Ikatan Cinta Masa Kecil

Ikatan Cinta Masa Kecil
Kutukan dan Mimpi Buruk


__ADS_3

"Ayo kita pulang, Aisha! Kalian pasti lelah." Sambil merangkul Aisha dan membawanya keluar gudang kosong itu.


"Kau juga pasti lelah, lebih baik hari ini kau dirumah saja. Istirahatlah, wajahmu pucat sekali." Sambil mengelus pipi Deva.


"Ya, sayang. Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Saat ini yang sangat penting kau dan bayi kita tidak boleh kelelahan." Sambil mengelus perut Aisha.


"Baiklah."


Deva dan Aisha pun memasuki mobilnya, sebelum melajukan mobilnya Deva terlebih dahulu berbicara dengan Reihan dan Ridan.


"Hari ini aku menitipkan kantor pada kalian berdua, bereskan segalanya dengan baik! Dan ya, aku menemukan sedikit masalah di bagian keuangan. Reihan, kau pasti tahu masalahnya bukan? Tolong bereskan masalah itu secepatnya dan bawa orang-orang itu menghadapku besok! Ridan, kau tahu seperti apa tugasmu!" Jelas Deva.


"Baik, tuan!" Ucap keduanya sambil membungkukkan badannya memberi hormat.


Setelah itu, Deva melajukan mobilnya. Di sampingnya Aisha sudah tertidur, mungkin karena kelelahan.


Dilihatnya wajah istrinya, nampak mulai berisi. Mungkin karena sedang hamil anak kedua mereka, jadi tampak berbeda dari saat kehamilan sebelumnya saat sedang mengandung Sid.


30 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah. Namun, karena Aisha masih tertidur terpaksa Deva menggendongnya masuk ke rumah.


Setelah masuk ke rumah Deva merebahkan Aisha di sofa ruang televisi, lalu menyelimutinya dengan sehelai selimut yang sudah tersedia disana. Setelah itu, Deva bergegas mandi dan setelah mandi ia memasuki dapur.


"Bi, tolong buatkan aku segelas kopi!" Sambil tersenyum pada bi Asih yang sedang memotong sayuran.


"Baik tuan, tunggu sebentar bibi akan segera membuatnya."


"Tolong antarkan ke ruang televisi, ya!"


"Baik tuan."


Deva kembali memasuki ruang televisi dan duduk di sofa yang berhadapan dengan Aisha, dengan posisi yang menyandar ke kepala sofa.


Entah kenapa ucapan Yessi terngiang-ngiang di telinganya, dan membuatnya selalu mengkhawatirkan Aisha.


"Tuan, ini kopinya." Tiba-tiba bi Asih datang, lalu menyimpan kopi untuk Deva di meja yang berada di depan Deva.


Deva terperanjat dan terkejut.


"Terima kasih, bi!" Sambil tersenyum pada bi Asih.


"Tuan, boleh bibi bertanya?" Dengan ragu-ragu.


"Tentu, bi. Bibi mau bertanya apa?"

__ADS_1


"Tuan baru pulang? Habis darimana?" Tanya bi Asih sambil menunduk.


Deva pun terkejut dengan pertanyaan bi Asih, dan mulai mencari jawaban yag tepat untuk menjawab pertanyaan bi Asih.


"Kami tadi pergi ke luar sebentar, Aisha ingin dicarikan makanan yang susah dicari, bi. Bibi tahu bukan, bagaimana orang yang sedang hamil? Selalu ingin dituruti kemauannya." Sambil terkekeh.


"Memangnya nona ingin apa?"


"Aisha ingin soto daging, itu saja. Dan kami harus berkeliling karena hampir seluruh warung yang menjual itu sudah tutup." Kembali terkekeh.


"Kenapa tidak membangunkan bibi saja, tuan? Biar bibi buatkan! Apa tuan sudah menemukannya?" Tanya bi Asih penasaran.


"Sudah, bahkan Aisha sudah menghabiskannya tadi saat perjalanan pulang." Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Baiklah tuan, syukurlah. Kalau begitu bibi pamit kembali ke dapur." Deva mengangguk lalu mulai menyeruput kopi yang baru saja di bawakan bi Asih.


Deva kembali merebahkan kepalanya di kepala sofa, tanpa dia inginkan kata-kata Yessi kembali terngiang di telinganya.


"Ingat baik-baik Adeva, aku bersumpah bahwa kau juga akan kehilangan seseorang yang sangat berarti di hidupmu suatu saat nanti! Dan akulah yang akan membuat semua itu terjadi! Kau juga akan gila bahkan mengalami hal yang dialami kakakku!"


Deva menutup matanya, mencoba menghilangkan kata-kata Yessi, akan tetapi kata-kata itu tetap terngiang-ngiang di telinganya.


Ya Tuhan, apakah yang dia katakan itu adalah kutukan? Tidak, jangan sampai terjadi hal buruk pada keluargaku! Jika akan ada hal buruk yang terjadi, biar aku saja yang menerimanya! Tapi jangan pada istri dan anakku. Mereka sangat berarti bagiku, mereka segelanya bagiku, bahkan mereka adalah hidup dan matiku. Ya Tuhan lindungilah selalu keluarga kecilku ini dari marabahaya dan keburukan yang akan menimpanya.


Deva membuka matanya, lalu mengerjap-ngerjapkan matanya. Setetes air bening mengalir dari matanya tanpa seizinnya. Ia menoleh pada Aisha, ia masih tertidur nyenyak, Deva tersenyum melihatnya.


Deva berdiri, lalu melangkah menghampiri Aisha dan membelai pipi Aisha dengan sangat lembut. Kemudian Deva mengecup pipi Aisha.


Setelah semua rasa sakit yang kau alami, kau pantas mendapat kebahagiaan yang besar. Aku beruntung mendapatkan wanita sepertimu, Aisha. Tapi aku harus tetap sadar, bahwa tidak ada hubungan yang sempurna di dunia ini. Suatu saat saat kita tua, kematian pasti akan datang dan membuat hubungan kita tidak lagi sempurna.


Deva kembali mengecup Aisha, kali ini dikeningnya. Kecupan di kening merupakan tanda kasih sayang terhadap seseorang yang sangat kita sayangi dan cintai.


Saat Deva sedang asyik memandangi Aisha, yang dipandang mengerjap-ngerjapkan matanya dan terkejut ketika matanya sepenuhnya sadar dan melihat Deva berada di depannya.


"Suamiku, kenapa kau memandangiku seperti itu?" Dengan suara serak khas bangun tidur.


"Memangnya tidak boleh ya aku memandang wajah istriku yang cantik ini?"


"Bukan begitu, memangnya sudah lama ya kau memandangiku seperti barusan?" Sambil meraih tangan Deva dan menggenggamnya.


"Tidak, baru setengah jam yang lalu." Jawab Deva sambil merapihkan anak rambut Aisha yang menghalangi mata Aisha.


"Apa?!" Sambil terduduk dan memandang wajah Deva penuh keterkejutan.

__ADS_1


"Kenapa? Ada yang salah?"


"Tidak, istirahatlah suamiku! Kau pasti lelah bukan?" Sambil membelai pipi Deva.


"Hmm, lumayan."


"Ayo, pergilah ke kamarmu! Aku akan melihat Sid dulu, nanti aku menyusul!"


"Baiklah, aku istirahat. Jika ada apa-apa bangunkan aku." Sambil menunjuk dirinya sendiri.


Aisha mengangguk, lalu Deva bergegas pergi menuju kamarnya.


Di dalam kamar, Deva merebahkan dirinya di ranjang dan mulai mencoba untuk tidur. Tak lama Deva mulai tertidur, mungkin karena lelah jadi Deva langsung tertidur begitu nyenyaknya.


Di sela-sela tidurnya, Deva tampak bergumam sendiri.


...----------------...


Seorang wanita tampak memakai pakaian serba putih, dengan wajah yang bercahaya dan senyuman manis yang tak luput dari bibir ranumnya.


"Aku pamit pulang padamu, tolong jaga putra dan putri kita baik-baik." Ucap wanita itu, sambil menyerahkan seorang bayi mungil pada Deva dan menyerahkan seorang anak laki-laki padanya.


"Kau mau kemana? Bukankah kita sudah berjanji, akan menjaga anak-anak kita dan membesarkannya bersama?" Tanya Deva sambil meraih tangan wanita itu.


"Aku harus pergi, Tuhan sudah memanggilku untuk kembali padanya." Sambil membalikkan tubuhnya lalu berjalan menjauhi Deva.


Deva masih memegang tangan wanita itu dengan erat, sebelah tangannya menggendong sang bayi yang tadi diserahkan wanita itu. Lama-lama tangan itu semakin terlepas, seiring dengan langkah kaki wanita itu yang kian menjauh.


Saat tangan itu sudah terlepas, wanita itu membalikan tubuhnya dan menatap Deva sambil tersenyum dengan sangat indahnya.


"Tidak! Kau akan kemana? Jangan tinggalkan aku, jangan tinggalkan anak-anak kita! Mereka pasti sangat membutuhkanmu!" Ucap Deva sambil mengulurkan tangannya.


"Tidak bisa, aku harus pergi." Sambil kembali tersenyum.


"Aku mohon, kembalilah! Anak-anak kita pasti membutuhkanmu!"


Wanita itu tidak menghiraukan panggilan Deva dan ratap tangis anak laki-laki yang tadi diserahkan pade Deva, ia terus berjalan hingga memasuki sebuah lorong yang dipenuhi cahaya. Lalu menghilang di dalam cahaya itu yang juga perlahan-lahan mengilang.


"Tidaaaakkkkkk...... Aishaaaaaaa, jangan pergi! Jangan meninggalkanku! Aishaaaaaa...!" Deva terbangun, dan segera mengusap wajahnya.


"Ya Tuhan, kenapa mimpiku buruk sekali!" Sambil terus mengusap wajahnya.


Bersambung...

__ADS_1


Selamat membaca, Jangan lupa like+Vote+rate 5 nya yaa...!


__ADS_2