
"Selamatkan istriku, dokter! Aku minta tolong selamatkan istriku!" Keputusan telah Deva ucapkan penuh keyakinan.
"Baiklah, pak. Kami akan berusaha menyelamatkan istrimu!" Dokter menepuk pundak Deva, lalu memasuki ruang operasi kembali.
Sementara Deva masih tidak bergerak dalam posisinya saat ini.
Ya Tuhan, egoiskah aku? Berdosakah aku? Demi cinta aku mengorbankan anugerah dariMu!
Ia sudah tidak sanggup lagi menahan tangisnya, hingga hari ini air matanya terus keluar membanjiri pipinya.
"Maaf, Aisha! Aku tidak bisa kehilanganmu!"
"Cukup Deva, semoga keputusanmu adalah yang terbaik bagi kalian!" Aryan membantu Deva duduk di kursi.
"Kenapa Tuhan menghukum Aisha atas kesalahanku?" Lirih Deva.
"Deva, semua ini sudah takdirnya! Kita manusia hanya bisa menerimanya, kita tidak bisa mengubah setiap takdir yang telah Tuhan berikan!"
Sementara di ruang operasi, dokter telah berhasil mengeluarkan peluru dari dada Aisha. Kini dokter berusaha mengeluarkan bayi dari perut Aisha dengan cara operasi caesar.
30 menit kemudian...
Suara tangisan bayi terdengar nyaring, membuat dokter menghela napas lega. Namun di detik berikutnya, dokter kembali panik karena suara alat berbunyi menandakan nyawa Aisha sedang di ujung tanduk.
"Suster siapkan alat penarik detak jantung!" (Maaf ya gak tau namanya 😅😂🤣)
Suster mengambil alat itu, lalu dokter segera meletakkan alat itu di dada Aisha dan berusaha menarik detak jantung Aisha agar berdetak kembali.
Pada usaha ketiga kalinya, dokter berhasil membuat jantung Aisha kembali berdetak.
Di luar jantung Deva berdebar sangat kencang, hatinya bahkan sangat gelisah. Ia tak henti-hentinya merafalkan doa yang dia hafal.
"Ya Tuhan, berikanlah keajaibanmu. Berilah istriku kesembuhan dan keselamatan!"
"Tenanglah, Deva! Duduklah!" Ucap Aryan yang sedari tadi melihat Deva sibuk berjalan kesana kemari seperti setrikaan.
(Huss jangan tegang! Ini kan cuma novel 🤣)
Lampu didepan ruangan operasi telah mati, menandakan bahwa operasi sudah selesai. Pintu ruangan operasi itu sedikit demi sedikit terbuka, keluarlah dokter dengan seorang perawat yang membawa bayi.
"Pak, kami berhasil melakukan operasinya! Istri dan anakmu selamat, selamat bayi kalian berjenis kelamin perempuan! Tapi kondisi bayimu saat ini lemah karena keluar sebelum waktunya, jadi kami bayimu harua mendapatkan perawatan hingga kondisinya stabil."
Deva terharu, lalu segera meraih bayi mungilnya yang berada di gendongan perawat.
"Pak, maaf kami harus membawanya untuk dirawat!" Perawat meraih kembali bayi Deva dari tangan Deva dan membawanya menuju ruangan dokter spesialis anak untuk mendapatkan perawatan.
"Lalu istriku?"
"Istrimu, keadaannya saat ini sangat kritis. Jadi sementara kami akan memindahkannya ke ruang ICU!"
Mendengar jawaban dari dokter tentang Aisha, Deva sedikit bernapas lega.
"Bolehkah aku menemuinya?"
"Silahkan, tapi hanya satu orang yang boleh masuk ke ruangan itu."
__ADS_1
Tanpa berlama-lama, Deva segera memasuki ruangan ICU dan duduk di samping ranjang Aisha.
"Aisha, kau pasti bisa! Kau pasti kuat melewati semua ini! Kau adalah wanita yang kuat dan tidak mudah menyerah!" Deva menggenggam tangan Aisha.
Beberapa menit ia di ruangan itu, menatap sang wanita yang sangat ia cintai sedang terbaring lemah tak berdaya. Dengan berbagai macam alat medis menempel pada tubuhnya.
Deva tidak tahan lagi melihat keadaan Aisha, ia memutuskan untuk keluar dari ruangan ICU.
"Kenapa keluar?" Tanya Aryan yang sedang berdiri di depan pintu ruangan ICU.
"Tidak, aku tidak kuat melihat keadaannya!" Deva melihat Aisha dari sebuah kaca kecil di pintu ruangan ICU.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
2 Hari begitu cepat berlalu, sudah 2 hari pula Aisha tetap dengan kondisinya. Berjuang antara hidup dan mati. Bahkan sudah 2 hari juga Deva tinggal di rumah sakit.
Ia tidur disamping Aisha, dan tidak satupun makanan yang masuk ke perutnya selama 2 hari ini.
"Deva, pergilah makan dulu! Biar ibu saja yang menemani Aisha disini!" Ucap ibunya Aisha yang baru saja memasuki ruangan ICU untuk menggantikan Deva menemani Aisha.
"Tidak, bu. Aku tidak akan meninggalkan ruangan ini walau hanya sekejap, atau pada saat Aisha bangun aku tidak bisa melihatnya!" Jawab Deva dengan tangan yang menggenggam erat tangan Aisha dan mata yang terus memandang Aisha.
"Deva, jangan keras kepala! Jika kau menganggap aku sebagai ibumu, maka dengarkanlah kata-kataku! Sekarang makanlah, sudah 2 hari kau tidak memakan apapun! Jika Aisha bangun dan melihatmu seperti ini, apa yang akan kau katakan padanya?!" Nasehat ibunya Aisha pada Deva.
"Ibu juga sudah membawakanmu pakaian ganti, setidaknya ganti pakaianmu! Lihatlah juga anakmu, dia sedari kemarin ingin bertemu denganmu!"
Memang benar, selama 2 hari ini Deva tidak mengunjungi Sid di ruang perawatannya karena ingin menjaga Aisha.
"Baik bu, kau benar! Dan aku tidak bisa membantah perkataan seorang ibu lagi!" Deva mengalah, karena tidak ingin ibunya Aisha merasa sedih.
"Aisha! Kau sudah bangun, nak!"
"I... Ibu..." Lirih Aisha dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Ya, Aisha ini ibumu!" Tangan Aisha terangkat, lalu menunjuk ke arah meja yang ada lacinya. Diatasnya tepat ada sebuah buku dan bolpoin.
"Ada apa, Aisha? Kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Ibunya Aisha yang tak mengerti dengan tangan Aisha yang menunjuk ke buku itu.
"I... Itu..." Lirih Aisha lagi sambil menunjuk buku itu.
Ibunya pun menyadari bahwa Aisha memintanya untuk mengambil benda yang berada di atas meja tersebut, lalu segera mengambilnya dan memberikannya pada Aisha.
Aisha meraih buku itu, dan dengan tangan yang masih lemas menuliskan sesuatu di buku itu. Setelah selesai, ia menyobek lembaran buku yang berisi tulisannya.
"I... Ibu..." Lirih Aisha kembali dengan napas yang mulai tak teratur.
"Ya, nak! Ada apa? Katakanlah!"
"De... Deva..."
"Deva sedang makan, sudah 2 hari dia tidak makan!"
"De... Deva..." Aisha kembali memanggil nama Deva, ibunya sudah panik. Ibunya Aisha segera memanggil Aryan yang berada di luar untuk memanggil Deva.
"Aryan! Cepat panggilkan Deva, Aisha sudah sadar!"
__ADS_1
Napas Aisha semakin cepat dan tidak terartur, namun bibirnya tak henti memanggil-manggil nama Deva.
"I... Ibu... De... Deva!"
"Iya, Aisha! Bertahanlah! Deva akan segera datang!"
"I... Ibu, a...ku...mi...minta...to...long!"
"Minta tolong apa, Aisha? Katakanlah!"
Aisha meraih tangan ibunya, lalu memberikan surat yang tadi ditulisnya pada ibunya.
"I... Ini... U.. Untuk... De... Deva!" Ucap Aisha semakin terbata-bata.
"Aisha!" Ucap Deca tiba-tiba dari arah pintu.
Aisha menoleh, di bibirnya tersungging seulas senyum yang sangat indah saat melihat Deva.
Deva segera menghampiri Aisha dan menggenggam tangan Aisha dengan sangat erat.
"Su.. Suamiku, a... aku... mi... minta... maaf! A... aku.. sa... sangat... men...cintaimu! Se... selamat... Ti... tinggal!" Napas Aisha semakin tak beraturan, dan mulai pendek.
"Tidak! Tidak Aisha! Dokter! Cepat panggilkan dokter!" Teriak Deva sambil terisak.
"De.. Deva!"
"Ya, sayang! Kau harus kuat, kau harus bertahan! Jangan tinggalkan aku, Aisha! Kau bahkan belum melihat putri kita, kan? Sebentar, aku akan mengambilnya!" Deva keluar dari ruangan itu, lalu berlari menuju ruang perawatan bayinya dan kembali dengan menggendong bayi mungilnya itu.
Sampai di ruangan Aisha, Deva meletakkan bayinya di sisi Aisha yang napasnya sudah tersengal-sengal.
"Aisha, lihat ini! Bayi kita sudah lahir! Lihatlah! Bukankah kau sangat menginginkan bayi ini?! Lihat, dia sudah lahir! Dia sangat cantik, seperti dirimu!" Ucap Deva dengan tangis yang sudah pecah.
"To... Tolong... Ja.. Jaga... Sid... dan pu..putri... kita!"
"Tidak, Aisha! Kita akan menjaga dan membesarkan kedua anak kita bersama-sama!"
Aisha menyentuh pipi bayi itu, lalu tersenyum dan matanya mengeluarkan air mata saat melihat bayinya. Tak lama, datanglah dokter.
"Dokter, tolong istriku! Aku mohon, selamatkanlah dia!"
"Baiklah, kalian keluarlah! Kami akan segera melakukan tindakan!"
Deva, Aryan dan ibunya Aisha keluar bersama bayinya Aisha dan Deva. Dengan wajah tegang, mereka terus berdoa untuk hidup Aisha.
Hingga dokter keluar dari ruangan iti dengan wajah lesu.
"Dokter, apa yang terjadi pada istriku?"
Dokter menjawab pertanyaan Deva dengan wajah sedih dan kepala tertunduk, sedangkan Deva sangat terkejut. Saking terkejutnya, hampir saja ia menjatuhkan bayinya sendiri jika Aryan tidak cepat-cepat meraih bayi itu dari gendongan Deva.
"Tidak! Itu tidak mungkin!" Ucap Deva sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
**Wah apa yang dikatakan dokter ya???
Selamat membaca, jangan lupa like yaa**!!!
__ADS_1