
3 hari berlalu, keadaan Aisha sudah stabil dan sore ini dokter sudah memperbolehkan Aisha pulang. Selama 3 hari pula Deva tidak masuk ke kantor karena tidak ingin meninggalkan Aisha, seperti pada saat Aisha mengandung Sid yang selalu menjadi calon ayah siap siaga. Kali ini Deva juga siap siaga, bahkan lebih siap siaga dari sebelumnya.
"Sebelum kita pulang, apa kau ingin sesuatu? Aku akan langsung membelikannya!" Tanya Deva pada Aisha yang sedang menyisir rambutnya.
"Tidak, suamiku! Aku tidak ingin apapun." Sambil tersenyum.
"Baiklah, jika ingin sesuatu katakan saja ya!"
"Kapan aku tidak mengatakan apa yang aku inginkan?" Tanya Aisha dengan senyum jahil.
"Kau benar, sayang! Hal yang tidak kau inginkanpun kau selalu memintanya!" Ketus Deva.
"Kau mulai lagi Tuan Adeva! Tidak berdebat selama tiga hari pasti membuatmu tidak tahan untuk berdebat, Benarkan?!"
"Aku tidak rindu berdebat denganmu, sayang!" Sambil mendekati Aisha lalu mengambil sisir di tangan Aisha dan menyimpannya di atas meja yang berada di sisi ranjang.
"Lalu apa?!"
"Aku rindu menabur benih disini!" Sambil tersenyum nakal dan menunjuk perut Aisha.
Plitaakkk
Aisha menjitak kening Deva, dan Dva mengaduh kesakitan.
"Wadaw... Sakit sayang!" Ringis Deva.
"Dasar otak m***m!" Ledek Aisha.
"Biarkan saja, kau juga sama!" Balas Deva sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Kapan aku seperti itu?"
"Setiap malam!"
"Apa? Diam kau!" Bentak Aisha.
"Berarti itu benar kan?"
"Tidak!"
"Benar!"
"Tidak!"
"Benar, sayang!"
"Benar!"
"Tidak, sa-.."
"Nah, aku memang tidak seperti itu kan?! Kau juga mengatakan tidak!" Sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Kau curang, Aisha!" Protes Deva.
"Curang dari mana?! Kau sendiri yang mengatakan tidak!"
"Tapi itu tidak sengaja!" Sambil cemberut.
"Tapi faktanya aku tidak seperti itu, sayang!" Tegas Aisha.
"Baiklah, yang mulia ratu hatiku! Kau memang tidak seperti itu! Aku yang waras mengalah untuk mencegah terjadinya perang Bharata Yudha kedua!" Ledek Deva membuat Aisha melotot padanya.
"Apa kau bilang?!" Sambil mengangkat sebelah kakinya dan melepas sebelah sandalnya.
Aisha mengayun-ngayunkan sandal itu seolah membidik sasaran tepat pada wajah Deva.
"Ti.. Tidak, Aisha! hanya bercanda!" Dengan wajah ketakutan.
"Teu ramè hereuyna!"
Plaaakk
__ADS_1
Sandal Aisha melayang tepat di wajah Deva.
"Owh Shit!" Umpatnya kesal sambil mengelus keningnya yang terkena lemparan sandal Aisha.
"Kau mau lagi?" Tanya Aisha sambil melepas sandal yang sebelahnya lagi dan mulai mengayun-ngayunkannya lagi membidik sasaran.
"Tidak, sayang! Ampun! Istriku yang paling cantik, cetar membahana, bahenol dan juga segarang Singa!" Ceplos Deva lalu menutup mulutnya karena menyadari pujian sekaligus ledekan yang mengundang masalahnya lagi.
Owh shit! kenapa mulut ini selalu tidak bisa di rem jika sedang berdebat dengan sang permaisuriku ini!
"Katakan sekali lagi, sayang!"
"Tidak sayang. Hehehe." Sambil menyatukan kedua telapak tangannya meminta pengampunan Aisha yang sudah siap melayangkan sandalnya lagi ke wajah Deva.
"Huft. Sudahlah! Aku lelah!" Sambil berjalan menuju sofa dan duduk di sofa itu. "Suamiku, lihat saja! Aku akan menghukummu nanti pada saat kita sudah pulang ke rumah! Saat ini aku lelah!"
"Baiklah sayang!" Menghela nafas lega karena tidak jadi mendapat sandal yang mendarat di wajah tampannya lagi.
Sore harinya Aisha sudah diperbolehkan pulang. Mereka sudah di dalam mobil. Begitu juga keluarga Aisha yang sudah di mobil lainnya.
Mereka memutuskan untuk pulang ke Villa terlebih dahulu, karena kondisi Aisha walaupun sudah stabil akan tetapi masih tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh dari Bandung menuju Jakarta.
Sesampainya di Villa, semua segera beristirahat karena lelah. Sid kali ini beristirahat dengan Aryan sang paman, karena sejak di rumah sakit waktu itu, Aryan yang mengasuh Sid menggantikan Deva yang mengurus Aisha.
"Paman!" Sid memanggil Aryan yang sedang fokus dengan ponselnya, akan tetapi Aryan tidak bergeming sedikitpun.
Sid pun menendang kaki Aryan.
"Aw! Sakit Sid! Kenapa kau menendang kaki pamanmu ini?!" Ringis Aryan.
"Paman, tadi aku panggil paman! Tapi paman tidak jawab!"
"Maaf, maaf! Ada apa?" Sambil meletakkan ponselnya di atas meja.
"Aku bosan, ayo kita keluar!" Rengek Sid.
"Aduh, Sid! Paman lelah, nanti saja ya? Sekarang kita istirahat dulu!"
Aryan pun tertawa melihat bibir Sid.
"Paman kenapa ketawa?" Seru Sid.
"Kau ini! Pantas saja di sebut Deva Junior, bahkan kerucutmu juga sama persis dengan Deva!" Ejek Aryan.
Sedangkan yang di ejek kebingungan.
"Kerucut?"
"Ya, kerucut ini!" Sambik menarik bibir Sid.
"Sakit paman bujang lapuk!" Balas Sid.
"Apa?" Dengan wajah terkejut.
"Bujangan lapuk!" Ulang Sid.
"Enak saja, mengataiku seperti itu! Memangnya kau tahu artinya apa?!" Dengan senyum merendahkan karena mengira Sid tidak tahu artinya.
"Tentu saja!" Sambil tersenyum bangga.
"Apa?"
"Perjaka tua!"
"Hah?! Darimana kau tahu, bocah kecil?!" Sambil membelalakkan wajah tak percaya.
"Ayah yang bilang, katanya paman Aryan itu tidak menikah-menikah, jadi pantas disebut Bujangan Lapuk." Sid menjawab jujur.
"Shit! Apa saja yang ayahmu bicarakan tentang paman?" Tanya Aryan menyelidik.
"Semuanya."
__ADS_1
Kurang ajar! Lihat saja Deva, aku akan membalasmu!
Aryan pun menyeringai dan mendapatkan sebuah ide untuk membalas kejahilan Deva.
"Sid, kau tahu tidak sesuatu tentang ayahmu?" Sambik tersenyum jahil.
"Memangnya apa, paman?"
"Tapi kalau paman sudah cerita, kau harus ceritakan juga pada ayahmu!" Ujar Aryan sambil tersenyum jahil lagi.
"Okay om!" Sambil memberi hormat.
"Ayahmu itu sangat tampan, tapi katakan padanya jika Juniornya itu kurang besar!" Berbisik pelan.
"Junior?" Sid bertanya-tanya.
"Iya, bilang ya! Junior ayah payah! Kurang besar, dan tidak bisa tegak! Tapi sekali masuk jadi!" Lalu terkekeh.
"Okay Paman, Siap laksanakan!" Sambil berbalik.
"Hei, kau mau kemana?" Sid pun berbalik kembali dan menoleh pada Aryan.
"Bilang yang tadi paman katakan untuk ayah!"
"Ah, itu nanti saja! Sekarang paman punya hadiah untukmu! Ayo kita jalan keluar dan beli es krim! Disini ada es krim yang sangat enak!" Sambil menggendong Sid.
"Yeaayyy! Ayo paman!" Seru Sid dengan sangat antusias.
Sid dan Aryan pun keluar dari Villa lalu menaiki mobil untuk berjalan-jalan.
Sementara di dalam kamar Aisha dan Deva sedang berdebat kembali. Sepertinya perdebatan mereka memang tidak bisa ditunda walau satu hari.
(Author pusing bikin mereka debat terus! Tapi gapapa deh, sekarang debat nanti kalian siapin aja ya!)
"Kau ini menyebalkan, Aisha! Kau ngidam atau memang sengaja jahil padaku?!"Sambil berdiri di depan cermin dengan wajah terkejut saat memandang dirinya sendiri di cermin.
"Suamiku, aku mohon! Jangan di hapus! Bukan aku yang ingin, tapi bayi kita yang ingin!" Sambil berusah mengoleskan lipstick di bibir Deva.
"Aisha, kau boleh meriasku seperti ini! Tapi tolong, jangan suruh aku keluar!" Dengan wajah memelas.
"Tidak! Pokoknya kau harus keluar dengan wajah seperti ini!" Tegas Aisha.
"Tapi..-"
"Tidak ada tapi!" Tegas Aisha untuk kedua kalinya.
Deva memandangi dirinya sendiri dengan perasaan miris di cermin. Wajahnya sudah seperti badut, penuh dengan make up.
Alamak! Aku harus keluar dengan wajahku yang seperti badut ini? Benar-benar jatuh posisiku sebagai CEO jika seperti ini! Ya Tuhan lebih baik Kau buat aku sakit saja! Jangankan membuat orang lain tersenyum, bahkan anak-anakpun akan ketakutan melihat wajahku yang sudah seperti badut joker menyeramkan ini!.
"Baiklah! Tapi kali ini saja ya?!"
Deva pun melangkah gontai menuju keluar.
Di ruang tamu, keluarga Aisha sedang berkumpul. Sid dan Aryan pun sudah pulang jalan-jalan.
"Suamiku, tunjukkan pada mereka!" Sambil menunjuk arah keluarganya yabg sedang berkumpul.
Deva dengan terpaksa menuruti kemauan Aisha, dan melangkah menuju ruang tamu.
Sampai disana, semua terbelalak dan tertawa melihat penampilan Deva.
"Aisha, apa yang sudah terjadi pada suamimu?!" Tanya Aryan sambil tertawa terpingkal-pingkal.
"Dia cantik, bukan?!" Seru Aisha.
Ya Tuhan, nasibku sekonyol ini! Turun sudah derajatku sebagai seorang CEO dan mantan mafia!
Hari itu benar-benar hari yang memalukan bagi Deva, bagaimana tidak? Ia harus menuruti keinginan Aisha yang merias wajahnya dengan make up tebal lalu membawanya berjalan-jalan berkeliling Villa dengan wajah seperti itu.
**Yang sabar ya yayang Deva, turuti aja istrimu kan lagi hamil...wkwkwk.
__ADS_1
Selamat membaca guys**!!!...