
Flashback
Seorang pria baru turun dari pesawat, dengan senyuman yang tak luput dari bibirnya. Entah apa yang membuat dia tersenyum seperti itu.
"Pak Dendi Adiwijaya?" Seorang pria paruh baya menghampirinya lalu memanggilnya.
Pria muda itu menoleh, lalu tersenyum dan mengangguk.
"Ya, itu saya. Bapak supir yang menjemput saya?"
"Ya tuan muda, saya supir yang diperintahkan nyonya menjemput anda." Lalu membungkukan badanya tanda hormat.
"Hmmm.. Baiklah, ayo kalau begitu kita langsung pulang! Setelah ini aku harus menemui seseorang yang sangat penting!" Pria paruh baya itu mengangguk, lalu berjalan di depan Dendi, dibelakangnya Dendi melangkahkan kaki mengikuti supir dengan masih menyunggingkan senyum di bibi tebalnya.
Aku sudah kembali, dia pasti senang dengan kedatanganku! Batin Dendi.
Mereka sudah sampai di parkiran, Supir membukakan pintu mobil untuk Dendi. Dendi segera memasuki mobilnya dan duduk bersandar. Mobil pun segera melaju dengan kecepatan sedang, akan tetapi Dendi menikmatinya.
Selama perjalanan Dendi tertidur di mobil, hingga saat sudah sampai di pekarangan rumahnya ia dibangunkan oleh supir.
"Tuan muda, kita sudah sampai di rumah!" Dendi sedikit terperanjat, lalu segera turun dari mobil.
Di depan pintu rumah sudah seorang wanita dan seorang pria yang tak lain adalah kedua orang tuanya, sedang menyambutnya. Dendi kembali tersenyum lalu menghampiri kedua orang tuanya dan memeluknya.
"Apa kabar Mom, Dad?"
"Kami baik, dan kau?"
"Yeaahh, seperti inilah!" Sambil kembali memeluk ayahnya.
"Ayo masuk, Momy sudah menyiapkan makanan kesukaanmu!" Seru Mala sang ibu.
"Tunggu mom, dimana Rhea? Dan juga kakak?!" Dengan mata menerawang kedalam pintu yang sudah terbuka.
"Rhea belum pulang, kakakmu pergi mengajak istrinya ke dokter karena istrinya sedang tidak sehat."
"Ooo... Ya sudah, ayo masuk mom."
Merekapun masuk ke dalam rumah, lalu memasuki ruang makan yang sudah terdapat berbagai macam makanan di atas meja makan.
Dendi duduk di dekat sang ayah, begitupun ibunya menempati sisi lain di dekat suaminya.
"Bagaimana disana, Den? Apa kuliahmu lancar?" Arga sang ayah membuka pembicaraan.
"Ya, dad. Semua berjalan dengan baik." Jawab Dendi sambil tersenyum pada ayahnya.
__ADS_1
"Lalu perusahaan kita yang ada disana?" Arga kembali bertanya.
"Jangan cemas dad, perusahaan kita mulai kembali stabil. Ada perusahaan besar yang membantu kita dengan memasukkan sahamnya ke perusahaan kita!"
"Perusahaan siapa itu? Dan apa nama perusahaannya?" Sambil mengerutkan dahinya.
"Nama CEO sekaligus pemilik perusahaannya adalah Slaven Adeva Rafandi, dan nama perusahaannya SAR Entertainment Group. Perusahaan Entertainment terbesar di posisi ke 7 di dunia." Dendi menjelaskan segalanya.
"Bagus, Den! Itu akan sangat cepat membuat perusahaan kita menjadi besar!"
"Iya, Dad. Semoga itu benar." Jawab Dendi sambil tersenyum.
"SAR Entertainment Group itu, bukankah pusatnya berada disini?" Arga kembali bertanya.
"Ya, dad. Di london itu salah satu cabang perusahaannya."
"Hmm.. Baiklah, ayo makanlah."
Merekapun mulai melahap makanan masing-masing. Tak lama dari arah pintu datang Rhea, adik yang sangat dinanti-nanti oleh Dendi kedatangannya.
"Rhea, kau sudah pulang! Lihat ini, kakakmu sudah pulang!" Ucap Mala sambil menunjuk Dendi.
Rhea menoleh ke arah yang di tunjuk ibunya, Dendi tersenyum ke arah Rhea. Bukannya ikut tersenyum, Rhea malah terkejut dengan kehadiran kakaknya.
"Eh, kak Dendi sudah pulang ya?" Rhea pura-pura berbasa-basi pada Dendi.
"Aku baik, kapan kakak datang?" Tanya Rhea sambil membalas pelukan Dendi sebentar lalu melepasnya.
"Setengah jam yang lalu, ayo makanlah dulu!" Sambil menarik tangan Rhea.
"Tidak, aku tidak lapar. Kalian saja yang makan, aku izin ke kamar dulu untuk istirahat." Rhea menolak, lalu segera berlalu menuju kamarnya tanpa menunggu jawaban dari ketiga orang yang menatapnya dengan tatapan bingung.
Dendi menggeleng, adiknya masih belum berubah seperti saat ia pergi ke London untuk kuliah dan mengurus perusahaan disana.
"Mom, dad, aku sudah selesai makan! Aku juga izin pergi ke kamar untuk beristirahat."
"Ya, istirahatlah! Kau pasti lelah, nak!" Balas Mala sambil mengangguk.
Dendi segera berlalu menuju kamarnya, tapi bukan masuk ke kamarnya sendiri melainkan berdiri di depan pintu kamar Rhea adiknya yang sudah tertutup rapat.
Dendi mencoba membuka pintunya, berhasil. Pintunya tidak di kunci. Rhea sedang berdiri menghadap jendela sambil berbicara dengan seseorang di ponselnya.
"Aisha, kau pergi ke pameran malam dimana?" Tanya Rhea pada orang yang berbicara di ponselnya itu.
"Di taman XX, aku dan Deva hanya mengantar Sid saja! Dia ingin membeli beberapa pakaian murah di sana untuk diberikan pada temannya." Jawab Aisha pada Rhea.
__ADS_1
"Ya sudah, nikmati saja pameran malam itu! Aku sudahi dulu ya teleponnya, bye!" Rhea memutuskan teleponnya.
Dendi yang mendengar pembicaraan antara Rhea dan Aisha, langsung tersenyum gembira.
"Rhea, kau bicara dengan siapa di telepon?" Ucapan Dendi sedikit membuat Rhea terkejut dan berbalik lalu menatapnya dengan tatapan tajam.
"Kakak dari tadi disini? Kakak menguping pembicaraanku dan Aisha ya?" Tanya Rhea dengan tuduha pada Dendi.
"Jadi Aisha yang tadi bicara denganmu di telepon?" Tanya Dendi kembali dengan wajah yang berbinar.
"Ya, memangnya kenapa?" Tanya Rhea masih dengan tatapan tajam.
"Dimana dia sekarang?"
"Dia sedang di pameran malam yang berada di taman XX." Jawab Rhea.
"Kakak akan kesana, jika mom dan dad mencari bilang saja kakak ke rumah teman untuk menemui teman-teman kakak yang menunggu disana!" Dengan wajah berbinar.
"Tapi-..." Rhea tidak menyelesaikan kata-katanya karena Dendi sudah berjalan meninggalkan Rhea yang akan berbicara lagi.
Dendi melajukan mobilnya menuju tempat yang disebutkan Rhea, sesampainya disana ia segera memarkirkan mobilnya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, seorang wanita yang sangat di kenalinya sedang duduk sendirian di bangku itu.
Dendi segera melangkahkan kakinya menuju wanita itu sambil tersenyum senang.
"Aisha, apa kabar?" Dendi membuka suara dan memberanikan diri bertanya pada Aisha.
Aisha tidak menoleh, tapi pada detik berikutnya Aisha menoleh dengan wajah yang terkejut memandang Dendi yang berada di hadapannya.
Dendi tersenyum, Aisha menatapnya dengan tatapan tajam.
"Kau?" Sambil menunjuk ke arah Dendi.
Flashback end
Pria itu, yang tak lain adalah Dendi masih terduduk di tanah sambil memegangi sudut bibirnya yang terluka dan berdarah akibat pukulan dari Deva.
Jadi, memang benar Aisha sudah memiliki suami? Tapi kenapa? Kenapa dia meninggalkanku dan menikah dengan pria itu? Ah, apa dia dijodohkan oleh paman Lucas? Tapi kenapa Aisha sepertinya sangat mencintai pria itu?! Aku harus mencari tahu alasan Aisha menikah dengan pria itu secepatnya! Batin Dendi.
Dendi segera berdiri, lalu mengelap darah yang mengalir di sudut bibirnya dan merapihkan pakaiannya yang sudah sangat berantakan.
Beberapa orang yang sejak tadi menyaksikan adegan itu, meringis melihat keadaan Dendi. Tetapi enggan untuk menanyakan, sampai seorang wanita muda menghampirinya.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya wanita itu.
Dendi menoleh, lalu menggelengkan kepala sambil tersenyum. Setelah itu, ia berjalan gontai menuju mobilnya yang terpakir rapih tak jauh dari bangku yang tadi di duduki Aisha.
__ADS_1
Dia memasuki mobilnya, lalu segera melajukan mobilnya untuk kembali ke rumahnya.