
"Untuk apa kau menemuiku?" Tanya seorang pria yang berada di sebuah ruangan gelap tanpa sinar matahari sedikitpun pada seorang wanita. "Masih berani kau menunjukkan wajahmu, setelah apa yang sudah kau perbuat padaku dan Aisha?!"
"Bukan salahku, melakukan semua itu pada kalian berdua. Sudah kubilang, jika kau menuruti apa yang kau mau semua akan baik-baik saja!" Sambil menyeringai.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkannya! Dia adalah hidupku, hanya dia yang akan ada dihatiku, hanya dia wanita yang aku cintai setelah ibuku!" Dengan nada suara tegas.
"Kalau begitu, maka dengarkan ini baik-baik! Aku tidak akan membiarkan Aisha hidup tenang, Slaven Adeva Rafandi!" Sambil kembali menyerigai.
"Nona Yessi, kau punya cermin di rumah? Pasti tidak, bukan?! Kalau begitu aku akan membelikan sebuah cermin besar untukmu! Kau lihat dirimu di cermin itu! Ku akui kau memang sangat cantik, sayangnya hatimu tidak secantik wajahmu! Lihat perbedaanmu dan Aisha ku! Dia punya kelembutan, kecantikan hati yang lebih besar dari wajahnya, kasih sayang dan cinta yang besar untuk Suami, Anak, keluarga bahkan sahabatnya!
Dia menyayangimu seperti saudaranya sendiri, tapi kau berusaha menyakitinya dan mengambil apa yang telah menjadi miliknya! Silahkan saja berusaha sebisa mungkin, tapi aku hanya mencintai Aisha, hanya Aisha! wanita murahan sepertimu tidak pantas berada di sampingku, di samping Slaven Adeva Rafandi!" Jeda sebentar
"Jika kau kasihan pada dirimu sendiri dan keluargamu, maka berhentilah berusaha menyakiti keluargaku! Atau lihat apa yang akan terjadi pada nama baik keluargamu! Aku tidak segan-segan melakukan hal yang akan membuat kalian malu dan takut sampai akhir hidup kalian, camkan perkataanku baik-baik!" Ancam pria yang tak lain adalah Deva tersebut.
Deva lalu keluar dari ruangan gelap itu meninggalkan Yessi sendirian dengan wajah yang sudah terlihat ketakutan.
"Lihat saja, Deva! Aku tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun juga! Aku akan secepatnya menyingkirkan Aishamu itu! Kau pikir aku akan menyerah begitu saja? Kita lihat saja nanti, aku pasti akan menaklukanmu Adeva!" Meski sudah ketakutan, nyalinya tidak menciut begitu saja.
Yessi pun keluar dari ruangan gelap itu juga, dan memasuki mobilnya yang terparkir di luar ruangan gelap yang sebenarnya adalah tempat perkumpulan Deva dengan para anak buahnya.
Dari mobilnya, Yessi bisa melihat bahwa Deva masih berada disana dengan Reihan.
"Adeva, aku pasti akan memisahkanmu dengan Aisha! Rencana kemarin mungkin gagal, karena kebodohan anak buahku, tapi kali ini aku akan membuat Aisha pergi darimu!" Sambil menyeringai dan menghidupkan mesin mobil lalu melajukan mobilnya. Pada saat melewati Deva, Yessi menurunkan kaca mobilnya dan memandang tajam pada Deva. Sedangkan Deva tersenyum sinis padanya sampai mobil Yessi menghilang.
Setelah Yessi pergi jauh, Deva kembali berbicara dengan Reihan.
"Han, kau lihat dia?" Sambil memandang lurus jalanan.
"Ya tuan." Reihan mengangguk.
"Kau sudah tahu tugasmu sekarang?" Masih memandang lurus jalanan.
"Ya tuan, aku akan segera melakukannya."
"Jangan lupa, pantau terus seluruh kegiatannya dan lakukan penjagaan ketat pada rumahku! Kerahkan beberapa anak buah kita juga untuk mengikuti Aisha dan Sid kemanapun mereka pergi!" Kali ini menoleh pada Reihan.
"Siap, tuan. Tuan jangan khawatir, aku dan anak buahmu akan bekerja sebaik mungkin." Sambil membungkukkan badannya memberi hormat.
__ADS_1
"Aku tidak pernah kecewa dengan pekerjaanmu, jadi jangan pernah mengecewakanku. Apalagi jika menyangkut pekerjaan seperti ini!" Sambil menepuk pundak Reihan.
"Baik, tuan."
"Kau boleh pergi sekarang!" Reihan kembali memberi hormat pada Deva, lalu meninggalkan Deva sendirian disana.
Setelah Reihan pergi, Deva mengeluarkan ponselnya yang sedari masih di dalam gudang di mode bisukan.
Saat melihat ponselnya, begitu banyak notifikasi pesan dari Aisha.
*Kau dimana, suamiku?
Tadi kau bilang hanya sebentar, tapi kenapa lama sekali?
Heuh! Kau mulai menyebalkan, pesanku saja tidak kau balas*!
"Ternyata dia merindukanku, ya? Dasar manja." Gumam Deva sambil tersenyum.
Deva pun mengetikkan jarinya untuk membalas pesan dari Aisha.
Ada apa sayang? Baru 4 jam aku pergi, apa kau sudah merindukanku?
*Jangan terlalu percaya diri!
Lalu ada apa*?
Deva membalas lagi pesan Aisha dengan kening yang sudah berkerut.
Pulang sekarang! Tidak ada alasan.
Setelah membaca balasan lagi dari Aisha, Deva segera masuk ke mobilnya dan melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah. Dia sangat mengerti bahwa jika Aisha sudah mamakai kata "Tidak ada alasan" sudah pasti bahwa jika tidak dia pulang maka akan terjadi perang besar.
Deva sudah sampai di depan rumahnya, diapun turun dari mobil dan melangkah masuk ke rumah. Disana terlihat Aisha sedang duduk di sofa sambil memotret dirinya sendiri dengan kamera ponselnya.
"Aisha, ada apa menyuruhku pulang?" Tanya Deva berbasa-basi.
"Tidak ada, coba berikan ponselmu!" Sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Untuk apa?" Dengan wajah bingung, sambil mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Aisha.
"Jangan banyak tanya!" Ketus Aisha.
Deva hanya bisa menghela napas kasar dan ingin melihat apa yang akan Aisha lakukan pada ponselnya.
Aisha mulai memainkan ponsel Deva. Pertama-tama, Aisha membuka aplikasi kamera. Setelah itu memotret dirinya sendiri dengan ponsel Deva. Sudah banyak foto yang ada di ponsel Deva. Aisha pun melihat hasil fotonya, kemudian memilihnya dan menerapkannya sebagai walpaper.
Setelah selesai, Aisha memberikan ponselnya pada Deva yang sedaru tadi kebingungan memperhatikan Aisha.
"Ini, sudah! Ambilah." Sambil menyerahkan kembali ponsel Deva.
Deva mengambil ponselnya dari tangan Aisha, lalu memeriksa apa yang sudah dilakukan Aisha. Pada saat membukanya, Deva menghela napas kasar untuk kedua kalinya.
"Jadi hanya untuk ini kau menyuruhku pulang? Aku pikir ada yang penting!" Sungut Deva kesal.
Aisha tersenyum puas melihat ekspresi Deva yang sepertinya sudah kesal.
"Kenapa memangnya? Walpaper layar ponselmu itu tidak enak dipandang, jadi lebih baik memakai fotoku! Agar saat kau membukanya, kau akan selalu mengingatku dimanapun kau berada!" Sambil berdiri, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Deva.
"Hmmm.. Sepertinya istriku ini sudah pandai menggoda, ya? Belajar dari siapa?" Sambil menggendong Aisha ala bridal style.
"Tentu saja darimu, setiap malam kan kau yang selalu menggodaku!" Lalu menarik hidung Deva.
"Ternyata kau cepat sekali menguasai pelajaran cinta yang ku berikan!" Puji Deva sambil mengecup kening Aisha mesra.
"Kau tidak tahu ya? Dari kecil aku selalu bisa menguasai pelajaran apapun dengan cepat di sekolah, dan sekarang aku juga harus bisa menguasai pelajaran cinta yang kau berikan, agar kau setiap hari semakin sayang padaku!" Sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Deva.
"Aisha, asal kau tahu saja! Tanpa hal seperti ini aku akan selalu menyayangimu. Kau tahu kenapa?" Aisha menggeleng.
"Karena aku telah memberikan hatiku khusus untukmu." Lalu menurunkan Aisha dan memeluk Aisha.
"Suamiku, terima kasih untuk segalanya yang telah kau berikan. Cinta dan kasih sayang yang besar serta kebahagiaan ini, aku mencintaimu, sangat mencintaimu!" Lalu membalas pelukan Deva penuh kelembutan.
"Aku akan memberikan semuanya, semua yang kau inginkan selagi itu akan membuatmu bahagia dan selama aku masih mampu memberikannya. Hidupmu Hidupku Aisha, Jika kau bahagia maka aku juga akan bahagia. Aku juga sangat mencintaimu Aisha." Deva mengecup kening Aisha lagi dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
**Selamat Membaca, maaf ya kemarin tidak up author sedikit sibuk!!!
Jangan lupa like, coment dan votenya ya!!! Author butuh dukungan kalian supaya lebih semangat buat up nya**!!!