Ikatan Cinta Masa Kecil

Ikatan Cinta Masa Kecil
Meninggalnya Aisha-End


__ADS_3

"Pak, keadaan istrimu sudah sangat lemah! Denyut nadinya sudah sangat pelan, dan itupun hanya karena bantuan dari alat medis."


"Tidak, dokter! Kau berbohong, Aishaku pasti akan sembuh!"


"Tapi pak,-"


Tanpa menunggu dokter selesai berbicara, Deva segera memasuki ruangan dimana Aisha berada.


"Aisha, kau pasti hanya bercanda kan? Kau pasti hanya lelah, dan saat ini sedang beristirahat begitu kan? Aisha, bangunlah! Jangan tidur lagi! Lihat bayi kita membutuhkanmu, dia ingin di peluk olehmu!" Deva mengguncang-guncang tubuh Aisha.


"Deva, sudah cukup! Kita tunggu, semoga tuhan memberikan keajaiban pada Aisha!" Aryan memegang Deva, karena Deva terus mengguncang-guncang tubuh Aisha.


"Kak, pasti Aisha hanya bercanda kan? Dia hanya sedang tidur kan?" Tanya Deva pada Aryan.


"Bersabarlah Deva, berdoalah semoga Aisha bisa bertahan!"


Tiba-tiba saja, alat di samping Aisha berbunyi. Aryan segera memanggil dokter, sementara Deva sudah sangat panik dan ketakutan sambil mengguncang-guncang kembali tubub Aisha.


"Aisha, tidak! Jangan bercanda lagi, kau sudah sangat keterlaluan! Candaanmu ini tidak baik, Aisha! Bangun Aisha, bangunlah!"


"Permisi, pak! Kami akan memeriksanya kembali, jadi tolong keluarlah terlebih dahulu!"


"Tidak, aku akan tetap berada disini bersama Aisha!"


"Pak kami mohon, biarkan kami bekerja!" Ucap dokter sambil mendorong Deva keluar.


"Beraninya kau mendorongku!" Deva menarik kerah kemeja dokter itu, lalu bersiap untuk memukul dokter itu.


"Tidak, Deva! Ayo kita keluar dulu, biarkan dokter menangani Aisha!" Aryan dengan sigap menahan Deva yang sudah akan memukul dokter itu, dan membawanya keluar dari ruangan.


5 menit dokter memeriksa Aisha, dengan wajah lesu ia segera keluar dari ruangan diikuti perawat yang tadi datang bersamanya.


"Dokter, bagaimana adikku?" Tanya Aryan sambil menahan Deva, karena takut Deva akan berusaha menyerang dokter itu lagi.


Dokter menunduk, lalu menggelengkan kepalanya. Aryan mengerti apa yang ingin dokter itu katakan, sementara Deva tidak percaya.


"Apa maksudmu dokter? Apa kau tidak bisa menyelamatkannya?!" Bentak Deva.


"Maaf pak, tapi kami sudah berusaha dengan sangat keras!" Jawab dokter itu pelan.


"Tidak! Kembalikan Aishaku! Kau harua mengembalikannya!"


"Pak, aku bukan tuhan yang bisa menghidupkan kembali seseorang yang sudah tiada!" Ucap dokter itu sinis.


"Tapi dokter memberimu kepercayaan untuk menyelamatkan nyawa seseorang bukan? Lantas, mengapa kau tidak bisa menyelamatkan Aishaku?!" Deva kembali mencengkeram kerah kemeja dokter itu, Aryan kembali meraih Deva dan menahannya agar tidak terbawa emosi.


Dari luar datang ibunya Aisha mendorong Sid yang duduk di kursi roda beserta Resha.


"Ada apa ini?"Tanya ibunya Aisha yang terkejut menyaksikan menantunya sedang memandang seorang dokter dengan tatapan ingin membunuh.


"Ibu, Aisha sudah pergi selama-lamanya dari hidup kita." Jawab Aryan dengan suara bergetar.


"Apa? Tidak, itu tidak mungkin!" Sergah ibunya Aisha.


Braak


Ibunya Aisha jatuh pingsan, Resha meraihnya dan berusaha membangunkan ibunya itu.


"Bundaaa, tidak bunda tidak mungkin pergi meninggalkanku!" Tangis Sid.


"Tidak! Aisha hanya tidur! Dia hanya bercanda!" Teriak Deva sambil berjalan memasuki ruangan yang terdapat Aisha yang sudah tiada.


"Aisha, bangun! Kau pasti bercanda, kau tidak akan pernah pergi meninggalkanku!" Deva terus mengguncang-guncang tubuh Aisha.


"Aishaaaaaaaa......!!!" Teriak Deva sambil membanting seluruh peralatan yang ada disana, hingga Aryan yang sedang diluar mendengarnya dan masuk untuk melihat apa yang Deva lakukan.

__ADS_1


"Aaaaarrrrrrrrrrrggggggggghhhhhh......!!!!!!!" Deva kembali berteriak, dan membanting apapun yang ada disana.


"Deva, cukup hentikan! Kau harus menerima semua ini dan berusaha ikhlas! Cukup!" Aryan berusaha menahan Deva kembali.


Ternyata Deva sudah hilang kendali, tiba-tiba ia terduduk di lantai lalu menangis dan beberapa saat kemudian tertawa sendiri.


Deva berdiri dan menghampiri Aisha yang tak bernyawa lagi itu.


"Aisha, kenapa kau tidak bangun? Ayo kita pergi! Hahahaha" Deva kembali tertawa, membuat Aryan kebingungan melihatnya.


"Deva, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tertawa?"


"Kakak ipar, lihat itu! Aisha sedang marah padaku lagi, jadi sedari tadi dia tidur terus dan tidak mau membuka matanya!" Deva tersenyum, lalu menaiki ranjang dan berbaring disisi Aisha.


"Baiklah, Aisha! Kau tidak ingin bangun kan? Jadi aku juga akan ikut tidur denganmu!" Deva kembali tertawa, lalu sesaat kemudian menangis seperti anak kecil.


"Kakak, lihat itu! Aku tidurpun dia tidak membuka matanya!"


Ibunya Aisha yang sudah sadar membawa Sid dan anak-anaknya masuk. Lalu terkejut melihat keadaan Deva.


"Kak Aryan, apa yang terjadi? Kenapa Deva seperti itu?" Tanya Resha kebingungan.


"Sepertinya Deva terkena gangguan psikis, karena terlalu sedih." Jawab Aryan pelan.


"Deva, sadarlah nak! Relakan Aisha pergi, biarkan dia tenang disana!" Ucap ibunya Aisha sambil menangis sesenggukan.


"Ayah, ayah kenapa? Paman, Bibi, Nenek! Ayah kenapa? Bunda kenapa tidak bangun?!" Ucap Sid sambil mengelus tangan Aisha yang sudah pucat.


"Sid, bundamu sedang tidur dan tidak akan bangun lagi!" Jawab Resha sambil memeluk Sid.


"Bunda, bangun! Ayah, bunda kenapa?" Tangis Sid semakin keras, hingga membuat Deva terpancing untuk mendekatinya.


"Itu semua karena adikmu itu! Dia yang membuat bunda seperti ini!" Bentak Deva sambil menunjuk bayi perempuannya yang sedang berada di gendongan Risya.


"Aku akan mengakhirinya sekarang!" Deva mendekati Risya dan berusaha merebut bayi itu dari gendongan Risya.


"Risya, bawa bayinya pergi! Rasya, panggilkan dokter cepat!" Perintah Aryan sambil menahan Deva yang ingin mengejar Risya untuk mengambil bayinya.


Tak lama, dokter datang dan memeriksa Deva.


"Sepertinya dia mengalami trauma psikis dan gangguan mental, sebaiknya anda membawanya ke rumah sakit jiwa saja! Dan jauhkan dia dari hal-hal yang dapat memicu gangguan mentalnya bertambah!"


Semua menangis mendengar hal itu, sejak saat itu juga Deva selalu mengamuk jika melihat bayi keduanya itu. Selama tiga bulan setiap harinya Deva hanya melamun di kamarnya sambil memeluk foto Aisha di dadanya.


Ia hanya menganggap bahwa dirinya hanya memiliki seorang anak. Namun, karena bujukan dari keluarga Aisha yang kini tinggal di mansionnya perlahan Deva bisa menerima kehadiran putrinya itu.


Seperti saat ini, ia tak lagi mengamuk jika melihat bayinya itu. Bahkan sudah mau menggendongnya.


"Deva, berikanlah nama pada bayimu!" Ucap ibunya Aisha sambil memberikan cucunya itu pada Deva.


"Lakshmi Adeva Rafandi. Aisha sudah mempersiapkan nama jika kami memiliki anak perempuan. Itu adalah nama yang Aisha siapkan untuk putri kami.


"Baiklah, kita panggil dia Lakshmi!" Deva mengangguk sambil tersenyum menatap bayinya itu yang memiliki wajah yang hampir sangat mirip dengan Aisha. Terutama senyum dan matanya.


8 Tahun kemudian


"Ayah!" Ucap seorang gadis kecil pada seorang pria yang sedang duduk di rerumputan taman yang berada di halaman rumahnya.


Pria itu menoleh, dan tersenyum pada gadis kecil itu.


"Sayang, duduklah disini!" Ucap pria itu sambil menepuk-nepuk tempat di sebelahnya.


Gadis kecil itu duduk di sebelahnya, lalu pria yang sebenarnya ayahnya mengecup pipi chubby putrinya itu.


"Uhh! Ayah nakal, selalu cium-cium pipiku!" Protes gadis kecil itu.

__ADS_1


"Eh, memangnya ayah tidak boleh mencium pipimu itu?"


"Tidak! Karena ayah hanya mencium pipiku jika sedang merindukan ibu!" Lagi-lagi gadis kecil itu protes membuat sang ayah tertegun denga kata-kata yang di proteskan putrinya.


"Lakshmi, ayah tidak seperti itu! Bukankah setiap hari ayah mencium pipimu."


"Ayah, kenapa jika ayah rindu ibu selalu mencium pipiku?"


"Karena wajahmu sangat mirip dengan ibumu!" Jawab sang ayah sambil tersenyum pada putrinya yang bernama Lakshmi tersebut.


"Benarkah?" Tanya Lakshmi kembali dengan senyum yang merekah di bibirnya, sang ayah mengangguk lalu memeluk Lakshmi.


"Dimana kakakmu?" Lakshmi menggeleng, ayahnya pun berdiri.


"Ayo kita cari dia!" Lakshmi mengangguk, lalu meraih tangan ayahnya dan berjalan sambil menarik ayahnya.


"Aku disini ayah! Lakshmi, ayo kita bermain di ayunan itu!" Sid berlari menghampiri Lakshmi dan ayahnya, lalu menarik tangan Lakshmi dan membawanya menaiki ayunan itu.


Deva tersenyum melihat kedua anaknya itu, lalu menengadah kelangit dan memandang langit yang cerah itu.


"Kau lihat, Aisha? Kau pasti melihatnya dari sana! Putra da putri kita sudah besar! Putrimu itu bahkan sudah sangat mirip denganmu, sifatnyapun ikut mirip denganmu, sangat menyebalkan, manja, dan banyak protes!" Gumam Deva sambil tersenyum ke langit.


"Anehnya, 8 tahun berlalu tapi hatiku masih terasa sangat perih karena ditinggalkan olehmu! Kau tidak adil, kau jahat! Disana kau bahagia dan disini aku menderita hati karena kehilanganmu!" Lanjut Deva masih dengan tersenyum ke langit.


Tiba-tiba, langit yang cerah berubah menjadi gelap dan turunlah rintikkan hujan. Sid dan Lakshmi berlari menuju rumah.


"Ayah, ayo masuk ke rumah! Hujan sudah turun!" Deva mengangguk, lalu memberi isyarat pada kedua anaknya untuk masuk terlebih dahulu ke rumah.


Aisha, hujan ini selalu mengingatkanku padamu! Jika kita bertengkar kau selalu membiarkan hujan mengguyur dirimu!


Deva membiarkan dirinya basah di guyur air hujan. Air matanya mulai keluar dari pelupuk matanya. Di bawah guyuran air hujan ia menangis, mengingat seluruh kenangan Aisha bersamanya.


*Hujan belum usai


Rinainya masih berjatuhan di pelataran


hati yang bertabur duri,


kelopak bunga asmara perlahan tertunduk lesu dan pilu


Bahkan kuncup yang belum sempat merekah,


akhirnya kuyup dalam pasrah.


Hujan belum usai...


Sepenggak getir tersirat di antara gelagar petir,


memecah ruang di dada yang teramat sunyi


membenamkan rasa dalam balutan sepi..


Hujan belum usai...


Aku masih berjalan diantara derasnya luka yang berbekas


melukis derai tawa dalam lirihnya luka yang sulit reda.


Lihatlah,


aku semakin tersesat mencari jalan pulang.


Meski cahaya begitu terang*.


End...

__ADS_1


Selamat membaca! Jangan lupa Like ya!!!


__ADS_2