-kaca, namun ia harus segera jujur jika tidak pria ini akan terus meminta penjelasan padanya. Yang kemungkinan akan menimbulkan banyak kesalah pahaman di antara mereka berempat.


" Yes, I'm Iva and I really remember you." Desis Briva pada akhirnya.


.


.


.


.tbc

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir baca, jangan lupa kasih like, komen dan hadiahnya yaa..🌷🌷🌷🌷


Maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2