Ikatan Cinta Masa Kecil

Ikatan Cinta Masa Kecil
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Deva mulai mengantuk dan tertidur di sisi Aisha. Setelah Deva tertidur jari-jari Aisha mulai bergerak dan Aisha mengedip-ngedipkan matanya.


"S.. S.. Sid!" Ucap Aisha lemah.


pada saat Aisha ingin mengangkat tangannya, ia merasa ada seseorang ya.g memegangnya. Matanya pun mulai menerawang kesana kemari, hingga menangkap seorang pria sedang tidur sambil menggenggam sebelah tangannya.


Aisha kenal betul pria yqng tertidur itu. Aisha pun mengusap kepala pria yang tak lain adalah Deva, suaminya sendiri.


Deva merasa ada yang mengusap kepalanya, iapun mulai terbangun. Deva mendongakkan kepalanya dan tersenyum, ketika menyadari yang mengusap kepalanya adalah istri tercintanya itu.


"Kau sudah sadar?" Seru Deva sambil mencium tangan Aisha dan berdiri lalu kali ini Deva yang mengusap kening dan kepala Aisha dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.


Aisha mengangguk lemah dan berusaha untuk bangun.


"Tidak, kau tidak boleh duduk dulu, berbaringlah!" Perintah Deva sambil menahan Aisha yang akan duduk lalu kembali menidurkannya. "Tunggu sebentar, aku akan memanggil dokter!" Kata Deva sambil memencet tombol pemanggil dokter.


Tak lama dokter sudah memasuki ruangan Aisha beserta seorang perawat.


"Bu Aisha sudah sadar ternyata, ini sangat bagus! Kita akan mencoba menguji tubuh ibu Aisha apakah ada yang terganggu atau tidak pasca kecelakaan yang dialami bu Aisha. Tapi semua percobaan itu akan dilakukan setelah bu Aisha sudah stabil keadaannya." Jelas dokter itu sambil mulai memeriksa Aisha.


"Dokter, apa kita masih harus melakukan rontgen pada istriku?" Tanya Deva tiba-tiba.


"Ya,setelah bu aisha melakukan percobaan berdiri dan berjalan, akan tetapi jika bu Aisha berhasil melakukan percobaan itu maka rontgen tidak perlu dilakukan." Jawab dokter itu.


"Baiklah dokter." Angguk Deva.


"Bu Aisha, coba kau duduklah. Jika ada yang sakit katakanlah! Dan pak Deva coba kau bantu dia duduk!" Perintah dokter itu.


Deva kembali menghampiri Aisha dan memegang tangannya untuk membantu Aisha duduk.


Aisha berusaha untuk duduk dibantu deva. Akhirnya Aisha berhasil duduk dan tersenyum pada Deva.


"Bagus, bu Aisha. Dari hasil pemeriksaan juga keadaanmu sudah mulai stabil. Jika begitu ayo kita coba pemeriksaan percobaan, yang tadi ku katakan. Sekarang coba bu Aisha turun dan berdiri serta coba berjalan sedikit saja." Perintah dokter itu kembali.


Kini Aisha mulai berusaha turun dari blankar akan tetapi Aisha merasa kakinya sangat sudah untuk digerakkan.


"Kenapa kaki ku susah di gerakkan?" Tanya Aisha dengan nada yang sudah cemas.


"Tenang bu Aisha, pak Deva tolong di bantu!"


Deva pun membantu Aisha kembali dan Aisha mulai bisa menggerakkan kakinya sedikit demi sedikit.

__ADS_1


Aisha sudah berdiri dan menginjakkan kakinya di lantai.


"Coba berjalanlah bu Aisha!" perintah dokter itu. "Pak Deva maaf, tolong jangan di bantu agar kami bisa tahu keadaannya!" Perintah dokter itu.


Deva pun menjauh dari Aisha yang masih berdiri dengan tubuh yang agak gemetar. Aisha mulai melangkahkan kakinya akan tetapi pada saat langkah pertamanya tiba-tiba 'bruukk' Aisha terjatuh dan terduduk di lantai sambil memegang punggung bagian bawahnya.


Deva segera menghampiri Aisha yang sudah mengaduh kesakitan.


"Aduh,, Punggungku sakit sekali!" Ringis Aisha.


"Apa? Dimana yang sakit?" tanya Deva panik. Aisha pun menunjuk punggung bagian bawahnya.


"Dokter! Bagaimana ini?" Tanya Deva panik.


"Tolong naikkan dia kembali ke atas blankar, kami akan memeriksanya segera!" Balas dokter itu sambil memberi kode pada perawat yang datang bersamanya.


Deva pun mengangkat Aisha dan menidurkan Aisha yang masih meringis kesakitan ke atas blankar.


Tak lama datanglah beberapa perawat laki-laki membawa blankar lain.


"Pak Deva, kita harus melakukan rontgen sekarang pada bu Aisha!" Seru dokter itu.


"Pak, anda tunggu di luar!" Seru dokter itu. Deva pun duduk di kursi penunggu.


Sekitar 30 menit dokter keluar dari ruang rontgen.


"Bagaimana istriku?" Tanya Deva lada dokter itu.


"Beberapa jam lagi kita baru bisa melihat hasilnya." Kata dokter itu.


Aisha sudah dipindahkan kembali ke ruang rawat, Deva juga sudah berada disisinya.


"Suamiku, apa yang sudah terjadi padaku? Mengapa aku tidak bisa berjalan?" Tanya Aisha dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Tenanglah Aisha, kita akan lihat hasilnya nanti." Sambil memeluk Aisha.


"Apa aku cacat sekarang? Dan dimana Sid? Bagaimana keadaannya?" Tanya Aisha beruntun.


"Tidak Aisha, jangan berkata seperti itu! Kau akan baik-baik saja!" Tegas Deva.


"Sid baik-baik saja. Dia di rumah bersama bi Asih, kau tenang saja. Saat ini yang terpenting kau baik-baik saja." kata Deva menenangkan Aisha.

__ADS_1


"Syukurlah dia baik-baik saja. Maafkan aku, aku tidak bisa menjaganya dengan baik. Aku sudah lalai!" Lirih Aisha sambil menangis dan memeluk lengan Deva.


"Tidak, Aisha. Ini juga kesalahanku, seharusnya aku pulang lebih awal. Pasti semua ini tidak akan terjadi jika aku pulang lebih awal semalam." Kata Deva merasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Mungkin ini sudah takdir." ucap Aisha menerima keadaan.


menjelang siang dokter datang ke ruang rawat Aisha membawa sebuah gambar hasil rontgen tubuh Aisha.


"Pak deva, Bu Aisha.. hasil rontgen sudah keluar. Saya akan menjelaskan keadaan bu Aisha. Tapi, saya mohon anda jangan terkejut!" Dengan suara yang terbata-bata dan wajah ketakutan tak mampu menatap wajah Deva.


"Apa maksudmu dokter? Kenapa tidak boleh terkejut? Apa terjadi sesuatu pada istriku?" Tanya Deva dengan nada panik.


"Begini, lihatlah ini!" Sambil menyerahkan gambar dari hasil rontgen punggung Aisha.


"Bu Aisha mengalami cedera pada tulang punggung bagian bawah, sehingga membuatnya tidak bisa berjalan untuk sementara." Jelas dokter itu membuat Aisha menangis histeris dan Deva ternganga.


Kenyataan itu membuat Aisha benar-benar merasa sangat sedih. Deva sangat terkejut sekali mendengarnya.


Dia tak berkata apa-apa akan tetapi hatinya merasakan sakit yang begitu besar, melihat Aisha menangis histeris dengan kenyataan bahwa Aisha dinyatakan lumpuh sementara.


Deva memeluk Aisha dan menyeka air mata Aisha.


"Dokter, kapan dia bisa normal kembali?" Tanya Deva dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kami tidak bisa memastikan itu kapan, akan tetapi jika pak Deva setuju dan bersedia maka kami akan memberikan terapi dengan waktu 2 kali dalam 1 minggu, jika ingin nona Aisha bisa cepat normal kembali" Balas dokter itu membuat Deva kembali sedikit tenang.


"Ya dokter, aku bersedia. Lakukanlah apa yang terbaik untuk istriku!" Dengan wajah memelas.


"Baiklah, jika begitu aku pamit untuk kembali bekerja." Ucap dokter itu lalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Deva.


Aisha masih menangis dalam pelukan Deva.


"Lihat ini, aku cacat! Kau pergi saja, carilah wanita yang normal jangan bersamaku lagi. Pergilah!" Teriak Aisha.


"Cukup Aisha! Kau pasti akan sembuh! aku tidak akan pernah bersama dengan wanita lain selain dirimu! Aku akan selalu bersamamu! Tidak ada wanita lain yang boleh menggantikan posisimu di hatiku! Kau ingat baik-baik itu Aisha! Kau pasti akan cepat sembuh!" Ujar Deva memberi aisha semangat dan membuat aisha yakin bahwa Aisha akan sembuh secepatnya.


Hari itu adalah hari dimana cinta Aisha dan Deva kembali di uji.


**Bisakah Deva dan Aisha melewati ujian-ujian itu? Tetap ikuti Kisah cinta mereka ya!!!


Selamat membaca**!!

__ADS_1


__ADS_2