Ikatan Cinta Masa Kecil

Ikatan Cinta Masa Kecil
Menjauh Atau Tiada


__ADS_3

Sore hari yang cerah Aisha, Deva dan Sid sengaja berjalan-jalan di taman hiburan malam.


"Aisha, kau dan ketiga sahabatmu itu sudah berapa lama menjalin persahabatan?" Tanya Deva pada Aisha yang sedang asyik meminum jus alpukat yang baru saja dibelikan Deva.


"Berbeda-beda." Jawab Aisha lalu kembali meminum jusnya.


"Berbeda bagaimana?" Dengan wajah bingung.


"Aku dan Farah, kami teman dari kecil dan kau tahu betul itu. Aku dan Rhea, kami teman dari SD. Sedangkan Yessi kami teman dari waktu pertama kali aku masuk ke kampus dan Dar-..." Kata-kata Aisha terhenti saat Deva sudah memelototi Aisha.


"Maaf." Ucap Aisha sambil terkekeh.


"Cukup! jangan ucapkan nama laki-laki B*jingan itu, aku tanya tiga teman, tapi kau mau menjelaskan empat teman!" Ketus Deva.


"Maaf, maaf sayang! Aku tidak sengaja!" Sambil mencubit pipi Deva.


"Aku tidak suka itu!" Sungut Deva kesal.


"Maaf sayang!" Lalu mengecup bibir Deva singkat.


"Baiklah, lanjutkan ke yang tadi. Selama kalian berteman, apa tidak pernah ada masalah antara kalian? Seperti menyukai seseorang tapi seseorang itu menyukai orang yang tidak menyukainya?"


"Pernah." Sambil mengingat-ingat.


"Bagaimana?" Sambil memasang wajah penasaran.


"Sayang, kenapa kau jadi ingin tahu seperti ini?!" Mulai curiga.


Hmmm... Dia pasti curiga, sebaiknya aku berpura-pura saja dengan pengalamam masa kuliahnya dan bagaimana caranya mempertahankan persahabatannya selama itu. Deva menemukan sebuah ide yang mungkin ide yang tidak masuk akal.


"Memangnya tidak boleh, ya? Aku hanya kagum padamu, bisa mempertahankan persahabatan kalian selama itu. Kau tahu, Sahabatku dari kecil hanya dirimu! Dan bertambah satu orang, kau pasti tahu siapa!" Sambil terkekeh.


"Reihan, benar kan?" Tanya Aisha ikut terkekeh.


"Ya, itupun tidak mudah. Dulu dia anak sekretaris ayah." Sambil mengingat kembali.


"Aku tidak bertanya!"


"Kau menyebalkan!" Sambil menjewer telinga Aisha.


"Sudah, ayo kita pulang! Aku sudah lelah, Sid juga sudah diam sedari tadi." Sambil menggendong Sid yang sedang duduk di sebelah Aisha.


"Baiklah, ayo! Aku juga sudah lelah." Sambil berdiri dan berjalan mendahului Deva yanga menggendong Sid menuju arah parkiran.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sebuah gudang, Yessi sedang berbicara dengan beberapa pria yang tak lain anak buahnya.


"Bagaimana? Apa kalian sudah bisa melaksanakan rencana pertama?" Sambil membelakangi anak buahnya dan menyeringai.


"Ya, bos. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja." Jawab salah satu anak buahnya yang bernama Roy.


"Jika bisa, hari ini juga kita harus memulai rencana itu!" Seru Yessi.


"Tidak bisa, bos. Karena saat ini Adeva dan istrinya sedang bersama."


"Baiklah, aku minta secepatnya saja laksanakan! Jangan sampai gagal lagi, atau aku akan memenggal kepala kalian dan akan ku persembahkan ke lautan!" Ancam Yessi, hingga membuat para anak buahnya ketakutan.


"Baik bos."


"Kalian bisa meninggalkan tempat ini sekarang juga!" Perintah Yessi sambil mengibaskan tangannya.


Sepeninggal anak buahnya, Yessi tersenyum sinis sambil bergumam sendiri.


"Lihat Adeva, setelah ini kau tidak akan bisa menolakku lagi. Dan Aisha? Kau tidak akan pernah bisa melihatnya lagi hingga akhir hidupmu! Hahaha." Sambil tertawa sinis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Entah mengapa ada sesuatu yang musik hatinya, membuatnya resah dan gelisah.


"Ada apa ini? Kenapa aku tiba-tiba gelisah seperti ini?!" Sambil berjalan menunu balkon kamarnya.


"Suamiku, kau mau kemana? Sudah malam begini kenapa kau malah pergi ke balkon? Udaranya sangat dingin, kembalilah!" Teriak Aisha dari dalam.


"Ya, nanti! Aku hanya ingin melihat bulan dari sini!" Jawab Deva berbohong.


"Memangnya kenapa dengan bulan?" Aisha sudah berada di belakang Deva"


"Ya ampun Aisha! Kau mengagetkanku saja, aku pikir kau tidak kesini!" Sentak Deva sambil mengelus dadanya.


"Hehe, maaf aku sengaja!"


"Sengaja? Menyebalkan!" Ketus Deva sambil mencubit pipi Aisha.


"Tadi kau bilang sedang melihat bulan, lalu mana bulannya? Kenapa aku tidak melihatnya?" Sambil menerawang ke langit.


"Aisha, dari tadi bulannya tidak ada dan tidak mau muncul. Tapi, sekarang bulannya sudah muncul!" Sambil merangkul Aisha.

__ADS_1


"Mana? Kau jangan berbohong, aku tidak melihatnya!" Kembali menengadah dan menerawang ke langit yang gelap dan disinari kerlap kerlip bintang.


"Ini bulannya, bulan tercantik yang pernah aku temui dan sedang aku miliki." Sambil menunjuk kening Aisha.


"Apa?" Sambil menundukkan wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus.


"Ya, kau adalah bulan yang aku cari!"


"Kau ini!" Aisha memukul dada Deva pelan lalu memainkan kancing kemeja Deva.


"Sudah, ayo tidur!" Sambil menarik tangan Aisha.


Aisha pun mengikuti Deva. Sesampainya di dekat ranjang Aisha memeluk punggung Deva.


"Aisha, tetap seperti ini! Sebentar saja, entah mengapa nyaman sekali." Sambil menahan tangan Aisha yang melingkar di badannya.


"Suamiku, ini sudah malam. Sekarang kita tidur saja." Ajak Aisha sambil melepaskan pelukannya.


"Ayo, peluk aku saat tidur! Jangan lepaskan aku walaupun hanya sedetik saja, Aisha!" Lirih Deva pelan.


"Tentu saja suamiku, aku tidak akan pernah melepaskanmu apalagi melepaskanmu untuk yang lain. Kau hanya milikku, dan milikku!" Balas Aisha.


Merekapun membaringkan diri di ranjang, Aisha memeluk Deva hingga tertidur pulas. Sedangkan Deva masih belum bisa tertidur. Saat ini wajahnya terlihat gelisah dan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


Ya Tuhan, semoga tidak akan ada sesuatu hal yang buruk menimpa Aisha dan anak-anak kami. Semoga ini hanya angan-anganku saja. Aku tidak akan sanggup jika Aisha sampai mengalami hal yang buruk. Jauhkanlah dia dari marabahaya. Batin Deva, lalu mencoba menutup kedua matanya, akan tetapi masih tidak bisa.


Tiba-tiba ponsel Deva berbunyi, Deva pun terperanjat dan melepas pelukan Aisha lalu mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya.


Setelah melihat siapa yang menghubunginya, Deva segera membawa ponsel yang masih berbunyi itu ke balkon.


"Untuk apa kau menghubungiku? Kau masih berniat untuk memisahkan kami, begitu kan? Sudah aku bilang, sekeras apapun usahamu memisahkan kami, hanya maut yang dapat memisahkan kami!" Ucap Deva dengan nada penuh penekanan.


"Hahahaha, Adeva kau lucu sekali! Kita lihat saja nanti, kau pasti akan memohon padaku untuk hidup kalian!" Jawab penelepon itu.


"Yessi! Dengarkan baik-baik! Kau hanya dua pilihan denganku, Menjauh atau Mati! Jika kau tidak menjauhi aku dan keluargaku, kau akan mati mengenaskan di tanganku! Kau camkan baik-baik kata-kataku ini!" Ancam Deva denga suara tinggi.


Ancaman Deva seperti tidak ada pengaruhnya bagi Yessi, bahkan sama sekali tak membuatnya ketakutan.


"Oh ya, memangnya kau mampu menghabisiku? Kau lupa ya, ayahku adalah pimpinan Mafia terbesar di daerah ini! Kau tidak akan selamat jika berhadapan dengannya!"


"Apa? Hahahaha! Kau bangga sekali! Kita lihat, siapa yang akan tiada! Jika kau ingin tahu, aku lebih memilih tiada di tangan ayahmu, daripada harus menjadi milikmu!" Lalu memutuskan sambungan telepon dam bergegas kembali masuk ke dalam kamar, sebelum kembali tidur Deva menyuruh para penjaga mengunci seluruh pintu dan jendela di rumahnya terlebih dahulu.


Sebelum author lanjut up, mohon bantuannya ya, Jangan lupa Like dan Vote ya!!! Terima kasih, selamat membaca!!!

__ADS_1


__ADS_2