Ikatan Cinta Masa Kecil

Ikatan Cinta Masa Kecil
Mundur


__ADS_3

Pukul tujuh malam, mobil Dendi masih berada di halaman parkiran kantor.


Untuk beberapa lama Dendi masih duduk di kursi kerjanya yang menghadap ke belakang, dengan mata terpejam dan tubuh bersandar ke kepala kursi.


Bosan, Dendi bangkit dari tempat duduknya dan mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya lalu menyimpannya di atas meja. Setelah itu, ia mengeluarkan sebuah pena dan selembar kartu berbentuk persegi empat dari dalam laci. Dendi mulai menuliskan sesuatu di atasnya.


Aku tau, kau sudah bahagia dengannya. Terima kasih, sudah pernah hadir di hidupku. Menjadi alasanku untuk semangat dalam menjalani hidup yang tidak adil ini. Tapi, aku mohon tolong temuilah aku untuk yang terakhir kalinya. Di tempat dulu kita biasa bertemu.


Dendi


Dendi memasukkan kartu itu ke dalam amplop berwarna merah hati, dan meletakkannya di atas meja. Menuliskan semua bukan membuat hatinya lega, tapi malah membuatnya terasa semakin sakit. Tapi dia sadar, bahwa sudah tidak ada kesempatan lagi dalam dirinya untuk memiliki Aisha.


Dendi masih tahu diri, Aisha sudah memiliki suami.


Berkali-kali Dendi mengusap wajahnya. Dia merasa seperti orang yang jahat. Dia bertanya-tanya dalam hatinya, apakah Aisha mau menemuinya?.


Dendi kembali meraih kartu yang tadi diletakannya di meja, lalu memasukkannya ke dalam saku jasnya.


...****************...


Aisha memutuskan untuk pergi ke kantornya Deva, sekalipun dilarang oleh Deva. Karena Deva sedang tidak berada di kantornya.


"Selamat pagi, Nyonya Aisha." Sapa resepsionis di kantor Deva.


"Selamat pagi..."


"Panggil saya Karin, Nyonya." Ucap resepsionis bernama Karin itu, seolah mengerti bahwa Aisha ingin menyebut namanya.


"Oh, baiklah. Selamat pagi Karin." Aisha mengulangi sapaannya, tak lupa diikuti senyuman ramah.


"Ada perlu apa nyonya kemari, apa ingin menemui pak Deva?" Tanya resepsionis itu tak kalah ramah.


Aisha mengangguk.


"Maaf nyonya, pak Deva sedang tidak ada di kantor saat ini. Beliau sedang rapat di kantor rekannya."


"Ooo... Kapan dia kembali ke kantor?"


"Mungkin 2 jam lagi, nyonya. Apa ada hal yang penting? Atau anda ingin menyampaikan sesuatu pada pak Deva?" Tanya Karin masih dengan senyuman ramah.


"Tidak, terima kasih Karin. Aku akan menunggu saja di ruangannya." Karin mengangguk.


"Baiklah, nyonya. Mari, saya akan mengantarkan anda ke ruangan pak Deva!" Lalu Karin keluar dari meja resepsionis dan mengantar Aisha menuju ruangan Deva dengan posisi berjalan di belakang Aisha.


Sesampainya di ruangan Deva, Karin membukakan pintu untuk Aisha.


"Silahkan nyonya, saya pamit kembali bekerja. Jika nona perlu sesuatu tinggal menghubungi saya." Sambil membungkukkan badan memberi hormat pada Aisha.


"Terima kasih banyak, Karin." Karin mengangguk lalu kembali membungkukkan badan dan setelah itu meninggalkan Aisha yang masih berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


Aisha memasuki ruangan Deva, lalu menutup pintu dan menguncinya. Ia menerawang menatap sekeliling ruanga Deva.


"Ya ampun, ruangan ini kesannya dingin sekali." Guman Aisha masih dengan mata menatap sekeliling ruangan Deva.


Ruangan itu memang memiliki kesan dingin. Tembok yang di cat dengan warna cokelat tua, sehingga membuat ruangan itu sedikit gelap. Meja yang hanya terdapat berkas-berkas saja, tidak ada satupun bunga yang terletak di meja itu.


"Ya ampun, kenapa Deva bisa bertahan berada di ruangan menyeramkan ini seharian?!" Aisha kembali bergumam.


Lalu ia duduk di kursi kerja Deva, menyandarkan kepalanya di kepala kursi tersebut.


"Iiihh, bahkan kursinya sangat tidak nyaman! Dia ini sebenarnya kaya atau tidak? Kenapa membeli kursi yang nyaman saja tidak bisa?!" Gerutu Aisha.


"Lihat saja, aku akan mengubah ruangan ini menjadi nyaman!" Seru Aisha dengan suara yang bersemangat.


Aisha mengambil telepon di meja Deva, lalu menghubungi Karin.


"Hallo, bisa kau ke ruanganku sekarang? Baiklah, terima kasih!" Lalu Aisha meletakan kembali telepon itu.


Tak lama, pintu di ketuk dari luar. Aisha membuka pintunya.


"Ada yang bisa saya bantu, nyonya?" Ternyata Karin yang datang.


"Sebelum itu, masuklah! Kita akan berbicara di dalam!" Kata Aisha sambil menarik lengan Karin memasuki ruangan. Lalu Aisha mengajak karin duduk di sofa.


"Karin, bisa membantuku mengubah ruangan ini?" Karin membelalak.


Aisha mengangguk.


"Ya, tolong panggilkan aku beberapa pekerja pria yang biasa membersihkan ruangan!"


"Tapi nyonya, apa yang akan anda lakukan dengan ruangan ini?"


"Aku akan mengubahnya menjadi nyaman! Tolong Karin, sekarang panggilkan mereka!" Karin segera mengeluarkan ponselnya, lalu menelepon para pekerja yang selalu membersihkan ruangan ini.


Tak lama, mereka sudah berdiri di hadapan Aisha.


"Pak, apa disini ada persediaan cat?" Tanya Aisha pada salah satu pekerja itu


"Ada nyonya, tapi untuk apa?"


"Aku ingin mengubah warna cat ruangan ini, tolong anda ambilkan cat warna hijau tosca dan bawa kemari! Yang lainnya tolong amankan barang-barang di ruangan ini! Karin, tolong suruh seseorang membeli 1 buket bunga campuran berukuran sedang!"


Para pekerja itu mengangguk, lalu segera menjalankan perintah Aisha yang sudah di berikan kepada mereka masing-masing.


"Dan kau!" Pada salah satu pekerja yang masih berdiri di hadapan Aisha.


"Ya, nyonya."


"Tolong belikan kursi kerja yang paling nyaman, karena kursi ini sudah sangat tidak nyaman untuk digunakan!" Perintah Aisha sambil menepuk-nepuk kursi kerja Deva.

__ADS_1


"Karin, pastikan seluruh meja di kantor ini dihiasi dengan bunga! Aku ingin saat aku berkunjung kesini selalu ada bungan yang segar di atas meja!"


"Baik, nyonya." Angguk karin.


Akhirnya, kesibukan terjadi di ruangan Deva. Aisha memperhatikan pekerjaan mereka satu persatu, hingga perutnya merasa kram.


"Aw!" Aisha meringis sambil memegangi perutnya.


"Nyonya, anda tidak apa-apa?" Karin menghampiri Aisha yang sedang memegangi perutnya.


"Tidak, aku hanya terlalu lama berdiri." Karin segera membawa Aisha duduk di sofa, lalu menuangkan air kedalam gelas.


"Nyonya, sebentar! Aku akan membawakan makanan untuk nyonya!" Karin membalikkan tubuhnya, lalu melangkah.


"Tunggu, Karin!" Karin berbalik menghadap Aisha.


"Jika ada Deva, jangan biarkan dia masuk ke dalam ruangan ini dulu sampai ruangan ini selesai di ubah!"


"Baik, nyonya." Karin kembali berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu.


Tak lama Karin kembali bersama dua orang pelayan kantin yang membawa banyak nampan berisi makanan untuk Aisha, lalu mereka menyajikan makanan itu di meja.


"Silahkan nyonya." Ucap salah satu pelayan itu sambil menyajikan makanannya. Lalu kedua pelayan itu pergi.


Aisha memandangi berbagai macam makanan yang ada di hadapannya.


"Karin, makanan sebanyak ini untukku?" Sambil menunjuk makanan-makanan di depannya.


Karin mengangguk. "Ya nyonya."


"Aku tidak mungkin memakan semua ini, jadi kau makan juga bersamaku!" Ajak Aisha.


"Tidak, nyonya. Aku tidak mungkin makan makanan untuk anda dan makan bersama anda. Aku hanya karyawan biasa di kantor ini, dan anda adalah istri dari pemilik kantor ini!" Karin merendahkan dirinya pada Aisha.


Aisha menarik tangan Karin, lalu mengajaknya untuk duduk.


"Ayo Karin, jangan sungkan! Anggap saja kita teman! Aku memang istrinya Deva, tapi aku juga manusia biasa sepertimu! Jangan merendahkan dirimu, kita sama-sama manusia ciptaan Tuhan! Ayo kita makan bersama-sama!"


"Baik, nyonya. Terima kasih, anda baik sekali." Karin tersenyum dan kagum akan kemurahan hati Aisha.


Merekapun menghabiskan makanan itu berdua, setelah itu kembali memperhatikan pekerja yang sedang merenovasi dan mendekorasi ruangan Deva.


Bersambung...


Jangan lupa like+Komen+Vote ya!!!


Selamat membaca!!!


Author juga punya rencana nih bikin novel baru yang isinya tentang balas dendam insya Allah setelah tamat novel ini langsung maju ke novel yang baru. Jadi mohon support dan likenya ya...

__ADS_1


__ADS_2