Ikatan Cinta Masa Kecil

Ikatan Cinta Masa Kecil
Teror


__ADS_3

Flashback


"Aaaaaaaaaaaaaa....." Aisha berteriak histeris, ketika mendapat sebuah kiriman menyeramkan.


Tepat saat itu, Aisha sedang sendirian berada di rumah. Deva sedang di kantor, Sid sedang sekolah dan para pembantu sedang berada di dapur yang jaraknya cukup jauh dari ruangan utama sehingga teriakan Aisha tidak terdengar. Apalagi, saat ini adalah jam makan siang, jadi para pembantu sedang sibuk memasak.


Aisha kemudian berlari menuju kamar, ia duduk di belakang sofanya. Saat itu juga, di belakang sofanya terdapat sebuah kodak kado berwarna merah.


"Aaaaaaaaaaa.... Tidak! Jauhkan ini dariku!" Teriak Aisha histeris.


"Nona! Nona kenapa?" Bi Aisha berlari memasuki kamar begitu mendengar teriakan Aisha.


"Bi, bibi jauhkan barang itu dariku!" Aisha menunjuk belakang sofanya.


Bi Aisha menoleh ke arah yang di tunjuk Aisha, tidak terdapat apapun disana.


"Barang apa nona? Tidak ada apa-apa disana!" Aisha menghampiri sofa, sudah tidak ada apa-apa disana.


"Bi, tadi ada sebuah barang disana!" Seru Aisha sambil menunjuk tempatnya menemukan kado yang berisi teror itu.


"Sebentar nona, bibi akan mencarinya mungkin saja memang ada." Bi Aisha langsung keluar meninggalkan Aisha yang masih ketakutan.


Aisha pun terduduk di belakang sofa, hingga sebuah tangan menepul bahunya.


"Aisha, kau kenapa? Kenapa menangis seperti itu? Apa terjadi sesuatu padamu?" Aisha menoleh dan langsung memeluk Deva yang baru saja menepuk bahunya.


Flashback End


"Kau tidak takut lagi kan sekarang, Aisha? Aisha mengangguk sambil memakan buah-buahan yang baru saja di kupaskan Deva.


"Aisha, istriku sayang!" Deva mencium kening Aisha dan mengelus perut buncit istrinya itu. "Jangan terlalu kelelahan, apalagi sampai kau jadi berhalusinasi seperti tadi! Ingat apa yang dikatakan dokter? Itu akan mempengaruhi kehamilanmu!"


"Kau benar, mungkin tadi aku hanya kelelahan dan terlalu banyak berfikir." Aisha tersenyum kecut pada Deva. Hatinya kecewa, karena tidak ada yang percaya dengan apa yang tadi di alaminya.


"Sudah, jangan di bahas lagi. Sekarang kau istirahatlah! Aku harus kembali ke kantor." Deva membantu Aisha berbaring di ranjang, lalu mengecup kening Aisha sekilas.


Ketika hendak pergi, Aisha menahan lengan Deva.


"Jangan lama-lama, aku takut." Deva kembali duduk di samping ranjang, Aisha bangun dan duduk. Lalu menyandarkan kepalanya di dada Deva.


"Tenang saja, jangan takut. Aku akan kembali secepat mungkin, jaga dirimu baik-baik." Aisha mengangguk, lalu mendongakkan kepalanya dan tersenyum pada Deva.


"Aku pergi, jika ada apa-apa telepon aku atau Reihan!" Aisha mengangguk lagi, dan menatap punggung Deva yang perlahan menghilang di balik pintu.


Aisha mencoba istirahat, tapi tidak bisa. Kemudian ia memikirkan sesuatu, hingga menemukan sebuah ide.


"Lusa adalah ulang tahun Deva, bagaimana jika aku akan mencari kado untuknya hari ini saja?!" Gumam Aisha.

__ADS_1


Aisha pun mengganti bajunya, dan keluar dari kamar menuju ruangan utama.


"Bunda mau kemana?" Tanya Sid yang baru pulang dari sekolah.


"Sid, kau sudah pulang? Bunda ingin keluar sebentar, bunda merasa bosan di rumah seharian."


"Aku ikut!" Seru Sid.


"Baiklah, ayo cepat ganti bajumu! Bunda menunggumu di mobil!" Sid mengangguk, lalu segera berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Sedangkan Aisha berjalan menuju garasi.


"Pak supir, antarkan aku ke mall!" Perintah Aisha pada supir yang sedang menghampirinya.


"Baik nyonya. Mari!" Supir itu membukakan pintu mobil untuk Aisha.


"Tunggu, Sid juga akan ikut! Dia sedang mengganti bajunya." Supir mengangguk. Hingga Sid datang, supir pun membukakan pintu untuk Sid dan Sid duduk di samping Aisha.


"Ayo pak, kita berangkat sekarang!" Perintah Aisha kembali.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, selama perjalanan Aisha dan Sid menikmatinya sambil sesekali membicarakan tentang sekolah Sid.


"Bagaimana belajarmu hari ini?"


"Guru memberiku bintang, dia bilang aku anak pintar." Sid menjawab sambil tersenyum manis pada Aisha.


"Anak bunda memang pintar, seperti ayahnya." Puji Aisha.


"Apa? Eh, hmmm... Bukan seperti itu, Sid!" Protes Aisha sambil mengerucutkan bibirnya.


"Maaf bunda!" Sid terkekeh.


"Bukan hanya pintar, tapi sifat konyol dan suka meledek pun kau mewarisinya dari ayahmu! Lalu apa yang kau warisi dari ibumu ini?!" Aisha merajuk.


"Hmmm, tidak ada!" Sid kembali terkekeh. Aisha mencubit dan mencium pipi putra sulungnya itu.


Mendapat perlakuan seperti itu, Sid sangat senang. Karena walaupun ia mewarisi seluruh sifat ayahnya, tapi ia lebih dekat dengan Aisha. Hal itu dikarenakan Deva selalu sibuk di kantor dan jarang bermain dengannya.


Setelah lama bersenda gurau, mereka tiba di mall besar yang letaknya tidak jauh dengan letak kantor Deva.


"Nyonya, kita sudah sampai." Supir membukakan pintu untuk Aisha, lalu membukakan pintu untuk Sid. Sid meraih tangan Aisha dan memegangnya agar tidak terpisah dari ibunya itu.


"Ayo Sid, kita masuk!" Aisha juga memegang tangan Sid dengan erat.


Mereka langsung memasuki mall itu, yang pertama kali Aisha kunjungi adalah butik pakaian pria. Ia memilih-milih baju didalamnya tapi tidak ada yang cocok dengan seleranya untuk suaminya, ia pun keluar dari butik iti dengan tangan kosong. Sedangkan Sid terus mengekori kemanapun Aisha pergi.


1 jam mereka di mall, sudah banyak toko yang di kunjunginya. Aisha sudah merasa lelah dan kakinya terasa pegal, begitu juga dengan Sid. Merekapun memilih untuk istirahat sejenak di kursi panjang yang berada di sudut ruangan sambil menikmati es krim.


"Bunda, sebenarnya bunda ingin membeli apa?" Sid membuka suara, mengawali pembicaraan.

__ADS_1


"Bunda juga tidak tahu, sebenarnya lusa adalah hari ulang tahun ayahmu. Dan bunda ingin membeli kado untuknya, tapi bunda masih bingung harus membeli kado apa?" Aisha mengerutkan wajahnya dan berfikir keras.


Sid ikut berfikir, iapun juga ingin membeli kado untuk ayahnya itu.


"Hah?! Bunda tahu sekarang!" Aisha segera menghabiskan sisa es krimnya, lalu menarik tangan Sid menuju ke sebuah toko. Toko jam tangan.


"Silahkan, nona." Sambut seorang pelayan ketika Aisha memasuki toko itu.


Aisha segera memilih jam tangan yang akan diberikannya untuk Deva, hingga Aisha melihat sebuah jam tangan dengan desain yang sangat indah dan tidak asing baginya.


Jam tangan itu, desain dan bentuknya sama seperti jam tangan yang dulu jatuh pada saat aku dan Deva pertama kali bertemu kembali setelah tujuh belas tahun. Dia pasti akan senang, mendapat hadiah jam tangan itu.


"Tolong bungkus yang ini!" Perintah Aisha pada pelayan toko itu, pelayan itu segera membungkus jam tangannya dan setelah selesai dibungkus diserahkan pada Aisha.


Aisha membayarnya dengan kartu atm yang diberikan Deva untuk keperluannya.


Setelah selesai membayarnya, ia mengajak Sid untuk keluar dari toko itu.


"Sid, kau ingin membeli apa?"


"Aku juga ingin membeli kado untuk ayah, nda." Sid menarik tangan Aisha menuju toko sepatu.


Tidak butuh waktu lama bagi Sid untuk memilih sepatu yang akan diberikannya pada Deva, dalam 10 menit mereka sudah keluar dari toko itu.


"Apa sudah selesai? Tidak ada yang akan dibeli lagi?" Sid menggeleng. "Ayo kita pulang!" Ajak Aisha, Sid mengangguk.


Tiba di rumah, tampak Deva sudah menyambut mereka di depan pintu.


"Darimana kalian?" Tanya Deva dengan wajah datar.


"Kami hanya jalan-jalan ke mall, iya kan Sid?" Sid mengangguk.


"Iya yah, kami membeli ka-..." Aisha membekap mulut Sid dan memelototinya, sebagai kode agar Sid diam.


Sid terkekeh, lalu mengangguk pada Aisha.


"Membeli apa?" Deva kembali bertanya dengan wajah curiga.


"Tidak, kami hanya membeli keperluan kami yang sudah habis. Sekalian membeli ini untukmu!" Aisha menyerahkan sekantung plastik camilan pada Deva, camilan yang dibelinya di tengah perjalanan dan tak lupa juga membeli beberapa botol lotion untuk dijadikan alasan jika Deva bertanya.


"Terima kasih, ayo masuk!" Sambil meraih sekantung plastik camilan yang di berikan Aisha, Deva memasuki rumah.


Sedangkan Aisha menoleh pada Sid yang juga menoleh padanya. Aisha mengedipkan matanya, Sid mengacungkan kedua jempolnya.


Sebelum masuk Aisha memberi kode pada supir untuk membawa barangnya ke kamar tamu saja. Supir mengangguk, dan Aisha beserta Sid pun mengikuti Deva yang sudah masuk ke dalam rumah.


**Karya ini belum tamat, ya! Author sengaja klik tamat, pengen liat levelnya naik atau engga kalo karya ini dibikin tamat statusnya. Tenang aja, masih bakalan up kok.

__ADS_1


Buat para readers setia, kalo pengen karya ini lanjut jangan lupa like, coment dan vote ya! Coment "Next" Sebanyak-banyaknya! Selamat membaca**!!!!


__ADS_2