
Malam itu, sebuah rumah sudah seperti lapangan perang. Bagaimana tidak? Seorang orang wanita sedang sibuk melemparkan benda-benda disekitarnya pada seorang pria.
"Bagaimana kau bisa lupa,hah?! Aku yakin kau sudah tidak menyayangiku lagi!" Sambil melempar bantal pada pria yang tak lain adalah Deva. Dan yang melempar bantalnya? Siapa lagi jika bukan Aisha?!
"Tapi Aisha, malam-malam begini dimana aku harus mencari mangga muda?" Dengan wajah ketakutan karena Aisha sudah akan kembali melayangkan bantal ke arah Deva.
"Aku tidak ingin tahu! Kau mau mencari sampai ke Kutub Utara juga tidak apa-apa, yang pasti dan penting kau harus dapat mangga muda untukku!"
"Hah?! Besok saja ya, sayang? Aku janji akan memberi apapun yang kau mau, asalkan besok saja aku mencari mangga mudanya!" Dengan wajah memelas.
Aisha berfikir keras, lalu menemukan sebuah ide. Sesungging senyum jahil pun tercipta di bibir ranumnya itu.
"Baiklah, tapi kau harus berjanji seperti yang tadi kau katakan!" Sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Ya sayang, apapun yang kau minta aku akan memberikannya!"
"Ya sudah, cepat kau mandi lalu makan malam!" Sambil mengambil handuk lalu memberikannya lada Deva.
"Ya, sayang." Sambil meraih handuk dari tangan Aisha. Setelah itu langsung berlalu menuju kamar mandi.
Sepeninggal Deva, Aisha tak berhenti tersenyum sambil duduk di ranjang.
"Lihat saja, suamiku! Kapan lagi aku punya kesempatan seperti ini!" lalu terkikik.
Pagi harinya Aisha kembali merengek-rengek, jika semalam karena ingin mangga muda, kali ini Aisha menginginkan sesuatu yang lebih sulit dan susah di temukan.
"Ayolah, suamiku! Aku mohon, aku ingin makan Karedok Leunca, dan ingin memakannya langsung di Bandung!" Sambil memohon dan pura-pura menangis.
"Artinya kita harus ke Bandung dulu, begitu?" Tanya Deva memastikan.
"Tidak, suamiku! Kita harus ke Kongo dulu!" Ketus Aisha.
"Sayang, aku serius!"
"Jika kau tahu, kenapa bertanya lagi?!" Dengan wajah datar.
"Maaf, sayang. Aku hanya memastikan."
"Apa?!" Teriak Aisha dengan wajah kesal.
"Kenapa kau berteriak? Apa aku salah bicara?" Dengan wajah panik.
"Up to you!" Sambil melipat kedua tangannya di dada dan memasang bibir cemberut.
Deva pun menghela napas panjang, dan menghampiri Aisha.
"Sayang."
"Hmmm.."
__ADS_1
"Sayang..."
"Hmmmmm..."
Lalu keduanya diam tak mengatakan apapun.
Deva kembali menghela napas panjang.
"Baiklah, sayang. Besok kita ke Bandung, sambil mengajak Sid jalan-jalan agar mengenal kota Bandung. Kota kelahiran ayah dan bundanya ini!" Sambil merangkul Aisha lalu mengecup keningnya.
"Benarkah?!" Dengan wajah yang sangat antusias.
"Ya sayang!" Sambil memeluk Aisha.
Dalam pelukan Deva, Aisha terkikik.
"Kenapa kau tertawa, sayang?" Deva bertanya karena merasa heran saat mendengar Aisha tertawa pelan.
"Tidak, aku hanya merasa geli di peluk seperti ini!" Sambil berusaha menahan tawanya.
Esok harinya, Aisha, Deva, dan Sid sudah bersiap-siap untuk pergi ke Bandung.
Sepanjang perjalanan Aisha tidak berhenti menceritakan masa kecilnya dan Deva pada Sid. Terutama menceritakan bahwa ia dan Deva sudah saling mencintai sejak kecil. Kadang saat Aisha menceritakan kekonyolan Deva, Sid tertawa terbahak-bahak. Deva sendiri juga ikut tertawa.
"Kau tahu, Sid?! Sejak kecil ayahmu selalu bermain dengan perempuan, bahkan dia juga cengeng!"
"Benarkah? Ayah laki-laki kenapa cengeng?" Tanya Sid sambil melirik Deva.
"Apa? Coba kau ulangi, suamiku! Dulu badanku itu yang terbagus di sekolah!" Jawab Aisha tak ingin kalah.
Akhirnya perdebatan antara Pandawa dan Kurawa pun dimulai. Sedangkan Sid langsung menutup kedua telinganya dengan tangannya.
"Sudah! Ayah, Bunda! Kalian berisik!" Sid melerai perdebatan yang menjurus ke ke banyak arah itu.
"Lihat, kan! Kau membuat Sid berteriak pada kita!" Deva kembali memulai perdebatan.
"Apa? Kenapa kau malah menyalahkan aku? Kau yang meledekku lebih dulu!" Jawab Aisha dengan nada sengit.
"Kau yang mengataiku cengeng, Aisha!"
"Bukankah itu fakta?" Aisha mencibir Deva.
"Ya tapi..-" Aisha meletakkan jari telunjuknya di bibir Deva.
"Sudah ku bilang kau cengeng itu fakta!" Tegas Aisha tak terbantahkan.
"Tapi itu dulu!" Protes Deva. "Sekarang aku adalah Slaven Adeva Rafandi seorang CEO dari Perusahaan SAR Entertaintment Group. Pria yang tampan, gagah dan perkasa!" Deva menyombongkan dirinya.
"Cuiih... Sombong sekali!" Cibir Aisha.
__ADS_1
"Tentu saja, sayang!"
"Dengar, Sid! Jika kau sudah besar nanti, kau tidak boleh sombong seperti ayahmu yang konyol ini!" Aisha menasehati Sid sekaligus mengatai Deva.
"Ya bunda, ayah memang sombong dan..." Sid menoleh pada ayahnya sebentar lalu menoleh pada Aisha. "Pelit."
"Pelit? Kenapa kau mengatai ayah pelit?" Tanya Deva tak terima.
"Tidak, yah." Sid menjawab santai.
"Hmm.. Ya sudah."
Keheningan pun tercipta. Tak ada lagi yang berdebat atau bersuara sedikitpun, hanya ada suara deruman mesin mobil.
Sekitar pukul 4 sore, mereka sudah tiba di Bandung.
Deva membangunkan Aisha dan Sid yang tertidur di dalam mobil.
"Aisha, Sid! Bangunlah, kita sudah sampai di Bandung!" Sambil menepuk pundak keduanya.
Aisha dan Sid terbangun.
"Kita sudah sampai, ya?" Tanya Aisha dengan suara khas bangun tidur.
"Ya, sayang. Ayo, kita masuk ke Villa!" Sambil turun dari mobil, lalu membukakan pintu mobil untuk Aisha dan menggendong Sid yang masih tertidur.
Mereka masuk ke Villa yang sama sewaktu Pernikahan mereka dulu.
"Sayang, kita istirahat saja dulu ya?! Besok baru kita mencari makanan yang kau inginkan itu. Apa namanya? Kretek Lecha?" Aisha pun tertawa mendengar Deva mengucapkan kata-kata yang salah.
"Kenapa kau tertawa?! Memangnya ada yang lucu ya?" Dengan wajah bingung.
"Tentu saja ada! Sejak kapan Karedok Leunca berubah menjadi Kretek Lecha?!" Lalu kembali tertawa.
"Hehehe... Aku lupa." Ucap Deva sambil terkekeh.
"Baiklah, ayo istirahat dulu! Aku juga sudah lelah." Sambil berjalan ke arah kamar dan membukakan pintu kamar untuk Deva yang menggendong Sid.
Deva menidurkan Sid di ranjangnya, kemudian membuka koper dan mengambil handuk.
"Kau mau mandi?" Tanya Aisha sambil menarik tangan Deva.
"Ya. Memangnya kenapa?" Sambil berbalik menghadap Aisha.
"Tidak, lebih baik kau istirahat dulu! Nanti saja mandinya!"
"Baiklah, kau juga istirahat dulu! Kau tidak boleh kelelahan. Ingat, sekarang kau sedang mengandung lagi bayi kita!" Sambil mengelus perut Aisha yang masih datar.
Merekapun akhirnya beristirahat sejenak, karena mereka kelelahan akibat perjalanan jauh dari Jakarta menuju Bandung. Hingga mereka terbangun saat waktu sudah hampir malam.
__ADS_1
Malam itu tidak ada yang melakukan kegiatan apapun, mereka hanya menikmati waktu malam di gazebo yang berada di belakang Villa Deva. Setelah itu kembali beristirahat karena masih lelah.
Selamat Membaca...