
"Aisha, sahabatku tersayang! Lihat ini aku punya kejutan besar untukmu!" Yessi menyeringai sambil memperlihatkan ponselnya dan memutar video yang isinya adalah dimana pemakaman ayahnya.
"Tidak, tidak! Itu tidak mungkin!" Tangis Aisha kembali pecah, Aisha merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Kau tidak percaya ya? Itu benar, Aisha! Ayahmu tersayang itu sudah tiada!" Sinis Yessi lalu tertawa sekeras mungkin.
"Ayah, tidak mungkin itu ayah! Deva, selamatkan aku!" Aisha mulai berteriak meminta pertolongan, walaupun ia tahu bahwa itu mustahil.
"Berteriaklah sekeras mungkin! Tidak ada yang akan bisa membawamu pergi dari sini!" Aisha tidak bisa berkata-kata lagi, saat ini yang ada di pikirannya adalah benarkah bahwa ayahnya memang meninggal? Tapi kenapa?
"Hei kau, bawa anaknya itu kemari!" Perintah Yessi pada anak buahnya.
Anak buahnya segera pergi, lalu kembali lagi dengan menyeret Sid hingga terjatuh.
"Tidak! Cukup, hentikan! Aku mohon jangan menyakiti Sid! Sakiti saja aku, dia tidak punya salah apapun padamu!" Yessi menyeringai.
"Baiklah, kali ini aku berbaik hati padamu." Kemudian Yessi memberi isyarat pada anak buahnya untuk mengikat Sid di kursi seperti Aisha.
"Sid, kau baik-baik saja kan, anakku?"
"Bunda tenang saja, aku baik-baik saja. Biarkan mereka menyakitiku saja, aku tidak ingin bunda kenapa-kenapa!" Ucap Sid membuat Aisha terharu.
"Sepertinya drama antara kasih sayang ibu dan anak akan dimulai, lanjutkan saja! Aku tidak sudi melihat drama kalian!" Sinis Yessi sambil beranjak meninggalkan Aisha disana.
"Kau, lepaskan ikatan mereka! Dan beri mereka makan dan juga waktu untuk memainkan dramanya! Jangan lupa kunci pintunya jika kau akan pulang! Awas saja jika kau ceroboh, aku akan menghabisimu" Perintah Yessi pada anak buahnya.
Setelah Yessi pergi dan juga anak buahnya pergi setelah melepaskan ikatan mereka, Aisha segera memeluk Sid.
"Bunda!" Sid memeluk Aisha dengan sangat erat.
"Sid, anakku kau baik-baik saja kan? Apa ada yang sakit?" Aisha memeriksa tubuh Sid, disana terdapat beberapa tanda merah bekas pukulan Yessi.
"Bunda, kapan ayah kesini untuk membawa kita pulang? Aku tidak mau disini! Mereka selalu memukul kita disini!" Lirih Sid dalam tangisnya.
Aisha memeluk Sid lagi, dan berkali-kali mengecup keningnya.
"Percayalah, ayah pasti akan datang dan membawa kita pergi dari sini. Sekarang tidurlah, anakku! Bunda akan menjagamu, tidak akan ada yang bisa menyakitimu lagi!" Aisha menidurkan Sid di pangkuannya.
__ADS_1
"Bunda, aku lapar." Aisha menangis mendengar anaknya lapar.
"Maaf sayang, saat ini kita tidak punya makanan." Sid tersenyum, lalu menidurkan dirinya di pangkuan ibunya.
"Bunda, adik bayi di dalam pasti juga lapar." Ucap Sid sambik mengelus perut Aisha.
"Kau benar, Sid. Tapi bunda saat ini tidak punya makanan apapun." Aisha kembali terisak, lalu memegang tangan Sid yang sedang mengelus perutnya. Sid mulai terpejam di pangkuannya, hingga pintu terbuka dan seorang anak buah Yessi menyerahkan makanan pada Aisha.
"Nona, makanlah makanan ini. Kasihan kau dan anakmu pasti kelaparan. Maafkan aku nona, aku tidak bisa membantumu lebih dari ini. Percayalah dan berdoalah selalu pada Tuhan, semoga secepatnya tuan Deva datang untuk menyelamatkanmu!" Aisha tak percaya mendengar apa yang dikatakan anak buah Yessi.
"Nona, aku mohon maafkan aku tidak bisa membantumu. Aku merasa berdosa membiarkanmu seperti ini, tapi jika aku mengeluarkanmu dari sini pasti nyonya Yessi akan menghabisiku dan keluargaku." Ucap pria itu sambil menyodorkan 2 botol air dan sekantung makanan pada Aisha.
"Terima kasih, tidak apa-apa. Tapi apa kau bisa membantu untuk satu hal? Aku mohon pak?!"
"Katakan, nona!" Angguk pria itu.
"Aku mohon, berikan suamiku satu informasi agar dia bisa menyelamatkan kami! Dan kau juga, aku berjanji jika kau menyelamatkanku maka kau juga akan diselamatkan suamiku!" Aisha menyatukan kedua telapak tangannya, lalu memohon pada pria di hadapannya itu.
"Nona, dengan senang hati aku akan melakukan itu. Aku akan menganggap ini adalah sebuah penebusan dosaku untuk semua hal buruk yang telah aku perbuat. Sekarang makanlah makanan ini bersama anakmu, aku akan menjauh dulu dari sini. Baru aku akan mengabari suamimu!" Aisha mengangguk, lalu pria itu segera meninggalkan Aisha.
Aisha membangunkan Sid, dan mengajak Sid untuk memakan makanan itu.
"Aisha, dimana kau saat ini? Apa kau dan Sid baik-baik saja?" Air mata tak henti-hentinya membasahi pipi Deva sejak tragedi penculikan Aisha, hingga sudah hampir 1 hari 1 malam Deva masih beluk bisa menemukan Aisha.
"Deva, makanlah dulu! Kau belum makan dari pagi!" Ucap aryan yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.
"Bagaimana aku bisa makan? Sedangkan aku tidak tahu apa anak dan istriku sudah makan atau belum saat ini? Dan apa yang harus aku katakan tentang ayah, jika nanti aku bisa menemukan Aisha?"
Aryan menepuk pundak Deva, Deva langsung memeluk Aryan.
"Bersabarlah Deva, Aisha pasti akan ditemukan! Percayalah, sepandai apapun Yessi menyembunyikan Aisha pasti dia akan meninggalkan jejak yang bisa menjadi petunjuk untuk kita!" Deva menatap Aryan.
"Kau benar, tapi aku takut jika Yessi akan menyakiti Aisha dan Sid."
"Jika begitu, ayo kita mulai mencari lagi Aisha! Sebelum dia berbuat lebih pada Aisha, karena Yessi belum mendapat reaksi apapun dari kita!" Deva mengangguk.
"Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan?"
__ADS_1
"Kita tidak perlu melakukan apapun, seorang anak buah kepercayaanku sudah melakukan apa yang harus kita lakukan. Sebentar lagi dia pasti akan memberi angin segar untuk kita!" Ucap Aryan sembari tersenyum, sedangkan Deva menatap Aryan dengan wajah heran.
"Makanlah dulu, agar kau memiliki tenaga untuk mencari Aisha lagi."
Aryan lalu meninggalkan Deva, tetapi Deva masih tetap pada posisinya menatap lurus keluar jendela kamar Aisha, karena saat ini ia berada di rumah orang tua Aisha.
Deva mengeluarkan kotak berisi jam tangan yang diberikan Aisha sebagai kado ulang tahunnya, lalu memakai jam tangan tersebut.
"Aisha, ini adalah kado paling mengesankan pada ulang tahunku. Bahkan mama sekalipun tidak pernah membelikan aku kado yang sangat mengesankan seperti ini. Sayangnya, kado inilah yang membuatmu diculik, karena aku memintamu mengambilkan kado ini kau jadi diculik." Gumam Deva sambil melepaskan kembali jam tangan itu.
Deva menyimpan kembali jam tangan itu di kotaknya dan menyimpannya di atas meja rias.
Ceklek
Suara pintu dibuka mengagetkan Deva. Ternyata ibunya Aisha yang datang ke kamar.
"Nak Deva."
"Ibu, ada apa?" Tanya Deva sambil menghampiri ibunya Aisha.
"Ibu hanya ingin bertanya, apa sudah ada kabar mengenai Aisha dan anakmu?"
Deva menggeleng.
"Sebenarnya siapa yang sudah menculi anak dan cucu ibu? Kenapa mereka melakukan itu? Apa sebenarnya masalah mereka sehingga mereka menculi Aisha?"
Deva pun menghela napas panjang, lalu menceritakan segalanya pada ibunya Aisha.
"Yessi? Maksudmu Yessi temannya Aisha?" Deva mengangguk, lalu menunduk dihadapan ibunya Aisha.
"Ibu tidak habis pikir, kenapa Yessi begitu dendam terhadapmu? Bahkan sampai mendendam juga pada Aisha! Cinta itu tidak bisa dipaksakan, dan itu bukan salahmu Deva! Kakaknya Yessi terlalu naif, hingga dia tergila-gila padamu!"
"Bu, bukan hanya itu! Tapi dibalik hubungan kami waktu itu juga ada permainan orang tuanya yang ingin menguasai harta keluargaku." Deva kembali menceritakan segalanya hingga ibunya Aisha benar-benar terkejut mendengar apa saja yang telah dilakukan Yessi pada Aisha.
Bersambung...
Selamat membaca...
__ADS_1
Jangan lupa like ya, karena like gratis dan tidak dipungut biaya!