
4 Tahun berlalu dengan cepat, kini Sid sudah berumur 5 tahun. Semakin besar, semakin terlihat juga ketampanan Sid. Selain itu Sid memiliki banyak kemiripan dengan Deva sang ayah, sehingga sering dijuluki sebagai Deva Junior.
Minggu pagi yang cerah, Aisha sudah sibuk di dapur mempersiapkan sarapan untuk anak dan suaminya. Walaupun di rumahnya ada banyak pelayan, Aisha tetap selalu mempersiapkan makanan untuk suami dan anaknya.
"Nona, sebaiknya anda istirahat saja! Biar kami yang menyiapkan sarapan!" Sahut seorang pelayan yang sedari tadi berdiri di sisi Aisha.
"Tidak, hari ini aku yang akan menyiapkan sarapan untuk suami dan anakku. Kalian kerjakan hal lain saja, ya!" Aisha menjawabnya tanpa menoleh sedikitpun, matanya tetap fokus ke masakan yang masih berada di wajan itu. Kedua tangannya sibuk juga memegang alat-alat memasak.
Dari arah pintu dapur Deva berdiri sambil menguap dan dengan wajah yang masih mengantuk.
"Biarkan saja nona kalian memasak! Kalian jika ada pekerjaan lainnya kerjakan saja!" Sambil menguap kembali.
"Baik tuan." Pelayan itu segera membalikkan tubuhnya lalu pergi meninggalkan Aisha yang masih sibuk memasak dan Deva yang masih berdiri di ambang pintu.
"Sejak kapan kau berada disana, suamiku?" Aisha bertanya pada Deva tanpa menoleh padanya sedikitpun.
"Kau terlalu fokus pada wajan itu, sehingga aku datang kau tidak tahu!" Deva mencibir Aisha.
"Kalau aku melirikmu sebentar saja bisa-bisa masakanku gosong!" Dengan nada ketus.
"Iya, karena aku terlalu tampan bukan?! Jadi saat kau berniat melirikku dan ketampananku ini sebentar saja, kau akan melirikku sampai bau masakan gosong tercium, begitu bukan?!" Ucap Deva percaya diri.
"Suamiku!" Sambil memberi kode pada Deva untuk mendekat.
"Ya, sayang?" Sambil tersenyum dan mendekati Aisha.
Aisha menempelkan telapak tangannya di kening Deva, sedangkan Deva kebingungan.
"Sayang, kau sedang apa?" Deva bertanya dengan wajah heran.
"Aku hanya memeriksa!" Jawab Aisha sambil melepaskan tangannya dari kening Deva.
"Memeriksa apa?" Deva masih tidak mengerti dengan apa yang dilakukan istrinya.
"Memeriksa suhu tubuhmu!" Aisha menjawab dengan nada sinis.
"Untuk apa kau memeriksa suhu tubuhku, sayang? Aku kan tidak sakit ataupun kedinginan!" Deva masih kebingungan.
"Belakangan ini kau percaya diri sekali, aku tau kau memang tampan! Akan tetapi sayang sekali." Aisha tak meneruskan kata-katanya.
"Sayang sekali kenapa memangnya?" Deva masih bingung sendiri memikirkan apa yang Aisha katakan.
"Ketampananmu kalah dengan tingkah konyolmu itu!" Aisha tergelak setelah mengatakan ledekan untuk Deva.
Deva sendiri sudah membentuk bibirnya seperti kerucut.
"Kau memang tidak berubah ya, Aisha!" Ketus Deva sambil menjewer telinga Aisha.
"Kenapa aku harus berubah? Aku bukan Ultraman!" Sambil tergelak kembali.
"Huh! Dasar...-" Deva menghentikan kata-katanya lalu berbalik dan berjalan keluar dari dapur. "Putri Hanuman!" Teriak Deva dengan suara keras, lalu berlari menaiki anak tangga.
__ADS_1
Aisha tentu saja kesal, dan segera menyelesaikan kegiatan memasaknya serta tidak lupa mematikan kompornya.
Setelah memastikan semuanya, Aisha segera berjalan menyusul Deva yang sudah berada di kamar.
Sampai di kamar, Aisha tidak menemukan keberadaan Deva. Matanya menerawang ke sekeliling ruangan itu dan mendapati pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
Aisha mendekati pintu kamar mandi, lalu mengetuknya pelan.
Tok tok tok
"Suamiku, apa kau di dalam?" sambil kembali mengetuk pintunya.
"Ya sayang, aku sedang mandi. Ada apa?" Sambil membuka pintu lalu menampakkan bagian kepalanya hingga setengah dadanya.
"Tidak apa-apa, huss! Cepat masuk kembali ke kamar mandi!" Sambil mengibas-ibaskan tangannya.
"Oh ya! Jangan lupa hilangkan bau sabun mandimu itu! Baunya sangat menyengat, membuatku mual!"
"Apa? Bukankah setiap hari kau juga menggunakan sabun ini?" Deva memasang raut wajah heran.
"Ah, sudahlah! Jangan banyak bertanya, cepat bersihkan tubuhmu! Aku sudah tidak tahan dengan baunya!" Sambil menutup hidung dan mulutnya.
"Baiklah! Dasar aneh!" Ucap Deva sambil kembali memasukkan kepalanya ke kamar mandi dan menutup pintunya.
Sedangkan Aisha merasa ada sesuatu yang bergejolak di dalam perutnya yang ingin keluar.
"Suamiku! Cepat mandinya, aku tidak tahan lagi!" Aisha menggedor pintu kamar mandi, tak lama keluarlah Deva menggunakan sehelai handuk yang menutupi pinggang hingga lututnya.
Aisha mengibaskan tangannya lagi sebagai isyarat agar Deva menyingkir dari hadapannya. Akan tetapi, karena Deva tidak mau menyingkir Aisha mendorong Deva menyingkir dari hadapannya dan segera masuk ke kamar mandi.
"Hoeekk... Hoeeekk."
Aisha memuntahkan seluruh isi perutnya sampai habis. Dari belakang Deva sudah masuk dan mengelus-elus punggung Aisha.
Setelah merasa tidak ada lagi yang akan keluar, Aisha segera mencuci wajahnya di wastafel.
"Sayang, kau kenapa? Apa kau sakit?" Deva bertanya dengan wajah yang sudah khawatir.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit merasa mual. Mungkin aku terlalu banyak mencium bau sabun itu, jadi aku merasa pusing dan mual." Aisha menjawab dengan suara serak.
"Tapi wajahmu jadi pucat seperti itu, Aisha! Sebaiknya kita ke rumah sakit, agar dokter bisa memeriksamu! Atau aku akan memanggil dokter kemari untuk memeriksamu! Bagaimana?" Sambil membawa Aisha keluar dari kamar mandi dan merangkulnya.
"Tidak, aku baik-baik saja. Aku istirahat saja sebentar, pasti nanti juga akan membaik." Dengan wajah meyakinkan.
"Tidak, Aisha. Aku akan memanggil dokter Ema kesini!" Sambil mendudukkan Aisha di ranjang dan membantu Aisha berbaring.
"Istirahatlah, aku akan memakai pakaian dulu! Setelah itu aku akan menelepon dokter Ema." Sambil menyelimuti Aisha lalu pergi ke ruang ganti pakaian.
Setelah berpakaian, Deva mengambil ponselnya dan segera menghubungi dokter Ema.
"Hallo, Ema! Apa kau bisa kerumahku sekarang? Istriku sedang kurang sehat, jadi aku ingin kau memeriksanya!"
__ADS_1
"Baiklah, aku tunggu kedatanganmu!" Sambil mematikan sambungan telepon dan meletakkan ponselnya di atas meja.
"Sebentar lagi dokter Ema akan datang untuk memeriksamu!" Ucap Deva sambil duduk di samping Aisha.
"Tapi aku baik-baik saja, setelah aku istirahat pasti akan baikan."
"Tidak, Aisha! Wajahmu pucat sekali, jadi kau harus diperiksa!" Ucap Deva tegas.
Aisha pun hanya mengangguk pasrah, karena ia tahu jika Deva paling tidak bisa dibantah.
Tak lama, suara ketukan pintu terdengar. Deva segera berjalan menuju pintu untuk membukanya.
"Kau sudah datang ternyata! Masuklah, dan tolong periksa istriku!" Perintah Deva sambil mempersilahkan dokter Ema masuk.
Tanpa waktu lama, dokter Ema langsung memeriksa Aisha.
"Bu Aisha, gejala apa yang kau alami?" Dokter Ema bertanya sambil memeriksa Aisha dengan Stetoskop nya.
"Aku merasa pusing dan mual." Aisha menjawab dengan suara lemah.
"Sejak kapan kau mengalami gejala itu?"
"Baru saja, saat aku mencium bau sabun yang digunakan suamiku. Sebenarnya aku juga menggunakan sabun yang sama dengannya, entah kenapa saat aku menciumnya dari tubuh suamiku, aku merasa baunya menyengat dan membuatku mual!" Dokter Ema hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan Aisha.
"Apa kau menggunakan KB?" Aisha membelalakkan matanya mendengar pertanyaan yang di lontarkan dokter Ema.
"Ya, aku menggunakan KB suntik. Dan..." Aisha mengentikan kata-katanya. "Bulan ini aku lupa belum ke rumah sakit lagi."
"Jika begitu, maka bisa jadi kau sedang hamil lagi!" Seru dokter Ema.
Deva dan Aisha saling melirik membelalakkan matanya.
"Apa? Hamil lagi??!" Seru Deva dan Aisha bersamaan.
"Ya, tapi akan lebih baik jika bu Aisha pergi ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut."
"Baiklah, besok aku akan membawa Aisha ke rumah sakit." Ucap Deva sambil mendekati Aisha.
"Baiklah, kalau begitu aku pamit untuk melanjutkan pekerjaanku di rumah sakit. Sampai jumpa pak Deva dan Bu Aisha." Sambil membungkukkan badannya dan berbalik lalu pergi meninggalkan Aisha dan Deva yang masih memikirkan kata-kata Dokter Ema.
Sepeninggal dokter Ema, Deva masih menatap Aisha dengan wajah tak percaya.
"Aisha, apa dokter Ema benar?! Aku akan menjadi Ayah lagi?!" Sambil tersenyum membayangkan akan ada lagi bayi di rumahnya.
"Aku tidak tahu!" Ketus Aisha.
"Baiklah, kau istirahat saja. Aku akan keluar sebentar, ada urusan yang harus aku selesaikan!"
"Iya, hati-hati dijalan."
Deva pun mengecup kening Aisha sebentar lalu segera pergi meninggalkan Aisha yang asih berbaring di tempat tidur.
__ADS_1
Baru up lagi hehehe, selamat membaca ya... Jangan lupa kasih Like,coment dan juga Votenya...!!!