Ikatan Cinta Masa Kecil

Ikatan Cinta Masa Kecil
William Lothaire


__ADS_3

Setelah memastikan Aisha pergi bersama bi Asih, Deva kini memandang pria yang sudah diikat di kursi yang tadi dipakai untuk mengikat Aisha.


"Bagaimana William? Kau masih ingin membalaskan dendam kekalahan bisnismu itu padaku?" Dengan nada sinis pada pria yang bernama William itu.


"Diam kau brengsek!" Bentak William sambil berusaha membuka tali yang mengikatnya.


"Kau yang brengsek! Berani sekali kau menculik istriku! Kau ingin menggunakan istriku sebagai alat untuk menjatuhkanku? Hah?! Aku memang biadab dengan mengakhiri nyawa orang dengan mudahnya! Akan tetapi aku tidak pernah menggunakan wanita sebagai alat! Apalagi wanita itu tidak tahu apa-apa!" Bentak Deva sambil mengambil pistol dari dalam jasnya dan mengangkatnya lalu menodongkan pistol itu ke kepala William.


"William Lothaire sekarang sebelum kematian datang padamu aku akan memberi kejutan terlebih dahulu padamu!" Ucap Deva dengan seringaian yang sangat mengerikan.


William kini tampak mulai ketakutan, semakin ia berusaha melepas tali yang mengikatnya maka semakin anak buah Deva mengencangkan ikatan tali itu hingga membuat tangannya memerah dan berdarah.


"Apa maksudmu?" Tanya William.


"Bawa kemari!" Perintah Deva pada Ridan yang sedari tadi berdiri di belakangnya.


Ridan pun keluar dari gudang itu dan kembali membawa seorang anak perempuan mungil yang mempunyai wajah yang hampir sangat mirip dengan William.


"Ayaah.." Ucap anak itu sambil menangis.


"Fanny!" Seru William dengan wajah yang sangat terkejut. "Tidak! Apa yang kau lakukan? Lepaskan dia! Jangan libatkan dia dalam hal ini, aku mohon!" Pinta William dengan wajah memelas.


Ya, Fanny adalah putri semata wayangnya William dari mendiang istrinya yanh sudah tiada saat Fanny masih bayi.


"Apa? Melepaskannya? Haha, tentu saja tidak akan!" Bentak Deva lalu tertawa sinis. "Kau saja tega menculik bahkan menyekap istriku yang sedang mengandung anakku! Jangan pernah berharap putrimu ini akan kulepaskan!" Bentak Deva.


"Tidak! Aku mohon, dia tidak tahu apa-apa! dia hanya anak kecil, jika kau mau habisi saja aku tapi jangan putriku!" Kata William dengan raut wajah yang sudah sangat ketakutan.


"Ayaaahh... Ayaahh... Fanny tatut hiks.. Hiks.." Lirih Fanny dalam tangisnya dengan kata-kata yang masih belum bisa diucapkannya dengan jelas.


"Bawa dia pergi pada Aisha!" Perintah Deva pada Ridan. Karena anak itu tidak mau melangkahkan kakinya terpaksa Ridan menggendongnya walaupun anak itu menangis dan menjerit-jerit memanggil ayahnya, Ridan tidak bergeming sama sekali, ia terus berjalan menggendong anak itu dan membawanya keluar.


"Ayaaahhhhhh.... Fanny tidak mau itut om jahat ini!" Teriak Fanny. "Fanny mau itut ayah.. Fanny ingin cama ayah! Hiks.. Hiks." Lanjut Fanny membuat William mengeluarkan air matanya.


"Fanny! Tidak aku mohon jangan bawa dia pergi! Jangan menjauhkannya dariku! Kau tahu dia adalah putriku satu-satunya!" Dengan wajah panik.


"Kau tahu konsekuensi mengganggu keluargaku? Lihat! sekarang kau harus membayar perbuatanmu! Aku tidak akan pernah mengembalikan putrimu padamu! Aku tidak akan pernah membiarkan anak sepolos anakmu itu bersama dengan ayah sepertimu! Biadab, br*ngsek!! Aku tidak akan pernah memberikannya pada pembunuh sepertimu! Ingat!!! Kau dendam tentang bisnis padaku, tapi kau tidak tahu bukan?! Aku menuntut balas dendam atas kematian ayahku!" Bentak Deva sambil menarik kerah baju William.


"Jadi kau sudah tahu?" Tanya William dengan wajah tambah ketakutan.


"Tentu saja William Lothaire! Tentu aku tahu! Bahkan kau membuat ayahku menabrak istriku saat itu! Kau membuatnya hilang ingatan dan membuat ayahku kehilangan nyawanya! Tentu aku tahu! Aku Slaven Adeva Rafandi!! Adeva!! tentu saja Adeva akan segera mengetahui segalanya!" Ucap Deva membuat William semakin ketakutan dan lemah.

__ADS_1


"Hahahahaha.." Tiba-tiba William tertawa membuat Deva semakin marah dan mengambil pisau yang berada di tangan anak buahnya lalu melemparnya tepat di dada William.


"Nyawa dibalas nyawa William! Darah dibalas darah! Kau tidak pantas hidup biadab!" Teriak Deva lalu mengarahkan pistolnya ke arah kepala William.


'Dooorr' Deva menembakkan pistolnya dan pelurunya tepat mengenai kepala William.


Saat itu juga William tewas mengenaskan di tempat itu.


Deva pun memberi isyarat pada anak buahnya untuk mengurus jasad William.


Anak buah Deva pun mengangguk dan segera melaksanakan perintah Deva.


"Reihan! Ikutlah denganku!" perintah Deva.


Reihanpun segera mengikuti Deva.


"Urus surat adopsi Fanny!" Perintah Reihan.


"Baiklah tuan, besok pagi aku akan segera mengurusnya." Patuh Reihan.


Merekapun segera meninggalkan gudang itu untuk pulang.


Flashback


Mereka tampak menatap ayahnya Deva dengan raut wajah yang sinis dan iri.


"Lihat itu! Dia bangga sekali!" Ketus pria tua itu pada putranya yang bernama William.


"Iya ayah, tapi lihat saja dia tidak akan tersenyum terus. Sebentar lagi dia bahkan tidak akan bisa membuka matanya!" Ucap William dengan senyum jahatnya.


"Apa kau sudah merencanakan sesuatu, putraku?" Tanya ayahnya William.


"Sudah, aku akan menyuruh orang lain untuk melakukannya." Masih dengan tersenyum jahat.


"Putraku ini memang cepat sekali dalam gerak-geriknya." Ucap ayahnya William sambil memegang pundak William.


"Tentu saja ayah! Jika begitu ayo kita pulang dan merayakan akhir hidupnya di rumah sambil menunggu kabar kematiannya!" Lalu segera pura-pura berpamitan pada ayahnya Deva dengan alasan lelah.


"Baiklah, terima kasih sudah datang!" Seru ayahnya Deva dengan senyuman ramah.


Merekapun segera pergi.

__ADS_1


Setelah pesta perayaan selesai, ayahnya Deva pun juga bergegas pulang ke apartemen dan setelah itu akan pulang ke london menemui keluarganya serta memberitahukan kemenangannya pada istri dan putranya Deva.


Di tengah perjalanan semua masih normal tidak ada kendala. Ayahnya Deva menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang bisa dibilang sangat cepat.


Tak lama ia sudah sampai di apartemen akan tetapi ayahnya Deva terkejut karena mobilnya tidak bisa di berhentikan.


"Apa? Apa yang sudah terjadi kenapa remnya tidak berfungsi?" Gumanya pada dirinya sendiri.


Mobil terus melaju, ayahnya Deva berusaha mengendalikan mobilnya akan tetapi malah menjadi semakin oleng tak terkendali.


Di tengah kepanikan itu ia melihat seorang anak perempuan tengah berlari.


"Nak, awas! Minggirlah!" Teriak ayahnya Deva.


Akan tetapi anak itu tidak mendengarnya.


'Braakkk' anak itu tertabrak sedangkan ayahnya Deva masih berusaha mengendalikan mobil itu lalu membanting setirnya hingga menabrak trotoar lalu mobilnya terguling-guling hingga hancur.


Orang-orang mulai mengerumuni mereka dan beberapa petugas ambulance serta polisi sudah datang.


Seorang dokter keluar lalu memeriksa anak yang tertabrak dan ayahnya Deva.


"Anak ini masih hidup!" Seru dokter itu. "Cepat bawa dia ke rumah sakit!" Teriak dokter itu pada beberala petugas Ambulance


"Lalu bagaimana bapak ini?" Tanya seseorang yang tiba-tiba datang.


Dokter itu mulai mengecek nafas dan denyut nadi ayahnya Deva.


"Dia sudah tidak bernyawa." Ucap dokter itu.


Flashback end


Deva kembali teringat hari dimana ayahnya tewas dan dimana Aisha tertabrak ayahnya hingga hilang ingatan.


Sepanjang perjalanan dia membayangkan kenangan bersama sang ayah tercinta hingga sampai di apartemen Aisha.


Sesampainya di dalam apartemen Deva mendapati Aisha sudah tertidur pulas. Deva pun memasuki kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Setelah itu ia segera membersihkan dirinya dan keluar dari kamar mandi. Deva segera memakai pakaiannya dan membaringkan dirinya di sisi Aisha.


Deva memeluk Aisha lalu tak lama tertidur nyenyak.


**Bersambung...

__ADS_1


Selamat membaca**!!!


__ADS_2