Ikatan Cinta Masa Kecil

Ikatan Cinta Masa Kecil
Mogok Bicara


__ADS_3

Pulang makan malam, Aisha dan Deva disambut dengan hal yang sangat membuat mereka terkejut bukan main.


Ya, mereka disambut dengan kemarahan Sid sang putra sulung mereka.


"Ayah dan bunda darimana?" Tanya Sid dengan mata yang sembab karena menangis ketika tahu bahwa Aisha dan Deva pergi keluar tanpa mengajaknya.


"Bunda dan Ayah pergi ke rumah sakit." Jawab Aisha berbohong.


"Iya sayang, ayah pergi antar bunda ke rumah sakit. Sid, kenapa belum tidur? Ini sudah jam 10 malam?" Deva berusaha mengalihkan pembicaraan supaya Sid tidak marah berkepanjangan.


"Bohong, ayah dan bunda bohong!" Sid tahu bahwa keduanya berbohong, sebab pakaian Aisha dan Deva sangat bagus seperti pakaian untuk pesta.


"Ayah tidak bohong!" Sambil menunjukkan 2 jari tangannya pada Sid.


"Suamiku, sudahlah. Jangan berbohong padanya lagi! Percuma, kau tahu sendiri bukan? Saat ini kita memakai pakaian seperti ini, mana mungkin mengunjungi rumah sakit!" Timpal Aisha.


"Tuh kan, ayah bohong!" Teriak Sid.


"Maaf Sid, ayah hanya ingin mengajak bunda jalan-jalan biar bundamu tidak jenuh di rumah." Sambil mengelus kepala Sid, tapi Sid menolaknya dengan menepisnya.


"Ayah jahat! Tidak mengajakku!" Lalu berdiri dan kembali menangis.


"Sid, maafkan bunda ya! Bunda sudah ingin mengajakmu, tapi ayah bilang hanya akan pergi berdua saja dengan bunda."


"Aisha, kenapa kau menyudutkanku?" Dengan bibir cemberut yang sudah seperti kerucut.


"Hei, memang kau yang mengajakku tadi itu bukan?! Dan kau juga yang bilang bahwa kita akan pergi berdua saja! Aku sudah akan mengajak Sid tadi, tapi kau melarangku!"


"Berisik, ayah sama bunda! Kalian jahat, aku tidak mau bicara dengan kalian!" Sambil berlari dan masuk ke kamarnya.


"Lihat itu! Dia jadi marah, semua gara-gara kau!" Bentak Aisha.


"Hei, Aisha! Tapi kau tadi juga setuju bukan?" Dengan nada sinis.


"Heuh! Kau memang tidak mau kalah!"


"Tapi,...-"


"Sudah diam! Aku sangat lelah, dan kau malah mengajakku berdebat!" Sambil berlalu masuk ke kamar.


"Huft! Dasar nenek lampir, selalu saja menyalahkan aku!" Deva menggerutu kesal, lalu menyusul Aisha masuk ke dalam kamar sambil menggerutu tidak jelas. Dalam hatinya Deva merasa sangat kesal.


Baru saja tadi bermesraan, tapi sekarang dia sudah kerasukan roh Dewa Hanuman yang perkasa lagi. Ampuni aku Ya Tuhan! Kenapa istriku menyebalkan sekali?! Ah tapi tidak apa-apa, walaupun menyebalkan tapi dia selalu memberiku olahraga panas malam-malam, jadi aku tetap sayang dan cinta!


Deva tersenyum sendiri, lalu berbaring di sisi Aisha yang sudah tertidur nyenyak.

__ADS_1


Pagi harinya di meja makan,suasana menjadi canggung, hal itu disebabkan karena Sid yang biasa banyak bicara saat sedang makan kali ini jadi diam seribu bahasa.


Deva menoleh pada Aisha dan lalu menunjuk Sid dengan dagunya. Aisha menggeleng tanda tidak tahu.


"Sid!" Deva memanggil Sid, akan tetapi Sid tidak menjawabnya.


"Sid, masih marah?"


Sid masih tidak menjawab, dia hanya fokus pada makanan yang di sajikan bi Asih.


Deva pun berhenti makan, lalu berdiri dan duduk di samping Sid yang duduk di posisi jauh darinya. Padahal biasanya Sid selalu duduk di sebelah ayahnya.


"Sid, kau masih marah pada ayah? Maaf nak, ayah tidak bermaksud tidak mengajakmu. Kau tahu bukan kondisi bunda bagaimana?" Deva mencoba membujuk Sid.


"Hmmm." Sid menjawab sama persis seperti Aisha jika sedang marah.


Aisha ternganga melihat putranya menjawab seperti itu.


"Ya Tuhan, anak dan ibunya sama saja jika sedang marah!" Ucap Deva sambil terkekeh.


Aisha pun ikut tersenyum, tapi lain dengan Sid. Dia masih fokus dengan makanannya.


"Sid, ayah bicara denganmu!" Deva mulai jengkel karena sedari tadi di acuhkan oleh anaknya.


"Aku tidak mau bicara dengan ayah!" Ketus Sid lalu menyimpan sendok dan garpu dengan keras.


Setelah itu Sid pergi meninggalkan Aisha dan Deva keluar.


"Suamiku, sepertinya dia benar-benar marah! Cepat kau susul dia, dan bujuklah dia!" Dengan wajah yang sudah sedih.


"Baiklah, aku berangkat ke kantor ya! Jaga dirimu baik-baik, jika butuh apa-apa telepon saja aku atau Reihan!"


"Ya." Sambil mengulurkan tangannya dan disambut oleh tangan Deva, lalu Aisha mencium tangan suaminya.


Diluar Sid sudah berada di dalam mobil bersama supir. Wajahnya masih tetap sama, yaitu wajah tanpa ekspresi-datar.


"Pak, kenapa masih belum maju juga?" Sid bertanya pada supir dengan nada kesal.


"Tuan muda, kita harus menunggu ayah tuan dulu." Jawab supir dengan nada ramah.


"Heuh! Tinggalkan saja dia!" Ketus Sid, lalu menghela napas kasar dan menyandarkan punggungnya ke jok mobil dengan kasar.


Tak lama Deva memasuki mobil dan duduk di samping Sid. Sid memalingkan wajahnya ke arah kaca mobil.


Deva pun menghela napas panjang.

__ADS_1


"Pak, ayo jalan! Antarkan Sid ke sekolah dulu, baru mengantarku ke kantor!" Perintah Deva.


Supir mengangguk, lalu segera melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan Sid terus memalingkan wajahnya. Saat Deva mengelus kepalanya bahkan selalu ditepis.


"Sid, ayah tahu kau masih marah! Tapi jangan bersikap seperti ini, itu tidak sopan. Ayah ini orang tuamu!" Deva mulai emosi dengan sikap Sid yang mulai tidak sopan padanya.


"Ayah jahat!" Sid mulai membuka suara. "Kalian sudah tidak menyayangi aku!"


Deva kembali menghela napas pelan.


"Sid, ayah minta maaf! Ayah hanya ingin bunda merasa tidak jenuh, kau tahu sendiri keadaan bunda bukan? Tolong maafkan ayah dan bunda! Ayah janji akan membawamu kemanapun kau mau, asalkan kau tidak marah lagi pada bunda dan ayah. Kasian bundamu pasti sedih karena kau marah padanya." Kali ini Deva berkata dengan wajah pasrah.


"Benarkah, yah?" Dengan wajah antusias.


"Iya, sayang!" Deva tersenyum kikuk.


Ya ampun, jika tahu semudah ini membujuknya seharusnya dari kemarin saja! Kenapa aku tidak memikirkan itu! Benar kata Aisha, aku memang konyol, konyol, konyol!


"Kenapa tidak dari kemarin dan tadi saja, yah?" Sid mencibir.


"Ayah pikir kau tidak akan mau. Hehe!" Deva terkekeh sendiri, walaupun sebenarnya malu karena dia terlihat bodoh di depan supirnya sendiri.


Deva bisa melihat dengan jelas, bahwa supirnya sedang tersenyum memperhatikannya dan Sid.


"Hei, kenapa kau tersenyum? Apa kau mengejekku?" Semprot Deva pada supirnya.


Supirnya pun langsung menunduk ketakutan.


"Ti.. Tidak tuan! Hehehe." Dengan tergagap karena ketakutan.


"Cepat sedikit, bisa tidak?! Bisa-bisa aku terlambat jika kau mengendarai mobil ini seperti jalan siput!" Semprot Deva kembali.


"Ba.. Baik tuan."


Akhirnya sampailah mereka di sekolahan Sid.


"Sid, jangan nakal di sekolah, turuti kata guru! Ayah pergi ke kantor dulu. Nanti kau akan di jemput supir pulangnya!" Sambil mencium kening dan pipi Sid.


"Baik, yah! Tapi, bisa tidak jangan menciumku? Aku malu dilihat teman-teman!" Deva membelalakkan matanya mendengar kata-kata Sid.


"Ya ampun kau ini masih kecil! Gengsimu tinggi sekali! Ya sudah, ayah berangkat!" Sambil menepuk-nepuk kepala Sid, lalu masuk kembali ke mobil dan melambaikan tangan.


Sid pun masuk ke dalam kelasnya, setelah mobik ayahnya sudah menghilang.


Selamat Membaca!!!

__ADS_1


__ADS_2