
Di siang hari yg cerah tepatnya hari minggu Deva dan aisha sedang bersantai berdua di sofa kamarnya sambil menonton tv. Keduanya tampak menikmati acara tv tersebut.
Sampai tiba-tiba ponsel deva berbunyi dan membuat aisha meliriknya tajam seketika.
"Mengganggu saja" ujar deva malas sambil menjangkau ponselnya dan melihat layarnya.
Deva membelalakan matanya ketika melihat nama yg tertera di ponselnya. Ia pun langsung berdiri dan berjalan meninggalkan aisha yg masih menatapnya untuk mengangkat teleponnya di luar.
aisha yg masih terpaku dan terheran mulai menyimpan ribuan pertanyaan di dalam hatinya 'kenapa dia mengangkat teleponnya sambil menjauh dariku?biasanya dia selalu mengangkatnya didepanku! apa jangan-jangan...Ah tidak! tidak mungkin masalah serius' batin aisha berusaha tidak mencurigai Suaminya itu.
Aisha tak mau larut dengan pikiran negatifnya itu ia pun memilih berbaring di sofa karena kepalanya mulai pusing.
Di luar
Deva terlihat sedang berdebat dengan seseorang di teleponnya dengan wajah yg sangat serius.
"Apa kau bilang?" tanya deva dengan nada emosi
"Apakah kau tuli?" tanya orang di telepon itu.
"Tidak! Tapi dengar baik-baik! kau bukan siapa-siapa esok atau lusa aku akan membuatmu tidak berdaya!" ancam deva.
"Lihat saja istrimu akan ku buat menderita" penelepon itu balik mengancam.
"Jika kau berani membuat istriku sedih sedikit saja maka hari itu juga kau akan menderita sampai kau lebih ingin mati saja!" ancam deva lebih garang.
"Kita lihat saja Tuan Adeva!" ucap penelepon itu penuh ancaman.
Deva terlihat sangat marah dan geram karena penelepon tadi. Ia melempar semua benda-benda yg ada di sekitarnya hingga ada yg patah dan pecah. Untung saja ibu ratih sudah pergi ke london jika tidak pasti ia dijamin akan mendapat masalah tambahan.
Di kamar
Aisha tidak bisa tidur karena mungkin hari masih siang. Ia mulai merasa mual kembali. Aisha pun segera berlari menuju kamar mandi dan iapun memuntahkan isi perutnya di kamar mandi. Selesai memuntahkan isi perutnya iapun mencuci wajahnya yg terlihat pucat.
Setelah itu aisha keluar dari kamar mandi namun kali ini ia juga berjalan keluar menuju dapur sebelum sempat keluar dari kamar ia mendengar suara barang-barang sedang di lempar ia pun segera menghampiri suara itu karena takut ada hal yg berbahaya.
__ADS_1
Alangkah terkejutnya ia ketika mendapati suaminya sedang mengamuk dan melempar barang-barang yg berada di lorong menuju kamar mereka.
"Sayang! kau kenapa? mengapa kau marah-marah seperti ini?" tanya aisha heran.
Deva tidak menjawab aisha dia hanya duduk di lantai dan mengepalkan tangannya.
"Arrrrgggghhh" teriak deva membuat bi asih datang kesana. Aisha yg melihatnya tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya menghampiri deva sambil berhati-hati takut deva melempar sesuatu lagi.
"Sayang kau kenapa?" tanya aisha heran sambil mengguncang-guncang tubuh deva.
Deva pun mengangkat kepalanya entah kenapa dia jadi bersedih melihat aisha mengkhawatirkannya dan langsung memeluknya. Aisha yg semakin bingung hanya menoleh pada bi asih dan sebaliknya bi asih pun menoleh lalu menggeleng.
"Sayang ada apa?" tanya aisha lembut sambil membalas pelukan deva.
"Tidak sayang! Tidak ada apapun" jawab deva yg sudah mulai tenang dan merada bersalah membuat aisha khawatir seperti itu.
"Jika tidak ada apa-apa mana mungkin kau seperti ini? seperti orang yg sedang depresi! coba jelaskan!" pinta aisha masih dengan wajah khawatir" bi asih! tolong ambilkan segelas air dan bawa ke kamarku!" lanjut aisha pada bi asih.
"Baik non" ucap bi asih sambil segera bergegas ke dapur.
"Ayo suamiku kita ke kamar lalu ceritakan apa yg telah terjadi hingga kau bisa sampai seperti ini" ucap aisha sambil membantu deva berdiri.
Flashback
Deva terkejut melihat nama yg tertera di layar ponselnya. Ia merasa seperti bermimpi mendapat telepon dari rival abadi nya 'Davine' . Ya davine adalah musuh besar deva sedari dulu bahkan bukan hanya davine tapi keluarganya adalah musuh besar deva dan ayahnya. Karena ayahnya davine lah yg telah mencelakakan ayahnya deva hingga tewas mengenaskan.
"Untuk apa pembunuh ini meneleponku" gerutu deva kesal. Lalu ia pun mengangkatnya.
"Hallo Adeva! apa kabarmu rekan?" ucap davine dalam telepon.
"Apa kau bilang?" tanya deva dengan wajah datar.
"Apa kau tuli?" tanya davine kembali.
"Tidak! Tapi dengar baik-baik! kau bukan siapa-siapa esok atau lusa aku akan membuatmu tidak berdaya!" ancam deva.
__ADS_1
"Lihat saja istrimu akan ku buat menderita" Davine balik mengancam.
"Jika kau berani membuat istriku sedih sedikit saja maka hari itu juga kau akan menderita sampai kau lebih ingin mati saja!" ancam deva lebih garang.
"Kita lihat saja Tuan Adeva!" ucap Davine penuh ancaman."Kau pikir dengan menahan ayahku aku akan menjadi lemah? tidak aku bahkan lebih leluasa membuatmu dan perusahaanmu jatuh secepatnya! lihat saja wanitamu itu yg akan menanggung akibat dari keberanianmu itu!" lanjut davine lalu memutus telepon.
Flashback end
Di kamar deva bingung harus menjelaskan apa pada aisha tiba-tiba saja sebuah ide melintas dalam pikirannya.
"Sayang!" panggil deva pada aisha yg sedang menanti penjelasan deva.
"Ya ada apa?" tanya aisha masih dengan kecemasan.
"Beberapa hari ini tinggalah di rumah orang tuamu dulu ya?" tanya deva berharap aisha setuju.
"Memangnya kenapa?" tanya aisha mulai kecewa dengan sikap suaminya.
"Begini sayang! aku harus pergi ke luar negeri ada urusan yg sangat penting dan aku tidak mungkin membawamu dalam keadaan seperti itu,tidak mungkin juga aku meninggalkanmu sendirian di rumah ini" jelas deva. Deva tau istrinya kecewa dengan apa yg deva lakukan saat ini.
"Tapi di rumah ada bi asih bukan?dan juga pelayan lainnya!" ucap aisha sambil mulai menangis.
"Tidak bi asih akan pulang kampung dan aku tidak percaya pada pelayan lainnya! aku mohon sayang untuk kali ini jangan keras kepala, ini demi anak kita dan juga menyangkut keselematanmu dan anak kita!" bujuk deva.
Aisha mulai sedikit luluh walaupun masih kecewa karena suaminya akan berada jauh darinya. "Baiklah" ucap aisha yg mulai terisak.
Deva pun memeluknya dan juga mulai menangis merasa bersalah harus berbohong pada istrinya.
"Sayang kemarin aku membeli mangga untukmu! ayo makan mangganya akan ku ambilkan di kulkas!" bujuk deva.
"Hah? benarkah?" tanya aisha dengan mata berbinar dan mulai senang.
Deva pun pergi ke dapur lalu kembali dengan sekantung plastik besar berisi mangga.
"Waaah banyak sekali!kemarikanlah aku akan memakannya" seru aisha semangat lalu menyambar kantung plastik itu dari tangan deva.
__ADS_1
Aisha begitu sangat menikmati mangga itu sampai hampir 2 kg mangga yg dihabiskannya. Deva bersyukur aisha tidak lagi bersedih karena sikapnya saat ini.
Maaf ya author cuma up 1 episode aja insya Allah besok ditambah lagi...