I Remember You

I Remember You
Ada Yang Pergi, Ada Pula Yang Datang.


__ADS_3

Baik Armand maupun Briva masih terdiam saling bersitatap dengan kenangan manis masa lalu di antara mereka berdua. Kenangan di masa lalu seakan mencuat hanya beberapa detik saja. Hingga terdengar suara seseorang mengintrupsi keduanya, membuat mereka pun mengalihkan pandangan menatap ke arah sumber suara.


" Ada apa ini sayang?" Tanya Owl yang langsung muncul tiba-tiba dari arah belakang Briva lalu menyipitkan kedua netranya menelisih heran ke arah keduanya.


" Oh, nggak apa-apa sayang. Kami hanya mengobrol sedikit saja. Ayo kita bersiap-siap." Ajak Briva yang ingin segera pergi dari hadapan Armand, pria yang pernah ada di dalam masa lalunya, sungguh rasa itu sudah pudar baginya.


" Tunggu, kita belum selesai bicara!" Tegur Armand yang ingin segera menyelesaikan masalah yang sudah membuatnya gelisah beberapa bulan ini.


" Bicara? Kalian bicara tentang apa sebenarnya? Oh, kalau kau ingin membahas masa lalu di antara kau dan Briva, itu sudah tidak perlu di ungkit kembali, lebih tepatnya cerita singkat kalian sudah selesai dan tidak ada kelanjutannya lagi, terlebih kita sudah mempunyai pasangan masing-masing jika Mr. Delvis lupa?!" Sahut Owl mengingatkan dan seolah sudah tahu kemana arah permbicaraan yang Armand maksudkan.


" Tapi_


" Saya minta maaf Mr. Dalvis kita sudah selesai, bahkan sebelum kita memulainya, kuharap Anda mengerti dengan maksudku. Permisi." Pamit Briva menggandeng mesra tangan kekasihnya itu untuk segera bergegas pergi meninggalkan Armand yang masih mematung terdiam menatap kedua punggung yang berlalu darinya.


" Kenapa jadi seperti ini? Aargghh!!" Desah Armand mengusap wajahnya dengan kasar, ia sedikit frustasi mendengar jawaban dari Owl dan Briva barusan.


Tak di pungkiri walau cerita mereka memang terbilang singkat, tapi bagi Armand kenangan manis itu masih terasa hingga sekarang, terlepas ia sempat menikah sekalipun. Saat ia akan masuk ke dalam kamar, langkahnya langsung terhenti saat ada suara seseorang yang memanggil dirinya.


" Kak Armand, tunggu dulu! Apa maksud dari semua ini? Apa yang aku dengar semuanya adalah benar? Kau dan Kak Briva...?" Tanya Bonee yang melangkah semakin mendekat ke arah pria detektif itu.


Namun Armand yang di serbu dengan beberapa pertanyaan seperti itu hanya diam saja, ia seakan enggan untuk menjawab pertanyaan dari kekasih palsunya tersebut. Ia juga tak menduga jika wanita itu ada disana, entah sejak kapan berada disana yang mungkin telah mendengar semua pembicaraannya dengan Briva tadi.


" Tolong jawab pertanyaanku? Apa benar di antara kalian pernah ada hubungan?" Tuding Bonee lagi yang merasakan nyeri di harinya.

__ADS_1


Ia tidak mengira bahwa sekalinya ia menaruh harapan besar kepada seorang pria yang ia yakini akan menjadi pilihannya yang terakhir justru harus merasakan kecewa yang amat sangat. Terlebih pria itu sempat mempunyai hubungan dengan saudaea kembarnya sendiri.


" Itu tidaklah penting, aku mau bersih-bersih dulu." Pamit Armand yang ingin pergi dan sengaja menghindari dari pembahasan masalah yang ia sendiri belum bisa menerimanya. Namun niatnya lagi-lagi harus terhenti tatkala Bonee kembali berbicara padanya.


" Kenapa tidak mau menjawabnya? Ah, aku lupa dengan statusku yang hanya kekasih palsumu. Ya siapalah diriku ini bagimu. Tidak perlu di jawab, aku sadar diri kok, dan tenang saja mulai hari ini kesepakatan kita sudah berakhir toch Papi sudah tidak ada lagi. Jadi tidak ada lagi kerja sama di antara kita. Jadi tenang saja, kupastikan, aku tidak akan menganggumu lagi!" Seru Bonee dan setelahnya ia kembali naik ke kamar Briva juga ingin bersiap, sebab hari ini adalah acara pemakaman sang Papi. Pria yang sudah ikut serta membesarkan dirinya, walau ia lebih lama tinggal di rumah Bibinya sedari kecil.


Bonee melangkah dengan perasaan yang hancur, bahkan wajahnya sudah sembab oleh air mata yang entah sejak kapan sudah membasahi wajah cantiknya.


***


Acara pemakaman Bram berjalan dengan baik, di hadiri oleh anggota keluarga besar Luxio, Armand Cs dan ada juga Bryan dan Mama Lidya sebagai perwakilan keluarganya, mengingat Bram adalah mantan mertuanya, tak ketinggalan Ken yang juga turut serta mengantarkan sang Kakek ke tempat istirahat terakhirnya.


Laki-laki yang beranjak remaja itu duduk berjongkok di samping Tantenya Bonee. Ia tak mengira akan kehilangan sosok seorang Kakek baginya yang selama ini amat sangat baik dan juga perhatian padanya. Namun ia juga tak menyangka jika Kakeknya itu adalah seseorang yang sangat kejam, lebih tepatnya orang yang telah membuat Daddy dan Mommynya mengalami kecelakaan hebat hingga nyaris merenggut nyawa mereka untuk kedua kalinya.


" Ken ayo, kasihan Mom sendrian di rumah." Ajak Bryan kepada Ken putranya untuk segera pulang ke rumah mengingat istrinya baru saja sembuh dan belum terlalu pulih dan juga masih harus di bantu oleh kursi roda.


Ken pun beranjak bangun dan mengangguk menatap ke arah Daddynya. Ia melihat kembali ke arah pusara sang Kakek sebelum benar-benar pergi.


" Kami permisi dulu ya, kasihan Ariell sendiri di rumah. Datanglah ke rumah ajak istrimu Dude!" Pamit Bryan yang kini menetap ke arah sahabatnya yang tidak lain adalah Papa kandung dari Kenzie.


" Pasti, nanti kalau sudah tenang kami kaan berkunjung. Son kau tak ingin mampir ke rumah Papa?" David menatap putranya yang saat kini wajahnya terlihat sedikit sendu.


David sangat tahu apa yang tengah putranya itu rasakan saat ini, terlebih yang meninggal adalah Kakek kandungnya sendiri, pasti rasa berat kehilangan itu pasti ada.

__ADS_1


" Buddy, ini juga Kakek kandungmu kau tidak ingin memeluk tubuh renta pria tua ini.?!" Seru Hans memperlihatkan wajah sedihnya itu kepada sang cucu laki-laki pertamanya. Hari ini untuk pertama kalinya ia melihat langsung cucu kandungnya setelah putranya itu menceritakan semua kebenaran di masa lalu yang tidak ia ketahui jika ceritanya hampir sama dengan kisah masa lalunya sendiri.


Ken baru sadar jika ada pria tua yang seumuran dengan mendiang Kakeknya, dan ini juga pertama kali baginya bersitatap langsung dengan Hans, selain menatapnya lewat layar di ponsel milik Papanya beberapa kali saat melakukan panggilan video call.


Perlahan Ken pun berjalan menghampiri Kakeknya yang nampak semangat menyambutnya, keduanya pun berpelukan meresapi rasa rindu yang baru pertama kalinya bertemu." Maafkan Ken Opa, tadiβ€”


" Ssstt, tidak apa disini sudah ada Opa yang juga akan sayang dan perhatian seperti Kakekmu Bram, ayo sebaiknya kita semua kembali pulang. Nak Bryan tolong ijinkan Ken untuk berkunjung ke rumah kami sekaligus menginap beberapa hari saja di rumah, sebelum aku dan istriku kembali keluar negeri, kau tidak keberatan bukan?" Pinta Hans menatap serius ke arah Bryan.


Bryan sendiri juga tak kuasa untuk menolak dan juga tidak keberatan sama sekali jika memang Kenzie sendiri ingin ikut serta pulang bersama dengan keluarga Papa kandungnya.


" Tidak sama sekali kok Om." Jawab Bryan dengan cepat, lalu ia menatap ke arah sang putra. " Ya ikutlah Ken nanti Daddy akan kirimkan pakaian untukmu." Ujarnya tersenyum menatap Ken begitu pun dengan Ken yang tersenyum padanya. Semuanya ikut tersenyum melihat adegan yang sedikit mengharu itu.


.


.


.


.tbc


Terima kasih yang sudah mampir baca, jangan lupa kasih like, komen dan hadiahnya yaa..🌷🌷🌷🌷


Maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.

__ADS_1


__ADS_2