
Mereka bertiga akhirnya berjalan menaiki anak tangga, lalu berbelok ke arah pintu samping dimana disana terdapat meja-meja yang masih banyak yang kosong, dengan view yang tentu saja begitu indah. dari atas bisa menatap keindahan kota. kerlap-kerlip lampu dari gedung-gedung dan mobil-mobil di jalan membuat kota ini terlihat lebih cantik, di tambah hiasan-hiasan lampu dan pernak-pernik berkilauan yang cukup indah di pandang mata di atas langit-langit Resto ini, semakin membuat para pengunjung merasa nyaman dan senang.
" Mommy, aku ingin makan lamb sandwich." seru Mike menujuk salah satu gambar di buku menu. yang terlihat begitu menggiurkan, hingga mulut Mike sudah di penuhi oleh air liurnya sendiri saking membayangkan rasa enaknya makanan tersebut.
" No Mike, untukmu Fish and Chips saja, mau pilih yang mana? Poppies, Golden Union, Kerbisher & Matt, Toff’s, Bonnie Gull, Sutton & Sons, atau Fish House?" sela Zoey, tidak ingin putranya memakan makanan tersebut, sebab memang belum waktunya di usianya yang masih kecil ini.
Mike terlihat mengkerucutkan bibirnya ke arah sang Mommy, tetapi Zoey tidak menanggapi hal itu, yang justru membuat Mike semakin kesal padanya. Ben menatap wajah keduanya, seolah pria itu tahu ia sedang berada di tengah-tengah dua orang yang sedang marah, marah saja begitu menggemaskan. Apalagi jika sedang tengah berbahagia.
" Zoey biarkan saja, Mike 'kan sudah besar, sudah bersekolah itu artinya ia sudah mulai beranjak remaja." ujar Ben sengaja membela Mike.
Bukankah untuk bisa mendapatkan hati Mommy nya, ia harus mendapatkan hati putranya terlebih dahulu? Ben nampak begitu sangat pintar untuk merayu seorang anak, memanfaatkan keadaan. otaknya begitu encer, pantas saja ia menjadi seorang kepsek di tempat sekolah yang memang milik keluarga pria tersebut.
Jika saja Mike itu adalah seorang anak perempuan, mungkin dengan cepat Ben bisa mendapatkan hatinya, namun Zoey bersyukur telah melahirkan seorang putra yang begitu tampan dan Zoey sangat tahu jelas dengan apa yang ada di dalam pikiran pria itu.
" Ben jangan membelanya, kau tidak_
Belum selesai Zoey berucap, Mike sudah lebih dulu beranjak dari kursinya dan berlari ke arah ujung sana sepertinya masih bagian dari Restoran ini.
" Mike, tunggu dulu sayang! dengarkan Mom." teriak Zoey berusaha mengejar putranya yang entah akan berlari kemana, terlihat anak itu semakin berlari masuk ke dalam Resto. Zoey tidak mungkin akan mengikutinya masuk, sebab pasti pengunjung di larang masuk selain staf dan karyawan Resto.
Di dalam sana tepatnya di dapur Resto, Mike terus berlari semakin masuk hingga anak kecil itu menabrak seorang karyawan yang sedang membawa nampan berisi makanan yang akan di sajikan kepada salah satu pengunjung di luar sana.
Bruugg..!!
" Arrggh.." jerit Mike begitu melihat tangannya sudah tersiram air kuah yang cukup panas apalagi bagi anak kecil seusianya sudah pasti langsung menangis karena merasakan kesakitan.
" Astaga anak siapa ini? bagaimana kamu bisa masuk ke dalam sini!!?" pekik karyawan pria yang membawa nampan, yang ternyata tadi sedang membawa makanan berkuah yang masih terlihat mengepul asapnya, ia berusaha membersihkan sisa kuah di lengan kecil Mike.
Mike di tanya seperti itu, hanya diam saja sembari berdiri dari duduknya yang tadi terjatuh di bawah dengan menahan rasa sakit di sebelah lengannya. jika dalam mood seperti ini, pria kecil ini pasti enggan untuk menjawab pertanyaan dari orang lain, terlebih itu adalah orang asing.
" Apa yang terjadi di dapur itu?" tunjuk Rich yang baru melihat ke arah layar di atas sana dan bertanya kepada Al. pria itu pun ikut melihat layar pipih tersebut." Ayo kita kesana."
__ADS_1
Mendengar keributan dari arah dapur, dan melihat sendiri dari pantauan CCTV barusan Rich segera keluar bersama dengan Al untuk mengeceknya.
" Apa yang terjadi disini?" tanya Rich menatap ke beberapa chef yang berada didapur juga seorang karyawan pria yang sedang membersihkan makanan yang sudah tumpah di lantai. lalu pandangannya terfokus kepada seorang anak kecil yang sedang berdiri sambil meringis melihat lengannya memerah.
" Astaga, tanganmu terluka Boy." paniknya sambil duduk berjongkok di depan Mike sambil memegang lengan kecil itu, Mike hanya menatapnya sekilas lalu kembali melihat lengannya sendiri.
" Ayo ikut Uncle ini harus cepat di obati!, tanganmu bisa melepuh." Rich langsung menggendongnya tanpa meminta ijin terlebih dahulu, Mike pun terlihat tidak protes sama sekali, mungkin ia terfokus pada rasa sakit di lukanya.
" Al tolong ambilkan kotak p3k, bawa masuk." titahnya yang langsung di angguki oleh Al.
...----------------...
" Astaga kemana larinya?" gumam Zoey, yang sedang mencari putranya itu ke dalam, dan sudah sempat bertanya kepada beberapa karyawan Resto tetapi tidak ada yang melihat anak kecil di dalam sana begitu jawaban dari mereka semua, terlebih memang selain staf karyawan di larang masuk.
Jelas saja tidak ada yang melihat anak itu, sedangkan malam ini memang begitu banyak pengunjung yang datang, sehingga semuanya pada sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. dan mana mungkin sempat untuk memerhatikan sekelilingnya selain para pengunjung Resto.
" Sudah tenanglah, mungkin sebentar lagi, dia akan kembali keluar. kita tunggu saja." Ben mengusap pelan pundah Zoey, tetapi wanita itu justru menjauhkan tubuhnya ke samping.
" Bagaimana aku bisa tenang! dia itu masih kecil Ben, tidak seperti biasa dia bersikap seperti ini. sudahlah kau pasti tidak akan paham sebelum kau melahirkan seorang anak!" sarkas Zoey, merasa tidak setuju dengan ucapan pria itu.
" Kau ingin melihat aku melahirkan?" celetuk Ben dengan menaikkan salah satu alis tebalnya, tak lupa ia juga menyunggingkan senyumnya ke atas menatap Zoey antara geli juga tidak percaya.
Bagaimana Zoey bisa mengatakan garis paten itu padanya sebagai seorang pria, bagaimana seorang pria bisa melahirkan? tidak mungkin hamil! lalu bagaimana bayi akan keluar dari tubuhnya? keluar melalui mulut? atau telinga? Atau melalui pistol beruratnya? Membayangkan saja rasanya sudah sakit dan juga geli, bagaimana jadinya jika seorang pria benar-benar bisa melahirkan. Oh ya ampun, Ben masih tersenyum geli.
Dahi Zoey terlihat mengkerut tidak paham dengan ucapan pria tersebut, dan detik selanjutnya ia merasa tertohok saat baru saja mengingat ucapannya sendiri." Oh sorry, aku tidak sadar mengatakannya Ben, sungguh."
" It's okay, aku anggap bercandamu kali ini sebagai tanda, agar kita bisa semakin dekat. Begini saja biar aku yang akan bertanya masuk, kamu tunggu saja di meja kita tadi." Ben berusaha berucap serius kali ini, ia tahu Zoey pasti tidak akan bisa tenang jika putra tampannya itu belum kembali.
Dengan cara sedikit berbohong dan juga merayu, akhirnya Ben bisa masuk ke dalam setelah menyebut dirinya adalah sahabat dari pemilik Resto ini, tidak sia-sia ia menghabiskan waktunya hanya untuk pekerjaan yang sudah lama ia tinggalkan dulu.
Ben di antar ke dalam oleh salah satu karyawan pria, ia berjalan di belakangnya sambil menatap dinding di samping kanan dan kirinya yang terdapat begitu banyak pigura perhargaan dan Ben baru mengetahui jika Resto ini adalah cabang dari Resto yang ada negara LN.
__ADS_1
Tok..
Tok..
Terdengar suara sahutan dari dalam, karyawan tadi langsung menekan handle pintu ruangan itu yang di dalamnya memang ada sang pemilik Resto tempatnya bekerja.
Ceklek!!
" Sir, maaf mengganggu, ada yang mencari anda." ucapnya dengan sopan.
Rich mengkerutkan dahinya sambil menoleh ke arah pintu disana sudah berdiri satu karyawannya yang memang memakai seragam Resto dan satu lagi seorang pria bertubuh kekar hampir sama dengannya, lalu di sampingnya si Mike anak kecil itupun ikut menoleh untuk melihat juga siapa yang datang.
" Ben."
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.Tbc
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir baca, jangan lupa kasih like, komen dan hadiahnya yaa..🌷🌷🌷🌷
Maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.