
Deva terus mengelilingi jakarta untuk mencari keberadaan aisha,tapi hasilnya tetap nihil. Deva tidak bisa menemukan aisha.
Bahkan deva sudah mengarahkan anak buahnya untuk mencari aisha tapi tidak ada satupun yg bisa menemukan aisha.
Deva hanya bisa menyesal dengan sikapnya selama ini,ia sadar bahwa beberapa bulan ini dia sudah mengacuhkan aisha. Deva menangis dan merutuki kebodohannya.
"Maafkan aku sayang,aku menyesal,aku mohon kembalilah.. Aku sangat menyesal" gumam deva sambil menangis dan menyetir.
Hari mulai gelap kali ini bukan karena hujan tapi karena waktu mulai berganti malam.
Deva menghentikan mobilnya di sebuah taman yg dikunjungi aisha seperti yg di katakan bi Asih.
Deva turun dari mobilnya lalu duduk di sebuah bangku dibawah guyuran air hujan yg mulai kembali turun lebat.
"Dimana kau Aisha?" tanya deva pada dirinya sendiri sambil menatap ke langit .
"Arrrrrggggghhhhhhh" Teriak deva sekeras mungkin lalu berjalan kembali dan memasuki mobilnya. Deva mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa memperdulikan keselamatannya sendiri.
Tak butuh waktu lama deva sudah tiba di depan rumahnya lalu turun dari mobil dan menutup pintu mobilnya sekeras mungkin.
Susan yg melihat itu dari atas balkon kamarnya merasa bersalah karena menjadi penyebab retaknya hubungan deva dan aisha hingga aisha pergi dari rumah lebih parahnya lagi dalam keadaan hamil.
Deva masuk ke rumahnya dengan keadaan yg basah kuyup. Bi asih yg melihatnya merasa bersalah karena tadi dia sendiri yg mengizinkan aisha pergi.
Deva berjalan ke lantai atas menuju kamar lamanya dengan wajah yg sangat emosi lalu memasuki kamarnya dan menutupnya dengan sangat keras lalu menguncinya.
Deva meninju kaca lemarinya dengan sangat keras sehingga membuat kaca itu hancur berkeping-keping dan tangannyapun berdarah.
Suara itu terdengar hingga ke lantai bawah dan membuat susan juga bi Asih dan beberapa pelayan lainnya terkejut.
"Ya ampun" ucap susan terkejut.
"Non susan ayo kita lihat non deva,sepertinya terjadi sesuatu di kamarnya" ajak bi asih.
__ADS_1
Keduanya segera bergegas menuju ke kamar deva.
Sesampainya di depan pintu kamar deva,Susan mencoba membuka pintunya tapi tidak berhasil karena deva mengunci pintunya dari dalam.
"Bi bagaimana ini?" tanya susan dengan wajah panik.
"Emm.. anu..bibi tidak tahu non" jawab bi asih dengan ragu.
"Sebenarnya kak aisha kemana bi? mengapa dia belum kembali juga sudah malam begini?" tanya susan menyelidik.
"Bibi tidak tahu non" ujar bi asih dengan wajah yg meyakinkan.
"Bukankah bibi bilang tadi Kak aisha pergi bersama bibi?" bentak susan "Jadi,seharusnya bibi tau kemana kak aisha pergi bi! dan seharusnya bibi juga tidak mengizinkannya pergi sendirian! bagaimana jika terjadi sesuatu pada kak aisha bi?!" ucap susan dengan nada membentak.
Deva merasa mendengar suara susan yg sedang membentak bi Asih,iapun segera berdiri lalu berjalan dan membuka pintu kamarnya. Benar saja susan sedang membentak-bentak bi asih dan menyalahkan bi asih sebagai penyebab kepergian Aisha. Deva kali ini merasa geram dan tak terima dengan perlakuan susan terhadap bi Asih orang yg sudah mengasuh deva sejak kecil dan sudah dianggap sebagai ibunya sendiri.
"Cukup Susan!" bentak deva dengan nada tinggi. "Kau tidak pantas menyalahkan bi Asih untuk kepergian aisha! aku yg salah!" ucap deva kembali memberi peringatan.
"Apa maksudmu kak? jelas bi asih yg mengizinkan kak aisha pergi sendirian!" jawab susan tak ingin kalah.
"Maksud bibi?" tanya deva bingung.
"Ya! nona aisha pergi karena kalian berdua! selama ini kalian tidak pernah mengerti perasaannya melihat kedekatan kalian berdua! bahkan karena nona susan,tuan deva mulai kurang perhatian pada nona Aisha! seharusnya disaat seperti ini seorang istri diperhatikan suaminya,akan tetapi tuan deva malah memperhatikan nona susan! Nona aisha merasa tidak dibutuhkan lagi oleh tuan deva!!!" jelas bi aisha membuat deva terkejut dan susan tidak terima karena dituduh menjadi penyebab kepergian aisha.
"Lalu kemana aisha?" tanya deva penuh penyesalan.
"Bibi tidak tahu tuan! Tadi dia menyuruh bibi dan memaksa bibi untuk pulang bersama supir karena dia ada sebuah keperluan penting,dia tidak memberitahu akan pergi kemana. Bibi tidak tahu jika dia tidak akan kembali lagi ke rumah ini" jawab bi Asih sambil berurai air mata.
"Tidak! bi asih pasti menyembunyikan aisha!" tuduh susan membuat bi Asih semakin merasa bersalah.
"Diam kau susan! berani sekali kau menuduh bi Asih! kau tidak seharusnya bersikap tidak sopan pada bi Asih!" bentak deva lalu memeluk bi Asih yg sedang menangis.
"Apa ? kau berani membentak adikmu sendiri hanya karena pembantumu ini?" ledek susan.
__ADS_1
"Pembantu? bi asih bukan pembantu tapi dia bagiku adalah ibuku! dia yg sudah mengasuhku sedari aku kecil!" balas deva dengan tatapan tajam pada susan.
"Terserah kau saja!" ketus susan lalu turun ke bawah dan masuk kekamarnya.
"Bi maafkan dia dan maafkan aku" ujar deva dengan suara lembut.
"Tidak tuan,maafkan bibi juga tidak bisa mencegah nona aisha untuk pergi" balas bi asih.
"Itu bukan salah bibi. ini kesalahanku karena aku tidak pernah perhatian padanya lagi" ucap deva penuh penyesalan.
"Lalu sekarang bagaimana tuan? bibi sangat khawatir pada nona aisha" ucap bi asih penuh kesedihan.
"Kita pasti akan menemukan aisha. Cepat atau lambat dia pasti akan ditemukan" ujar deva menenangkan bi asih. "Sekarang bibi istirahat tidak usah terlalu di pikirkan,biar mencari aisha itu jadi urusanku saja bersama anak buahku" ujar deva kembali menenangkan bi asih yg masih terlihat sedih.
"Baik tuan" ucap bi asih.
"Mari aku antar bibi ke kamar" ucap deva sambil akan merangkul bi asih tapi terhenti ketika bi asih melihat tangan deva yg terluka.
"Tuan tangan tuan bagaimana bisa terluka?" tanya bi asih kembali panik.
"Ini? eh ini,hanya terkena pecahan kaca saja" jelas deva sambil menyembunyikan tangannya.
"Ya ampun tuan hati-hati. ayo kita duduk di kursi itu,bibi akan mengobati lukanya" ucap bi asih penuh kasih sayang.
"Iya bi" ucap deva menuruti perkataan bi asih karena deva tidak akan bisa menolak kata-kata bi asih yg sudah seperti ibunya itu.
Deva duduk di kursi yg di tunjuk bi asih sedangkan bi asih pergi mengambil kota P3K untuk mengobati deva. Tidak lama bi asih sudah kembali membawa kotak P3K.
"Tunjukkan tangan tuan,Agar bibi bisa mengobatinya" perintah bi asih.
Deva pun mengulurkan tangannya,bi asih pun segera mengobatinya dengan berhati-hati karena takut deva kesakitan.
**Maaf ya telat up soalnya author nunggu di kasih hostpot dulu 🤣🤣🤣. Jangan lupa like,coment dan Vote yaa..
__ADS_1
Selamat Membaca**